
Mendengar apa yang dikatakan oleh para pekerja di rumah Sandi, membuat Thalia mengurungkan niatnya untuk ke dapur. Dia berkali-kali menghembuskan napasnya kasar untuk menetralkan perasaannya. Sebelum akhirnya berbalik arah dan pergi ke luar rumah.
Aku memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Camelia. Dia memiliki semua hal yang menjadi impian semua wanita, termasuk aku. Apa aku tidak pantas berada di sisi Sandal? Tapi aku sangat mencintai Sandal. Aku juga tidak bisa berpisah darinya. Apa yang harus aku lakukan?
Thalia terus saja bergelut dengan pikirannya. Sampai tidak menyadari langkah kakinya sudah menuju ke luar gerbang. Satpam yang berjaga di rumah Sandi langsung menghampiri saat melihat gadis itu berjalan dengan gontai.
"Non, Non Thalia mau ke mana sore-sore begini? Sebentar lagi gelap," tanya Pardi, satpam rumah Sandi.
"Eh, Pak Janggut. Aku mau ke mini market sebentar," jawab Thalia saat melihat satpam yang menegurnya memiliki janggut yang lumayan tebal.
"Kenapa tidak menyuruh Bi Ipah atau yang lainnya saja. Nanti Tuan Muda mencari bagaimana?"
"Bapak tidak usah khawatir! Aku udah ijin kho sama Sandal," jawab Thalia dengan memaksakan tersenyum.
"Beneran, Non? Apa mau saya antar?"
"Tidak udah, Pak! Minimarketnya dekat kho. Aku jalan kaki saja sambil menikmati angin sore. Aku berangkat ya, Pak. Biar tidak kemalaman pulangnya," pamit Thalia melanjutkan langkah kakinya.
Pardi hanya menatap punggung ringkih Thalia yang semakin menjauh. Dia merasa kasian pada Nona mudanya. Di usia pernikahannya yang baru satu bulan, harus ikhlas menerima kenyataan, sebentar lagi akan segera memiliki madu.
Sementara Thalia terus saja melangkahkan kakinya dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Dia langsung menyeberang begitu saja saat melihat minimarket tujuannya sudah terlihat. Namun naas, pikirannya yang tidak fokus ke jalan, membuat dia tidak menyadari ada sebuah mobil sport yang melaju ke arahnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hingga saat sudah sangat dekat Thalia, terdengar gesekan ban dan aspal yang begitu nyaring.
Cekittttt ....
Mobil sports hitam metalik itu langsung berhenti pas saat menyentuh tubuh Thalia. Namun, kondisi Thalia yang syok ditambah lagi dia sedang banyak pikiran, membuat gadis itu langsung pingsan di depan mobil itu. Pengemudi mobil pun keluar untuk melihat korban kecelakaan yang hampir saja dia tabrak.
Perasaan aku tidak menabraknya, kenapa dia pingsan? Untung jalannya sepi, jadi aku tidak dihakimi masa. Sudahlah aku bawa saja ke mobilku.
Pemuda tampan yang menabrak Thalia langsung membawa gadis itu ke mobilnya. Dia mendudukkan Thalia di kursi samping pengemudi. Namun jantungnya mendadak berdebar kencang saat dia akan memasangkan seat belt pada Thalia.
Kenapa dengan jantungku? Masa iya aku mendadak memiliki penyakit jantung. Lebih baik aku bawa ke rumah Tante saja, biar sekalian periksa kesehatan aku juga.
__ADS_1
Merasa sudah terpasang sempurna, pemuda itu pun segera beralih menuju ke kursi pengemudi. Dia secepatnya menjalankan mobilnya sebelum ada orang yang menyadari dengan apa yang sudah terjadi. Tidak lupa dia oun menghubungi sepupunya terlebih dahulu.
"Hallo Ai! Mommy kamu sudah pulang belum?" tanya pemuda itu saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Sudah!" jawab seseorang di seberang sana.
"Oke, aku ke sana sekarang. Bilang mommy kamu untuk tidak ke mana-mana. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan."
Klik
Pemuda itu segera menutup sambungan teleponnya. Dia melirik sekilas ke arah Thalia yang masih terpejam tidak sadarkan. Lagi-lagi dadanya kembali berdebar saat melihat bibir yang berwarna peach itu.
"Ya Tuhan! Aku ingin sekali mencicipinya. Tidak Tidak. Aku bisa dikeluarkan dari ahli waris kalau sampai ketahuan berbuat kurang ajar pada wanita. Apalagi kalau sampai menghamilinya. Tapi kalau aku menciumnya sedikit, bukankah tidak akan membuatnya hamil," gumam pemuda.
Dia segera menepikan mobilnya saat sudah terlihat rumah tantenya. Rasa penasarannya membuat pemuda itu mendadak menjadi laki-laki yang kurang ajar. Perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mengecup singkat bibir yang menurutnya selalu menggodanya.
"Astaga! Jantungku loncat, kenapa bisa seperti ini saat aku menciumnya. Padahal pada gadis-gadis itu, aku tidak pernah merasakan hal yang seperti ini." Pemuda itu cepat-cepat menjalankan mobilnya. Dia ingin secepatnya memeriksakan kesehatannya pada tantenya yang seorang dokter.
Setibanya di rumah megah kediaman Argantara, pemuda itu langsung membawa Thalia ke dalam. Namun, betapa kagetnya dia, saat melihat semua keluarganya sedang berkumpul di sana.
"Nanti aku jelasin, Tan. Berat nih, aku harus bawa ke mana?" tanya Elgar, pemuda yang sudah menabrak Thalia.
"Ke kamar tamu saja," jawab Allana.
"Elgar, kamu apakan gadis itu?" tanya seorang lelaki yang sudah berusia lanjut.
Sial! Ketahuan Opa lagi, niat ke sini biar gak ketahuan, ternyata orangnya ada di sini," gerutu Elgar dalam hati.
Tanpa mengindahkan pertanyaan opanya, Elgar langsung membawa Thalia ke kamar tamu seperti apa yang dikatakan oleh Allana. Begitupun dengan Allana yang langsung menyusul keponakannya.
Allana langsung memeriksa Thalia setelah gadis itu direbahkan di atas tempat tidur. Namun, dia sedikit terkejut dengan hasil pemeriksaannya sendiri. Allana langsung melihat ke arah Elgar dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
"Dia hanya syok dan kelelahan. Biarkan dia istirahat dulu, sepertinya dia kurang tidur beberapa hari ini. Elgar, ayo ikut Tante!" ajak Allana.
Pemuda tampan itu hanya mengikuti ke mana adik kembar papanya menarik tangan dia. Sampai akhirnya, dia disuruh duduk oleh Allana saat sudah tiba di ruang tamu, tempat tadi dia berbincang dengan opa-nya.
"Elgar, siapa gadis itu? Dari pemeriksaan Tante, sepertinya dia sedang hamil muda." Allana menatap lekat keponakannya.
"Apa Tan? Hamil? Kho bisa? Aku tadi hanya menciumnya sedikit." Ceplos Elgar. Dia langsung menutup mulutnya saat menyadari kalau di sana masih ada opa-nya.
"Elgar, kamu harus bertanggung jawab! Opa tidak mau tahu kamu harus menikahi gadis itu," sentak Andrea, opanya Elgar.
"Tapi Opa, aku baru menemukannya tadi di jalan. Saat tidak sengaja akan menabraknya," jelas Elgar.
"Apa? Kamu mau menabrak orang? Opa sita mobil kamu," sengit Andrea.
Sial banget gue! Kenapa juga opa harus ada di sini? Padahal aku ke sini biar gak ketahuan opa, batin Elgar.
"Nikah aja, Bang. Kata orang nikah itu enak," ucap Aigner, sepupunya yang irit bicara. Dia tersenyum tipis melihat sepupunya dihakimi oleh opanya.
"Beneran? Lalu kenapa kamu belum nikah?" balas Elgar.
"Aku masih muda, masih ingin berkarya mengembangkan perusahaan Papa. Bang El kan sudah usia menikah. Benarkah, Opa?"
"Benar kamu Iger! Tuh Elgar, adik kamu saja bisa berpikiran dewasa. Kenapa kamu masih belum bisa lepas dari gadis-gadis itu?"
"Aku hanya bersedekah pada mereka. Kasian mereka butuh uang, jadinya aku kasih. Uang Opa kan banyak. Aku hanya bantu untuk mensedekahkannya," elak Elgar.
"Bersedekah dengan kamu mendapatkan keuntungan dari gadis-gadis itu? Itu bukan bersedekah Elgar tapi kamu membayar mereka untuk menemani kamu bersenang-senang." Andrea sangat geram pada cucunya yang satu ini. Sudah sering kali dia menasehati agar tidak bermain wanita tetapi Elgar tidak menggubrisnya.
...~Bersambung~...
Ada yang masih ingat dengan Elgar dan Aigner?
__ADS_1
Ternyata Sang Cassanova jatuh cinta pada pandangan pertama pada Thalia. Bagiamana jadinya ya?
...Jangan lupa dukungannya ya kawan!...