Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 30 Bertemu Tifani


__ADS_3

Saat hari menjelang sore, Sandi dan Thalia memutuskan untuk pulang. Mereka menyerahkan urusan kafe pada Gunawan. Tidak ketinggalan pula Melati pun ikut serta karena rencananya mereka mau berziarah ke makam orang tua Thalia.


Selama perjalanan ketiga anak muda itu terus saja berceloteh. Apalagi ada Melati yang membuat suasana semakin heboh karena jika sudah bersama dengan Thalia, kedua gadis itu terkadang keluar sifat absurd-nya.


Melati yang memang memiliki suara yang cukup bagus terus saja mengikuti lagu yang diputar oleh Sandi di dalam mobil. Begitupun dengan Thalia yang terkadang ikut bernyanyi. Sementara Sandi hanya tersenyum melihat kelakuan dua gadis itu. Karena bukan hal yang aneh untuk Sandi melihat mereka yang terkadang heboh sendiri.


Hey, hey, you, you, I don't like your girlfriend.


No way, no way. I think you need a new one.


Hey, hey, you, you. I could be your girlfriend.


Hey, hey, you, you. I know that you like me.


No way, no way. No, it's not a secret.


Hey, hey, you, you. I want to be your girlfriend.


Setelah keduanya puas menyanyikan lagu Girlfriend milik Avril Lavigne, akhirnya Melati dan Thalia terdiam. Tenggerokannya terasa kering karena bernyanyi setengah berteriak.


"Sandi cari minum dulu yuk! Tenggorokanku ering banget," keluh Melati.


"Iya, Sandal. Aku juga haus banget," timpal Thalia.


"Kalian sih, nyanyi kayak orang kesurupan." Tangan Sandi terulur mengacak-acak rambut Thalia. "Tuh di depan ada minimarket, kita cari minum di sana saja," lanjutnya.


"Boleh, sekalian aku mau es krim. Hari ini aku sennag banget karena Jojo mau jadi pasangan aku. Tha, kamu jangan iri ya, Idola jadi milik aku hahaha ...." Sepertinya hati melati sedang dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran sehingga dia sedari tadi terus saja tertawa bahagia.


"Gak apa ya Sandal gak jadi sama Jojo juga, kan aku mau nikah duluan," sanggah Thalia.


"Sudah yuk turun!" ajak Sandi saat ia sudah membelokkan mobilnya minimarket.


"Bukannya ini minimarket dekat dengan rumah kamu ya, Tha?" tanya Melati saat mobil Sandi sudah terparkir rapi di depan minimarket.


"Eh, iya bener ini daerah rumah aku. Aku jadi kangen sama rumah," ucap Thalia mendadak sendu.


Melihat Thalia yang sedih, Sandi langsung melototkan matanya pada Melati. Dia kesal karena Melati malah mengingatkan Thalia pada rumahnya yang sudah diambil oleh Simon. Tentu saja hal itu membuat meringis melihat Sandi yang kesal padanya.

__ADS_1


"Sorry," ucap Melati pada Sandi pelan. "Thalia, ayo kita ke dalam!" ajaknya kemudian.


Melati langsung turun dari mobil, diikuti oleh Thalia dan Sandi. Dia langsung menarik tangan Melati agar masuk duluan bersamanya. Sementara Sandi hanya mengekor dari belakang.


Melati dan Thalia langsung memburu minuman dingin, sedangkan Sandi mangambil minuman isotonik. Tidak hanya minuman yang mereka ambil tetapi beberapa cemilan pun menjadi sasaran kedua gadis itu. Namun, saat mereka akan ke kasir, tanpa sengaja mereka melihat ada Tifani yang sedang mengantri di kasir.


"Fani, bisa kita bicara sebentar?" tanya Thalia yang sukses mengagetkan Tifani.


"Loh, Kakak! Sedang apa kalian di sini," tanya Tifani kikuk.


"Sedang tidur," jawab Sandi asal.


"Ada Kak Sandi juga, kita bicara di depan saja, Kak." Tifani langsung tersenyum saat menyadari keberadaam Sandi.


Setelah membayar semua belanjaannya, Thalia, Melati dan Tifani duduk dalam satu meja. Sementara Sandi menunggu di mobilnya. Awalnya mereka saling membungkam sampai akhirnya, Thalia membuka suara duluan.


"Fani, bagaimana kabar ibu?" tanya Thalia.


"Ibu baik. Kakak apa kabar juga?" tanya Tifani.


"Memang harus ke mana? Rumah kita kan di sini. Kata ibu, Kakak memilih tinggal dengan Kak Sandi karena ayah sudah tidak ada," jawab Tifani.


"Apa kalian masih tinggal di rumah peninggalan ayah? Bukankah sudah diambil oleh Tuan Simon?" tanya Thalia kaget.


"Sekarang ibu sudah menikah dengan Tuan Simon. Beberapa hari setelah ayah tiada," jawab Tifani pelan. Sebenarnya dia juga tidak setuju ibunya menikah secepat itu setelah kematian ayahnya, tetapi Tifani takut jika menentang ibunya nanti tidak diberi uang jajan. Apalagi Tuan Simon sering memberinya uang lebih. Membuat dia memilih bungkam.


"Apa?! Ibu sudah menikah lagi?" tanya Thalia kaget.


"Iya, memang Kakak tidak diberi tahu oleh ibu?"


"Tidak, ibu tidak pernah membalas pesan dari Kakak. Kamu juga kenapa tidak pernah membalas pesan dari Kakak?"


"Aku ganti ponsel, nomor lamaku tersimpan di ponsel yang lama," jawab Tifani. "Memangnya ada apa Kakak menghubungi aku?"


"Kakak hanya mau bilang kalau minggu depan Kakak akan menikah dengan Sandi," jawab Thalia.


"Apa? Menikah? Kenapa mendadak? Apa Kakak hamil duluan?" tanya Tifani kaget.

__ADS_1


Pletak


Sandi melempar botol kosong bekas minumannya ke arah Tifani. Yang sukses mendarat di bahu gadis itu. Entahlah, dia selalu merasa kesal pada adiknya Thalia. Apalagi kalau Tifani sudah cari muka padanya. Rasanya dia ingin memoles wajah cantiknya dengan kotoran kebo.


"Apaan sih Kak Sandi? Aku kan hanya tanya, memang salah?" gerutu Tifani.


"Kamu salah, harusnya yang diwaspadai seperti itu kamu sendiri. Memangnya aku gak tahu seperti apa gaya pacaran kamu," ketus Sandi.


"Tahu akh Kak Sandi nyebelin. Memang Kak Sandi gak kayak gitu? Aku juga tahu bagaimana Kak Sandi dengan pacar-pacar Kakak. Mungkin dengan Kak Lia juga gak jauh beda." Balas Tifani sengit.


Sialan nih Kak Sandi. Pasti dia sering lihat aku pergi ke klub sama Lucas. Dia juga sering aku lihat main ke sana dengan cewek yang beda-beda, gerutu Tifani dalam hati.


"Sudah-sudah, kalian tuh sama saja. Nanti datang ya ke acara nikahan Kakak. Kakak mau ke makam ayah dulu," pamit Thalia.


"Iya Kak. Nanti aku pasti datang kho!" sahut Tifani.


Setelah cukup berbasa-basi dengan Tifani, Thalia pun berpamitan agar tidak terlalu sore ziarah ke makam ayahnya. Namun, setelah pertemuannya dengan Tifani, Thalia jadi lebih banyak diam. Dia teringat dengan ibu tirinya yang tega membohongi dia.


Dari dulu ibu memang tidak menyukai kehadiranku. Dia selalu menganggap aku sebagai beban. Jadi wajar saja kalau saat ayah tidak ada, ibu menyuruh aku pergi dari rumah itu. Padahal yang membangun rumah itu ayah dan bunda, batin Thalia.


"Tali, nanti pulang dari makam kita makan bakso dulu yuk!" ajak Sandi saat melihat Thalia menjadi pendiam.


"Ayok ayok! Aku juga mau," serobot Melati tanpa permisi.


"Aku gak ngajak kamu, Mel." Sandi memutar bola matanya malas.


"Elah pelit banget, Sandi! Cuma semangkok bakso juga." Cebik Melati.


"Makan bakso yang dekat rumah kamu aja, Mel. Aku kangen makan bakso di situ," ucap Thalia.


"Iya bener banget! Sekalian antar aku pulang."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2