Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 74 Ada Penguntit


__ADS_3

Hari-hari Sandi dan Thalia berada di rumah baru mereka begitu menyenangkan. Apalagi mereka memiliki tetangga yang baik. Meskipun pada awalnya terasa segan, tetapi tetangga ternyata ramah-ramah. Tidak seperti rumor yang beredar kalau orang kaya itu pasti akan sombong.


Baby Ale pun semakin hari badannya semakin berisi. Setiap hari, Arasha selalu bermain ke tempat Thalia bersama dengan pengasuhnya saat Devanya harus pergi ke kantor bersama dengan suaminya. Shaka pun yang awalnya tidak suka bepergian ke rumah tetangga, akhirnya dia ikut berkunjung ke rumah Thalia karena merasa bosan jika sendiri di rumah.


"Asha, sayang. Besok Tante sudah mulai ikut Om ke kafe. Asha main ke sininya sore aja ya," ucap Thalia siang itu.


"Dedek Ale mau ikut juga, Tante?" tanya Arasha.


"Ikut, Sayang. Kalau ditinggal, nanti gimana kalau pengen mimi."


"Yah Tante. Nanti Asha gimana? Apa boleh Asha ikut ke kafe?"


"Kalau mommy Asha mengijinkan, Tante mau kho bawa Asha sama Shaka." Thalia tersenyum ramah seraya mengelus surai hitam Arasha.


"Shaka gak ikut, Tante." Arshaka langsung menimpali ucapan kakak kembarnya.


"Iya, gak apa Sayang. Sudah makan belum? Tadi Om Sandi mengirim makanan untuk makan siang. Kita makan bersama yuk!" ajak Thalia.


"Emang boleh, Tante? Nanti makanannya abis, gimana?" tanya Arasha.


"Gak apa, dong! Yuk kita habiskan makanannya," ajak Thalia.


Bukan hal aneh bagi Thalia jika gadis kecil itu terlihat ragu untuk makan di rumahnya. Karena pada akhirnya, Arasha dan Arshaka pasti ikut makan bersamanya. Entah kenapa Thalia merasa senang bisa bersama dengan kedua anak kembar itu. Dia jadi merasa memiliki tiga anak sekaligus. Thalia tidak sungkan untuk menyuapi Arasha dan Arshaka dengan bergantian menyuapi dirinya sendiri.


Setelah ketiganya menghabiskan makanan bersama. Thalia pun meminta ijin pada kedua anak kembar itu untuk memberikan ASI pada Ale. Mereka hanya manggut-manggut mengiyakan. Karena sepertinya rasa kantuk sudah menyerang kedua bocah itu. Melihat semua itu, pengasuhnya langsung pamit dan membawa mereka pulang ke rumah.


Sementara itu, jauh dari kawasan rumah Thalia. Terlihat Sandi yang akan pulang ke rumahnya. Tidak lupa dia meminta koki untuk menyiapkan makanan yang akan dia bawa pulang untuk istrinya. Semenjak Thalia tidak ikut bersamanya ke kafe, dia jadi suka membawa oleh-oleh. Meskipun Thalia tidak pernah memintanya.


"Mas, ini pesanan makanannya," ucap Rudi, salah satu chef di kafe Sandi.


"Makasih," ucap Sandi dengan tersenyum manis.


"Tumben pulang masih siang?" tanya Rudi lagi.


"Biasalah, Rud. Bos kita sudah kangen dengan istrinya," kelakar Gunawan yang duduk bersama dengan Sandi.

__ADS_1


"Pastinya. Hidupku terasa hampa dirinya. Sudahlah, aku bosan melihat kalian berdua. Lebih baik lihat Tali sama Ale. Jaga kafe ya!" pesan Sandi sebelum akhirnya meninggalkan dua orang yang sedang menggelengkan kepalanya.


Sudah bukan hal yang aneh bagi mereka melihat Sandi yang tidak bisa jauh dari Thalia. Bahkan dari mereka bersahabat pun keduanya selalu terlihat bersama-sama. Namun mereka merasa ada yang ganjal saat melihat ada seorang laki-laki yang memakai masker seperti sedang mengikuti Sandi.


Gunawan melebarkan matanya agar bisa melihat lebih jelas siapa laki-laki itu. Namun, dia tetap tidak bisa melihatnya. Dia segera mengejar Sandi, tetapi bosnya itu sudah keburu menjalankan mobilnya. Merasa khawatir dengan keadaan Sandi, Gunawan pun langsung menghubungi laki-laki itu.


"Hallo, Sandi! Kamu hati-hati ada yang mengikuti kamu. Dia memakai mobil Plat B 5xxxxxx," ucap Gunawan.


"Apa? Mengikuti aku? Baiklah, aku mau mengecoh dia dulu. Kirim lewat pesan plat nomornya!"


Sebaiknya aku bawa jalan-jalan dulu ke mall. Aku ke kantor Devan saja dan menitipkan mobilku di sana. Biar nanti pulang minta diantar sama dia, batin Sandi.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Gunawan. Saat di lampu merah, dia melihat plat mobil yang dikatakan oleh Gunawan. Tanpa berpikir panjang lagi, Sandi langsung memutar haluan menuju ke kantor Devan yang ada di arah yang berbeda dengan arah yang dia tuju. Sesampainya di sana, dia langsung menuju ke resepsionis untuk menanyakan keberadaan sahabatnya.


"Hai Cantik! Pak Devannya ada?" tanya Sandi.


"Eh, Mas Ganteng. Ada kho, Mas. Silakan naik saja ke ruangannya," ucap resepsionis dengan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga.


"Makasih, ya!"


Sandi hanya melewati laki-laki itu yang menatap kesal kepadanya. Dia masa bodoh dengan orang itu. Yang penting dia bisa meloloskan diri dari orang yang menguntitnya


"Loh, Sandi kamu ke sini?" tanya Devan kaget saat dia berpapasan dengan Sandi.


"Aku sengaja mau ketemu kamu, Bro."


"Ada apa? Jangan bilang mau ngajak ke klub," tebak Devan. "Ayo ke ruangan aku saja!"


Devan yang tadinya mau pulang jadi mengurungkan niatnya karena bertemu dengan teman lama. Di pun membawa Sandi ke ruangannya.


"Devan, tadi kamu mau pulang?" tanya Sandi saat sudah di ruangan Devan.


"Iya, udah gak ada kerjaan, jadinya aku pulang aja."


"Sama. Aku juga tadinya mau pulang, tapi ada yang mengikuti aku, makanya ke sini mau nebeng sama kamu."

__ADS_1


"Kenapa gak bilang dari tadi kalau mau nebeng?"


"Kamu kan gak nanya."


"Hidup kamu kenapa sih bermasalah terus. Apa ada yang maksa nikah lagi sama kamu?"


"Makanya aku bingung, siapa orang yang sudah mengikuti aku. Perasaan aku gak punya musuh."


"Ya sudah yuk pulang! Kamu ikut mobilku saja."


"Nanti dulu! Coba kamu cek siapa pemilik mobil plat nomor ini?" pinta Sandi dengan menunjukkan pesan masuk dari Gunawan.


"Sebentar!" Devan langsung mengotak-atik ponselnya mencari tahu siapa pemilik mobil itu. Namun saat sudah menemukan siapa pemiliknya, dia hanya mengerutkan keningnya. "Itu mobil rental, Bro. Sepertinya dia orang pintar, menguntit kamu dengan mobil sewaan."


"Sudahlah! Ayo kita pulang saja. Yang terjadi ya terjadi saja. Semoga anak dan istriku baik-baik saja," ucap Sandi pasrah.


"Jangan gitu. Kita harus tetap waspada! Kamu tinggal menghubungi aku jika butuh bantuan," ucap Devan dengan merangkul pundak sahabatnya.


"Makasih, Bro."


Devan langsung menghubungi supir kantor agar menyiapkan mobil untuknya. Setelah semua siap, barulah dia dan Sandi turun. Dia sengaja meminta supir itu agar mengantarnya pulang.


Mana mungkin Devan mau tidak memperlihatkan diri pada penguntit itu. Bisa-bisa dia ikut jadi target. Makanya dia pun ikut menyembunyikan diri bersama dengan Sandi saat melewati mobil yang telah mengikuti Sandi.


"Kenapa aku merasa kenal dengan perawakan seperti itu? Apa mungkin itu ...?"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu up, yuk kepoin juga karya keren satu ini


__ADS_1


__ADS_2