Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 57 Cinta Butuh Perjuangan


__ADS_3

Lama Sandi dan Thalia berada di rumah Bu Elma. Sampai langit sudah berwarna jingga, barulah mereka berpamitan untuk pulang. Bu Elma tak hentinya menyuruh dua anak muda itu untuk sering-sering main ke rumah. Karena keberadaan Sandi dan Thalia membuat kerinduannya pada almarhum putranya terobati.


"Tali, pulang ke rumah apa mau ke apartemen saja?" tanya Sandi saat dalam perjalanan pulang.


"Hoam ... Apartemen saja. Aku capek, rasanya pengen cepat-cepat tidur," jawab Thalia dengan tangan menutup mulutnya.


"Siap, Tuan Putri!" sahut Sandi dengan tersenyum.


Calon Papa muda itu langsung membelokkan mobilnya saat sudah tiba di apartemen. Dia langsung membawa mobilnya ke basement dan memarkirkannya di samping mobil Jojo. Sepertinya idola kaum hawa itu baru datang setelah sebulan lebih syuting di luar kota.


"Baru pulang?" tanya Jojo langsung menyapa saat Sandi keluar dari mobilnya.


"Iya, habis main di kost-an." Sandi langsung membuka pintu samping Thalia karena istrinya sudah terlelap tidur di mobil.


Melihat Sandi yang seperti kesusahan mengeluarkan Thalia dari dalam mobil, Jojo pun bertanya, "Mau aku bantu?"


"Tolong halangi kepala Thalia, takut kebentur pintu."


Langsung saja Jojo mengikuti arahan Sandi, dia melindungi kepala Thalia dengan tangannya. Kedua sahabat lama itu bersatu padu menjaga ibu hamil yang mereka sayangi. Sampai Akhirnya Sandi sudah bisa menggendong Thalia dengan benar.


"Tolong kunci mobilku!" pinta Sandi seraya berlalu pergi meninggalkan Jojo dan memberikan kunci mobil itu pada sahabatnya.


Jojo hanya mengikuti apa yang Sandi minta tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Saat mobil Sandi sudah terkunci, dia pun langsung mengejar Sandi dan membantu menekan tombol lift.


"Makasih," ucap Sandi seraya melirik ke arah Jojo saat keduanya sudah berada di dalam lift.


"Jangan berterima kasih padaku. Ini sudah sewajarnya," ucap Jojo.


"Jo, bagaimana rencana kamu dengan Melati. Apa sudah ada kejelasan?" tanya Sandi.


"Papa tidak setuju. Dia sudah menyiapkan gadis lain untuk aku. Sepertinya Papa tahu kalau aku sudah putus dengan Ivan," beber Jojo.


"Kenapa tidak setuju dengan Melati?" tanya Sandi heran.


"Ayahnya Melati ternyata teman sekolah Papa. Mereka bermusuhan dari jaman sekolah hingga sekarang."


"Kho bisa? Memang papa kamu pernah bertemu dengan ayahnya Melati?"

__ADS_1


"Iya, sengaja mengajak makan malam bersama saat libur dari syuting. Tapi ternyata acaranya berantakan." Jojo tersenyum miring, seakan-akan menertawakan kemalangannya.


"Kawin lari aja. Bisa juga kamu nikah tanpa bilang pada papa kamu. Asal kamu bisa meyakinkan ayahnya Melati," usul Sandi.


Ting


Terdengar lift berbunyi tanda sudah tiba di lantai yang dituju. Keduanya pun langsung keluar dan menuju ke unit Sandi. Mereka kembali melanjutkan obrolan setelah Sandi membaringkan Thalia di tempat tidur.


"Sandi, bagaimana cara kamu bisa menyusup ke restoran waktu acara pertunangan aku dengan Thalia?" tanya Jojo membuka obrolan.


"Kenapa memang? Kamu penasaran? Aku hanya menyuap beberapa orang pekerja di sana. Tapi orangnya kamu gak perlu tahu. Mereka teman sekolah aku dan Thalia."


"Pantas saja. Aku hanya sedang berpikir, bagaimana caranya membawa Melati pergi?"


"Kamu gak bisa nikah dengan Melati tanpa seijin ayahnya. Lebih baik, kamu mengambil hati ayahnya Melati."


"Mana mungkin bisa. Gara-gara omongan papa, ayah Melati tersinggung."


"Aku punya cara, sini aku bisikkan!" Sandi pun mengajari Jojo untuk melakukan ide yang tercetus di otak konyol Sandi. Jojo hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang Sandi suruh.


"Kapan aku harus melakukannya?" tanya Jojo.


"Oke, aku akan membeli dulu perlengkapan yang diperlukan. Apa kamu mau membantu mencarikan?"


"Ngapain repot-repot, beli online saja."


"Kamu benar, tolong kamu pilihkan apa saja yang harus aku beli!" pinta Jojo dengan membuka aplikasi e-commerce yang berwarna orange.


Kedua sahabat itu sibuk memilih barang-barang yang dibutuhkan Jojo untuk aksinya. Sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan angka sembilan. Barulah Jojo berpamitan pulang.


"Jo, kamu terus yakinkan Melati kalau dia berharga buat kamu," pesan Sandi.


"Oke, aku pulang dulu."


Selepas kepergian Jojo, Sandi langsung menuju ke kamarnya. Dia merasa gerah ingin membersihkan diri. Tak lupa dia menghampiri Thalia yang masih tertidur pulas dan mencium kening ibu hamil itu.


Ternyata cinta butuh perjuangan ya! Aku pikir hubungan Jojo dan Melati baik-baik saja saat mereka tidak ada kabar beritanya. Tapi ternyata sedang menghadapi badai besar. Semoga saja rencana itu berhasil sehingga ayahnya Melati tidak punya pilihan selain menikahkan mereka berdua, batin Sandi

__ADS_1


...***...


Keesokan paginya, Thalia terbangun dengan tangan Sandi yang dengan setia memegang buah kembarnya. Entahlah, semenjak buah itu semakin mekar, Sandi jadi betah untuk memegangnya. Bahkan kalau dia mau tidur harus memegang buah kembar dulu.


"Sandal, bangun! Aku mau pipis dulu," suruh Thalia dengan mengangkat tangan Sandi.


"Tali, jangan lama-lama! Aku masih ngantuk," pinta Sandi dengan mata yang masih terpejam.


"Nggak! Aku bentar doang," ucap Thalia yang tidak sepenuhnya berbohong.


Dia memang tidak lama di kamar mandi, tetapi setelah ritual mandinya selesai, dia akan menunaikan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan sekaligus sebagai seorang istri yang setiap pagi harus menyiapkan sarapan.


Dia sudah tidur lagi, lebih baik aku ke dapur.


Thalia mengendap-endap akan keluar kamar setelah dia menunaikan kewajibannya pada Sang Pencipta. Namun, baru saja dia membuka pintu, Sandi langsung memanggilnya. "Tali, sini tidur lagi! Masih gelap."


"Sandal, aku lapar! Aku mau cari makanan dulu," keluh Thalia.


Sandi yang masih memejamkan matanya langsung terbangun saat mendengar istrinya kelaparan pagi di pagi buta begini. "Tunggu sebentar! Aku cuci muka dulu."


Ngapain dia mau ikut ke dapur? Tapi sudahlah, daripada dia kesal mending ditunggu aja, batin Thalia.


Tidak lama kemudian, Sandi sudah terlihat segar. Dia memakai sweater dan celana panjang. Tak lupa rambutnya disisir dengan rapi. Membuat penampilan playboy insyaf itu semakin mempesona.


"Sandal mau ke mana?" tanya Thalia heran.


"Katanya lapar, kita cari sarapan di bawah yuk! Udah lama tidak jalan-jalan pagi," ajak Sandi.


"Ya udah tunggu dulu, aku mau ganti baju. Masa pakai baju seperti ini," ucap Thalia.


"Oke baby! I'm waiting for you." Sandi mencolek dagu Thalia membuat ibu hamil bergidik ngeri.


"Kamu mimpi apa jadi genit begini?"


"Mimpi aku hanya satu, bisa hidup bahagia bersama kamu dan anak-anak kita."


"Bisa aja kamu gombalnya," ucap Thalia dengan hati yang berbunga-bunga.

__ADS_1


Dia langsung pergi menuju ke tempat baju dengan wajah yang bersemu merah. Rasanya bahagia memiliki suami yang terkadang bisa membuat angannya terbang melayang. Thalia berharap, semoga saja apa yang dia dan Sandi impikan dapat terwujud.


...~Bersambung~...


__ADS_2