Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 49 Ketemu


__ADS_3

Insomnia Sandi langsung kambuh. Semalaman dia tidak bisa tidur. Pikirannya terus melayang memikirkan Thalia. Dia terus berusaha untuk memejamkan matanya tetapi hatinya tetap gelisah.


Kenapa Devan belum mengabari tentang Thalia. Apa dia begitu kesusahan mencari jejaknya. Aku harus cepat-cepat bisa jalan. Agar bisa mencari sendiri di mana istriku berada, batin Sandi.


Perlahan dia menurunkan kakinya. Mencoba berjalan dengan berpegangan. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil. Sandi langsung terjatuh saat mencoba melepas pegangan tangannya. Seperti seorang balita yang sedang belajar, terus mencoba dan mencoba lagi. Akan tetapi, kakinya masih belum bisa berpijak dengan baik.


Sandi duduk terdiam di lantai, setelah dia terjatuh untuk yang ke sekian kalinya. Hatinya menangis merasa jadi orang yang tidak berarti. Tangannya mulai memukuli kakinya dengan tetes air mata yang mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.


"Kaki sialan! Kenapa kamu tidak berguna? Aku ingin mencari istriku, tapi kamu malah tidak bisa berjalan," rutuk Sandi dengan terus menerus memukuli kakinya. Sampai akhirnya Tuan Morgan datang langsung menghentikan kegilaan putranya.


"Hentikan, Nak! Papa sudah dapat kabar dari Komandan Barra. Kamu istirahat dulu, nanti pagi kita menjemputnya." Tuan Morgan berusaha menenangkan putranya.


"Papa serius Tali sudah ketemu?"


"Iya, dia hampir tertabrak oleh mobil lalu orang itu membawa ke rumah Tuan Argantara. Besok kita ke sana, kalau sekarang tidak enak mengganggu waktu istirahat mereka. Komandan Barra sudah memastikan kalau Thalia baik-baik saja," jelas Tuan Morgan.


"Syukurlah dia baik-baik saja. Terima kasih, Pah."


"Iya, Papa pasti akan melakukan yang terbaik untuk kamu. Papa hanya harap, kamu bisa menguatkan hati kamu dalam menghadapi setiap cobaan. Karena tidak semua hal bisa berjalan seperti yang kita inginkan," ucap Tuan Morgan lembut.


"Iya Pah. Maafkan Sandi!"


"Kamu istirahat dulu, minum saja obatnya agar kamu bisa tidur. Tubuh kamu perlu istirahat agar besok segar kembali saat bertemu dengan Thalia." Tuan Morgan membantu Sandi ke tempat tidur. Hatinya sangat sakit melihat keadaan putra kesayangannya.


Setelah memastikan Sandi duduk dengan nyaman di atas tempat tidur. Tuan Morgan mengambil sebotol obat yang sengaja di simpan di dalam laci nakas. Dia mengambil satu butir obat dan memberikannya pada Sandi.


"Minumlah, besok kita akan menjemput Thalia."


"Iya, Pah!" sahut Sandi.


Sandi langsung meminumnya, lalu merebahkan tubuhnya. Tidak lama kemudian dia mulai terlelap. Barulah Tuan Morgan bisa bernapas dengan lega saat melihat putranya sudah tertidur pulas.


"Tidurlah, Boy! Semoga saja apa yang Barra katakan benar."


...***...


Keesokan harinya, saat sinar mentari menyelusup masuk lewat jendela, perlahan Sandi membuka matanya. Berkali-kali dia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya. Dilihatnya jam yang menggantung di dinding. Ternyata waktu sudah menunjukkan angka delapan. Dia pun buru-buru menyibak selimutnya berniat untuk membersihkan diri.


Sandi menyetel kursi rodanya agar bisa sejajar dengan tempat tidurnya sehingga dia tinggal menggeserkan tubuhnya saat berpindah ke kursi roda. Memang kemajuan teknologi yang pesat, semakin mempermudah manusia untuk melakukan banyak hal sendiri.


Setelah dia sudah berada di kursi roda, dia pun mulai menjalankannya menuju ke kamar mandi. Dia langsung teringat pada Thalia, karena biasanya Thalia sudah menyiapkan air hangat di bathtub saat pagi hari.

__ADS_1


Tali, cepatlah pulang! Aku sangat merindukanmu.


Dengan susah payah, dia pun membersihkan tubuhnya sendiri. Saat semua ritual mandinya sudah dia lakukan dengan baik, Sandi pun langsung bersiap untuk menjemput Thalia.


"Sandi, apa sudah siap?" tanya Tuan Morgan saat dia mau melihat keadaan putranya.


"Sudah Pah!" sahut Sandi.


"Kita sarapan dulu sambil menunggu Komandan Barra. Katanya dia mau ke sini," ucap Tuan Morgan.


"Baik, Pah!" sahut Sandi.


Tuan Morgan pun langsung mendorong kursi roda dan membawa putranya menuju ke meja makan. Semua makanan kesukaan Sandi sudah terhidang di sana. Keduanya pun menikmati sarapan paginya tanpa bersuara.


"Maaf Tuan, ada Pak Polisi di depan," ucap Bi Ipah.


"Suruh ke sini untuk sarapan bersama," ucap Tuan Morgan.


"Baik, Tuan!" sahut Bi Ipah.


Tidak lama kemudian Komandan Barra datang menghampiri Tuan Morgan yang sedang menikmati sarapan paginya. Komandan polisi yang merupakan teman sekolah Tuan Morgan itu langsung tersenyum. Tidak jauh beda dengan Tuan Morgan yang juga melemparkan senyum pada Komandan Barra.


"Tidak terima kasih. Aku sudah sarapan bersama dengan anak dan istriku," tolak Komandan Barra.


"Komandan Barra salah satu orang yang beruntung Sandi. Dia menikah dengan sahabatnya yang awalnya tidak mencintai dia, tapi sekarang istrinya tidak bisa jauh darinya." Tuan Morgan tersenyum saat mengingat masa mudanya dengan Komandan Barra


"Kamu bisa saja. Aku memang bersyukur sekali dengan kehidupan yang aku jalani. Bukankah kalau kita selalu bersyukur maka Tuhan akan melimpahkan lebih banyak anugerahnya?"


"Kamu memang benar, Ndan."


"Seperti aku dengan Tali," ucap Sandi ikut menimpali obrolan papanya.


"Tidak sesimpel kamu, kalian saling menyukai sejak awal tapi saling memungkiri. Kalau Komandan harus berjuang dulu untuk mendapatkan hati istrinya," ucap Tuan Morgan.


Mereka terus berbincang sampai sarapannya selesai. Baru kemudian berangkat ke rumah yang di tuju. Namun, saat dalam perjalanan Sandi mendapatkan panggilan telepon dari Devan. Dia pun segera menerima panggilan telepon itu.


"Hallo, Van. Bagaimana?"


"Sandi, istrimu ada di rumah Tante Lana. Kemarin Elgar hampir menabraknya dan membawa dia ke rumah tantenya."


"Apa Tante Lana itu keluarga Argantara?"

__ADS_1


"Kho kamu tahu? Iya suaminya Tuan Kendra Argantara."


"Aku sedang menuju ke rumahnya."


"Apa? Kamu sudah tahu?"


"Iya dari Komandan Barra."


"Oh, syukurlah! Sorry aku terlambat!"


"Tidak apa, makasih sudah membantu aku. Lain kali aku akan memperkenalkan istriku dengan istrimu."


"Wah ide bagus! Biar istriku memiliki banyak teman."


"Makasih, Van. Aku tutup dulu."


"Oke, Bro."


Sambungan telepon pun terputus bersamaan dengan supir membelokkan mobilnya masuk ke gerbang sebuah rumah yang megah bergaya klasik. Sandi langsung memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana, sebelum akhirnya dia fokus melihat rumah megah itu.


"Apa ini rumahnya?" tanya Sandi.


"Iya, dulu suaminya Dokter Lana kakak angkat aku, tetapi meninggal karena kecelakaan di jalan raya," jelas Komandan Barra.


"Aku ingat, dulu sering bertemu dengan Bang Dika saat ikut main ke rumah Zee dan Dave. Kenapa orang baik selalu cepat meninggal?" Kenang Tuan Morgan.


"Entahlah! Ayo kita turun!" ajak Komandan Barra.


Mereka pun langsung turun dari mobil dan menunggu supir menyiapkan kursi roda untuk Sandi. Setelah semuanya siap, ketiga laki-laki itu menuju ke pintu depan yang menjulang tinggi. Tidak berapa lama pintu terbuka setelah Komandan Barra menekan bel.


"Pagi Tuan-tuan, mau bertemu dengan siapa?" tanya pembantu rumah itu.


"Dokter Allana sama Tuan Kendra," jawab Komandan Barra.


"Silakan masuk! Sebentar saya panggilkan Tuan dulu," pamit pembantu itu.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2