Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 79 Rujuk?


__ADS_3

Luka tembak yang cepat mengering, membuat Sandi tidak butuh waktu lama menginap di hotel palang merah itu. Hanya butuh waktu tiga hari dia dirawat di rumah sakit. Hari ini Sandi sudah bisa pulang dan bertemu dengan putra kebanggaannya. Namun dia sedikit heran melihat kekompakan papa dan mamanya menjaga Ale. Mereka terlihat seperti tidak pernah ada masalah di antara keduanya.


"Papa dan Mama baikan?" tanya Sandi.


"Iya, rasanya Papa lelah jika terus bertikai dengan Mama kamu. Semua itu sudah berlalu lama. Lebih baik sekarang menjaga cucu biar dia jadi anak yang tangguh," tutur Morgan dengan tersenyum.


Sandi tidak langsung menanggapi, dia hanya melirik ke arah mamanya yang nampak kikuk. Wanita cantik itu hanya bisa tersenyum samar mendapatkan tatapan seperti itu dari putranya. Namun Morgan segera kembali berbicara.


"Jangan seperti itu pada mamamu! Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tuhan saja Maha Pengampun, kenapa kita sebagai makhluk-Nya tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain," ucap Morgan.


"Aku salut sama Papa. Meskipun sudah disakiti tapi masih bisa memaafkan," ucap Sandi.


"Terima kasih Mas Morgan dan kamu, Nak. Masih mau menerima Mama kembali. Padahal kesalahan Mama sangat besar," ucap Raline dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sudahlah Raline! Semua sudah terjadi. Kita tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Hanya perlu memperbaiki dari setiap kesalahan yang sudah kita lakukan." Morgan langsung merengkuh wanita yang tidak pernah hilang dari hatinya.


Rasa cintanya yang besar pada Raline, membuat dia bisa memaafkan kesalahan mantan istrinya. Apalagi dia tahu, perselingkuhan itu terjadi karena jiwa cassanova Simon yang terus menggoda iman istrinya. Sampai akhirnya Raline jatuh ke dalam pelukan Simon.


"Mah, Pah, ayo kita makan siang dulu. Tadi Bibi sudah menyiapkannya. Ayo, sandal!" ucap Thalia yang baru datang dari dapur yang menyatu dengan ruang makan.


"Ayo! Maaf, Mama tidak membantu menyiapkan."


"Tidak apa, Mah. Sekali-kali Thalia yang menyiapkan untuk makan kita. Oh iya, Mama dan Papa akan tinggal di sini kan? Biar Ale ada yang jagain. Lagipula Melati biar berduaan terus sama Jojo. Siapa tahu, mereka cepat punya momongan," tanya Thalia.


"Iya Mah, nginap di sini saja. Aku juga gak keberatan kalau misalkan Mama dan Papa mau rujuk," timpal Sandi.


"Nanti Papa cari waktu yang tepat untuk acara pernikahan Papa dan Mama," ucap Morgan dengan tersenyum cerah.

__ADS_1


"Jadi Papa sudah merencanakannya?" tanya Sandi kaget.


"Papa dan Mama sebentar lagi setengah abad. Rasanya lelah jika terus menyimpan dendam. Papa ingin tenang menikmati masa tua Papa. Makanya Papa minta kamu yang pegang perusahaan di sini. Biar Papa tidak terlalu lelah ke sana ke mari mengurus perusahaan sendiri," ungkap Morgan.


"Baiklah, apa boleh buat? Sebenarnya aku malas bekerja di perusahaan. Harus memakai pakaian formal. Aku lebih suka pakai baju santai sesuka hatiku. Meskipun karyawan cafe aku suruh pakai seragam," ucap Sandi.


"Terima kasih, Nak. Papa membangun perusahaan itu untuk kamu dan anak-anak kamu nanti." Morgan menepuk pundak putra semata wayangnya. Dia senang sekarang pikiran Sandi sudah lebih dewasa dari sebelumnya.


"Sudah ngobrolnya, makan siang dulu." Raline langsung menengahi pembicaraan ayah dan anak itu.


Mereka pun akhirnya makan dalam diam


Keempat orang dewasa itu begitu menikmati hidangan makan siang yang tersaji. Meskipun hanya menu sederhana, jika dimakan bersama dengan orang-orang yang kita cintai, pasti rasanya akan terasa nikmat. Namun, keheningan mereka pecah saat terdengar suara anak kecil memanggil Thalia.


"Tante Thalia, Tante. Asha boleh main tidak," teriak Arasha serasa berlari masuk ke dalam rumah. Sementara pengasuhnya hanya mengikuti gadis kecil itu dari belakang.


"Asha, hati-hati sayang! Jangan lari-lari begitu!" ujar Thalia.


"Tante, Asha kangen," ucap Arasha langsung memburu Thalia dan memeluknya. "Om Sandinya sudah sehat? Asha bawa cokelat buat Om Sandi, biar Om tidak sedih karena dijahatin orang," lanjutnya.


"Alhamdulillah sudah! Asha mau makan?" tanya Thalia.


"Tidak, Tante. Asha tadi sudah makan sama Mbak. Tante, dedek Ale mana? Asha mau main sama Dedek Ale. Abisnya, main sama Shaka suka iseng sama Asha. Masa dia bilang, pipi Asha tembem. Padahal kata Mommy enggak. Hanya Chuby aja."


"Asha emang cantik. Apalagi matanya indah sekali seperti mommy. Tante mau punya menantu seperti Asha," ucap Thalia asal.


"Menantu itu apa, Tante?"

__ADS_1


"Menantu itu, orang yang akan bersama-sama dengan Ale sampai tua dan punya dedek bayi," jelas Thalia.


"Ya udah deh, Asha mau jadi menantu Tante. Biar bisa main terus sama Dedek Ale," ucap Arasha yang tidak mengerti makna menantu yang sesungguhnya.


Thalia hanya tersenyum mendengar penuturan Arasha. Dia yakin kalau gadis kecil itu pasti tidak mengerti dengan maksud ucapannya. Tapi biarlah, namanya juga anak-anak. Pasti yang dia tangkap bersama-sama itu agar bisa terus bermain.


Baru saja Arasha dibawa oleh Thalia ke ruang bermain. Di luar rumah Thalia terdengar ada suara keributan. Semua orang yang ada di dalam rumah, segera melihat siapa yang sedang berteriak kencang di depan rumah Sandi.


"SANDI, KELUAR KAMU! KENAPA KAMU MASUKKAN SUAMIKU KE DALAM PENJARA! BELUM CUKUP KAMU MEMPERMAINKAN AKU, SEKARANG MEMBUAT JOSEPH MENDEKAM DI PENJARA."


Camelia seperti kehilangan akalnya. Dia sangat marah saat tahu kalau Sandi yang telah membuat suaminya berada di balik jeruji besi, sehingga saat baru tiba sepulang syuting di luar kota, Camelia langsung menjenguk Joseph di penjara.


"Apa yang kamu lakukan di rumahku? Kamu tahu, suami kamu itu gila. Lihat! Gara-gara suami kamu, perut kotak-kotak kesukaan Tali harus ada bekas luka. Dengar Camelia! Bukan aku yang membuat Joseph masuk ke dalam penjara. Tapi kelakuan dia sendiri yang membawanya ke sana. Kalau saja dia tidak ada niat ingin menghabisi nyawaku, mungkin dia tidak akan ada di sana." Sandi berbicara lantang di ambang pintu depan rumahnya.


"Kamu jangan mengada-ada! Joseph orang baik, tidak mungkin punya niat ingin menghabisi orang."


"Bodoh! Kamu tertipu dengan penampilan alim dia. Padahal dia tidak beda jauh dengan aku. Bahkan Joseph sering check-in dengan pacar-pacarnya di hotel." Sandi tersenyum miring dengan mata yang menatap tajam pada Camelia.


Aku tidak ingin percaya. Tapi dulu, kesucian aku pun direnggut oleh Joseph saat kami masih berpacaran.


...~Bersambung~...


...Ayo gaskeun dukungannya Kakak. Jangan lupa klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


...Sambil nunggu Brondong update, yuk kepoin karya keren yang satu ini....

__ADS_1



__ADS_2