
Bukan hanya Pak Gerry yang panik karena putrinya menghilang. Tetapi semua orang yang ada di tempat itu ikut mencari keberadaan Thalia. Sampai akhirnya mereka melihat dari rekaman CCTV kalau ada yang menculik Thalia.
"Sial! Siapa yang sudah berani bermain-main denganku?" geram Simon.
"Sudah, Pah. Aku yakin pasti dia pelakunya," ucap Jojo.
"Maksud kamu?"
"Pasti Sandi dalang dibalik semua ini. Apa Papa tahu, kalau Thalia itu, gadis yang selalu bersama dengan Sandi?" tanya Jojo.
Bagaimana ini? Kenapa anak itu bikin ulah? Apa ini cara dia membalas dendam padaku? Lalu bagaimana dengan para wartawan? Nama baik Jojo dipertaruhkan, batin Simon.
"Pah, apa yang harus kita lakukan?" tanya Raline panik.
"Pak Gerry, bukankah Bapak masih memiliki seorang putri lagi? Tidak apa dia yang menjadi pengganti Thalia," tanya Simon.
"Ada, Tuan. Sebentar saya panggilkan," ucap Gerry
"Tidak usah, Om. Aku akan membatalkan acara ini. Aku tidak mau bertunangan kalau bukan dengan gadis itu," cegah Jojo.
Meskipun dia tahu nama baiknya akan rusak karena kejadian ini. Tetapi Jojo tidak mau jika harus memiliki pasangan yang tidak dikenalnya. Akhirnya dia pun langsung membuat pengumuman untuk para wartawan dan tamu undangan.
"Selamat malam semuanya. Saya harap, apa yang akan saya sampaikan tidak perlu didokumentasikan. Saya Jojo Frizt dengan sangat menyesal membatalkan acara ini. Untuk itu, para wartawan dan semua tamu undangan sudah bisa meninggalkan tempat acara. Terima kasih," ucap Jojo panjang lebar.
Manager Jojo dan keluarganya hanya bisa diam di tempat. Mereka merasa prihatin dengan apa yang terjadi hari ini. Akan tetapi, mereka pun tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Jojo.
Sementara wartawan dan para tamu undangan yang hadir saling berbisik di belakang. Mereka semakin yakin dengan gosip yang beredar di kalangan selebritis, kalau Jojo Frizt tidak menyukai perempuan.
"Jo, kenapa gak mau tunangan dengan adiknya? Bukankah adiknya lebih cantik dari Thalia?" tanya Rio langsung memburu Jojo yang baru turun dari meja yang sudah disiapkan untuk konferensi pers.
"Secantik apapun gadis itu, tapi tidak bisa membuat aku merasa tertarik. Mungkin sudah takdirku jika aku harus menyukai ...."
"Stop it! Jangan diteruskan! Aku yakin, kamu pasti bisa sembuh." Rio langsung membekap mulut Jojo agar sahabatnya itu tidak melanjutkan apa yang akan dikatakan oleh Jojo. Karena kalau sampai terdengar oleh wartawan. Pasti dia yang akan dipusingkan untuk melakukan klarifikasi.
__ADS_1
Saat Jojo akan kembali berbicara, terdengar bunyi ponselnya. Dia pun langsung mengambil ponsel yang dia simpan di kantong celananya. Jantungnya berdegup kencang saat tahu siapa yang sudah menghubunginya. Seseorang yang sudah seperti saudara kembar baginya.
"Hallo, mantan sahabat!" sapa Sandi di seberang sana.
"Sandi ...." lirih Jojo.
"Hahaha ... kamu masih mengenali aku rupanya." Sandi tertawa samar.
"Apa Thalia bersama kamu?" tanya Jojo tidak memperdulikan ucapan Sandi.
"Tentu saja, kamu jangan khawatir, Tali baik-baik saja denganku. Aku heran sama kamu, gak suka cewek tapi mau nikah sama cewek. Apa kamu mau memutuskan garis keturunan?" ledek Sandi.
"SANDI!!! Dimana kamu?" sentak Simon menimpali.
"Wow! Pebinor marah-marah, ikh aku takut!" Bukannya takut dengan kemarahan Simon, Sandi malah meledeknya.
"Jangan bertingkah kamu! Aku pasti bisa menemukan kamu." Lagi-lagi Simon bicara dengan nada tinggi.
"Lakukan saja Tuan Simon yang terhormat! Jangankan menemukan aku, merebut istri sahabat sendiri, Anda bisa melakukannya."
"Pengawal!!! Cepat cari bocah itu dan bawa ke hadapanku!" teriak Simon.
Untung saja hanya tinggal keluarga inti yang ada di sana, sehingga Rio tidak perlu bingung beritanya akan bocor ke media. Sementara itu, Raline yang mendengar apa yang dikatakan suaminya, dia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Simon.
"Jangan sakiti putraku! Kalau sampai kamu melakukannya, aku akan pergi jauh dari hidup kamu."
"Sudahlah, aku bosan lihat drama keluarga seperti itu. Aku hanya mau bilang kalau aku dan Tali akan pulang setelah kami memiliki banyak anak, bye mantan sahabat ... Bye pebinor ... Bye ayah mertua. Aku akan menjaga putrimu dengan baik."
Sandi langsung menutup sambungan teleponnya. Dia tersenyum senang telah berhasil membuat Simon semarah itu. Namun, tetap saja hati kecilnya merasa khawatir pada wanita yang telah melahirkannya. Meskipun dia terus menyangkalnya dan menutupi dengan kebencian, tetapi tetap saja perasaan cemas itu terus menggelitik hatinya. Takut Simon akan nekat dan menyakiti Raline.
Berbeda dengan Jojo yang terus saja melihat perdebatan mama dan papanya. Dia ingin tahu, sejauh mana mama tirinya itu akan membela putra kandungnya dan tidak memperdulikan perasaannya saat ini.
"Lihat Raline! Putramu sudah sangat keterlaluan. Dia tega menculik calon istri sahabatnya sendiri," geram Simon.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kamu sendiri? Bukankah kamu juga begitu? Dengar Simon, kita bisa mencari gadis lain untuk menjadi pasangan Jojo. Aku yakin, dia pasti akan sembuh seperti yang kita harapkan." Raline yang sedang tidak bisa mengontrol emosinya tanpa sengaja bicara keceplosan di depan Pak Gerry
"Maksud Nyonya? Jojo sakit apa? Kenapa putriki mau dijadikan sebagai alat penyembuh?" tanya Gerry kaget.
Baru saja Raline akan berbicarala, Eva datang bersama dengan Melati dalam keadaan yang kacau. Rambut berantakan, baju terlihat kusut, make-up pun sudah luntur. Dia mengerutkan keningnya saat melihat suasana ruangan itu sudah sepi.
"Loh, Ayah! Tamunya pada ke mana? Kenapa sepi? Apa Thalia sudah ditemukan?" tanya Eva dengan terus saja celingukan.
"Iya, Om. Kenapa sepi? Thalia juga kenapa gak ada?" tanya Melati seperti orang linglung.
"Thalia diculik oleh Sandi," jawab Pak Gerry.
"Apa??!! Diculik Sandi?!" pekik Melati, "Kapan dia datang ke sini?" lanjutnya.
"Bagaimana bisa ,Yah?" tanya Eva.
"Kenapa gak bisa kalau dia mencampurkan obat tidur di makanan itu. Kalian saja sampai tertidur pulas," sinis Gerry.
"Lalu bagaimana dengan ...." Eva tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung menarik Gerry menjauh dari orang-orang.
"Ibu kenapa?" tanya Gerry heran.
"Bagaimana kita bisa mengembalikan uang mahar dari Tuan Simon kalau Thalia gak ada? Mana uangnya sudah kita pakai. Ayah, apa yang harus kita lakukan? Ibu gak mau kalau harus masuk penjara karena tidak bisa mengembalikan uang itu," tanya Eva cemas.
"Ibu tenang saja. Kita minta tolong saja sama Nyonya Raline. Ternyata dia ibu kandung Sandi," ucap Pak Gerry menenangkan istrinya.
"Apa? Sandi anaknya Nyonya Raline? Mana mungkin ayah," tanya Eva merasa tidak percaya.
"Itu kenyataannya. Makanya ibu jangan galak-galak sama Sandi."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, like, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....