Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 24 Ayah!!!


__ADS_3

Setelah berhari-hari mengarungi samudera, mereka pun tiba di benua biru. Namun, acara liburan yang Sandi rencanakan harus gagal. Sandi mendapatkan kabar kalau Pak Gerry masuk ke rumah sakit karena serangan jantung. Mau tidak mau akhirnya dia pun kembali ke tanah air dengan menggunakan pesawat terbang.


Thalia yang tidak tahu tentang sakit ayahnya, dia hanya mengikuti apa yang Sandi katakan. Gadis itu hanya menyimpan pertanyaan di dalam hatinya. Saat melihat raut wajah tegang di wajah sahabatnya.


Sandal kenapa lagi ya? Perasaan aku gak bikin salah. Tapi syukurlah, kalau akhirnya dia memutuskan untuk pulang, batin Thalia.


"Tali, ingat sekarang kita sudah bertunangan. Aku tidak mau kamu dekat dengan lelaki manapun saat di tanah air nanti," ucap Sandi saat sudah duduk di pesawat. Dia menatap lekat Thalia yang duduk di sampingnya.


"Kita serius tunangan? Tapi kamu harus janji, akan mutusin semua pacar-pacar kamu itu," pinta Thalia.


"Iya, aku pasti akan melakukannya. Kamu tenang saja," ucap Sandi dengan mengacak-acak rambut Thalia.


"Sandal ih! Rambutku berantakan," keluh Thalia.


"Tidak apa, bagaimanapun keadaan kamu, aku pasti akan menerimanya dengan senang hati," ucap Sandi.


"Sandal, aku kenapa kepikiran ayah terus ya? Apa ayah baik-baik saja?"


"Pasti ayah kamu baik-baik saja. Kita berdoa saja biar semuanya baik-baik saja," ucap Sandi.


Keduanya terdiam saat ada seorang pramugari yang datang untuk memberikan pengumuman sebelum lepas landas. Thalia yang memang baru pertama kali naik pesawat terbang, mendengarkan dengan seksama arahan yang diberikan oleh pramugari.


"Penumpang yang terhormat, kami mohon perhatian Anda sebentar! Sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan sipil, kami harus menunjukkan kepada Anda cara menggunakan sabuk pengaman, masker oksigen, pintu dan jendela darurat, jaket pelampung, dan kartu keselamatan." Terlihat Pramugari itu menunjukkan barang-barang yang dia sebutkan.


"Kali ini jika sabuk pengaman Anda sudah terpasang, kami perlu menunjukkan cara menguncinya, mengencangkan, dan melepaskan sabuk pengaman Anda. Jika tekanan udara di kabin berkurang secara tiba-tiba, masker oksigen akan keluar dari tempatnya sehingga terjangkau, dengan tarikan yang kuat ke arah masker oksigen Anda, tutup mulut dan hidung, kaitkan karet di kepala, dan bernapas seperti biasa." Pramugari di itu menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


Thalia dengan refleks mencari barang-barang yang disebutkan oleh pramugari dan tangannya ikut memperagakan setiap arahan yang diberikan oleh pramugari itu. Tentu saja hal itu membuat Sandi ingin tertawa melihatnya.

__ADS_1


"Tali kamu ngapain?" tanya Sandi yang melihat Thalia ikut mempraktekan cara menggunakan pelampung seperti yang dikatakan oleh pramugari itu.


"Aku sedang menghapal jika kondisinya darurat." Setelah dia mengerti dengan arahan pramugari itu, Thalia mulai mencari kartu instruksi tentang cara-cara untuk melarikan diri dalam keadaan darurat yang berada di saku kursi di depannya. Setelah menemukannya, dia pun langsung membacanya.


"Tali kamu akan pusing, pesawatnya mau lepas landas malah baca. Nanti saja kalau sudah ada di atas," protes Sandi.


"Aku takut kenapa-napa. Entah kenapa hatiku merasa tidak tenang" ucap Thalia.


"Kamu terlalu banyak berpikir. Lebih baik istirahat saja."


"Iya Kang Sandal."


Setelah mengudara kurang lebih selama tujuh jam, akhirnya pesawat yang Sandi dan Thalia tumpangi sudah sampai di ibu kota. Sandi langsung membawa Thalia ke rumah sakit karena Tifani terus mengirim pesan padanya kalau kondisi Pak Gerry kritis.


"Sandal, kenapa kita ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?" tanya Thalia.


"Nanti aku ceritakan kalau kita sudah sampai di sana." Sandi menggenggam tangan Thalia erat. Seolah takut gadis itu akan lepas dari jangkauannya.


"Ibu, siapa yang sakit?" tanya Thalia kaget melihat Eva berada di sana.


"Thalia! Kamu sudah tahu jalan pulang? Lihat gara-gara kamu, ayah jadi terkena serangan jantung. Tiap hari Tuan Simon ke rumah meminta uang mahar itu dikembalikan," sentak Eva


"Berapa yang dia minta?" tanya Sandi.


"Satu setengah milyar, karena buat ganti biaya acara pesta pertunangan waktu itu, dia membebankan sama kita. Gara-gara kamu membawa Thalia kabur, rumah yang kami tempati terancam akan diambil oleh dia."


Sandi hanya diam mendengarkan. Rasanya bukan waktu yang tepat jika dia membantah ucapan Eva. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Pak Gerry agar cepat pulih kembali.

__ADS_1


"Tante, aku yang akan mengurus soal tua bangka itu. Tante jangan cemas, rumah Tante tidak akan ada yang mengambil," ucap Sandi setelah Eva selesai dengan ocehannya.


Saat Eva akan kembali berbicara, terlihat pintu ruang ICU ada yang membukanya dari dalam. Seorang perawat datang untuk meminta Thalia dan Sandi masuk ke dalam. Gadis itu langsung menangis saat melihat tubuh ayahnya yang dipasangi beberapa alat medis.


"Hiks ... Ayah kenapa seperti ini? Maafkan Lia karena tidak patuh sama ayah." Thalia menggenggam tangan ayahnya dan mencium punggung tangan pria yang sangat berjasa dalam hidupnya. Membuat Pak Gerry membukakan matanya.


"Thalia, kamu sudah pulang Nak? Ayah kangen," lirih Pak Gerry.


"Iya, Ayah. Ini Lia, ayah cepat sehat lagi." Thalia langsung memeluk ayahnya yang terbaring lemas di atas tempat tidur.


"Waktu ayah sudah tidak lama lagi. Bunda kamu sudah menjemput ayah." Pak Gerry memaksakan tersenyum sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Sandi, Om titipkan Thalia padamu. Jika kamu mencintai putri Om, maka Om akan merestui pernikahan kalian."


"Om, jangan khawatir! Aku akan selalu ada untuk Thalia." Sandi memegang tangan Pak Gerry yang sedang digenggam oleh Thalia.


"Om percaya sama kamu. Thalia, jaga dirimu baik-baik. Ayah menyayangi kamu."


Baru saja Pak Gerry menyelesaikan ucapannya. Terlihat garis horizontal di layar monitor. Thalia dan Sandi langsung panik, begitupun dokter yang mengawasinya. Dengan sigap dokter itu memberikan pertolongan dengan alat pacu jantung. Namun setelah berkali-kali dokter terus mencobanya, Pak Gerry sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


"AYAH!!!" teriak Thalia histeris.


Gadis itu langsung menangis histeris. Rasanya semua ini seperti mimpi buruk baginya. Baru saja dia merasa bahagia, kini hatinya harus hancur berkeping-keping.


Sementara Eva yang mendengar tangisan histeris Thalia, dia langsung menerobos masuk untuk memastikan keadaan suaminya. Dia pun langsung menangis dengan memeluk tubuh suaminya saat melihat wajah Pak Gerry sudah ditutup oleh kain putih.


"Ayah, kenapa ayah harus pergi? Bagaimana dengan Ibu dan anak-anak? Lia dan Fani belum menikah tapi Ayah sudah meninggalkan kami." Eva terus saja menangis sesenggukan di depan jasad suaminya. Dia saling berpelukan dengan putrinya.

__ADS_1


Selamat jalan, Om. Maafkan aku karena sudah mengacaukan semuanya. Mungkin aku egois, tapi aku lakukan itu karena aku tidak mau kehilangan putri Om, batin Sandi.


...~Bersambung~...


__ADS_2