
Setelah kepergian Jojo dan Melati, Sandi pun mulai memejamkan matanya. Dia sangat mengantuk setelah tadi meminum obat. Sementara Thalia memilih untuk pergi ke dapur. Perutnya sudah bernyanyi sedari tadi.
"Non, mau makan?" tanya Bi Ipah, pembantu rumah Tuan Morgan.
"Iya, Bi. Perutku lapar sekali," keluh Thalia.
"Sebentar, Bibi hangatkan dulu makanannya!"
"Tidak usah, Bi! Aku bawa mie cup kho. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya." Thalia menunjukkan mie yang dia bawa.
Sebenarnya Thalia merasa sungkan jika harus meminta makan. Untung saja masih ada mie cup di dalam tasnya. Akhirnya dia pun memberanikan diri untuk pergi ke dapur.
Saat dia sedang menikmati mie cup-nya, Tuan Morgan keluar dari ruang kerjanya. Dia terus mengendus wangi yang tidak biasa di rumahnya. Sampai akhirnya melihat Thalia yang sedang makan seorang diri.
"Thalia, kenapa makan mie? Apa bibi tidak memberi makanan padamu?" tanya Tuan Morgan terus melihat ke arah Thalia.
"Eh, Om. Ini Om, tadi ada sisa mie jadinya aku masak saja," jawab Thalia.
"Ipah, Ipah!"teriak Tuan Morgan.
"Iya, Tuan kenapa?" tanya Bi Ipah yang datang dengan tergopoh-gopoh.
"Lain kali siapkan makanan yang sehat untuk Thalia. Aku tidak mau menantuku terlalu banyak makan mie instan." Tuan Morgan bicara dengan nada yang sedikit tinggi membuat Ipah menunduk tidak berani melihat wajah tuannya.
"Iya, Tuan. Tadi saya juga sudah mau menghangatkan lauk untuk Nona, tapi dia menolak," jelas Bi Ipah.
"Ya sudah, kamu boleh kembali kerja." Tuan Morgan langsung duduk di depan Thalia setelah Ipah kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya.
Thalia menjadi kikuk saat Tuan Morgan terus melihat ke arahnya. Mie cup yang tadi terasa sangat menggugah selera, kini berubah menjadi terasa hambar.
"Thalia, Om harap kamu tidak merasa sungkan berada di sini. Ini rumah Sandi, tentu nanti kamu yang akan menjadi nyonya rumah di sini. Om, harap, kamu bisa membuat Sandi merasa betah tinggal di sini," ucap Tuan Morgan panjang lebar.
"Iya, Om. Aku hanya perlu penyesuaian dengan keadaan di sini," kilah Thalia.
"Satu lagi, Om titip Sandi selama Om tidak ada di rumah ini. Karena besok Om harus pergi, di sana banyak pekerjaan yang harus Om selesaikan. Untuk soal Camelia, kamu tidak perlu khawatir, Om sudah menyuruh orang untuk menyelidikinya."
"Om tahu soal Camelia?" tanya Thalia kaget.
"Semua hal yang berkaitan dengan Sandi, Om tahu. Hanya Om tidak ingin terlalu ikut campur dengan kehidupan putra Om. Makanya, Om selalu membiarkan Sandi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Hanya saat Sandi tidak bisa menyelesaikannya, barulah Om turun tangan."
__ADS_1
Berarti dia tahu apa yang sering aku lakukan bersama dengan Sandi. Aduh malu banget kalau ada orang lain yang lihat aku dan Sandi sering beradu bibir, batin Thalia.
...***...
Lain Thalia, lain juga dengan Melati. Gadis itu sangat bahagia saat Jojo mengajaknya bertemu dengan mamanya. Kedua sudut bibirnya terus saja melengkung membentuk bulan sabit. Lagi-lagi Jojo hanya tersenyum tipis saat melihat rona bahagia dari wajah Melati.
Dia langsung memarkiran mobilnya di garasi, setibanya di rumah yang dia beli dengan hasil kerjanya. Sementara Melati hanya celingukan melihat ke segala arah.
"Kita sudah sampai?" tanya Melati.
"Iya, aku sengaja langsung menyimpan mobilku di garasi bawah tanah. Bukankah kamu akan menginap?"
"Apa?! Menginap?!" pekik Melati. "Jangan becanda Idola!" lanjutnya panik.
"Semalam aja, besok aku harus syuting ke luar kota. Mungkin lama akan kembali ke sini lagi. Kalau kamu ingin membantuku, aku ingin memastikannya malam ini."
"Ta-tapi ... Bagaimana dengan mama kamu? Apa dia tidak akan marah jika aku menginap?" tanya Melati gugup.
"Mama tidak akan tahu. Makanya aku langsung mengajak kamu ke garasi bawah tanah, agar bisa langsung sampai ke kamarku," jelas Jojo.
"Apa kamarnya dibawah tanah?" tanya Melati lagi.
"Baiklah! Tapi tidak melakukan hal yang terlalu jauh, kan?"
"Kita lihat saja nanti. Kalau aku sudah bisa menyentuhmu melampui hal yang seharusnya kita lakukan, aku pasti akan bertanggung jawab. Apa kamu masih mau maju atau mundur sampai di sini saja?" tanya Jojo untuk meyakinkan keputusan Melati.
Melati tidak langsung menjawab, dia menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sebelum akhirnya dia memberikan jawaban yang ditunggu oleh Jojo.
"Aku akan maju. Pantang bagiku untuk mundur sebelum berjuang," tegas Melati.
"Terima kasih. Pendirian kamu sangat teguh," ucap Jojo dengan tersenyum tipis. "Ayo kita turun!" ajaknya.
Melati hanya mengikuti apa yang Jojo katakan. Dia berjalan di belakang lelaki itu Sampai saat keduanya sudah berada di lift, barulah Melati kembali bersuara.
"Idola, soal yang tadi kamu katakan pada Sandi, apa itu beneran?" tanya Melati.
"Soal yang mana?" tanya Jojo bingung.
"Soal, kamu akan menikahi aku setelah pernikahan Sandi dan Thalia," jawab Melati.
__ADS_1
"Oh! Soal yang itu, tergantung malam ini. Kalau kamu bisa menaklukan aku, maka secepatnya kita menikah," jawab Jojo.
"Baiklah! Aku akan mengerahkan semua kekuatan yang aku punya untuk menaklukan Idola di bawa kakiku," ucap Melati dengan berapi-api.
Tidak berapa lama kemudian, lift yang mereka tumpangi sudah sampai di depan pintu kamar Jojo sehingga mereka hanya perlu keluar dan masuk ke dalam kamar. Tanpa perlu berpapasan dengan orang lain
Dengan jantung yang berdebar, Melati masuk ke dalam kamar Jojo. Mulutnya terus komat-komit untuk menghilangkan kegugupannya. Sementara Jojo hanya menggelengkan kepalanya melihat Melati seperti itu.
Aku tahu kamu takut, tapi aku salut dengan keteguhan kamu untuk membantu aku. Semoga saat menyentuh kamu, aku bisa kembli menjadi seorang lelaki normal, batin Jojo.
"Mel, jangan sungkan. Aku mau mandi dulu," ucap Jojo dengan berlalu ke kamar mandi.
"Iya!" sahut Melati.
Berasa mimpi masuk ke dalam kamar yang seperti dalam cerita-cerita di televisi. Apa aku akan sanggup jadi istrinya? Aku kan bukan orang kaya. Hanya anak dari pegawai pemerintahan, batin Melati.
Melati terus berkeliling melihat ke seuruh isi kamar. Dia terus saja mengagumi interior kamar Jojo. Sampai akhirnya dia keluar menuju ke balkon. Melati terus celingukan melihat ke sekeliling. Rupanya dari balkon kamar Jojo, bisa melihat ke arah kolam renang yang ada di bawah sana.
Saat Melati sedang terkagum-kagum dengan rumah Jojo, pemuda itu keluar dari kamar mandi dengan kimono handuk yang menutup sebagian tubuhnya. Dia berjalan keluar saat dilihatnya pintu kamar terbuka.
Jojo menyenderkan tubuhnya ke kusen pintu, lalu dia pun bicara, "Mel, kamu mandi dulu sana! Udah sore," suruh Jojo.
"Eh, Idola sudah mandinya?"
"Seperti yang kamu lihat, aku tunggu di kamar."
Melati pun langsung menghampiri Jojo. Dia tersenyum manis melihat penampilan Jojo yang memperlihatkan perut kotak-kotaknya. Tangannya refleks terulur ingin menyentuh roti sobek yang terpampang jelas di depan matanya. Namun, tangan Jojo langsung menahannya.
"Kamu mandi dulu, baru boleh menyentuhnya."
"Beneran? Oke aku akan mandi." Tidak ingin membuang waktu, Melati langsung berlari ke kamar mandi. Dia lupa dengan baju ganti yang seharusnya dia bawa. Namun, Jojo langsung mengingatkannya.
"Mel, baju gantinya cari saja baju yang pas di wardrobe."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1