
Selesai mengobati luka-luka Sandi di ruang IGD, Gunawan kembali mengantar Sandi ke ruangan Thalia. Semua orang yang berada di ruangan Thalia langsung terkaget melihat keadaan Sandi. Padahal tadi keadaan Sandi baik-baik saja.
"Ya ampun, Nak! Kamu kenapa?" tanya Raline panik melihat wajah Sandi yang diperban.
"Gak apa, Mah! Tadi Gak sengaja nabrak pilar rumah sakit. Aku lagi meleng lihat cewe cantik bahenol lewat," jawab Sandi cengengesan.
Mungkin orang lain bisa kamu tipu, tapi aku yakin telah terjadi sesuatu padamu, batin Thalia.
"Kamu itu, sudah jadi papa, masih saja belanja mata."
"Maaf, Tante. Saya permisi dulu, Bos cepat sembuh ya!" sela Gunawan langsung berpamitan. Dia khawatir karyawan kafe menunggu kedatangannya.
"Oh, iya. Makasih ya Gun!" Raline tersenyum ramah pada Gunawan.
Selepas kepergian Gunawan, Sandi pun merebahkan tubuhnya di samping Thalia. Dia langsung memejamkan matanya, menahan sakit akibat tendangan Tantra.
"Sudah minum obat?" tanya Thalia yang ada di sampingnya.
"Sudah! Aku tidur dulu ya!" sahut Sandi.
"Tidurlah!" Thalia mengelus lembut rambut Sandi yang sedang memeluknya pinggangnya. Tidak berapa lama kemudian, papa muda terlelap tidur.
Sementara Raline dan Melati hanya melihat Sandi yang sepertinya tidak ingin jauh dari istrinya. Mereka berdua saling berpandangan dan memakai isyarat mata untuk mengajak pulang.
"Thalia, Mama pulang dulu ya! Hari ini Jojo pulang. Kasian kalau dia datang di tidak ada siapa-siapa. Ale sayang, Oma pulang dulu ya! Cepat besar, nanti main sama Oma."
"Aku juga pulang dulu ya! Kapan kamu boleh pulang, biar nanti aku jemput."
"Mungkin dua hari lagi, menunggu kondisi Ale stabil. Makasih ya setiap hari nengokin ke sini," ucap Thalia tersenyum pada sahabatnya.
"Jangan berterima kasih, sudah seharusnya aku datang ke sini. Sekarang kan kita keluarga," ucap Melati dengan balas tersenyum.
Setelah kepergian Raline dan Melati, Thalia menyingkap baju Sandi. Terlihat jelas bekas telapak kaki yang membiru di punggungnya. Dia hanya bisa menghela napas dalam melihat semua itu, kemudian kembali menutup baju Sandi.
Pantas saja dari tadi dia terus memegang badannya, ternyata ada orang yang telah menyakitinya, batin Thalia.
Perlahan dia melepaskan pelukan Sandi di perutnya. Thalia beringsut turun dari tempat tidur dan menghampiri perawat yang sedang memeriksa keadaan Ale. Dia hanya diam seraya memperhatikan apa yang perawat itu lakukan.
"Mbak, kira-kira berapa hari lagi Ale bisa dibawa pulang?" tanya Thalia.
"Saya belum bisa memastikan, nanti kita coba tanya dokter saat kunjungan siang," ucap perawat itu. "Apa Mbak ingin cepat-cepat pulang?"
__ADS_1
"Iya, Nanti juga Mbak Nita ikut kan?" tanya Thalia untuk memastikan.
"Kalau saya tergantung dari pihak rumah sakit, soalnya saya sudah kontrak tiga tahun."
"Begitu ya!"
Thalia pun larut dalam obrolan dengan perawat yang bernama Nita itu. Sampai terdengar suara Sandi yang berteriak barulah Thalia menyudahi obrolannya dan menghampiri Sandi.
"LEPASKAN TALI! JANGAN! TIDAKKKKK ....!"
" Sandal, kamu kenapa?" tanya Thalia dengan menggoyangkan badan Sandi yang masih terpejam.
Sandi pun terbangun dan langsung memeluk Thalia, "Tali, jangan jauh-jauh dari aku! Dia marah karena adiknya meninggal."
"Adik siapa maksud kamu? Kamu hanya mimpi, jangan terllau dibawa perasaan," tanya Thalia heran.
"Tantra marah, Tali."
"Apa dia menyerang kamu?" tebak Thalia.
"Dia marah sama aku, Aku-aku melihat dia ingin menyakiti kamu."
"Iya," jawab Sandi singkat.
...***...
Seminggu sudah Thalia berada di rumah sakit. Semenjak penyerangan Tantra waktu itu, Sandi selalu was-was. Dia khawatir, sahabatnya itu akan menyakiti Thalia. Bukan tidak tahu sikap Tantra pada Thalia yang tidak bersahabat dari dulu, tetapi selama ini dia selalu menutup mata. Makanya saat dia tahu kalau Tantri meninggal, dia khawatir Tantra akan menyakiti Thalia.
"Nak, kamu kenapa akhir-akhir ini sering melamun?" tegur Raline pada Sandi.
"Eh, Mama. Nggak kho, aku hanya lagi mikirin acara aqiqah Ale sekaligus acara syukurannya nanti. Aku ingin mengundang anak-anak panti ke rumah," kilah Sandi.
"Kamu tenang saja, Mama dan Melati sudah mengurus semuanya. Apa mertua kamu kamu tidak diberitahu tentang kelahiran Ale?" tanya Raline.
Sandi hanya menggelengkan kepalanya. Sedikit pun dia tidak pernah berpikir untuk memberitahu Eva tentang apapun. Dia cukup sakit hati dengan semua sikap Eva padanya. Apalagi, saat tahu tentang penyebab kematian ayah mertuanya.
"Apa boleh, Mama mengundangnya ke acara syukuran Ale? Bagaimanapun juga dia pengganti ayah Thalia."
"Tidak usah, Mah. Aku dan Bu Eva sudah bukan siapa-siapa lagi. Lagipula, dia pasti tidak akan datang. Mama jangan buang-buang tenaga datang ke rumahnya," timpal Thalia.
"Maaf, kalau Mama salah."
__ADS_1
"Tidak, Mama tidak salah. Maafkan Thalia, kalau ucapan aku kurang sopan," sesal Thalia.
"Tidak, Nak. Ya sudah, ayo kita bersiap! Mama sudah mencarikan pembantu rumah dan tukang kebun untuk bekerja di rumah kamu. Mereka orang kepercayaan Mama yang dulu bekerja di rumah Simon. Namun, saat Mama keluar dari rumah itu, mereka pun mengundurkan diri. Kemarin Mama tawari bekerja di rumah kamu, katanya mereka mau. Tidak apa, kan?"
"Tidak apa, Mah. Selama mereka orang baik," jawab Sandi. "Nanti Papa juga mau datang, seminggu kemarin dia sedang melaut makanya belum sempat menengok cucunya."
"Oh, begitu ya!" Raline pun kembali membereskan barang-barang Thalia bersama dengan pembantu yang dia bawa dari rumah Jojo.
Dia memang sengaja membawa pembantunya karena Melati dan Jojo menyiapkan segala sesuatu di rumah baru Sandi. Sementara dia yang menjemput ke rumah sakit bersama dengan supir dan Inah, pembantu rumah Jojo.
Setelah semuanya siap, Thalia segera menggendong Ale. Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit. Sementara Raline, Inah dan perawat yang akan bekerja di rumah Sandi berjalan di belakang mereka.
Sampai di lobby rumah sakit, keduanya tanpa sengaja bertemu dengan Airin. Mantan pacar Sandi itu langsung menyapa saat netranya menangkap sosok mantan pacarnya sedang berjalan dengan Thalia.
"Loh, Thalia Sandi, kalian udah punya anak?" sapa Airin kaget.
"Iya, Rin. Kamu apa kabar? Sudah lama tidak ketemu." Thalia balik bertanya.
"Aku baik, syukurlah kalian sudah dikaruniai momongan. Aku juga sedang isi baru dua bulan," jawab Airin.
"Kamu nikah sama siapa, Rin?" tanya Sandi.
"Sama aku," celetuk seorang lelaki yang Sandi tahu sebagai manager Jojo.
"Loh, kamu Yo. Kenapa gak undang aku kalau kalian menikah?"
"Nggaklah! Aku takut Airin membatalkan pernikahannya, padahal susah payah aku mendapatkan hatinya." Rio langsung meraih pinggang Airin agar mendekat ke arahnya.
"Dasar bucin! Aku sama Airin sudah gak ada apa-apanya. Ngapain kamu takut akan aku rebut?"
"Iya juga ya! Kamu kan udah mentok sama Thalia, ampe bawa kabur calon tunangan orang."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, rate dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin karya keren yang satu ini
__ADS_1