
Pertemuan tanpa sengaja di butik, membuat Sandi meminta penjelasan pada Thalia tentang hubungan gadis itu dengan Jojo. Rasanya Sandi tidak percaya saat mendengar kalau Thalia akan bertunangan dengan Jojo Frizt. Seorang laki-laki yang sangat tidak dia sukai.
"Tali, apa benar yang aku dengar tadi, kalau kamu akan bertunangan dengan laki-laki itu?" tanya Sandi dengan menatap lekat wajah sahabatnya.
"Iya, Minggu depan aku akan bertunangan. Mungkin kartu undangan nanti menyusul," ucap Thalia dengan sedikit bergetar.
Entahlah perasaan Thalia campur aduk. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana harus menjelaskan dengan apa yang dirasakannya. Ada rada senang akan bertunangan dengan idolanya sendiri. Sekaligus satu sisi hatinya terasa kosong, takut tidak bisa bersama dengan Sandi lagi.
"Kenapa? Kenapa kamu bertunangan dengan dia. Kenapa harus dia?" tanya Sandi pagi dengan suara yang berat.
Sungguh, Sandi tidak bisa menerima jika harus kehilangan Thalia. Seorang gadis yang mampu membuat dia bangkit dari keterpurukannya. Seorang gadis yang dia jadikan sebagai tumpuan hidupnya.
"Sandal, aku juga tidak kalau laki-laki yang dijodohkan denganku adalah dia. Hanya saja, orang tuanya datang ke rumah dan langsung melamar aku. Aku tidak bisa menolak saat Ayah dan Ibu menerima lamarannya."
"Ha-ha-ha ... Dunia ini gak adil. Kenapa takdir merampas semua perempuan yang aku cintai. Dulu Mama, sekarang kamu. Satu-satunya sahabat yang aku miliki akan jadi milik orang lain. GAK!!! AKU GAK AKAN BIARKAN PERNIKAHAN ITU TERJADI. DENGAR TALI! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIA MEMILIKI KAMU. KAMU HANYA MILIKKU!!!"
Thalia terpaku di tempatnya. Dia tidak menyangka reaksi Sandi akan seperti itu. Gadis itu mendadak gamang dengan keputusannya sendiri.
Kenapa Sandi semarah itu. Tadi dia bilang apa? Perempuan yang dicintainya. Apa Sandi mencintai aku? Tapi kenapa dia tidak pernah mengatakannya sama aku kalau dia cinta? Padahal aku juga cinta sama dia. Tapi sekarang sepertinya terlambat, karena aku juga suka sama Jojo, batin Thalia.
"Sandal, kita kan masih bisa bersahabat. Aku akan selalu ada untuk kamu meskipun sudah menikah nanti," ucap Thalia lembut.
"Bohong! Aku tidak percaya dengan kata-kata seperti itu karena nantinya kamu pasti akan lebih mementingkan dia."
__ADS_1
"Sandal please! Jangan seperti ini! Kamu jangan takut kehilangan aku, karena aku masih tetap sahabat kamu. Lagipula, banyak gadis yang akan selalu menemani kamu di saat kamu kesepian," ucap Thalia mencoba menenangkan sahabatnya.
Sandi menatap Thalia lekat saat mendengar apa yang dikatakan oleh gadis itu. Dia sangat tidak suka dengan apa yang didengarnya. Menurutnya Thalia menyuruh dia agar bersama dengan gadis-gadis itu bukan bersama dengan Thalia. Padahal Sandi berharap agar Thalia meminta untuk tetap bersama.
"Kurang aku apa, Tali? Kenapa kamu lebih memilih dia dibandingkan dengan aku?"
"Kurang kamu hanya satu, kurang bisa setia. Aku harus pulang, Ayah sedari tadi menelpon terus." Thalia langsung bangun dari duduknya. Namun, baru saja dia melangkah, Sandi sudah memeluknya dari belakang dengan erat. Pemuda itu seolah takut, tidak akan ada hari esok untuk dia dan Thalia.
Jangan pergi Tali! Aku mencintaimu, batin Sandi.
Entah kenapa, lidahnya selalu terasa kelu. Setiap kali dia ingin mengungkapkan perasaannya. Sehingga dia hanya mampu mengatakannya di dalam hati. Berharap Thalia akan mengerti perasaannya.
"Sandal, sudah malam. Aku takut dimarahi Ayah kalau tidak langsung pulang. Kamu tahu sendiri bagaimana Ayah dan ibuku. Ayah memang baik, tidak juga tidak banyak. Tapi sekalinya marah, akan.sangat menakutkan."
"Tali, aku ...."
Dia tidak kuasa melihat Sandi terluka dengan pernikahannya. Tetapi Thalia juga berpikir realistis, meskipun benar hanya sebuah perjodohan, tetapi setidaknya dia akan menikah dengan laki-laki yang jadi idolanya. Walaupun Thalia belum tahu pasti perasaan dia yang sesungguhnya pada Jojo.
Sementara Sandi hanya menatap kepergian Thalia. Tanpa berniat untuk mengejarnya. Dia masih berdiri di tempatnya sampai Thalia sudah tidak terlihat lagi oleh pandangan matanya.
Apa yang harus aku lakukan aga bisa menggagalkan acara pertunangan itu. Apa aku harus menculiknya. Tapi harus aku bawa ke mana? Aku harus mempersiapkan rencana yang matang dulu untuk membawa Thalia pergi jauh dari keluarganya ataupun calon suaminya. Dasar perebut bini orang! Bapak sama anak sama-sama perusak kebahagiaan orang. Tapi aku bukan Papa yang sampai kecolongan oleh sahabatnya sendiri. Aku Sandiaga Lancanter, akan mempertahankan apa yang sudah aku miliki.
Sandi berlalu menuju ke kamarnya. Dibukanya laci nakas yang ada di samping tempat tidur. Diambil sebutir obat anti depresan yang selalu dia simpan di sana untuk berjaga-jaga. Karena memang, saat awal perceraian orang tuanya, dia sempat mengalami depresi hingga harus di rawat di rumah sakit. Setelah dia mulai bangkit dari depresinya, dia tidak ingin berhubungan dengan mamanya dan semua orang yang membuat orang tuanya bercerai.
__ADS_1
Sandi mulai memejamkan matanya saat obat itu mulai bekerja. Dia matikan ponsel dan lampu kamarnya. Berharap tidak ada yang menggangunya.
Sementara Thalia, dia terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya terus saja teringat pada Sandi yang dia tinggalkan. Ada rasa khawatir di hatinya meninggalkan playboy itu sendirian. Tapi Thalia juga takut jika nanti ayahnya marah karena merasa diabaikan.
Tidak kurang dari dua puluh menit, Thalia sudah sampai di rumahnya. Dia buru-buru mencari ayahnya. Namun saat bertemu dengan ayahnya, gadis itu sedikit mengerutkan keningnya dengan apa yang ayahnya lakukan.
"Ayah, ada apa menyuruh aku cepat-cepat pulang?" tanya Thalia.
"Tadi Tuan Simon dan Nyonya Raline ke sini. Mengantarkan gaun untuk nanti acara pertunangan kamu. Dari mana dulu? Kenapa baru sampai jam segini. Kata Jojo pulang dari butik masih siang," tanya Pak Gerry.
"Maaf, Yah. Tadi ke kafe dulu. Persediaan bahan makanan menipis," ucap Thalia dengan menundukkan kepalanya.
"Jangan berbohong sama Ayah. Kalau bicara lihat mata Ayah!" suruh Pak Gerry yang bisa menangkap kebohongan putrinya.
Pak Gerry yang merawat dan membesarkan sendiri putrinya, jadi mengerti reaksi seperti apa jika Thalia sedang berbohong ataupun berkata jujur. Tentu hal itu membuat Thalia selalu ketakutan jika dia mencoba berbohong pada ayahnya.
"Maaf, Yah! Aku ...."
"Lia, sekarang kamu akan menikah. Ayah minta kurangi kamu bermain-main dengan Sandi. Meskipun kalian hanya bersahabat tetapi Nak Jojo tidak tahu hubungan kalian yang sebenarnya. Mereka hanya akan melihat kalau kamu dekat dengan lelaki lain. Padahal sebentar lagi kalian akan menikah," potong Pak Gerry.
"Iya, Yah. Lia tidak akan terlalu sering main dengan dia."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....