Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 67 Kamu Yang Terhebat


__ADS_3

Semalaman Tantra nampak gelisah. Dia tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun. Hatinya terus berkelana, khawatir Sandi akan kabur dari kotanya. Dia sangat menyesal tidak mengikuti laki-laki itu dan memilih untuk pulang ke rumah.


"Semoga saja besok masih ada di hotel. Aku akan memaksa dia untuk menikah dengan Tantri. Aku tidak tega melihat dia harus menderita. Meskipun dia bukan adik kandungku, tapi aku sangat menyayanginya," gumam Tantra.


Dia teringat saat orang tuanya membawa seorang anak kecil ke rumahnya. Dia yang waktu itu baru berusia lima tahun. Sangat senang saat ayah dan ibunya membawa seorang adik kecil yang cantik. Tantra pun langsung berperan sebagai pangeran berkuda putih untuk adik angkatnya. Dia selalu berusaha untuk memenuhi semua keinginan adiknya. Sampai-sampai nama pun sengaja dia ganti agar mirip dengan namanya.


Saat pagi mulai menyingsing, dia pun memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke hotel menemui Sandi. Tantra akan berusaha sebisa mungkin untuk mempengaruhi sahabatnya agar mau menikah dengan adiknya.


Namun, saat dia bertanya pada resepsionis. Hatinya terasa dihempaskan dari atas gunung Himalaya. Ketika tahu kalau Sandi sudah check-out beberapa jam sebelum dia datang. Bahkan sahabatnya itu menitipkan surat untuk dia. Tantra pun membuka isi surat itu dan langsung membaca.


Hai Sobat,


Aku minta maaf karena saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah berada di pesawat. Bukannya aku tidak menghargai persahabatan kita, tapi aku pikir akan ada cara lain untuk menyembuhkan adikmu.


Aku tidak bisa mengkhianati Tali, karena saat dia terluka, aku pun akan lebih terluka. Seandainya pernikahan itu terjadi, sudah pasti bukan hanya Tali ataupun aku yang terluka tetapi adikmu akan sangat terluka karena aku pasti lebih berat pada Tali. Apalagi, sekarang dia sedang mengandung anakku.


Maafkan aku Tantra! Aku harap kamu mengerti dengan keputusan aku. Mengenai kafe, aku serahkan padamu sebagai permintaan maafku.


^^^Sandi^^^


Tantra langsung merremas surat itu. Dia hanya bisa tertawa hambar dengan apa Sandi lakukan. Meskipun dia tahu kalau Sandi cinta mati pada Thalia. Tetapi dia tetap akan berusaha untuk mencari celah agar Tantri bisa masuk dalam kehidupan Sandi.


Tunggu saja, aku pasti bisa menemukan cara agar Tantri bisa menikah dengan kamu, batin Tantra.


...***...


Sementara Sandi, setibanya di ibu kota, dia langsung menuju ke rumah Jojo. Dia yakin Thalia pasti masih ada di rumah itu. Karena saat dirinya tidak ke kafe, maka ibu hamil itu akan memilih tinggal di sana.

__ADS_1


"Loh Nak! Sudah datang, apa kafenya baik-baik saja?" tanya Raline kaget saat melihat kedatangan putranya.


"Baik, Mah! Thalia sedang apa, Mah?" tanya Sandi langsung mencium punggung tangan wanita yang sudah melahirkannya. Dia terus saja celingukan mencari keberadaan istrinya.


"Dia masih di kamar, mungkin sedang berjemur di balkon," jawab Raline lembut. Hatinya menghangat setiap kali Sandi mencium tangannya. Dia merasa bersyukur karena akhirnya memiliki kesempatan untuk kembali bersama putranya.


"Aku ke sana dulu ya, Mah." Sandi langsung berlalu pergi setelah berpamitan pada mamanya. Dia setengah berlari menuju ke kamar yang Thalia tempati.


Namun ada satu hal yang dia lupakan. Sandi lupa menanyakan letak kamar yang Thalia tempati. Akhirnya, dia pun mencari pembantu rumah Jojo agar menunjukkan kamar yang ditempati oleh istrinya.


Ampun Mas Sandi, saking terburu-buru sampai lupa kalau kamar di rumah ini banyak, batin pembantu rumah.


Setelah mendapati kamar mana yang ditempati oleh Thalia. Sandi pun segera masuk ke dalam kamar itu. Terlihat Thalia nyang masih bergelung dengan selimut. Sepertinya ibu hamil itu kembali tidur, setelah tadi sarapan pagi.


Kedua sudut bibir Sandi terangkat sempurna melihat istrinya yang masih terlelap. Dia pun ikut bergabung bersama Thalia. Sampai kantuk itu kembali datang menyerangnya, Sandi memutuskan untuk ikut tidur bersama dengan Thalia.


Sampai saat jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas, perlahan Thalia membuka matanya. Dia sangat terkejut saat menyadari tidur dalam dekapan seorang lelaki. Namun, akhirnya dia merasa senang karena ternyata dia tidur dalam pelukan suaminya.


"Sudah bangun, Sayang?" tanya Sandi.


"Belum, aku masih bermimpi suamiku tiba-tiba datang." celoteh Thalia.


"Sini, biar kamu yakin kalau aku sudah pulang!" Sandi langsung mencium bibir merah muda itu.


Sebuah ciuman kerinduan dari sepasang insan yang jarang sekali berjauhan. Kini telah berubah menjadi ciuman penuh hasrat saat tangan nakal Sandi mulai bergerilya menyentuh setiap titik sensitif Thalia. Sampai akhirnya, hari yang terik menambah suasana kamar yang sedang panas menjadi semakin panas.


Keduanya tidak peduli dengan peluh yang mulai bercucuran. Sandi terus saja memacu untuk mendapatkan kenikmatan. Sampai akhirnya kedua anak manusia itu mendapatkan pelepasan. Mereka tersenyum bahagia karena bisa mendapatkan pelepasan secara bersamaan.

__ADS_1


"Tali, seumur hidupku, aku hanya ingin bersama kamu dan anak-anak kita." Sandi mencium kening istrinya sebelum akhirnya dia membawa Thalia menuju ke kamar mandi.


Lagi dan lagi, keduanya saling melepaskan hasrat yang membuncah di dada. Sampai kedua insan itu tidak mendengar suara pintu yang diketuk terus menerus. Mereka hanyut dalam suasana yang mereka ciptakan sendiri.


"Mah, biarkan saja. Mungkin mereka sedang kangen-kangenan," tegur Melati yang kebetulan lewat di kamar yang Thalia tempati.


"Iya, sih. Mama hanya khawatir takut Sandi lapar. Dia datang-datang langsung masuk ke kamar," ucap Raline cemas.


"Mama tenang aja. Sandi pasti udah makan yang lain. Lebih baik, ajari aku bikin puding yang biasa Mama buat. Ternyata Mas Jo sangat suka puding," ajak Melati.


"Ya sudah, ayo!"


Akhirnya Raline pun mengalah. Meskipun hatinya masih cemas. Namun, sebisa mungkin dia menepisnya. Dia terus meyakinkan diri kalau Sandi akan baik-baik saja jika bersama dengan Thalia.


Sementara yang di dalam kamar, mereka batu saja menyelesaikan acara mandi plus-plusnya. Wajah keduanya terlihat sangat cerah. Ternyata permainan tempat tidur jika dibumbui dengan kerinduan rasanya akan sangat berbeda dengan hari-hari biasa yang mereka lalui.


"Tali, nanti kita main lagi yuk! Tapi makan dulu. Kasian dari tadi anakku kelaparan."


"Kamu sih minta nambah terus." Wajah Thalia mendadak bersemu merah membayangkan tadi saat di kamar mandi dia begitu hebohnya bergoyang.


"Tapi kamu suka, kan? Hayo ngaku! Kamu yang terhebat Tali. Apapun dan bagaimanapun kamu, buat aku, kamu yang terhebat. I love you, wife!"


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin karya keren yang satu ini!



__ADS_2