
Persiapan pernikahan Sandi dan Camelia sudah mencapai sembilan puluh persen. Undangan pun sudah tersebar ke seluruh kerabat dan rekan kerja Camelia. Tidak ketinggalan para awak media yang setiap hari memburu berita tentang pernikahan artis papan atas.
Banyak orang yang memuji Camelia karena mau menikah dengan seseorang yang lumpuh. Akan tetapi tidak sedikit pula yang menyayangkan keputusannya itu. Namun, saat wajah Sandi diekspos ke media, mereka pun akhirnya mengerti kenapa artis kesayangannya mau menikah dengan laki-laki lumpuh.
Namun, euporia tentang pernikahan artis papan atas itu, tidak membuat seorang gadis merasa senang. Thalia berusaha membalut lukanya dengan sekuat tenaga. Tetap tenang dan sabar walaupun hatinya sangat terluka.
Hatinya yang terasa remuk, setiap kali mengingat pernikahan Sandi dan Camelia, dia tutupi dengan senyum manis yang selalu tersungging di kedua sudut bibirnya. Thalia hanya akan menangis jika dia sedang sendiri ataupun berada di kamar mandi. Dia tidak lagi menangis di depan Sandi. Khawatir pemuda tampan itu berubah pikiran.
Apalagi, mertuanya sudah meminta Thalia agar jangan sampai membuat Sandi membatalkan pernikahannya. Tuan Morgan khawatir jika nanti Camelia menggunakan fans-nya untuk memojokkan Sandi, hingga akhirnya berimbas pada saham perusahaannya.
Cinta itu butuh pengorbanan, mungkin aku juga harus berkorban untuk mendapatkan kebahagiaan bersama orang yang aku cintai. Sandal, kenapa mencintai kamu sesakit ini, meskipun aku tahu kalau kamu juga mencintai aku. Tapi kenapa keadaan tidak berpihak pada kita, batin Thalia.
Gadis itu menghela napas dalam dan menghembuskan-nya. Berulang kali dia melakukan hal itu sampai rasa sakit di hatinya sedikit berkurang. Setelah dia bisa menguasai lagi perasaannya, barulah Thalia menghampiri Sandi yang sedang menikmati langit sore.
"Tali lihatlah! Senjanya indah sekali. Meskipun senja itu indah tapi aku lebih suka matahari terbit. Karena dia datang dengan membawa harapan. Seperti kamu yang hadir dalam hidupku dengan memberikan harapan baru untuk aku," ucap Sandi dengan melirik sekilas ke arah Thalia.
"Terima kasih, karena telah menjadikan aku sebagai harapan baru untuk kamu." Thalia tersenyum manis.
"Tali, semoga besok menjadi terakhir kalinya aku terapi. Aku senang sudah mulai bisa menggerakkan kakiku lagi. Meskipun belum bisa menumpu saat berjalan," ucap Sandi.
"Aku juga ikut senang. Sandal, bolehkah besok ke apartemen dulu sepulang dari terapi? Aku sangat kangen. Aku rindu dengan saat-saat kita bersama dulu. Tanpa beban seperti sekarang," tanya Thalia.
"Boleh, kita menginap di sana saja yuk! Biar gak ada yang ganggu. Aku risih dengan Camelia yang setiap hari datang ke sini," keluh Sandi.
"Kamu memang yang ter-the best!" Thalia langsung mengangkat jempolnya. Namun Sandi langsung menarik gadis itu ke pangkuannya
"Tali, aku sudah meminta tolong pada temanku yang bisa meretas. Semoga saja mereka bisa menemukan bukti yang aku inginkan," ucap Sandi dengan memeluk Thalia dari belakang.
"Sejak kapan kamu berteman dengan hacker?" tanya Thalia kaget.
"Kalau siang, aku memang selalu bersama dengan kamu. Tapi kalau malam, aku bermain dengan teman-teman lelakiku. Aku sudah meminta Devan untuk membantu aku. Semoga saja dia berhasil mengambil bukti rekaman cctv apartemen Camelia yang utuh."
"Aamiin. Aku hanya bisa berdoa semoga masalah Camelia cepat terselesaikan."
__ADS_1
"Tali, kenapa buah kembarnya semakin besar? Perasaan waktu pertama aku pegang hanya segini. Sekarang sudah sedikit melebar." Sandi mempraktekkan dengan tangannya membentuk setengah lingkaran.
"Semua gara-gara kamu. Setiap malam kamu selalu memintanya," ketus Thalia.
"Karena kamu selalu menggoda aku. Aku tidak bisa menahannya jika dekat dengan kamu. Seperti sekarang, unyil mendadak berdiri."
"Kamu saja yang Omesh! Padahal aku gak ngapa-ngapain," kelit Thalia.
"Beneran? Kenapa kamu bergerak gelisah gitu?" goda Sandi dengan tangan yang terus memainkan buah kembar kesayangannya.
"Ah ... Sandal!" Thalia hendak berdiri karena merasa sengatan itu semakin membakar gairahnya.
"Sebentar saja! Aku ingin setiap hari kita menikmati sunrise dan sunset." Sandi terus saja menciumi tengkuk istrinya. Membuat Thalia tak menentu.
Saat kedua mulai terbakar percikan-percikan gairah asmara, terdengar suara ponsel milik Sandi berbunyi. Pemuda tampan itu langsung mengambil dari saku celananya. Dilihatnya nama Devan tertera di sana. Dia pun langsung menerima panggilan teleponnya.
"Halo, Van! Gimana udah dapat?" tanya Sandi saat sudah tersambung.
"Beres Bro! Aku antar ke rumah kamu atau kirim via e-mail?"
"Beres! Nanti aku kasih saat pesta pernikahan kamu."
"Oke, Bro thanks. Nanti sisanya segera aku transfer."
"Santai Bro. Kalau kamu mau, aku bisa kasih kamu formula yang membuat orang tidak bisa bohong meskipun dia sebenarnya tidak ingin jujur."
"Kamu punya? Aku mau kalau ada."
"Nggak punya sih. Tapi Abang iparku pasti punya. Dia jago racik formula."
"Boleh, Van. Aku ingin dia jujur sendiri tanpa aku harus menyerangnya."
"Sip! Berapa hari lagi pernikahan kamu? Aku takutnya tidak sempat memberikan formula itu sama kamu."
__ADS_1
"Dua hari lagi. Please, Van! Usahakan buat aku."
"Oke, kamu jangan khawatir! Pasti aku usahakan. Ya sudah, aku mau ke rumah abang iparku dulu. Siapa punya stok di rumah. Aku tutup teleponnya ya!"
Klik
Sambungan telepon langsung terputus. Sandi tersenyum senang karena dia seperti memiliki harapan baru di depan matanya. Dia pun kembali memeluk erat Thalia yang masih duduk di pangkuannya.
"Semoga Tuhan memberikan jalan untuk kita mengungkap kebenarannya," ucap Sandi.
"Aamiin. Ayo masuk sudah mau gelap!" ajak Thalia.
Sandi langsung menekan tombol yang ada di tangan-tangan kursi rodanya. Dia tidak membiarkan Thalia untuk turun. Mereka pun masuk dengan posisi Thalia yang masih berada dalam pangkuannya.
Setibanya di kamar, barulah Thalia turun dari pangkuan suaminya. Gadis itu langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah acara mandinya selesai, Thalia langsung kembali ke kamar. Nampak Sandi yang sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Sandal, mau makan malam di sini atau ke bawah?" tanya Thalia.
"Di sini aja. Tali tolong ambilkan makan untuk kita. Sama satu gelas jus alpukat," pinta Sandi.
"Siap, Pak Bos!" sahut Thalia seraya berlalu pergi meninggalkan Sandi.
Dia segera menuju ke dapur untuk mengambil makanan. Namun, Thalia hanya bisa terpaku saat pekerja rumah itu sedang asyik membicarakannya. Serta membandingkan dia dan Camelia.
"Non Thalia baik tapi Non Camelia sangat cantik. Pantas saja Tuan Sandi tertarik padanya dan meniduri gadis itu. Siapa sih yang tidak ingin memiliki kekasih secantik Non Camelia."
"Iya bener. Jangan terlalu percaya dengan ucapan gombal lelaki. Sama kita bilang cinta tapi sama gadis lain bilang sayang."
"Ho oh ... Tapi pesona Den Sandi memang tiada dua. Kalau dia mau sama aku, sudah pasti tidak akan ditolak, hehehe ...."
"Huhh ... Dasar kamu! Mana mau dia sama kamu, bau terasi!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....