Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 52 Sandi vs Ivan


__ADS_3

Dengan langkah kaki panjang, Sandi langsung menuju ke apartemen Jojo. Dia seperti de javu saat dulu sering membela laki-laki itu dari teman-temannya yang senang sekali mengganggu. Dia langsung masuk begitu saja saat sudah tiba di apartemen Jojo.


Brak!


Seketika semua orang yang ada di dalam langsung menoleh ke arahnya. Dia melihat Jojo sedang dipegangi oleh kedua lelaki tampan yang bertubuh atletis. Mereka langsung menatap sinis ke arah Sandi yang masuk tanpa permisi, mengganggu kesenangannya.


"Wow, siapa yang datang? Rasanya sudah sangat lama kita tidak bertemu," ucap Ivan, pasangan Jojo.


"Ternyata ketemu teman lama di sini. Apa yang kalian lakukan sama dia?" tanya Sandi dengan wajah datar.


"Aku hanya bersenang-senang. Bukankah begitu, Sayang?" Ivan mencolek dagu Jojo yang sukses membuat perut Sandi menjadi mual.


"Kalau aku keberatan, bagaimana? Jojo milikku, bukankah kamu tahu kalau dia selalu bersama aku?"


"Hahaha ... Kamu jangan bermimpi di siang bolong. Aku tahu, sudah lama kalian tidak bertegur sapa dan Jojo nyaman bersama aku."


"Jojo, kamu pilih aku atau dia?" Sandi langsung memberikan pilihan pada Jojo. Seandainya nanti Ivan tidak terima, dia sudah siap jika harus bertarung dengan mereka.


"Aku ingin menghentikan semua kegilaan kita, Van. Aku-aku akan menikahi seorang gadis. Aku sudah berkali-kali meminta putus, tetapi kamu tidak pernah mau menerimanya." Jojo langsung bicara panjang lebar karena merasa ada yang melindunginya.


Dia selalu percaya kalau Sandi selalu bisa menjaganya dari gangguan orang-orang yang berniat jahat padanya. Karena papanya tidak pernah memperdulikan dia semenjak mamanya kabur akibat tidak tahan dengan sikap Simon.


"Tidak semudah itu kamu lepas dari aku Jo. Aku sangat menginginkan kamu!" seru Ivan.


"Oke, Van. Kalau kamu bisa mengalahkan aku, maka aku tidak akan menggangu hubungan kalian. Tapi kalau aku bisa mengalahkan kamu, maka Jojo jadi milikku lagi," tantang Sandi.


"Cih! Kamu tidak lihat, badanku lebih berisi dari kamu? Aku tahu, selama ini kamu sibuk bermain dengan para gadis dan jarang latihan. Akan aku pastikan, kamu berlutut di kakiku dan harus bisa memuaskan aku."


Jijik banget dengarnya! Mending sama Tali beronde-ronde pun aku sanggup. Kalau sama dia, dideketin juga aku gak mau, batin Sandi


"Oke, ayo kita ke roof top!" ajak Sandi kemudian.


Keduanya kini berduel di roof top apartemen Sandi. Jojo hanya bisa berdoa melihat sahabatnya saling serang saling tendang. Terlihat keduanya memiliki kekuatan yang seimbang, sehingga belum ada yang tumbang salah satu dari mereka.


Sandi yang memang sudah jarang berlatih, sedikit kewalahan menghadapi Ivan yang semakin gesit menyerang. Sampai akhirnya dia mengumpulkan tenaganya dan menyerang titik yang mampu membuat Ivan tidak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


"Aku memang sudah jarang berlatih, tapi aku selalu ingat bagian mana yang bisa membuat lawan secepatnya tumbang. Kamu tidak bisa mengalahkan aku Ivan. Dulu maupun sekarang," ucap Sandi seraya berjongkok di depan Ivan yang sedang terbatuk-batuk mengeluarkan darah. "Ingat mulai hari ini dan seterusnya, aku melarang kamu ataupun teman-teman kamu untuk mengganggu Jojo lagi. Dia milikku."


"Kamu menang, Sandi. Aku akan tepati ucapan aku."


Sandi tidak menjawab lagi, dia langsung pergi meninggalkan Ivan dan temannya. Sampai saat mereka sudah berada di lift menuju ke unit apartemennya, Sandi langsung meringis kesakitan memegang perutnya.


"Sialan Ivan! Tendangannya kencang sekali. Tidak tahu apa kalau aku belum sarapan," umpat Sandi


"Sandi, terima kasih! Kamu selalu menjadi penolongku," ucap Jojo.


"Aku bosan mendengar ucapan terima kasih dari kamu. Lebih baik kamu secepatnya menikahi Melati dan membuat anak yang lucu-lucu untuk menjadi teman anakku. Aku akan menganggap semuanya impas."


"Baiklah, aku akan melakukan apa yang kamu minta."


"Ayo ke unit aku, Melati ada di sana bersama Tali. Tadi dia berlari ketakutan di kejar Ivan."


Syukurlah, Sandi sudah mencair padaku. Aku akan berusaha untuk menjadi lelaki sejati seperti yang dia harapkan, batin Jojo.


Tidak lama berselang, mereka tiba di unit apartemen Sandi. Memang punya Sandi tidak sebagus milik Jojo. Tapi apartemen itu memberikan kehangatan saat pertama kali Jojo memasukinya.


"Sayang, sarapan buat aku mana?" tanya Sandi yang sukses membuat kaget kedua sahabat itu.


"Loh, Sandal bibir kamu kenapa? Ya ampun, pipi kamu juga memar begini. Sebentar aku ambilkan obat. Mel, tolong siapkan es dan handuk kecil ada di belakang." Thalia langsung panik melihat wajah Sandi yang bonyok. Sementara Jojo dan Sandi hanya mengulum senyum


Sudah bukan hal yang aneh bagi mereka jika Sandi terluka seperti itu. Karena saat mereka masih kecil, Sandi sering terlibat perkelahian. Hanya setelah dia pindah sekolah, Sandi tidak pernah lagi bertarung. Bahkan sering menghindar dari perkelahian.


Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan, Thalia langsung mengompres bagian wajah Sandi uang memar. Dia tidak menyadari kalau suaminya itu memperhatikan terus apa yang dilakukannya. Bahkan ekspresi wajah Thalia pun tidak lepas dari pengamatan Sandi.


"Sandal, lain kali kalau mau berkelahi jangan sendiri. Kamu ajak saja aku. Rasanya sudah lama aku tidak jambak orang," ucap Thalia saat mengoleskan salep.


"Bukannya semalam dan tadi pagi kamu habis jambak rambut aku?" goda Sandi.


"Sandal ikh jangan bilang-bilang! Kasian mereka belum nikah kayak kita."


"Dasar kalian pasangan mesumez! Belum nikah aja udah nyicil duluan kan?" tuduh Melati.

__ADS_1


"Sembarang kamu, Mel. Emangnya kredit panci dicicil segala," cebik Thalia.


Ting tong


Terdengar suara bel apartemen Sandi berbunyi. Jojo yang sedari tadi diam langsung beranjak menuju ke pintu dan membukanya. Setelah cukup berbasa-basi, dia pun menutup pintu kembali dengan membawa beberapa kantong makanan. Rupanya dia memesan makanan tanpa disuruh oleh siapa pun.


"Ayo kita makan siang, karena sarapan sepertinya sudah sangat telat." Jojo menyimpan beberapa kantong makanan yang dibawanya di atas meja.


"Wah banyak sekali makanannya!" seru Melati dengan mata yang berbinar.


"Kamu mau makan lagi, Mel. Tadi kan sarapan aku sama Sandi sudah kamu makan juga, sekarang mau ikutan makan lagi?" tanya Thalia merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tadi gak berasa, Tha. Aku tidak menikmati makanannya," kelit Melati.


"Sudah tidak apa. Ayo Mel sini makan sama aku. Biar kamu tidak merasa iri melihat mereka makan saling suap-suapan," ajak Jojo.


"Aku mau disuapi?" tanya Melati dengan mata yang berbinar.


"Tidak! Aku hanya mengajak kamu agar makan dekat aku."


"Hahaha ... Kasian banget Mel! Punya calon suami yang gak peka gitu. Ayo, Yang! Kita bikin Melati mengiri sama kita, biar nanti dia nangis guling-guling," ledek Sandi


"Sandal!" geram Thalia dengan mencubit pinggang Sandi.


"Aw! Kenapa kamu menggoda aku? Mau ngajak aku tempur lagi?" tanya Sandi dengan tidak tahu malunya.


Melihat Melati yang cemberut dengan ledekan Sandi, Jojo langsung mengambil makanan dan menyuapkan ke mulut Melati. Tentu saja hal itu membuat gadis itu langsung tersenyum bahagia.


"Jangan iri sama mereka! Nanti kita juga bisa melakukan apa yang mereka lakukan sekarang. Sabar ya!"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite...


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2