
"Kalau gak salah, kamu Airin kan?" tebak Thalia.
"Iya, benar! Bisa bicara sebentar?" pinta Airin.
Mendengar permintaan Airin, Thalia pun menengok ke arah Jojo sebentar. Dengan kode matanya, dia meminta ijin pada calon tunangannya untuk berbicara dengan Airin. Jojo hanya melihat ke arah Airin sekilas kemudian beralih menatap Thalia.
"Aku tunggu di sana! Nanti temui aku setelah urusan kalian selesai," tunjuk Jojo pada sebuah meja yang berada di pinggir jendela besar.
"Siap, Idola!" sahut Thalia.
Setelah Jojo berlalu pergi, Thalia dan Airin pun memilih untuk berbicara di sebuah jembatan kecil yang tidak jauh dari restoran. Kedua gadis itu memandang ke laut lepas sebelum memulai pembicaraannya.
"Aku diputuskan sama Sandi," ucap Airin dengan melirik sekilas ke arah Thalia.
"Apa?! Putus?! Bukankah kalian jadian belum ada sebulan ya!" Thalia sempat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh gadis yang ada di depannya.
"Belum. Apa Sandi sering gonta-ganti pacar?" tanya Airin menyelidik.
"Hehehe ... Setahu aku begitu," jawab Thalia cengengesan.
"Apa kamu tidak cemburu?" tanya Airin lagi.
"Cemburu kenapa? Memang aku harus cemburu kalau sahabat aku punya pacar?"
"Kamu bisa mengelak, tapi aku melihat sorot lain dari mata kamu saat melihat Sandi. Awalnya aku pikir, dia tiba-tiba mutusin aku karena menjalin hubungan dengan kamu," jelas Airin.
"Kamu salah menduga Airin. Sandi itu memang baik sama aku. Sangat baik malah. Tapi sayang kesetiaannya dipertanyakan," ucap Thalia dengan tersenyum samar.
Hatinya terasa linu saat mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Meskipun terkadang dia dan Sandi melampaui batas sebuah hubungan persahabatan. Tapi di antara dia dan Sandi tidak ada komitmen untuk saling mencintai.
"Aku mengerti sekarang. Baiklah, aku mau ketemu dengan klien dulu. Apa kamu ke sini bersama kekasihmu?" tanya Airin.
"Dia calon suamiku," lirih Thalia.
"Oh, selamat ya! Ternyata kamu sudah punya calon suami," ucap Airin dengan mengulurkan tangan.
"Terima kasih. Ayo kita masuk!"
Kedua gadis itu pun kembali masuk ke dalam restoran. Mereka berpisah saat sudah berada di dalam. Thalia langsung menuju ke meja yang ditempati oleh Jojo dan managernya.
"Sudah urusannya?" tanya Jojo saat Thalia tiba di mejanya.
__ADS_1
"Hehehe ... Sudah." Thalia nampak cengengesan ditatap oleh dua laki-laki tampan di depannya.
"Hai, kenalin aku Rio. Manajernya Jojo."
"Thalia."
"Duduklah, tidak usah sungkan," ucap Rio welcome.
Kini mereka bertiga duduk dalam satu meja. Rio terus menelisik penampilan gadis yang ada di depannya. Ada perasaan tidak suka di hatinya. Dia khawatir kalau Jojo akan benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.
"Mau makan apa?" tanya Jojo.
"Samakan saja," jawab Thalia.
"Apa kamu suka cumi?" tanya Jojo menatap lekat pada Thalia
"Jangan jangan, aku udang saus tiram saja."
Makanan kesukaannya sama persis dengan dia. Pantas saja mereka bisa bersahabat dekat, batin Jojo.
Setelah memesan makanan, mereka pun kembali saling bungkam. Hingga akhirnya, Rio mengeluarkan sebuah map dan diberikan pada Thalia. "Tolong pelajari dulu! Kalau kamu setuju, nanti kembalikan padaku. Begitupun jika ada pasal yang tidak bisa kamu terima. Kamu bisa memintaku untuk merubahnya."
"Ini maksudnya apa? Aku Kho gak ngerti," tanya Thalia.
"Sebenarnya yang mau nikah sama aku siapa? Idola Jojo atau manajer Rio?" tanya Thalia heran.
"Tentu saja, Jojo. Aku hanya sebagai penyambung kata," elak Rio.
"Baiklah, aku baca di rumah saja biar bisa dipahami maksudnya," ucap Thalia
Thalia langsung menyimpan map yang diberikan oleh Rio. Tanpa berniat untuk membacanya. Apalagi pelayan sudah datang membawa hidangan yang menggugah selera. Membuat Thalia memilih makan dari pada membawa perjanjian pra nikah.
Bodi amat lah. Ngapain mau nikah pake acara bikin janji-janji begitu. Kayak niat mau cerai aja, batin Thalia.
Semuanya terdiam menikmati makanan yang sudah terhidang. Jojo sesekali melirik ke arah Thalia. Lalu dia pun kembali asyik dengan makanannya. Sampai akhirnya Rio bersuara memecahkan kesunyian.
"Jo, sepulang dari butik, kamu langsung ke apartemen saja. Aku menunggu di sana," ucap Rio.
"Hmm ...." Jojo hanya menanggapi ucapan Rio dengan berdehem. Dia seperti enggan acara makannya diganggu oleh orang lain.
Thalia yang sedang makan melihat kedua pria tampan itu dengan sudut matanya. Entah kenapa, dia merasa ada yang janggal dengan sikap keduanya. Namun sebisa mungkin Thalia menepisnya.
__ADS_1
Setelah mereka menghabiskan semua makanan yang terhidang, kini Jojo dan Rio pun berpisah kembali. Karena Jojo akan ke butik bersama dengan Thalia.
"Idola, kenapa manajer kamu seperti gak suka sama aku ya?" tanya Thalia saat mereka sudah ada di mobil.
Jojo melihat ke arah Thalia sekilas sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan gadis itu. "Jangan berpikir terlalu jauh. Lebih baik kamu persiapkan untuk pertunangan kita."
"Apa yang harus aku persiapkan?" tanya Thalia.
"Persiapkan diri kamu saat nanti diwawancarai oleh wartawan," suruh Jojo.
"Memang nanti akan ada wartawan juga?" tanya Thalia kaget.
"Tentu saja. Kamu kan tahu akan menikah dengan seorang selebritis. Tentu wartawan akan mencari berita siapa yang akan jadi pendamping aku," terang Jojo.
"Aku senang loh Idola. Sekarang kamu jadi banyak bicara. Tinggal senyumnya yang harus diperbanyak," ucap Thalia dengan berusaha meraih pipi Jojo. Namun, lagi-lagi pemuda tampan itu menangkap tangan Thalia agar tidak menyentuh pipinya.
"Jangan menyentuh pipiku! Aku tidak suka," tegas Jojo.
"Dikit doang juga, aku penasaran dengan pipi idola yang mulus banget, licin seperti area ice skeating."
Tidak berapa lama, mobil sudah terparkir rapi di parkiran sebuah butik ternama. Jojo pun langsung turun dari mobilnya. Diikuti oleh Thalia yang terus mengekor pemuda itu.
"Selamat siang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu," ucap karyawan butik yang menyambut kedatangan Jojo dan Thalia.
"Tolong carikan gaun malam yang senada dengan jasnya untuk acara pesta pertunangan," pinta Jojo.
"Baik Tuan, mari ikut saya!" Karyawan itu langsung membawa Jojo dan Thalia ke deretan gaun-gaun yang indah. Thalia sampai bingung harus memilih yang mana Karena semuanya terlihat indah.
"Silakan, Tuan, Nyonya dipilih gaunnya. Untuk keluar terbaru ada di sebelah sana," tunjuk karyawan itu pada gaun yang dipajang terpisah.
"Bagus yang itu, Idola. Aku mau," ucap Thalia dengan mata yang berbinar. Namun, saat dia kan mengambilnya, ada seorang gadis sama-sama ingin mengambilnya juga.
"Hey, ini milikku! Aku yang pertama akan mengambilnya," ucap gadis itu.
"Tapi aku juga akan mengambilnya. Kamu saja yang datang-datang langsung menyerobot." Thalia tidak mau kalah dengan gadis itu.
"Loh, Tali, Chika, kenapa kalian berebut?" tanya Sandi yang baru datang dengan Jaket di tangannya.
"Kamu kenal dengan gadis ini, Sandal?" tanya Thalia sewot.
"Chika pacar baru aku, tadi dia maksa aku untuk jadi pacarnya." Sandi cengengesan dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
...~Bersambung~...