Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 26 Kapan nikah?


__ADS_3

Terdengar sayup-sayup suara adzan subuh berkumandang. Thalia perlahan membuka matanya. Disingkirkannya tangan Sandi yang membelit perutnya. Dia segera turun dari tempat tidur meskipun kepalanya terasa berat.


Thalia pergi membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Dalam do'anya, tak henti dia menyebutkan nama ayah dan bundanya yang sudah tiada. Lagi, dia menangis mengadu kepada Sang Pencipta akan takdir yang tertulis untuknya.


Sandi yang tanpa sengaja mendengar suara tangis Thalia, dia pun langsung terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Thalia yang sedang bersimpuh di atas sajadah. Hatinya terasa teriris melihat kesedihan sahabatnya.


Tali, aku janji pasti akan membuat kamu selalu bahagia, batin Sandi.


Sandi pun langsung beranjak ke kamar mandi yang berada di depan kamar orang tua Thalia. Tanpa sengaja dia berpapasan dengan Eva yang juga akan ke kamar mandi. Awalnya wanita dengan rambut yang penuh roll-an itu sempat terkaget melihat Sandi pagi-pagi sudah berada di rumahnya, tetapi akhirnya dia ingat kalau semalam lupa mengusir pemuda itu.


"Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Eva sinis.


"Iya,Tan. Kalau Tante mau duluan, silakan! Aku bisa di kamar mandi bawah," ucap Sandi.


"Ya udah, sana!" usir Eva.


Tidak ingin membuat keributan di pagi hari, Sandi langsung turun ke lantai bawah. Dia menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Setelah membersihkan diri secukupnya, dia pun kembali ke kamar Thalia.


"Tali, barang-barangnya sudah aku bereskan semalam. Mau berangkat pagi apa siangan saja?" tanya Sandi saat melihat Thalia sedang termenung di tempat tidur.


"Siang saja. Kalau kamu mau pergi ke kafe, pergi saja. Aku akan menunggu di sini," suruh Thalia.


"Nggak! Aku akan jaga kamu. Urusan kafe sudah dipegang oleh Gun. Ya sudah, aku mau nyari sarapan dulu. Kamu mau makan apa? Apa mau bubur Mang Ojo yang di dekat sekolah? Kita ke sana yuk!"


"Boleh!"


Sandi pun langsung bersiap menuju ke sekolahnya. Dulu saat masih sekolah, mereka sering makan bubur disitu kalau lagi malas sarapan di rumah. Kedua sahabat itu berjalan beriringan menuruni anak tangga.


Eva yang melihat mereka berdua sudah rapi, langsung mengeryitkan keningnya. Lalu dia pun bertanya, " Thalia, kamu mau pergi sekarang? Memang gak sarapan dulu?"


"Agak siangan, Bu. Aku mau ke beli sarapan dulu sekalian ke makam ayah," jawab Thalia.

__ADS_1


"Oh, ya sudah kalau kamu mau sarapan di luar. Ibu gak jadi masak. Biar nanti delivery order aja," ucap Eva.


"Aku berangkat, Bu." Thalia langsung pamit pada ibunya. Dia tidak ingin berlama-lama bicara dengan ibu tirinya. Entahlah, dia sedang tidak ingin bicara banyak dengan siapa pun.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sekolah mereka. Hanya sepuluh menit perjalanan dengan berkendara. Mang ojo yang sudah kenal dekat dengan keduanya, langsung menyambut kedatangan Thalia dan Sandi.


"Wah, Mamang hampir saja tidak mengenali. Sandi dan Thalia sudah makin cakep aja," puji Mang Ojo.


"Mang Ojo, bisa aja. Biasa Mang, bubur tiga porsi. Kacang buat aku gabung saja buat Tali," pesan Sandi.


"Apa panggilan kalian juga masih Sandal Tali?" tanya Mang Ojo lagi.


"Iya atuh Mang. Berubahnya nanti kalau udah nikah. Jadi Yaya Bubu," jawab Sandi dengan tersenyum.


"Kho Yaya Bubu sih? Memangnya kapan kalian nikah?" tanya Mang Ojo seraya menyiapkan pesanan bubur Sandi.


"Tidak akan lama lagi. Do'akan saja ya!"


"Syukurlah! Mamang senang mendengarnya." Mang Ojo oun membawa tiga mangkuk bubur dan menyimpannya di meja Sandi dan Thalia. Setelah mempersilakan Sandi dan Thalia makan, dia pun kembali melayani pelanggan yang datang.


"Biar aku makan sendiri," ucapnya.


"Kenapa? Malu aku suapi?" tanya Sandi dengan menatap lekat Thalia.


"Aku gak suka jadi pusat perhatian mereka."


"Oke, tapi kamu makannya harus habis. Gak boleh ada yang disisakan," ucap Sandi mengajukan syarat.


Thalia tidak langsung mengiyakan, dia menatap wajah Sandi lalu berkata, "Kalau tidak habis, nanti kamu habiskan."


...***...

__ADS_1


Sandi langsung mengajak Thalia pulang ke apartemennya. Saat tadi dia bertemu dengan Simon di rumah gadis itu. Dia tidak ingin berlama-lama dengan lelaki itu.


"Tali, mau tidur denganku apa di kamar sebelah?" tanya Sandi saat mereka sudah sampai di apartemen.


"Di kamar sebelah saja. Kita belum menikah, tidak baik kau tidur satu kamar," jawab Thalia.


"Tali, ayo besok kita menikah. Nikah saja dulu, resepsinya nanti. Bagaimana? Apa kamu setuju?"


"Sandal, apa kamu yakin dengan keputusan kamu? Sekarang aku tidak punya siapa-siapa. Sudah pasti kamu akan aku repotkan," tanya Thalia.


"Kalau aku tidak yakin, mana mungkin aku membawa kamu pergi jauh saat hari pertunangan kamu."


"Bulan depan saja. Aku belum siap jika harus menikah buru-buru," ucap Thalia.


"Baiklah, bulan depan. Pestanya kita buat acara di kafe saja ya! nanti aku mengundang penyanyi ibu kota. Ayo aku bantu bereskan barang-barang kamu."


Sandi langsung menarik koper besar yang memuat semua baju Thalia. Dia kemudian menyusunnya di lemari baju yang ada di kamar itu. Sementara Thalia, membereskan barang-barangnya yang lain.


Setelah semuanya beres, keduanya beristirahat di ranjang Queen size yang ada di kamar itu. Sandi menidurkan kepalanya di atas paha Thalia yang baru saja membersihkan dirinya. Tercium wangi segar yang menguar dari tubuh Thalia. Sandi pun menghirup banyak-banyak wangi segar yang menenangkan pikiran.


"Tali, jangan terlalu lama sedihnya! Kita ikhlaskan kepergian ayah. Ingat, jalan kita masih panjang. Ada aku yang akan selalu menemani hari-hari kamu," ucap Sandi dengan mendongakkan wajahnya.


"Iya, aku akan terus belajar untuk ikhlas dengan takdir hidupku. Sandal, apa kamu serius ingin menikah denganku? Bukan karena kasihan sama aku kan?"


"Tidak Tali, Jauh-jauh hari sebelum ayah pergi, aku memang ingin datang ke rumah kamu dan meminta pada ayah memberikan putrinya untuk aku. Tapi aku selalu ragu, takut kamu akan menolaknya."


"Kenapa takut ditolak? Bukankah sudah biasa kamu mengejar seorang gadis? Apa karena aku tidak secantik mereka?"


"Kamu terlalu banyak berpikir. Istirahatlah! Gak usah bahas yang berat-berat. Lagipula, buat aku kamu segalanya, Tali. Entah apa yang akan terjadi jika sampai kamu jadi milik cowok belok itu."


"Jojo namanya. Tapi aku gak percaya kalau dia tidak menyukai seorang gadis. Karena aku selalu melihat sorot matanya yang berbeda padaku u."

__ADS_1


Kenapa aku dan Jojo menyukai gadis yang sama? Seperti Papa dengan pebinor itu. Tidak! Aku tidak akan biarkan dia mendekati Tali, batin Sandi


...~Bersambung~...


__ADS_2