
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota. Ingin sekali Sandi mengajak ngobrol istrinya, tetapi dia takut emosi Thalia belum mereda. Akhirnya, dia hanya bisa menunggu istri tercintanya menyapa duluan.
Namun, sepertinya ibu hamil itu tengah merajuk. Dia terus saja memanyunkan bibirnya hingga bertambah lima sentimeter. Dengan pandangan yang terus menatap ke luar jendela.
Sandi hanya menghela napas kasar dengan berkali-kali melirik ke arah istrinya. Sampai akhirnya dia menyerah dan menyapa duluan pada Thalia. "Tali, mau beli es krim gak? Aku mau mampir di minimarket yang dekat rumah kamu. Aku pengen beli minum."
Thalia langsung menengok ke arah Sandi yang sedang fokus mengemudi. Lalu dia pun bicara, "Aku mau es krim vineta dicampur rujak bebek. pasti enak. Nanti kamu cari rujaknya ya!"
Glek!
Sandi langsung menelan ludahnya kasar. Ditawari es krim ternyata ada tambahannya. Kemana dia harus mencari rujak seperti itu, sedangkan seumur hidupnya dia belum pernah membeli rujak.
"Kalau bikin saja di rumah Bu Elma bagaimana? Sekalian kita main ke rumahnya. Di belakang rumahnya kan banyak buah-buahan," usul Sandi.
"Iya deh boleh! Tapi bakso tetap beli ya! Sekalian buat Bu Elma juga."
"Iya, nanti kita beli makanan yang banyak buat oleh-oleh," ucap Sandi seraya membelokkan mobilnya ke arah minimarket.
Pasangan suami-istri itu pun langsung ke luar dari mobil. Thalia terlihat kembali sumringah saat dia membayangkan akan makan rujak dicampur es krim. Rasanya air liur dia sudah menetes sehingga dia berkali-kali menjilat bibirnya sendiri.
Tidak tanggung-tanggung, Thalia mengambil dua kotak es krim. Sementara Sandi hanya mengikuti dari belakang Thalia dengan keranjang belanja di tangannya. Dia pun sesekali mengambil makanan yang ingin di belinya. Saat keranjang yang dibawanya sudah penuh, barulah mereka menuju ke kasir untuk membayar.
"Sandal, aku tunggu di depan ya!" pamit Thalia saat mereka sedang menunggu antrian di kasir.
"Iya, Kamu duduk saja di kursi depan kalau lelah berdiri."
"Baik, suamiku!" sahut Thalia dengan tersenyum cerah.
Thalia pun langsung keluar dari minimarket dan menunggu Sandi di kursi yang disediakan di sana. Lagi-lagi dia tersenyum melihat ada seorang anak kecil yang sedang naik mobil-mobilan di depan minimarket. Tangannya langsung mengelus perutnya yang masih rata.
Mungkin nanti aku juga akan seperti ibu itu. Menemani anaknya bermain, batin Thalia.
Tidak berapa lama kemudian, Sandi keluar dengan dua kantong belanjaan di tangannya. Dia merasa heran melihat Thalia yang tersenyum sendiri. "Tali, lagi lihatin apa?"
"Lihat Sandal! Anak kecil itu lucu sekali. Nanti anak kita juga pasti lucu seperti itu," tunjuk Thalia.
"Mungkin lebih lucu dari dia. Udah yuk katanya mau makan bakso!" ajak Sandi.
"Ayo, belanjanya banyak banget. Kayak mau jualan aja."
__ADS_1
"Tadi yang masuk-masukin ke keranjang siapa ya? Perasaan aku hany masukin beberapa aja," sindir Sandi dengan melirik ke arah Thalia.
"Aku! Itu kan oleh-oleh buat Bu Elma juga."
"Iya gak apa Sayangku! Jangan cemberut terus! Aku suka bingung kalau kamu udah cemberut," pinta Sandi.
"Gak tahu Sandal, aku bawaannya pengen marah-marah terus. Maaf kalau bikin kamu bingung," sesal Thalia.
"Iya gak apa! Sayang Papa jangan rewel ya!" Sandi mengelus lembut perut Thalia lalu menciumnya. Dia kemudian menggandeng istrinya agar mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Wajah cantik itu kembali terlihat ceria. Tentu saja hal itu membuat hati Sandi merasa senang. Baginya kebahagiaan Thalia adalah kebahagiaannya.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di kedai bakso langganannya saat dulu masih tinggal di daerah sana. Keduanya langsung turun dan memesan bakso. Namun, mereka memutuskan untuk makan di rumah Bu Elma sekalian main ke rumah ibu kost yang baik itu.
"Mas bakso boom empat dibungkus ya! Dua campur, yang dua baksonya aja," pesan Sandi.
"Siap, Mas. Ditunggu ya!"
"Es campur sama es jeruknya juga di bungkus, Mas." Thalia langsung menimpali ucapan suaminya.
"Siap, Mbak!" sahut Penjual Bakso.
Namun, saat Sandi memarkirkan mobilnya di depan rumah Bu Elma, sayup-sayup terdengar suara yang yang sedang beradu mulut di rumah Thalia. Mereka pun secara naluri melangkah kakinya ke arah rumah Thalia.
"Kalian mau ke mana?" tanya Bu Elma yang keluar saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.
"Sebentar, Bu! Kini ke sana dulu," sahut Thalia setengah berbisik.
Thalia terus saja melangkahkan kakinya menuju ke halaman rumahnya. Saat sudah tiba di depan pintu suara keributan itu semakin jelas terdengar. Bukan hal yang aneh buat Thalia saat mendengar ibu tirinya itu berbicara dengan nada tinggi.
"Kamu tega ya, Mas. Saat aku sakit, kamu malah menikah lagi. Di mana hati nurani kamu?"
"Aku masih memiliki hati nurani. Makanya aku membiayai pengobatan kamu. Aku juga masih memberikan uang bulanan sama kamu. Meskipun kamu sudah tidak bisa melayani aku sebagai mana mestinya seorang istri. Dengar Eva! Aku menikah lagi, karena butuh seseorang yang bisa memuaskannya aku. Sementara kamu tidak bisa melakukannya."
"Kamu tega, Mas. Aku menyesal dulu pernah terbujuk rayuan kamu sampai akhirnya suamiku meninggal. Seandainya saja aku tidak menuruti keinginanmu, mungkin Mas Gery tidak akan pernah melihat kamu sedang menggagahi aku di rumahnya sendiri."
Terdengar suara Eva yang menangis tersedu. Thalia yang mendengar semua itu, dadanya terasa sesak. Dia tidak pernah menyangka kalau ibu tirinya tega berbuat seperti itu. Selama ini dia mengira ayahnya terkena serangan jantung karena dia batal menikah dengan Jojo.
"Terserah apa katamu. Aku hanya bisa memberi kamu pilihan. Jika masih ingin bersama aku, kamu harus menerima kalau aku memiliki banyak simpanan tapi kalau kamu tidak mau, aku akan menceraikan kamu. Lagipula, aku tidak bisa mendapatkan apapun dari kamu."
__ADS_1
"Kamu tega, Mas! Baiklah aku memilih kita bercerai, tapi aku minta tunjangan sebagai gantinya."
Sandi langsung menarik tangan Thalia agar kembali ke rumah Bu Elma. Dia tidak ingin istrinya menjadi kepikiran. Khawatir dua paruh baya itu mengungkit soal rumah yang kini di tempati Eva.
"Sandal tunggu! Aku ingin tanya ke ibu soal rumah ini," pinta Thalia.
"Jangan sekarang, Tali. Kamu dengar mereka masih bertengkar hebat. Lain kali saja ya. Ingat sekarang kamu sedang hamil. Kata dokter tidak boleh stres," ucap Sandi seraya mengelus perut Thalia yang masih rata.
Dengan terpaksa, dia mengikuti apa yang suaminya katakan. Dia berusaha mengikhlaskan rumah peninggalan ayah bundanya.
"Maaf, Bu. Tadi penasaran mendengar ribut-ribut di sebelah," ucap Sandi cengengesan. Dia langsung menyalami Bu Elma. Begitupun dengan Thalia.
"Entah kenapa, akhir-akhir ini Bu Eva sering ribut dengan suami barunya. Kadang Tifani juga menjadi sasaran kemarahannya," jelas Bu Elma. "Ayo masuk dulu! Kita ngobrol di dalam."
"Tali, duluan masuk sama Ibu. Aku ambil barang-barang dulu," ucap Sandi.
"Ayo Thalia. Perasaan sekarang kamu gemukan. Semenjak kematian ayahmu, kamu tidak pernah datang ke sini. Sandi juga, semenjak gak ada kamu jadi jarang main ke rumah ibu," tutur Bu Elma.
"Bu, sebenarnya aku dan Sandal sudah menikah. Beberapa bulan yang lalu," ucap Thalia.
"Apa? Menikah? Kenapa tidak mengundang Ibu?" tanya Bu Elma kaget.
"Sebenarnya sempat menyebar undangan tapi waktu itu pernikahannya gagal karena Sandal kecelakaan. Rencana pernikahannya dilanjutkan setelah Sandal baikan," jelas Thalia.
"Syukurlah, kalian sudah resmi menikah. Ibu tuh suka kasian melihat dia yang sering melamun seraya melihat ke arah kamar kamu. Mungkin dia tidak sadar kalau Ibu diam-diam memperhatikannya," ucap Elma dengan tersenyum.
"Bu jangan bongkar rahasia aku. Nanti Tali kegeeran lagi," celetuk Sandi yang baru datang. "Oh iya, Bu. Pohon jambu yang di belakang berbuah gak, Bu. Tali mau rujak bebek," tanyanya kemudian.
"Apa Thalia sedang hamil?" tanya Bu Elma dengan wajah sumringah.
"Iya, Bu. Sekarang udah jalan sepuluh minggu," jawab Thalia malu-malu.
"Owalah, pantes saja sekarang sedikit berisi."
"Bu, kita makan bakso dulu. Nanti keburu dingin lagi. Bikin rujaknya nanti saja," ucap Sandi seraya menyimpan semua barang bawaannya di atas meja.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....