Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 23 Flashback Sandi


__ADS_3

Udara malam yang dingin membuat Sandi diam-diam masuk menyelinap ke kamar Thalia. Pemuda itu terus gelisah saat tidak bersama dengan Thalia. Khawatir sahabatnya akan kabur dan memilih untuk menikah dengan Jojo .


Dilihatnya Thalia yang sedang tertidur pulas. Kedua sudut bibirnya terangkat melihat gaya tidur Thalia yang lasak. Dia pun segera membenarkan posisi tidur gadis itu, kemudian ikut bergabung dan membawa Thalia ke dalam dekapannya.


Rasanya aku gak sabar ingin cepat-cepat nikah, biar tiap malam bisa peluk kamu terus. Seandainya dulu aku tidak mendengar ucapan kamu yang seperti itu, mungkin aku tidak akan berkelana mencari gadis yang bisa membuatku nyaman.


Flashback on


Hari itu, Sandi sudah bersiap dengan jas mahal yang melekat di tubuhnya. Dia akan merayakan hari perpisahan sekolahnya. Thalia pun sudah nampak cantik dengan kebaya modern dan make-up tipis yang menyempurnakan penampilannya.


Sandi datang ke rumah Thalia untuk mengajak gadis itu berangkat ke acara perpisahan sekolah bersama-sama. Dia sempat tercengang melihat penampilan sahabatnya yang beda dari biasanya. Setelah berpamitan, mereka pun berangkat bersama dengan berboncengan.


"Tali, kamu beda banget hari ini." Sandi melirik sekilas ke arah Thalia.


"Iya dong! Kamu tahu Sandal, Nino ngajak aku buat nonton bioskop nanti malam. Katanya sebagai perayaan perpisahan," sahut Thalia dengan wajah ceria.


"Kamu suka sama Nino?"


"Jelas dong! Aku kan cewek normal yang sudah pasti menyukai cowok tampan seperti Nino. Sudah jago main basket, pernah jadi ketua OSIS, jadi juara kelas pula."


"Memangnya aku tidak lebih tampan dari Nino?" tanya Sandi lagi.


"Kamu tampan sih, pintar lagi. Tapi sayang kamu tuh cupu. Hahaha ...." Thalia langsung tertawa sendiri dengan ucapannya. "Sorry, aku cuma bercanda. Jangan marah ya!"


Sandi hanya tersenyum getir mendengar penuturan Thalia tentang dirinya. Dia jadi berpikir kalau penilaian Thalia pada dirinya ternyata seperti itu. Sandi pun bertekad untuk merubah dirinya agar bisa merubah pandangan Thalia terhadapnya.


Lihat saja Tali! Nanti kamu pasti akan jatuh cinta kepadaku, batin Sandi.

__ADS_1


Setibanya di sekolah, kedatangan mereka disambut oleh Melati yang memang sudah menunggunya di dekat parkiran. Melati sempat melongo melihat penampilan Sandi yang tidak seperti biasanya.


"Thalia, kenapa dia berubah jadi seperti pangeran?" bisik Melati.


"Berubah apanya? Sandal ya tetap Sandal. Mel ayo ke sana! Nino melambaikan tangannya ke kita." Thalia langsung menarik tangan Melati agar mendekati Nino.


"Memang kamu tidak suka sama Sandi? Kalau aku suka bagaimana?" tanya Melati seraya berjalan mengikuti langkah kaki Thalia.


"Dia sahabat aku. Mana mungkin aku pacaran sama dia. Masa iya pacaran sama sahabat sendiri. Ngaco kamu!"


Tanpa Thalia sadari, Sandi ikut mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu. Karena dia terus mengikuti kedua gadis itu dari belakang. Dia yang memang murid pindahan di sekolahnya Thalia, membuat Sandi tidak memiliki banyak teman. Apalagi, Sandi terkesan menutup diri selain pada Thalia.


"Thalia, kamu cantik sekali. Jadi kan nanti malam?" tanya Nino.


"Jadi dong! Tapi jangan terlalu malam ya, nanti ayah bisa marah," jawab Thalia.


"Boleh, nanti Melati kamu juga ikut ya, biar ada yang menemani Sandi," ajak Thalia.


"Boleh deh! Sekarang kan Sandi udah gak culun lagi," ucap Melati asal.


Lihat saja kejutan dariku! Saat SMU nanti, aku bukan lagi cowok culun dan cupu seperti yang kalian bilang, batin Sandi.


Thalia terus saja bersama Nino, membuat Sandi merasa kesal karena biasanya dia yang kemana-mana selalu menempel pada Thalia. Sampai akhirnya acara perpisahan itu selesai, barulah dia bisa bersama dengan Thalia kembali.


"Sandal, kamu kenapa dari tadi diam saja? Menurut kamu, Nino itu tulus gak? Aku mau nyobain punya pacar. Kayaknya seru bisa punya pacar kayak yang lain," tanya Thalia saat mereka sudah berada di kost Sandi.


"Gak! Dia itu menginginkan hal lain dari kamu," ketus Sandi.

__ADS_1


"Hal lain apa? Aku kan gak punya apa-apa. Orang tuanya lebih kaya dari ayah. Apa yang mau dia ambil dari aku?"


"Gadis bodoh! Nanti juga kamu akan mengerti sendiri. Ayo temani aku makan!" Sandi langsung membuka bungkusan nasi padang yang tadi dibelinya di jalan. Memang semenjak dia kost, Sandi selalu beli makan di luar kalau pulang dari sekolah karena saat pagi hari, ibu kost selalu menyiapkan sarapan untuknya.


Kedua sahabat itu langsung melahap makanannya. Mereka makan sambil bercerita, terkadang bertukar lauk pauk dan saling mencicipi makanan kesukaannya. Sampai hari menjelang petang, barulah Thalia pulang ke rumahnya.


Malam harinya, Nino datang menjemput mereka. Namun ternyata bukan hanya Thalia, Melati dan Sandi yang diajak oleh Nino tetapi sahabat-sahabatnya pun ikut serta.


Anak-anak baru gede itu menghabiskan waktu bersama untuk merayakan acara perpisahan sekolahnya. Setelah menonton bioskop, Nino membawa teman-temannya untuk makan bersama di kafe. Namun, ternyata itu adalah acara yang memang sudah disusun Nino untuk memenangkan hati Thalia.


Dengan penuh percaya diri, Nino mengungkapkan perasaannya pada Thalia setelah dia selesai menyanyikan lagu 'Dia' milik Anji. Tentu saja Thalia yang memang suka pada Nino langsung menerima pemuda tanggung itu. Meskipun dia belum mengerti rasa suka seperti apa yang dia rasakan pada Nino.


Di depan mataku, aku harus melihat Tali menjadi kekasih lelaki lain. Kenapa dia tidak bisa merasakan perasaan aku? Apa harus aku mengatakannya seperti Nino? Tapi sepertinya, Thalia memang hanya menganggap aku sebagai sahabatnya, batin Sandi.


Setelah hari itu, Sandi benar-benar mulai merubah penampilannya sepulang dari berlibur ke tempat papanya. Tidak ada lagi Sandi yang cupu dan culun ataupun Sandi yang diam dan selalu menghindar dari orang-orang.


Sandi yang sekarang menjelma menjadi sosok pemuda yang menawan. Dengan senyum manis yang selalu menghiasi bibirnya. Tentu saja membuat kaum hawa berebut untuk mendekatinya. Namun, perubahan Sandi membuat Thalia kelimpungan karena dia sering dijadikan tameng oleh Sandi untuk menghadapi gadis-gadis itu.


Flashback off


Pagi hari menjelang, dua anak manusia masih bergelung dengan selimutnya. Sandi yang sudah terbangun lebih dulu, membiarkan Thalia terus memeluknya. Dengan kaki dan tangan Thalia yang berada di atas tubuh Sandi membuat pemuda itu merasakan sesuatu menggelitik syarafnya.


"Ah Tali, kenapa kamu membangunkannya? Lihat, dia ingin berdiri tegak!" gumam Sandi.


Perlahan dia menyingkirkan tangan dan kaki Thalia dari atas tubuhnya. Kalau terlalu lama dengan posisi seperti itu, dia takut tidak bisa mengendalikan diri. Namun, sepertinya Thalia seolah enggan untuk melepaskan pelukannya.


"Tali, jangan menguji aku. Aku bisa khilaf kalau di sini. Karena tidak akan ada orang yang bisa mencegah apa yang ingin aku lakukan padamu. Apalagi Papa sudah pergi dari kapal ini."

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2