Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 33 Kala Hujan


__ADS_3

Senyum tipis terus tersungging di kedua sudut bibir Sandi. Dia sangat bahagia saat melihat cincin pernikahannya. Pikirannya terus melayang pada acara pernikahan dia dan Thalia esok hari. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera memasangkan cincin itu ke jari manis Thalia.


"Kenapa waktu lama sekali berputar? Aku ingin cepat-cepat jam delapan pagi besok. Mengucapkan ijab kabul di depan Pak Penghulu. Pasti Tali sangat cantik dengan kebaya putih yang dia pakai," gumam Sandi pelan.


Dia terus melangkahkan kakinya menuju ke basement mall untuk mengambil motor yang terparkir di sana. Saat sudah tiba di bawah, Sandi segera memakai helm dan bersiap untuk melajukan motornya.


Namun saat keluar dari basement mall, hujan deras menyambutnya dengan suara petir yang menggegelegar. Dia langsung teringat dengan Thalia yang selalu ketakutan saat mendengar petir. Apalagi gadis itu sendirian di apartemen.


"Tidak ada cara lain, selain harus menerobos hujan. Paling juga basah kuyup. Kalau aku ngebut, gak sampai lima belas menit pasti sudah sampai," gumam Sandi.


Dia langsung memacu kendaraannya dengan kecepatan di atas delapan puluh kilo meter per jam. Sandi tidak peduli dengan kilatan petir dan suaranya yang menggegelegar. Yang ada di pikirannya, dia harus segera sampai ke apartemen dan menemani Thalia agar gadis itu tidak merasa ketakutan. Namun naas bagi Sandi. Saat dia menerobos lampu merah di persimpangan jalan, bersamaan dengan sebuah truk dari arah kiri yang memburu lampu merah.


Brakk!


Kecelakaan itu tidak dapat terelakkan lagi. Motor Sandi pun terdorong truk dan menghantam mobil dari arah depan. Semua orang yang melihat kejadian itu berteriak histeris. Mereka berhamburan untuk memberikan pertolongan. Ada pula yamg merekam kejadian itu dan menyebarkan videonya di media sosial. Polisi pun segera mengamankan lalu lintas yang menjadi macet akibat kecelakaan itu.


...***...


Sementara Thalia, hatinya terus saja merasa cemas dari semenjak Sandi berangkat. Apalagi hujan deras mengguyur ibu kota dengan suara petir yang menggelegar bersahutan. Membuat gadis itu menyembunyikan tubuhnya di bawah bedcover.


"Sandal ke mana dulu? Katanya mau keluar sebentar tapi ini sudah dua jam, dia belum juga kembali. Mana hujan gede lagi," gumam Thalia.


Gadis itu terus saja komat-kamit membaca doa yang dia bisa. Sebisa mungkin, Thalia berusaha melawan rasa takutnya. Dia terus memanggil nama Sandi, berharap pemuda itu secepatnya datang.


Saat hujan sudah mulai mereda dan suara petir sudah tidak terdengar lagi, barulah Thalia mencari ponselnya. Dia ingin menghubungi Sandi dan menanyakan keberadaannya. Namun, ternyata ada panggilan telepon dari Sandi yang tidak terangkat olehnya. Thalia pun segera berniat untuk menelpon balik, bersamaan dengan masuknya panggilan telepon dari Sandi.


"Hallo, Sandal! Kamu ke mana dulu? Katanya sebentar tapi ini sudah berjam-jam gak balik-balik. Kamu tahu, aku takut sendirian di sini," cerocos Thalia saat dia sudah menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo selamat malam! Apakah Nona mengenal pemilik ponsel ini?" tanya seseorang di seberang sana.


"Iya, kenal. Tapi kamu siapa? Kenapa ponsel Sandal ada sama kamu? Apa kamu pencuri?"

__ADS_1


"Bukan! Kami dari kepolisian mau memberitahukan kalau pemilik ponsel ini yang bernama Sandiaga Lancanter mengalami kecelakaan di jalan raya. Kalau Anda keluarganya, tolong segera datang ke rumah sakit Bhayangkara."


Bruk!


Ponsel yang Thalia pegang langsung terjatuh begitu saja. Dia sangat syok mendengar laki-laki yang akan menikah dengannya besok ternyata mengalami kecelakaan. Dengan sisa kesadarannya, Thalia pun mengambil kembali ponselnya.


"Halo Nona! Apa Anda masih di situ?" tanya seseorang di seberang sana.


"I-i-iya, Pak!" sahut Thalia.


"Tolong segera datang ke rumah sakit untuk mengurus administrasi pasien. Terima kasih."


Sambungan telepon langsung terputus. Thalia pun segera bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Meskipun dia masih terasa syok, sebisa mungkin Thalia menguatkan hatinya. Namun tetap saja, selama perjalanan ke rumah sakit, Thalia terus menangis dalam diam. Pesta pernikahan yang sudah dipersiapkan, kini hanya tinggal angan belaka.


Sesampainya di rumah sakit, Thalia langsung menuju ke resepsionis. Dia teringat dengan ucapan polisi tadi ditelepon untuk segera mengurus administrasi. Setelah semuanya beres, barulah gadis itu pergi menuju ke ruang IGD.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Thalia pada dokter menangani Sandi.


"Kami membutuhkan persetujuan untuk tindakan operasi. Ada keretakan di tulang kaki dan leher pasien. Untuk saat ini, pasien masih dalam keadaan koma," jelas dokter.


"Baik, Nona. Nanti perawat akan membawakan surat persetujuan untuk operasi," ucap dokter yang masih terbilang muda.


Thalia hanya menganggukkan kepalanya lemas saat dokter yang menangani Sandi pamit untuk kembali memeriksa keadaan pasien. Sementara Thalia langsung terduduk lemas di bangku tunggu depan ruang IGD. Hatinya kalut benar-benar kalut dengan apa yang terjadi.


Tidak lama kemudian datang seorang polisi menghampirinya. Thalia yang menyadari kedatangan polisi yang masih cukup muda itu, langsung tersenyum samar. Terlihat polisi itu membawa barang-barang milik Sandi.


"Permisi Nona. Ini barang-barang milik saudara Sandiaga Lancanter," ucap polisi itu.


"Terima kasih, Pak!" sahut Thalia seraya menerima ponsel, dompet dan satu kotak perhiasan.


"Isinya masih utuh. Saya tidak mencurinya," ucap polisi itu lagi menyindir Thalia.

__ADS_1


"Maaf, kalau tadi saya salah bicara." Thalia menundukkan kepalanya. Hatinya benar-benar kacau dengan apa yang menimpa Sandi..


"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit polisi itu.


Tidak lama kemudian, datang seorang perawat membawa surat persetujuan operasi. Setelah semuanya beres. Sandi pun segera dipindah ke ruang operasi untuk mendapatkan tindakan medis. Sementara Thalia langsung menghubungi Tuan Morgan dan memberitahukan keadaan Sandi pada papanya.


Gadis cantik itu terus saja berdoa untuk kesembuhan kekasih hatinya. Dia terus mengutamakan hatinya untuk bisa ikhlas menerima kenyataan. Sampai akhirnya Tuan Morgan datang menghampirinya di depan ruang operasi.


"Thalia, bagaimana keadaan Sandi?" tanya Tuan Morgan dengan menepuk pundak Thalia yang sedang menunduk.


"Tulang leher dan kakinya ada yang retak, Om." jawab Thalia.


"Kenapa bisa terjadi? Pernikahan kalian tinggal beberapa jam lagi, tetapi Sandi ...." Tuan Morgan tidak bisa melanjutkan ucapannya. Dadanya terasa sesak mengingat apa yang terjadi pada putra satu-satunya.


Aku tidak tahu kronologi kejadiannya. Hanya saja, tadi dia pamit mau mengambil cincin kawin," jawab Thalia.


Hening


Tidak ada lagi obrolan di antara Thalia dan Tuan Morgan. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya, setelah kurang lebih menunggu sepuluh jam, barulah lampu ruang operasi itu padam. Terlihat seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lelahnya.


"Bagaimana Dok, keadaan putra saya?" tanya Tuan Morgan langsung memburu dokter yang keluar dari ruang operasi.


"Operasinya berjalan lancar. Nanti pasien akan dipindahkan ke ruang ICU," ucap dokter.


"Syukurlah, boleh saya melihat putra saya, Dok?"


"Mungkin nanti, Tuan. Setelah pasien dipindahkan. Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter.


"Terima kasih, Dok!" Kompak Thalia dan Tuan Morgan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate, dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2