Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 8 Tali bantu aku!


__ADS_3

"Skak!" seru Thalia begitu senang. Akhirnya dia akan mengalahkan si playboy itu.


Bukannya panik, Sandi malah tersenyum remeh dengan apa yang Thalia lakukan. Hanya dengan memindahkan pion Patih ke depan sang raja, dia sudah bisa membuat Thalia berada dalam pilihan yang sulit.


"Skak ster," ucap Sandi datar.


"Apa? Sial banget sih! Aku harus korbankan Patih demi melindungi raja," gerutu Thalia.


"Itulah kalau orang yang terburu-buru ingin mengalahkan aku. Sampai melupakan hal penting yang harus dijaga."


"Aku kesal sama kamu, tiap main catur gak pernah menang. Sudahlah aku mau tidur saja," ucap Thalia kemudian dia menguap berkali-kali.


Matanya yang sudah tidak bisa sinkron lagi, membuat dia melupakan kalau ada Sandi di kamarnya. Thalia pun memilih untuk memejamkan matanya.


Sementara Sandi hanya tersenyum melihat gadis itu tertidur kelelahan. Dia membereskan papan catur dan menyimpannya di rak buku paling bawah. Setelah semua beres, Sandi pun ikut berbaring di samping Thalia dan menyusul gadis itu ke dunia mimpi.


Hembusan angin malam yang menerpa tirai jendela kamar, membuat sepasang anak muda yang kelelahan, semakin merapatkan tubuhnya satu sama lain. Rasa lelah yang Sandi rasakan membuatnya tidur mendengkur.


Sementara di luar kamar, Pak Gerry yang akan ke kamarnya tanpa sengaja mendengar suara laki-laki yang mendengkur di kamar putrinya. Dia mencoba membuka pintu kamar putrinya, Namun usahanya sia-sia, karena memang pintunya terkunci dari dalam. Dia pun bergegas ke kamarnya untuk mengambil kunci cadangan.


"Bu, kunci cadangan semua kamar disimpan di mana?"


"Di laci lemari. Memang kenapa?" tanya Eva yang sudah memakai baju seksih.


"Sepertinya ada yang menyusup masuk ke kamar Thalia. Tadi Bapak mendengar suara dengkuran laki-laki di kamarnya," jelas Pak Gery dengan membuka lemari bajunya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia pun bergegas ke kamar Thalia diikuti oleh Eva.


Ceklek


Pak Gerry langsung membuka pintu lamar Thalia dengan tergesa setelah dia berhasil membuka kunci kamar itu. dilihatnya Thalia yang sedang tidur sendiri. Dia pun mengerutkan keningnya merasa tidak percaya kalau yang tadi di dengarnya hanya sebuah ilusi.

__ADS_1


Pak Gerry langsung memeriksa ke sekeliling kamar itu. Di mulai dari bawah tempat tidur, lemari, tirai, jendela kamar, semuanya nampak biasa-biasa saja. Perlahan dia menghela napas lega. Ternyata ketakutan tidak menjadi kenyataan.


"Ketemu gak, Yah?" tanya Eva yang sedari tadi memperhatikan suaminya.


"Gak ada, mungkin tadi Ayah salah dengar. Ayo kita kembali ke kamar. Sepertinya Ibu sudah siap Ayah gempur," ucap Gerry dengan tatapan nakalnya.


"Makanya, Ayah jangan marah kalau Ibu belanja online. Baru dikasih yang seperti ini Ayah sudah panas dingin," ucap Eva dengan mengerlingkan matanya.


Dua paruh baya itu akhirnya pergi ke kamar mereka. Mereka ingin menyalurkan hasrat yang mulai menguasai seluruh pikirannya. Setibanya di kamar, Pak Gerry dengan tergesa menyobek lingerie yang dipakai oleh istrinya.


"Ayah, kenapa disobek? Ibu belinya mahal."


"Ayah sudah gak kuat. Sudah ibu jangan banyak protes! Tinggal dijahit, nanti masih bisa dipakai lagi."


Pak Gerry mulai menelusuri tubuh istrinya dari atas hingga bawah. Saat tiba di tengah, Indra pengecap-nya pun mulai bermain-main di sana. Hingga membuat dua paruh baya itu sama-sama bergairah.


Sementara di balkon kamar Thalia, Sandi yang sembunyi di bawah kursi malas merasa kedinginan. Ditambah lagi, dia mendengar suara erangan dan lenguhan dari kamar samping. Perlahan dia berjalan menuju jendela kamar itu. Namun apa yang dilihatnya dari balik tirai jendela membuat adik kecilnya menjadi mengeras.


"Sial gak bisa masuk. Oh, Tali bantu aku," gumam Sandi.


Tok tok tok


Berkali-kali Sandi mengetuk jendela dan pintu keluar menuju balkon. Namun, gadis itu tidak membuka matanya sedikit pun. Bukannya Thalia tidak mendengar suara ketukan itu, tetapi dia sengaja tidak membiarkan Sandi tidur di kamarnya.


Merasa tidak ada harapan bisa masuk ke kamar sahabatnya, Sandi pun memilih untuk pulang. Dia segera melompat dari pagar balkon menuju ke sebuah pohon besar sebelum akhirnya melompat ke pagar rumah Thalia.


"Yah tidur sendiri, padahal aku ingin setiap malam tidur sama kamu Tali. Tapi kenapa kamu gak ngerti?" gumam Sandi saat dia sudah naik di atas roda duanya.


Sandi langsung melajukan motor sports-nya dengan kecepatan tinggi. Hingga tidak butuh waktu lama, dia sudah sampai di apartemen-nya. Namun, keningnya berkerut saat tanpa sengaja melihat bintang film idola Thalia sedang berciuman. Bahunya langsung bergidik ngeri. Dia takut menjadi sasaran pria belok. Dia pun langsung berlari menuju ke lift setelah memarkirkan motornya.

__ADS_1


"Asli aku gak nyangka, cowok tampan yang terlihat cool itu pecinta terong. Lucu juga, saat aku cemburu sama dia," kekeh Sandi pelan.


...***...


Keesokan paginya, Thalia sudah menyiapkan sarapan untuk sahabatnya. Dia masih ingat untuk menyiapkan sarapan setiap pagi. Thalia pun sengaja berangkat lebih awal dari rumahnya menuju apartemen sahabatnya.


"Sandal, bangun! Sarapannya sudah siap," ucap Thalia dengan menggoyangkan tubuh Sandi.


"Tali aku masih ngantuk, lebih baik temani aku tidur." Sandi langsung menarik Thalia dan mendekapnya erat. Dia senang keinginannya semalam bisa terlaksana pagi ini.


"Lepaskan aku, napas aku sesak!" pinta Thalia.


"Baiklah!" sahut Sandi dengan melepaskan Thalia, setelah dia mencium kening gadis itu. "Tali, nanti tolong siapkan kompensasi untuk Irene, Clara, dan Adelin. Aku sudah bosan! Lagipula sudah satu bulan aku pacaran dengan mereka. Sudah waktunya aku putus."


Thalia menghela napas dalam mendengar perintah bosnya. Sudah bukan hal yang aneh, dia harus berurusan dengan pacar-pacar playboy itu. Karena setiap kali meminta putus, maka Sandi akan menyuruhnya untuk mencari hadiah perpisahan untuk gadis yang akan dia putuskan.


"Ada lagi yang akan kamu putuskan? Biar sekalian aku mencari hadiahnya," tanya Thalia jengah.


"Kamu ingin aku memutuskan semua pacarku?" tanya Sandi dengan wajah yang senang.


"Tidak, setidaknya jangan terlalu sering kamu berganti-ganti pacar seperti ganti seprai tempat tidur."


"Salah mereka sendiri, kenapa tidak ada yang bisa membuat aku nyaman seperti aku bersama kamu," jawab Sandi cuek seraya berlalu ke kamar mandi.


Mendengar apa yang Sandi katakan, Thalia mematung di tempatnya. Dia mencerna apa yang sahabatnya itu katakan.


Kenapa aku yang menjadi alasannya? Apa mungkin Sandi mencintai aku? Tapi kalau memang benar mencintai aku, tidak mungkin dia mengencani banyak gadis. Sudahlah Thalia! Jangan berharap banyak! Tidak mungkin Sandi akan memilih kamu. Karena kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gadis-gadis yang pernah jadi pacarnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2