
"Thalia, coba lihat ke arah sana," tunjuk Melati ke arah Sandi dan Irene.
Mendengar apa yang Melati katakan, Thalia pun langsung mengikuti arah tunjuk tangan sahabatnya. Dia sempat mengerutkan keningnya, mengingat-ingat siapa gadis yang seang bersama dengan suaminya. Sampai akhirnya dia mengingat sebuah nama yag pernah dia datangai untuk memutuskan hubungan Saandi dengan gadis itu.
"Irene," gumam Thalia.
"Kamu kenal? Mereka sedang melihat ke arah kita. Kira-kira Sandi mau mengakui kamu sebagai istrinya atau menyembunyikan pernikahan kalian."
"Aku gak tahu. Tapi aku yakin kalau dia tidak akan mengingkari pernikahan kami."
Saat keduanya sedang asyik dengan praduganya, Irene mendekat ke arah mereka. Begitupun dengan Sandi yang langsung mengikuti Irene. Dia khawatir, gadis itu akan berulah pada istrinya.
"Oh, jadi ini yang dulu kamu bilang sahabat? Pantas saja kamu yang jadi perwakilan Sandi saat dulu memutuskan aku. Ternyata mau diembat," sinis Irene.
Thalia dan Melati langsung berdiri mendengar apa yang Irene katakan. Mereka langsung waspada, khawatir Irene melakukan hal di luar dugaan. Apalagi Thalia tahu kalau waktu diputuskan, Irene seperti tidak suka.
"Kamu salah Irene. Waktu kalian berhubungan, aku dan Sandi masih bersahabat baik. Kita nikah karena ...."
"Halah ... Gak usah bela diri! Kamu pelakor tetap saja pelakor," seru Irene seraya tangannya terulur hendak mendorong Thalia.
Namun, Sandi dengan gesit menahan tangan Irene. Dia tidak mau kalau mantan kekasihnya itu sampai menyakiti istrinya. Apalagi, sekarang ada bayi dalam kandungan Thalia.
"Dengar Irene! Yang salah itu aku. Tali gak pernah tahu kalau aku mencintainya dari pertama kali aku melihatnya. Kalau kamu ingin menyalahkan karena aku putuskan begitu saja. Kamu bisa membalaskan sakit hatimu sama aku. Bukan sama Tali, karena dia tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini," beber Sandi panjang lebar.
"Oh, begitu! Aku memang ingin sekali melampiaskan sakit hatiku sama kamu. Seenaknya saja kamu membuatku melayang tinggi tapi mendadak kamu hempaskan begitu saja," ucap Irene dengan menepiskan tangannya yang dicekal oleh Sandi.
Saat Sandi sudah melepaskan cekalan tangannya, tanpa permisi Irene langsung menampar pipi mulus itu dengan keras. Sampai terlihat cap lima jari di pipi Sandi. Namun, bukannya marah, Sandi malah tertawa medapatkan tamparan yang keras dari mantan kekasihnya.
"Hahaha ... Keras juga tamparan kamu. Oke berarti kita impas. Kamu tidak boleh menyimpan dendam sama aku ataupun Thalia. Karena cinta tidak bisa dipaksakan."
"Sebenarnya aku belum puas. Kamu tahu, Sandi! Kamu laki-laki yang mampu membuat aku jatuh cinta. Tapi dengan seenaknya kamu mempermainkan perasaan aku. Aku ingin bersama kamu, tapi aku tidak ingin hidup dengan laki-laki yang tidak mencintai aku."
Irene langsung pergi begitu saja setelah berbicara panjang lebar. Hatinya terasa teriris dengan kegagalan cintanya. Dia yang susah jatuh cinta harus menjadi korban seorang playboy.
__ADS_1
"Kasian juga ya, Tha. Kamu sih Sandi senang banget kasih harapan ke gadis-gadis yang memuja kamu," celetuk Melati.
"Yah, mau gimana lagi, pesonaku tidak bisa ditolak. Salah mereka kenapa tergila-gila sama aku. Aku kan tidak pernah menjanjikan apapun sama mereka. Hanya sedikit memuji, mereka langsung masuk ke dalam perangkapku."
"Dasar playboy cap kadal! Berarti sama aku juga gitu, kan?" tuduh Thalia langsung sensi.
"Ya nggak gitu kalau sama kamu, Tali. Kamu kan beda, kamu ratu di hatiku. Pelabuhan terakhir cintaku," ucap Sandi dengan mengecup singkat pipi Thalia.
"Huek ... Sandi. Aku mual mendengar gombalan kamu. Lagian kamu juga, Tha. Mau aja nikah sama barang bekas kayak dia."
"Terpaksa, karena aku tidak bisa nikah sama orang lain," canda Thalia yang sukses membuat wajah Sandi menjadi tidak bersahabat.
"Oh, gitu ya! Oke kalau gitu, aku akan buktikan kalau kamu tidak punya pilihan selain terus bersama aku." Sandi langsung membopong Thalia seperti karung beras. Dia tidak suka mendengar apa yang istrinya katakan. Meskipun itu hanya sebuah candaan
"Sandal lepasin!" rengek Thalia.
"Tidak akan! Kamu harus mendapatkan hukuman."
"Iya, iya aku minta maaf. Aku salah."
"Aw ... Sandal perut aku sakit," Bohong Thalia.
Tanpa berpikir panjang, Sandi langsung menurunkan istrinya. Akan tetapi, wajahnya langsung berubah muram saat tahu Thalia membohonginya. Dia pun langsung menangkap kembali Thalia yang akan kabur dan menggendongnya dengan gaya bridal style.
"Jangan coba-coba membohongi aku! Akan aku pastikan kamu mendapatkan hukumannya," bisik Sandi.
...***...
Sebulan sudah berlalu semenjak mereka berlibur ke pantai. Hubungan Melati masih belum berkembang dengan Jojo, karena lelaki itu masih sibuk syuting di luar kota. Sementara Sandi dan Thalia sudah kembali bekerja di kafe. Hanya saja, Sandi melarang istrinya untuk melayani para pelanggan. Dia hanya menyuruh Thalia untuk membantu di kasir jika ibu hamil itu merasa jenuh mengurus laporan kafe.
Seperti saat ini, ketika dia sedang sibuk melayani pelanggan yang akan membayar pesanan makanannya, tanpa sengaja Thalia melihat Tifani datang bersama dengan seorang lelaki dewasa. Adik tirinya itu terlihat digandeng oleh lelaki itu. Thalia sempat mengerutkan keningnya karena merasa heran Tifani tidak bersama dengan kekasihnya.
"Siapa laki-laki itu? Tumben Tifani tidak bersama dengan Deon," gumam Thalia.
__ADS_1
Dia pun kembali melayani pelanggan yang datang untuk membayar dan melupakan adik tirinya. Sampai akhirnya, ciuman di pipi dari Sandi mengejutkannya.
"Makan siang dulu! Kasih ke Ina saja. Katanya mau beli bakso yang dekat rumah kamu."
"Sebentar habis ini," ucap Thalia.
"Mas mesra kali sama Mbaknya. Memangnya kalian tidak takut ditegur bos ya, mesra-mesraan di jam kerja," celetuk pelanggan yang akan membayar.
"Iya ya, aku khilaf! Tolong jangan kasih tahu ke orang-orang ya. Apalagi sama bos di sini. Suka galak soalnya," sahut Sandi.
"Boleh aja sih, Mas. Asal Masnya mau kasih tahu sosmed-nya."
"Boleh boleh, nanti follow saja Sandal Tali di Ig."
"Kho Sandal Tali, Mas. Memangnya Masnya jualan sandal?" tanya pelanggan itu merasa tidak percaya.
"Namanya Sandal, Mbak. Ini kembaliannya. Terima kasih sudah mampir ke sini," ucap Thalia.
Setelah memberikan uang kembalian dan struk, Thalia langsung berlalu begitu saja meninggalkan Sandi yang sedari tadi menunggunya. Entahlah, dia merasa tidak suka melihat Sandi beramah-tamah dengan gadis cantik yang tadi. Apalagi suaminya itu memberi tahu sosial medianya. Bisa saja mereka saling DM di belakangnya.
"Tali, kho ninggalin! Aku kan dari tadi nungguin kamu," seru Sandi seraya mengejar Thalia.
Ibu hamil itu terus saja berjalan cepat tidak memperdulikan panggilan suaminya. Sampai langkah kakinya tiba di parkiran, barulah dia menghentikan langkahnya.
"Tali, kamu marah? Salah aku apa coba? Kamu cemburu karena aku ngobrol sama pelanggan? Bukankah biasanya juga suka menyapa pelanggan meski mereka tidak tahu aku pemilik kafe?" berondong Sandi.
"Pikir aja sendiri. Sudah cepat buka pintunya!" ketus Thalia.
"Iya, iya sebentar."
Dia kenapa jadi gampang marah gitu? Ditanya gak mau jawab tapi uring-uringan. Aku kan jadi bingung harus gimana. Padahal aku selalu mengalah dan menuruti keinginannya, batin Sandi.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....