Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 27 Kedatangan Jojo


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak meninggalnya Pak Gerry. Kini Thalia sudah tidak murung lagi. Dia mulai menata kembali hidupnya bersama Sandi dan terus meyakinkan diri, kalau Sandi tidak mungkin menjadikannya sebagai koleksi gadis-gadis cantik yang pernah jadi pacar playboy itu.


Satu persatu Sandi pun memutuskan gadis-gadis yang masih berstatus sebagai pacarnya. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa menerima keputusan Sandi memutuskan hubungan secara sepihak.


Seperti Camelia yang mengancam akan membatalkan untuk menjadi ambassador kafe baru Sandi. Namun, ancaman itu sedikit pun tidak digubris oleh Sandi. Dia masa bodoh dengan ancaman Camelia. Kalau pun pembukaan kafe itu dibatalkan, dia berencana akan menjualnya.


"Sandal, apa kamu yakin mau menjual kafe yang di puncak? Memangnya tidak sayang kamu sudah mengeluarkan uang banyak? Kenapa gak dicoba aja dibuka meskipun tanpa Camelia," tanya Thalia saat tahu rencana Sandi.


"Tali, aku terikat perjanjian dengan Camelia. Bikin kafe itu sebagian pakai uang dia. Aku tidak mau ada masalah kedepannya kalau dilanjutkan. Ternyata punya partner bisnis cewek ribet juga kalau pakai perasaan. Dia yang nawarin kerjasama tapi dia yang mutusin saat aku putuskan."


"Kamu saja yang doyan banget kasih harapan sama mereka. Jadi wajar saja kalau mereka jadi berharap banyak," cebik Thalia.


"Hahaha ... Bukan aku yang kasih harapan, tapi mereka yang mudah terbawa perasaan. Anggap candaan aku dengan serius. Udah akh, mending kita lanjut lagi rekap laporan keuangannya. Kamu kerjain yang pengeluaran, aku yang pendapatan."


Saat keduanya mulai larut dalam pekerjaannya, terdengar pintu ruangan ada yang mengetuk. Sandi pun langsung mempersilakan masuk. Nampak Gunawan menyembulkan kepalanya sebelum dia membuka pintu lebar-lebar. Dia khawatir melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat jika asal masuk di saat Sandi sedang bersama dengan Thalia.


"Bos, ada yang mencari di bawah," ucap Gunawan.


"Siapa? Cewek apa Cowok?" tanya Sandi.


"Cowok, tapi wajahnya tidak jelas karena dia pakai masker. Bilangnya dia sahabat Bos," jawab Gunawan.


"Sebentar aku lihat dulu!" Sandi pun langsung mengecek CCTV kafe. Dia mencari orang yang tadi di katakan oleh Gunawan. Setelah menemukannya, Sandi pun memperlihatkan pada Gunawan.


"Apa yang ini orangnya?" tunjuk Sandi pada layar monitor.


"Iya, benar Bos!" sahut Gunawan.


"Suruh dia ke sini saja. Tali, lihat idolamu mencari aku! Jangan-jangan dia ingin menggodaku dan mejadikan aku kekasihnya. Ih ... Tali aku gelay! Atut diajak melambai-lambai," canda Sandi dengan tangan yang sengaja dia lambaikan pada Thalia.


Gunawan yang melihat tingkah Sandi hanya tertawa kecil. Bukan hal yang aneh jika Sandi terkadang melakukan hal yang konyol. Karena dia sudah mengenal bosnya itu semenjak dari bangku kuliah. Meskipun sebenarnya dia senior Sandi dan Thalia, tetapi saat di kafe, dia sebagai bawahan Sandi.

__ADS_1


"Oke, aku ke sana dulu!" pamit Gunawan.


"Iya, Mas Gun!" sahut Thalia. "Sandal, geli lihatnya. Kamu jangan tiru-tiruan gitu. Nanti kalau keterusan, emang mau?"


"Ogahlah! Ngapain suka terong kalau sorabi oncom lebih enak," sanggah Sandi yang sukses mendapat lemparan batal sofa.


"Language Sandal language, asal ceplak aja."


"Emang salah ya? Padahal kalau kita lari pagi di pinggir kota, suka beli tuh sorabi oncom. Kamu juga doyan kan?" tanya Sandi.


Tak lama kemudian, pintu kembali ada yang mengetuk. Setelah dipersilakan masuk, terlihat Jojo masuk memakai sweater putih dan celana Chino warna cream serta topi hitam yang bertengger di kepalanya. Tidak ketinggalan masker yang menutup wajahnya.


Thalia sempat terpaku sesaat melihat penampilan idolanya. Dia pun memaksakan tersenyum untuk menyambut kedatangan Jojo. Sementara Sandi langsung memasang wajah sinis.


Berbeda dengan Jojo yang raut wajahnya tidak berubah sedikit pun. Meskipun sebenarnya hati dia bergejolak. Pemuda itu hanya memasang wajah datar.


"Silakan duduk!" suruh Thalia kikuk.


"Kabar dia baik, ada apa kamu ke sini?" serobot Sandi.


"Aku ada perlu denganmu," jawab Jojo datar.


"Kalau begitu, kalian silakan ngobrol ya! Aku mau ambil minuman dulu," pamit Thalia.


Kenapa ya hawa-hawanya seperti akan terjadi perang. Mending aku pergi saja, batin Thalia.


"Tidak usah! Gun sudah membuatkan minuman. Kamu di sini saja. Kamu harus tahu semuanya sebelum kita menikah." Sandi langsung mencekal tangan Thalia yang akan bangun dari duduknya.


"Kapan kalian menikah?" tanya Jojo dengan menatap lekat pada Thalia.


"Beberapa minggu lagi." Lagi-lagi Sandi yang menjawab pertanyaan Jojo. Dia tidak membiarkan Thalia bercakap-cakap dengan pemuda itu. "Cepat katakan! Ada apa kamu ke sini?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin minta tolong sama kamu, agar membujuk mamamu untuk menyerah dengan pernikahannya. Aku tidak tega melihat dia tersiksa terus."


"Itu sudah jadi pilihan dia. Memilih meninggalkan anak dan suaminya demi bajingan itu," ketus Sandi.


Jojo hanya mengepalkan tangannya mendengar apa yang Sandi katakan. Meskipun benar papanya seorang bajingan, tetapi saat ada orang lain yang mengatakan hal itu, hatinya merasa tidak terima.


"Sandi! Apa kamu tega melihat wanita yang sudah melahirkan kamu hidup menderita lahir dan batinnya? Aku sudah berusaha membujuk dia agar pergi dari kehidupan papa. Tapi dia selalu menolaknya, karena menurutnya hanya papa yang mau menerima dia." Jojo sedikit meninggikan suaranya.


"Itu sudah menjadi pilihan dia. Dia yang menginginkan hidup seperti itu. Kenapa kamu menyalahkan aku? Karena kamu dan papa kamu, aku harus kehilangan mamaku." sentak Sandi


"Sandi, kumohon terima kembali Tante Raline. Papaku kembali menggila. Dia tidak segan memukul dan mencekik mama kamu jika keinginannya dilarang. Kamu tahu, sekarang papa memiliki istri simpanan dan mama kamu sering diabaikan." Jojo mulai memelankan suaranya. Dia lupa kalau bicara dengan Sandi tidak boleh terbawa emosi karena sahabatnya itu pasti akan lebih marah darinya.


"Baik! Kalau dia bisa meninggalkan kamu dan papa kamu, aku akan menerima dia kembali. Tapi kamu harus pastikan, hubungan papa kamu dengan wanita itu benar-benar sudah berakhir."


"Baik, aku akan mengatakannya pada Tante Raline. Asal kamu tahu, aku menyayangi mama kamu lebih dari mama aku sendiri."


Sandi hanya tersenyum miring mendengar penuturan dari Jojo. Dia masih ingat saat dulu masih kecil, mamanya tidak pernah membedakan antara dia dengan Jojo. Bahkan mamanya menganggap kalau Jojo saudara kembarnya.


"Kalau sudah tidak ada perlu lagi, kamu sudah boleh pergi," usir Sandi.


"Sandi, bisakah kita berteman lagi? Aku tidak pernah membenci kamu. Tapi kenapa kamu begitu membenci aku? Padahal aku tidak ikut andil dalam kesalahan orang tua kita."


"Karena kamu menjadi penyebab awal kesalahan itu terjadi. Seandainya waktu itu kamu tidak memaksa untuk liburan bersama, mungkin kesalahan itu tidak akan pernah terjadi. Aku masih ingat saat papa kamu mulai menggoda mamaku. Aku melihat sendiri apa yang dilakukan papa kamu saat di villa. Aku tidak bisa melupakan semua itu."


"Maaf, aku sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi di antara keluarga kita." Jojo hanya bisa menundukkan kepalanya.


Sementara Thalia hanya dia membisu. Dia sedang sibuk mencerna sebenarnya apa yang telah terjadi di antara Sandi dan Jojo. Dia juga masih kaget dengan apa yang di dengarnya kalau ternyata Nyonya Raline itu mamanya Sandi.


"Pantas saja, waktu itu aku lihat di depan ruang perawatan saat Sandal sakit," gumam Thalia.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2