Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 75 Tinggalkan dia!


__ADS_3

Setibanya di rumah, Sandi langsung masuk begitu saja. Dia terus celingukan melihat ke arah sekitar rumahnya. Hatinya sedikit tenang, saat teringat kalau di rumahnya ada satpam yang menjaga anak dan istrinya. Dia juga sudah memesan kamera CCTV untuk mengawasi setiap penjuru rumah dan kafe miliknya.


Sementara Thalia merasa bingung dengan tingkah suaminya yang dia rasa aneh. Meskipun memang Sandi terkadang kelakuannya aneh menurut dia. Tetapi hari ini anehnya terasa berbeda.


"Sandal, kamu kenapa?" tanya Thalia.


"Tali, tadi ada orangbyang mengikuti aku di kafe. Makanya tadi pulang minta antar Devan. Mobilku aku simpan di kantornya Devan," ucap Sandi.


"Apa? Ada yang ngikutin kamu?" tanya Thalia kaget.


"Iya. Kamu hati-hati di rumah. Jangan masukin orang sembarangan!"


"Iya, paling juga yang main ke sini hanya Asha dan pengasuhnya."


"Terus, besok aku gimana? Gak usah ikut ke kafe?"


"Nanti aja ke kafenya kalau sudah aman."


"Ya udah, lebih baik kamu mandi saja dulu biar badannya lebih segar dan fresh."


"Mandiin ya! Ayolah Tali, udah lama kamu gak mandiin aku," rayu Sandi.


"Ya udah yuk! Aku titipkan Ale dulu ya!" Thalia tersenyum hangat pada suaminya.


Setelah Thalia menitipkan putranya pada pengasuh. Dia pun segera menghampiri Sandi yang sudah berendam di dalam bathtub. Perlahan Thalia melucuti bajunya, sebelum akhirnya dia ikut bergabung bersama suaminya.


Sandi yang sedari tadi menatap nakal Thalia, langsung menarik istrinya agar duduk di pangkuannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk secepatnya meraup bibir yang sudah menjadi candunya. Sepertinya sore ini, mereka habiskan dengan acara mandi plus-plus untuk melupakan sejenak kecemasan yang melanda hati.


...***...


Keesokan harinya, Sandi berangkat ke kafe dengan memesan ojeg online. Dia langsung menuju ke perusahaan Devan karena akan mengambil mobilnya. Setelah cukup berbasa-basi dengan satpam perusahaan, dia pun langsung menuju ke kafenya.


"Gun, makasih ya udah kasih tahu." Sandi tersenyum saat berpapasan dengan Gunawan yang sedang mengatur para karyawan.


"Bos tunggu sebentar! Aku selesaikan dulu briefing-nya," pinta Gunawan.


Gunawan pun langsung menyuruh karyawan kafe untuk kembali bekerja sesuai tugasnya masing-masing. Setelah melihat semua karyawan itu pergi, barulah dia menghampiri Sandi.

__ADS_1


"Bagaimana kemarin?" tanya Gunawan.


"Kamu benar, dia mengikuti aku terus. Aku sudah memesan CCTV agar di setiap penjuru kafe terpasang. Mungkin nanti siang akan ada orang yang datang memasangnya. Oh iya Gun, nanti aku mau ke Bekasi dulu. Mau cek kafe di sana," tutur Sandi.


"Oke, kamu hati-hati di jalan. Sandi, memang kamu beri dengan siapa sampai ada yang mengikuti kamu?"


"Gak ada. Selain mantan-mantan aku dan si pebinor itu. Memangnya kenapa? Apa kamu mencurigai seseorang?" tanya Sandi.


"Entahlah! Aku juga bingung. Hanya bisa menerka-nerka."


"Sudahlah! Aku mau ke atas dulu." Sandi langsung berlalu pergi meninggalkan Gunawan. Dia malas memikirkan orang yang gak penting.


"Semoga dia baik-baik saja," gumam Gunawan.


Setelah cukup lama Sandi berada di ruangannya, dia pun segera bersiap menuju ke kota Bekasi. Semenjak kafe yang dipegang Tantra dia tutup, Sandi pun membuka kafe di kota lain. Entah kenapa selama perjalanan ke kota itu , hatinya merasa tidak tenang. Dia terus memikirkan anak dan istrinya di rumah.


Mereka pasti baik-baik saja. Bukankah ada satpam yang akan menjaga Tali dan Ale, batin Sandi.


Namun, sepertinya bukan Thalia dan putranya yang harus dia khawatirkan tetapi dirinya sendiri yang sedang diikut oleh sebuah mobil Jeep di belakangnya. Sandi tidak menyadari kalau mobil itu mengikutinya sedari dia keluar dari kafe.


Sementara di tempat yang berbeda, Thalia seperti biasanya mengajak Ale untuk bermain di ruang bermain yang khusus disiapkan oleh Sandi. Banyak main untuk balita di sana. Apalagi, Tuan Morgan selalu membawa mainan untuk Ale setiap kali dia berkunjung. Begitupun dengan Raline dan Jojo yang terlihat sangat memanjakan putra pertamanya.


"Mbak Thalia, ada tamu," ucap Bi Edah, pembantu rumah Thalia.


"Siapa Bi?" tanya Thalia.


"Saya tidak tahu, Mbak. Tapi laki-laki seumuran Mas Sandi. Mungkin temannya. Dia juga menanyakan Mas Sandi tapi saya bilang sudah berangkat ke kafe," jelas Bi Edah.


"Oh, ya sudah nanti aku ke sana. Mbak Nita titip Ale dulu ya!"


"Iya Mbak, biar Ale sama saya."


Setelah memastikan putranya anteng bersama dengan pengasuhnya, Thalia pun pergi ke ruang tamu. Nampak di sana seorang lelaki yang sudah Thalia kenal sedang melihat foto keluarganya. Dia pun berdehem untuk memberi tahu kalau dia sudah ada di sana.


"Ehem ... Tantra apa kamu mencari aku?" tanya Thalia.


"Hai Nyonya Lancanter, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu." Tantra tersenyum miring melihat ke arah Thalia.

__ADS_1


"Silakan duduk! Kamu tahu dari mana, aku tinggal di sini?" tanya Thalia heran. Karena setahunya hanya keluarga terdekatnya yang tahu mereka tinggal di kawasan itu.


"Kamu tidak perlu tahu, aku tahu dari mana. Aku ke sini karena ada perlu dengan kamu."


"Denganku? Memang ada perlu apa?"


"Hanya sebuah permintaan kecil, tapi akan berpengaruh besar jika kamu menolaknya."


"Maksud kamu?"


"Tinggalkan Sandi! Maka kalian akan selamat, tapi kalau kamu menolaknya, maka kalian akan tetap berpisah."


"Apa maksud kamu? Kenapa aku harus meninggalkan suami aku sendiri. Lagi pula, aku tidak memiliki masalah apapun dengan dia."


"Karena aku tidak menyukainya. Dengar Thalia, Sandi sudah memberikan harapan palsu pada adikku. Sampai adikku harus unfall."


"Kenapa menyalahkan Sandi? Bukankah sakit adikmu memang tidak bisa disembuhkan?"


Plak


Tanpa bicara lagi Tantra langsung menampar Thalia. Dia sangat kesal karena menurutnya Thalia menginginkan kematian adiknya. "Kamu dengan suami kamu sama saja. Dari dulu aku sudah tidak suka dengan kedekatan kalian. Aku sudah memberi kamu kesempatan untuk pergi baik-baik, tapi kamu malah bicara seperti itu. Baik jika kamu tidak bisa meninggalkan Sandi, maka aku yang akan memisahkan kalian. Kamu tahu Thalia, kalian tidak pantas untuk bersatu."


Tantra langsung pergi begitu saja meninggalkan Thalia yang masih memegangi pipinya. Raut wajah penuh dendam terlihat jelas dari sorot matanya. Tanpa menengok lagi ke belakang dia membawa mobilnya keluar dari halaman rumah Thalia.


Sementara Thalia yang masih kaget dengan apa yang Tantra katakan, melihat kepergian laki-laki itu dengan tatapan kosong. Dia masih syok dengan tamparan yang di dapatnya, karena seumur hidupnya, baru kali ini dia merasakan ditampar orang.


Kenapa jadi seperti ini. Kenapa kesalahan Sandi di masa mudanya harus berbuntut. Apa yang harus aku lakukan? Sandi, cepatlah pulang! Aku membutuhkan kamu, batin Thalia.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, dan favorite....


...Terima kasih....


...Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin karya keren yang satu ini....


__ADS_1


__ADS_2