Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 76 Diculik


__ADS_3

Matahari sudah condong ke arah barat. Langit pun dihiasi warna jingga kemerahan. Namun, Sandi belum juga pulang dari kafe. Thalia berkali-kali menghubungi suaminya. Namun sayang, Sandi tidak pernah mengangkatnya.


Ibu muda itu semakin cemas. Apalagi tadi siang dia mendapatkan ancaman dari Tantra. Dia semakin berpikiran buruk. Khawatir terjadi sesuatu pada suaminya.


Beruntung, saat dia sedang dilanda kecemasan. Devanya, tetangganya datang berkunjung. Dia berniat untuk mengajak Thalia ikut serta dalam acara barbeque di rumahnya. Namun, melihat kecemasan yang terlihat jelas di wajah Thalia, membuat Devanya menjadi bertanya-tanya.


"Thalia, ada apa? Sepertinya kamu gelisah sekali?" tanya Devanya.


"Itu Kak, Sandi susah dihubungi. Tidak biasanya dia seperti itu," keluh Thalia.


"Berapa nomor ponselnya? Kalau nomor dia masih aktif, akan mudah melacaknya," tanya Devanya.


"Kakak bisa melacak orang?" tanya Thalia merasa tidak percaya.


"Papa mengajarkan anak-anaknya agar bisa melacak. Untuk jaga-jaga jika terjadi hal yang tidak kita inginkan," jelas Devanya.


"Ini Kak nomornya," ucap Thalia dengan memberikan nomor ponsel suaminya.


Devanya pun langsung mengutak-atik ponselnya. Dia terlihat serius mempraktekkan ilmu yang dia dapat dari papa dan juga suaminya. Sampai akhirnya, Devanya melihat titik hijau di ponselnya, sebagai penunjuk keberadaan Sandi. Dia langsing memperbesar dan memasukkan kode akses satelit milik AP teknologi agar lebih jelas melihat keberadaan Sandi.


"Thalia, coba lihat sini! Apa Sandi kemarin pakai baju warna hitam?" tanya Devanya.


"Iya, Kak. Dia pakai jaket warna hitam. Kak Deva, coba cari alamatnya. Aku akan menyusul dia. Ini pasti kerjaan Tantra, tadi siang dia mengancam aku."


"Tantra? Siapa dia?" tanya Devanya penasaran.


"Dia sahabat Sandi." Thalia pun menceritakan apa yang terjadi antara Sandi dengan Tantra. Sudah kepalang tanggung, makanya Thalia tidak menyembunyikan apapun dari Devanya.


"Thalia, sebaiknya kamu berhati-hati. Sebentar, aku nelpon Bang Ano dulu," ucap Devanya.


Wanita bermata biru itu segera menghubungi suaminya. Saat sudah tersambung, Devanya tidak menyia-menyiakan kesempatan. Dia langsung bicara pada Keano.


"Hallo, Bang! Bisa ke rumah Sandi sebentar gak?"

__ADS_1


"Kenapa, Ay? Apa ada yang penting?"


"Sandi ada yang menculik, makanya sini dulu. Cepetan, Bang!"


"Iya, iya. Ini Abang mau jalan ke sana."


Tidak berapa lama kemudin, Keano datang bersama dengan kedua anaknya. Karena memang, kedua anak kembar itu sangat dekat dengan papinya. Jika Keano sedang berada di rumah, maka kedua anak kembar itu akan lengket dengan papinya.


"Bagaimana kejadiannya, Ay?" tanya Keano.


"Coba, Abang lihat! Dia ada di gedung ini," tunjuk Devanya memperlihatkan ponselnya.


"Kamu yang melacak, Ay? Tahu dari mana kode aksesnya?" tanya Keano heran.


"Waktu itu Abang ngajarin aku. Masa Abang lupa sih?"


"Istri Abang ternyata bisa jadi pelacak handal," puji Keano.


"Aku juga bisa kho, Pih." Arshaka langsung menimpali.


"Sebentar, Abang hubungi dulu Om Marco. Minta menyiapkan pasukan untuk mengepung gedung itu. Kalian di rumah saja, tidak boleh ke mana-mana."


"Iya, Bang."


Keano pun segera menghubungi pemimpin pasukan keamanan AP Group. Sebuah pasukan khusus yang sengaja opanya bina untuk mengamankan semua anggota Keluarga Wiratama dan perusahaan yang dimiliki oleh Keluarga Wiratama.


Tidak tanggung-tanggung, Keano langsung meminta dua puluh orang berseragam lengkap untuk membebaskan Sandi. Dia hanya memantau pergerakan pasukan itu dari jauh. Sementara Thalia, sengaja Devanya bawa ke rumahnya demi keamanannya


...***...


Sementara itu, jauh dari keramaian ibu kota, tepatnya di sebuah gedung yang terbengkalai. Nampak Sandi duduk dalam keadaan terikat. Laki-laki itu masih dalam pengaruh obat biuss sehingga belum sadarkan diri.


Terlihat dua orang pria dengan badan penuh tato, berwajah sangar dan berbadan kekar. Salah satu dari mereka sedang melakukan panggilan telepon. Rupanya, laki-laki itu sedang menghubungi bos mereka yang memberi tugas untuk menculik Sandi.

__ADS_1


"Hallo, Bos. Semua aman. Kami sudah membawa ke tempat yang bos suruh."


"Bagus, aku kan ke sana sekarang."


Panggilan langsung terputus dan lelaki itu tersenyum puas. Dia sudah membayangkan bonus yang akan dia terima dari pekerjaannya menculik orang. Bukan hal aneh bagi kedua orang itu. Mereka sudah terbiasa mengambil pekerjaan yang berbahaya dan merugikan orang. Tetapi keduanya tidak peduli dengan semua itu, bagi mereka asalkan ada uang, pekerjaan apapun mereka lakukan.


Sementara Sandi yang baru tersadar, langsung celingukan melihata ke sekeliling ruangan. Dia berusaha melepaskan ikatan tangannya. Akan tetapi, dia tidak bisa melepaskannya. Padahal dia sudah berusaha semaksimal mungkin.


"Mereka siapa? Kenapa membawa aku ke mari?" gumam Sandi.


"Sudah sadar rupanya. Kita berdua orang baik. Kami hanya butuh uang jadi terpaksa membawa kamu ke mari," ucap salah satu penculik itu.


"Siapa yang menyuruh kalian? Berapa uang yang diberikan orang itu? Aku akan membayar dua kali lipat kalau kalian membebaskan aku."


"Hahaha ... Mencoba melobi kita. Tapi sayangnya, kami tipe orang yang setia. Tidak akan mudah terbujuk oleh kamu."


Kedua penculik itu meninggalkan Sandi sendirian. Mereka pergi menuju ke toilet yang belum selesai dibangun. Saat keduanya tidak mengawasi Sandi, papa muda itu berusaha melepaskan diri.


"Bodoh banget sih mereka, yang diborgol hanya tanganku saja. Lebih baik, aku secepatnya pergi dari sini."


Sandi langsung berdiri, dia berniat untuk kabur dari para penculik itu. Namun, baru saja dia sampai di pintu. Tantra sudah datang terlebih dahulu.


"Mau ke mana kamu?" tanya Tantra. Dia datang bersama dengan Joseph, kakak tiri Jojo.


"Oh, jadi ini pecundangnya. Baguslah kalian datang. Lebih baik kita duel daripada kamu jadi pengecut seperti sekarang," tantang Sandi.


"Cih!" Untuk apa aku buang-buang tenaga? Kalau uangku lebih berkuasa, " ucap Joseph.


"Punya dendam apa kamu Jose sampai menculik aku? Perasaan, aku tidak pernah bersinggungan dengan kamu," tanya Sandi.


"Mana mungkin maling teriak maling. Dari dulu, aku selalu mencari cara untuk melenyapkan playboy seperti kamu. Tapi baru sekarang aku memiliki kesempatan untuk melenyapkan kamu," ucap Joseph.


...~Bersambung~...

__ADS_1


Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin di karya keren satu ini.



__ADS_2