
Suasana kafe yang selalu ramai membuat Thalia ikut membantu melayani para pelanggan. Begitupun dengan Sandi ikut turun tangan membantu anak buahnya. Sikap Sandi dan Thalia yang seperti inilah yang membuat semua teman atau kerabat Sandi tidak pernah tahu kalau pemilik kafe itu Saadi sendiri.
Dia sengaja tidak mengungkapkan ke semua orang kalau dia pemiliknya. Dia malah senang berpura-pura menjadi bawahan dari orang yang dia angkat sebagai manager kafe. Seperti hari ini, saat kafe dia sangat ramai, Sandi tidak segan untuk membawa nampan dan memberikan pesanan kepada para pengunjung.
"Mas, Masnya ganteng banget. Senyumnya juga sangat manis bikin hati meleleh. Boleh minta no ponselnya tidak? Sosmed mungkin, nanti kita saling follow."
"Mbaknya bisa aja, saya udah ada pawangnya, Mbak. Nanti Mbak cantik malah dibilang pelakor lagi. Kan gak lucu cantik-cantik pelakor," ucap Sandi seraya menyimpan hidangan di meja.
"Wah, cowok cakep pasti ada pawangnya. Tapi gak apa, Mas. Jadikan aku yang kedua saja," ucap pelanggan maksa.
"Aku yang ketiga juga gak apa, Mas."
"Putusin aja Mas, pacarnya. Mending sama kita saja. Gak apa Kho digilir cinta."
"Haiya ... Tarik, Mang," timpal temannya yang sedari tadi diam ikut menggoda Sandi
"Silakan dinikmati, Mbak-mbak cantik. Saya permisi, masih banyak pesanan yang belum diantarkan," pamit Sandi langsung berlalu pergi dari para gadis cabe-cabean.
Sandi langsung bergegas ke dapur dan menyimpan nampannya. Namun dia tidak kembali mengambil pesanan yang belum diantar. Melainkan menuju ke ruangannya yang ada di lantai dua. Sementara Thalia masih asyik melayani beberapa pelanggan yang memesan makanan padanya. Sampai ada seorang pria dewasa yang menghampirinya.
"Permisi, Mbak! Dengan Mbak Thalia, kan?"
"Iya, Om. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Thalia balik.
"Tuan Jojo sudah menunggu di mobil. Silakan Mbak Thalia ikut dengan saya!" suruh supir pribadi Jojo.
"Tunggu sebentar ya, Om. Saya mau memberikan pesanan ini dulu," pinta Thalia.
"Silakan, Mbak!"
Thalia langsung berlalu pergi memberikan list pesanan pelanggan kepada bagian koki. Lalu dia pun pamit untuk keluar sebentar. Setelah semua urusannya beres, Thalia kembali menghampiri pria yang sedang menunggunya di dekat pintu masuk.
"Om, yang Om maksud itu Jojo Frizt, kan?" tanya Thalia memastikan.
"Iya, Mbak. Ayo ikut saya!"
Thalia pun akhirnya hanya mengekor ke mana laki-laki itu membawanya. Sampai saat tiba pada sebuah mobil Alphard 3.5 Q A/T berwarna hitam. Pria dewasa itu langsung mengetuk kaca mobil. Tidak lama kemudian, pintu samping mobil terbuka dengan sendirinya.
__ADS_1
"Silakan, Mbak! Tuan Jojo sudah menunggu di dalam!"
"Beneran, Om? Aku gak diculik, kan?" tanya Thalia memastikan.
"Masuklah!" terdengar suara berat dari dalam mobil. Membuat Thalia sedikit melongokkan kepalanya sedikit sebelum di melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil.
Eh, beneran sudah ditunggu idola." Thalia tersenyum senang dan langsung masuk dengan cepat ke dalam mobil.
"Duduklah dengan tenang!" suruh Jojo datar.
"Siap, Idola! Ngomong-ngomong, tumben gak syuting? Apa sengaja meluangkan waktu buat aku? Ah iya, kita kan calon suami istri. Benar kan idola?" tanya Thalia dengan menusuk-nusuk tangan Jojo dengan telunjuknya.
"Duduk dengan tenang! Aku mau tidur," ucap Jojo dengan nada dingin.
"Masa sama calon istrinya dia dingin banget? Gak tanya kabar aku gitu, udah makan apa belum ?" gerutu Thalia pelan dengan memanyunkan bibirnya.
Jojo yang melirik ke arah Thalia, hanya tersenyum tipis melihat gadis itu sepertinya kesal sama dia. Dia kembali memejamkan matanya karena masih ngantuk setelah semalaman syuting film. Pas pagi-paginya, mamanya memberitahu, kalau sudah dibuatkan janji untuk bertemu dengan Thalia.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah pantai yang ada di daerah pantai Laut Jawa. Thalia yang merasa bosan sedari tadi diam, akhirnya memilih untuk mengobrol dengan supir.
"Om, sudah lama jadi supir Idolaku?" tanya Thalia.
"Wah, lama juga ya! Pasti kecilnya menggemaskan, ya Om. Gedenya aja ganteng begini." Thalia terus saja mengorek cerita tentang Jojo.
"Tentu saja, Mbak! Dulu Mas Jojo seperti anak kembar dengan sahabatnya. Karena ganteng mereka sebelas dua belas."
"Pak Herman, jangan dibahas!" timpal Jojo dengan mata yang masih terpejam.
"Idola, sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Thalia dengan beralih menghadap ke arah Jojo.
"Makan siang, lalu ke butik."
"Untuk apa ke butik?" tanya Thalia heran.
Jojo langsung membuka matanya dan menatap Thalia lekat. Rasanya tidak mungkin dia bisa tertidur, jika gadis di sampingnya terus saja mengoceh.
"Minggu depan kita tunangan. Kamu harus tampil elegan saat nanti berdiri di sampingku," ucap Jojo.
__ADS_1
"Apa, kita tunangan minggu depan?"
"Apa orang tua kamu belum memberi tahu?"
"Belum!" Thalia menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, Jangan berisik! Aku mau tidur lagi," ucap Jojo.
"Jangan tidur, dong! Masa aku dikacangin. Coba kalau sama Sandi, pasti kita nyanyi bareng biar gak ngantuk di mobil," ucap Thalia.
Mendengar nama yang di ucapkan oleh gadis yang ada di sampingnya, Jojo langsung menatap wajah calon tunangannya. Dia menghela napas dalam kemudian kembali memejamkan matanya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian bertahun-tahun yang lalu. Dia harus kehilangan sahabat dekatnya karena kesalahan yang tidak dia lakukan. Sampai akhirnya, dia harus terjebak dalam pergaulan yang membuatnya berubah haluan.
Hidup ini sangat tidak adil padaku. Namun, aku bisa apa? Selain menerimanya dengan ikhlas, batin Jojo.
Tidak lama kemudian, mobil sudah tiba di parkiran sebuah restoran mewah. Jojo yang terpejam langsung membuka matanya dan melihat ke sekeliling. Keningnya berkerut saat melihat Thalia yang tertidur pulas.
"Thalia, bangunlah! Sudah sampai," ucap Jojo dengan menggoyangkan tangan gadis itu.
"Hah, sampai? Kenapa cepat sekali? Baru juga tidur," keluh Thalia.
"Makan dulu, nanti tidur lagi!" seru Jojo
Mereka berdua pun langsung turun dari mobil. Thalia begitu terkesiap melihat pemandangan lautan yang memanjakan mata. Dia segera berlari-lari kecil menuju ke pasir putih. Sehingga mau tidak mau, dia mengikuti gadis itu.
"Apa kamu suka laut?" tanya Jojo
"Aku suka banget sama laut. Karena saat melihat laut, aku memiliki harapan, ibu hidup kembali."
"Ibu kamu, sudah meninggal?"
"Sudah, saat aku masih kecil."
Ternyata dia memiliki nasib yang sama seperti aku. Ditinggalkan oleh ibunya. Meskipun sebenarnya ibuku masih hidup, batin Jojo.
"Ayo ke restoran!" ajak Jojo.
Thalia mengikuti langkah kaki Jojo yang membawanya ke sebuah restoran mewah. Mereka segera mencari manager Jojo yang sudah pasti sedang menunggunya di sana. Namun saat mereka baru saja mau duduk, terdengar suara seseorang yang menyapanya.
__ADS_1
"Thalia."
...~Bersambung~...