
Wajah yang terlihat pucat kini berseri kembali. Sandi seperti memiliki harapan baru setelah bertemu dengan papanya. Dia terus meyakinkan dirinya, kalau Thalia hanya akan menjadi miliknya. Anggap saja perjodohan itu sebagai ujian cintanya.
"Sandal, kata dokter hari ini sudah boleh pulang. Aku pesankan taksi dulu ya!"
"Gak usah! Minta Gun jemput ke sini saja pakai mobil kafe. Nanti kita langsung ke kafe, Gun bilang ada yang booking kafe untuk acara ulang tahun minggu ini," jelas Sandi.
"Siap, Pak Bos!"
"Tali, coba sini duduk sebentar deh!" pinta Sandi.
"Aku mau beresin barang-barang kamu dulu," elak Thalia. Setelah Thalia membereskan barang-barang Sandi dan miliknya, dia pun menghampiri sahabatnya. "Ada apa?"
"Tali, kita kan sahabatan udah lama. Bagaimana kalau kita coba pacaran. Kalau merasa gak cocok pacaran, kita sahabatan lagi," ajak Sandi.
"Kamu telat, pertunangan aku tinggal beberapa hari lagi. Kata bapak, persiapannya sudah sembilan puluh persen. Bahkan, Tuan Simon sudah menyebarkan undangan."
"Ya, sudah deh kalau kamu gak mau. Aku bisa apa? Paling juga, cinta di tolak, dukun bertindak." Sandi memanyunkan bibirnya. Membuat Thalia tergelak sendiri. Sudah seperti anak kecil yang keinginannya tidak dituruti.
"Lebih baik kita hanya bersahabat, agar tidak ada yang saling menyakiti. Sandal kenapa lama sekali ya, aku mau ke kantin dulu. Perutku lapar sekali," pamit Thalia.
"Ya sudah sekalian belikan aku jus ya!"
"Oke, Bos!" Thalia menghormat pada Sandi seperti seorang sersan pada sang kapten.
Thalia sempat terkejut saat mendapati Raline sedang berdiri di dekat jendela ruang rawat inap Sandi. Meskipun kikuk akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara pada Raline.
"Permisi, Nyonya! Apa saudara Nyonya ada yang sakit?" tanya Thalia.
"Eh, Thalia. Tante mau jenguk teman tapi lupa ruangannya," elak Raline kikuk.
"Oh, kalau begitu saya permisi mau ke kantin dulu."
"Eh, tunggu! Kita barengan saja yuk ke kantinnya!" ajak Raline.
"Boleh, Nyonya!"
"Jangan panggil Nyonya terus! Panggil saja Tante." Raline tersenyum manis pada Thalia. Begitupun dengan Thalia yang balas tersenyum pada calon ibu mertuanya.
"Saya merasa tidak enak hati kalau memanggil Tante, Nyonya."
"Mulai dibiasakan saja. Masa kita mau jadi keluarga masih saja memanggil Nyonya," protes Raline. "Memangnya, kamu sedang menjaga siapa?" lanjutnya.
__ADS_1
"Sahabat saya. Dia tinggal sendiri. Orang tuanya jauh, sehingga saya sebagai sahabatnya yang menjaga dia," jelas Thalia.
"Oh, begitu ya! Kasian ya, untung saja ada kamu yang menjaganya." Raline tersenyum manis pada Thalia.
Kedua wanita beda generasi itu terus saja bercengkerama. Hingga akhirnya Thalia mendapatkan panggilan telepon dari Sandi. Barulah dia meminta ijin untuk menerimanya.
"Hallo, Sandal! Kenapa nelpon, aku udah mau balik ini."
"Kenapa kamu lama sekali? Bertemu siapa dulu, sih?" Terdengar suara kesal Sandi di seberang sana.
Thalia tidak menjawab jujur karena dia melihat Raline menggelengkan kepalanya. "Bertemu idola dulu," jawab Thalia enteng.
"Apa? Cepat kembali! Aku haus," suruh Sandi.
"Iya, iya. Ini lagi jalan pulang."
"Ya sudah, cepetan! Aku tunggu!"
Klik
Sandi langsung mematikan sambungan teleponnya. Membuat Thalia langsung mengerucutkan bibirnya. Dia suka sebal saat Sandi mematikan sambungan teleponnya sepihak.
"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Raline menyelidik.
"Oh, ya sudah gak apa. Padahal Tante senang berbincang bersama dengan Thalia."
"Makasih, Tan. Aku pergi dulu, permisi." Thalia langsung pergi meninggalkan Raline. Dia sengaja berjalan dengan langkah lebar, karena mau lari ke rasanya tidak mungkin. Khawatir kopi yang dia bawa akan tumpah.
Setibanya di ruang perawatan, terlihat Sandi sedang menyilangkan tangan di dadanya. Matanya terlihat begitu sinis melihat Thalia yang baru masuk ke kamarnya. Pipinya sedikit mengembung dengan bibir yang sedikit dia majukan. Tentu saja hal itu membuat Thalia malah menahan senyum melihatnya.
"Ya ampun, beberapa hari di rumah sakit, pipi kamu jadi seperti bakpao. Sepertinya kita harus fitnes untuk menurunkan berat badan yang berlebih," goda Thalia.
"Kamu berani menggodaku?" Sandi langsung bangun dari duduknya. Dia beranjak menghampiri Thalia yang sedang menyimpan makanan di nakas. Tanpa bicara lagi, Sandi langsung memeluk gadis itu dari belakang.
Tentu saja Thalia langsung terkejut mendapati pemuda itu memeluknya. Dia berusaha melepaskan tangan Sandi yang melingkar di perutnya. Namun pelukan pemuda itu begitu kuat dan tidak bisa dia lepaskan.
"Sandal lepas ikh! Nanti Mas Gun datang, salah paham lagi," pinta Thalia.
"Gak ada, kamu harus aku hukum dulu karena sudah bikin aku nunggu lama," ucap Sandi.
"Sandal napas aku sesak. Lepasin!" rengek Thalia.
__ADS_1
"Mencoba menipu aku, tambah lagi hukumannya." Sandi membawa Thalia ke tempat dan membawa gadis itu untuk jatuh bersama.
Tangannya langsung menggelitik perut Thalia, membuat gadis itu tertawa kegelian. Di bawah kungkungan Sandi yang menggelitiknya, Thalia terus saja bergerak tidak karuan hingga bajunya menyingkap ke atas.
Glek!
Sandi menelan ludahnya kasar saat melihat dengan jelas perut rata Thalia yang putih mulus. Apalagi kerah V neck yang sedikit turun ke bawah. Membuat wajah pemuda itu langsung memerah menahan hasrat yang tiba-tiba datang menyerangnya.
Sial! Niat mau ngerjain malah aku yang kena batunya, batin Sandi.
Thalia yang sedang tertawa langsung terdiam saat mendapati Sandi yang sedang bengong dengan wajah yang memerah. Dia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas sahabatnya. Tangannya langsung menggelitik pinggang Sandi yang masih berada di atas tubuhnya.
"Rasain kamu!"
"Tali jangan, akh!" Tanpa sadar Sandi mendessah. Tangan Thalia bukannya membuat dia geli tapi semakin ingin melepaskan hasratnya.
"Ikh, jijay Sandal! Kamu kayak lagi itu aja," sungut Thalia.
Grep
Sandi langsung menangkap tangan Thalia dan menahannya di atas kepala gadis itu. Dia menatap tajam gadis yang ada di bawah kungkungan-nya. Seakan-akan ingin segera menerkamnya.
"Jangan lakukan lagi kalau kamu tidak ingin aku sampai khilaf!"
"Ma-maksud kamu? Jangan bilang kamu--"
"Kamu yang memintanya, Tali!" potong Sandi dengan meraup bibir Thalia. Namun di saat yang bersamaan, terdengar suara pintu ruang perawatan ada yang membukanya.
"Permisi, maaf Bos kalau aku ganggu!" ujar Gunawan kikuk melihat pemandangan yang ada di depannya. Dia pun langsung menundukkan wajahnya dan berdiri mematung di depan pintu. Dia semakin yakin kalau bos dan sahabatnya memiliki hubungan khusus.
Sandi langsung melepaskan Thalia. Dia membantu membereskan baju gadis itu yang tadi sempat tersingkap. Dirasa semua sudah beres, Sandi pun langsung berbalik untuk menghampiri Gunawan.
"Duduklah, Gun!" suruh Sandi seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
"Eh, iya bos. Maaf Bos, tadi aku gak ketuk pintu dulu," ucap Gunawan.
"Iya gak apa, santai saja. Asal kamu tidak bocor bicara ke orang-orang. Kalau sampai ada yang bergosip tentang aku dan Tali, siap-siap saja hengkang dari kafe."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....