Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 43 Memiliki Seutuhnya


__ADS_3

Malam pengantin yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan, kini hanya nampak wajah-wajah murung. Thalia terus aja kepikiran dengan apa yang disepakati tadi antara Keluarga Sandi dan Keluarga Camelia. Jika terbukti anak itu adalah benih Sandi, maka sebulan kemudian Sandi dan Camelia akan menikah.


Seharusnya aku tidak jatuh cinta terlalu dalam padanya. Seharusnya aku hanya menjadi sahabatnya saja, jika akhirnya akan seperti ini. Rasanya berat jika nanti aku harus menandatangani surat persetujuan pernikahan mereka. Aku tidak mau berbagai suami dengan siapapun. Kenapa aku harus memiliki nasib yang sama dengan bunda? Aku harus ikhlas dimadu, batin Thalia.


Berkali-kali Sandi menghela napas dalam. Dia tidak menyangka rencananya menjadi berantakan. Dia sudah lama mengharapkan malam ini. Akan tetapi melihat Thalia murung, membuat Sandi tidak tega untuk meminta haknya.


"Tali, mendekatlah! Kenapa kamu membelakangi aku? Kamu sudah tahu kan, kalau aku tidak pernah menginginkan pernikahan itu. Aku ingin hanya kamu yang jadi istriku," tutur Sandi sendu.


Thalia langsung menghapus air matanya sebelum dia berbalik dan mendekat ke arah Sandi. Dia tidak ingin suaminya itu melihat betapa rapuhnya dia jika harus menghadapi kenyataan yang seperti ini.


"Sandal, apa aku harus mundur saja? Aku tidak ingin seperti Bunda yang memilih mengakhiri hidupnya karena tidak kuat dengan pernikahannya," tanya Thalia.


"Aku tidak mengijinkannya. Aku tidak mau kehilangan kamu ataupun harus jauh dari kamu. Kenapa kamu selalu ingin menjauh dari aku? Apa aku tidak berarti buat kamu?" Sandi memejamkan matanya sejenak. Dia menetralkan emosinya yang mulai tersulut karena ucapan Thalia.


"Dengar Tali! Jangan pernah berpikir untuk pergi jauh dari aku. Lagipula, belum tentu anak itu anak aku," lanjutnya.


"Sandal, apa kamu benar-benar mencintai aku?" tanya Thalia dengan menatap dalam mata laki-laki yang dicintainya.


"Kenapa kamu masih meragukan aku? Hanya kamu wanita yang aku cintai."


"Aku takut Sandal, aku takut tidak akan bisa melihat kamu menikah dengan Camelia."


"Kita masih punya waktu satu bulan untuk menggagalkan pernikahan itu. Semoga dalam satu bulan itu, aku sudah bisa berjalan. Tapi jika nanti kalau aku tidak bisa melawan takdirku untuk menikahi Camelia. Aku akan tetap duduk di kursi roda agar punya alasan untuk tidak menyentuhnya. Kamu jangan khawatir, selamanya aku hanya milikmu."


Perlahan Sandi menundukkan wajahnya hingga tercium aroma napas mint dari hembusan napas Thalia. Sampai akhirnya kedua bibir itu saling bertemu dan menyalurkan semua hasrat yang terpendam. Gelora hasrat yang membuncah membuat keduanya melupakan sesaat dengan apa yang telah terjadi.


Malam pengantin yang dikhawatirkan akan gagal, kini menjadi milik mereka berdua. Meskipun Sandi begitu kesusahan untuk membobol gawang pertahanan Thalia. Pada akhirnya dia berhasil menembusnya setelah lima kali percobaan.


Thalia hanya memejamkan mata menahan rasa sakit yang menjalar di area intinya. Tangannya mencengkeram erat sperai di kedua sisi tangannya. Sampai akhirnya, dia pun ikut menikmati permainan Sandi saat rasa sakit itu mulai berkurang.

__ADS_1


...***...


Keesokan paginya, mereka dikagetkan dengan suara Camelia yang datang saat fajar belum menyingsing. Sepertinya gadis itu baru pulang dari klub malam dalam keadaan mabuk. Dia memaksa untuk menemui Sandi.


"Sandi buka pintunya! Kamu tidak boleh menyentuh gadis itu," teriak Camelia dengan menggedor kamar Sandi.


Thalia yang terbangun lebih dulu, langsung membangunkan suaminya yang masih terlelap kelelahan setelah malam panjang mereka.


"Sandal bangun! Ada Camelia di luar."


Bukannya membuka mata, Sandi malah mengeratkan pelukannya. "Biarkan saja pengganggu itu. Tali jangan bergerak terus! Nanti unyil bangun. Sudah tidur lagi, kita baru tidur satu jam."


Sandi masa bodoh dengan suara berisi di luar kamarnya. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Thalia. Sampai terdengar suara Tuan Morgan di depan pintu kamar Sandi.


"Camelia, apa yang kamu lakukan di rumahku? Ini masih pagi tapi kamu malah membuat keributan di sini. Ini juga, mulutmu bau alkohol. Apa kamu baru pulang dugem?" tanya Tuan Morgan dengan menutup hidungnya.


"Pak Satpam, antarkan gadis ini ke rumahnya!" suruh Tuan Morgan para Satpam yang sedari tadi mengikuti Camelia.


"Aku tidak mau pulang! Aku ingin bertemu dengan Sandi," tolak Camellia.


"Kalau kamu tidak pulang, aku akan membatalkan acara pernikahan kalian," ancam Morgan.


"Kenapa kalian begitu jahat padaku. Hanya Om Simon yang baik sama aku," racau Camelia tanpa sadar.


Oh, ternyata Simon ikut campur. Pantas saja dia bisa tahu rumahku. Padahal aku menutup akses pada rekan bisnisku soal kediamanku ini, selain keluarga besar dan teman lama, batin Morgan.


"Pulanglah dulu! Bukankah kamu harus test DNA nanti siang," suruh Morgan lembut.


"Iya, Papa Mertua. Tapi aku ingin bertemu Sandi dulu dan memastikan dia tidak menghamili istrinya," rengek Camelia.

__ADS_1


"Sandi sedang bersiap. Mungkin sebentar lagi akan berangkat ke rumah sakit. Lebih baik kamu pulang saja," rayu Morgan.


Setelah dirayu dengan berbagai macam bujukan, akhirnya Camelia pun pulang diantar supir pribadi Morgan. Gadis itu terus saja meracau mengungkapkan perasaannya pada Sandi. Sepertinya Camelia sudah kehilangan akal sehatnya dalam mencintai mantan pacarnya itu.


Setelah kepergian Camelia, Tuan Morgan hanya menghela napas dalam. Bagaimanapun juga, kekacauan ini berasal dari kesalahan putranya. Andai Sandi tidak pernah memberi harapan pada gadis-gadis itu, pasti hal yang seperti ini tidak akan terjadi.


Tok tok tok


Tuan Morgan mengetuk pintu kamar Sandi. Dia yakin kalau putranya pasti tahu dengan kedatangan Camelia. "Sandi, kalau sudah bangun, nanti temui Papa di ruang kerja," teriaknya.


Mendengar teriakkan papanya, Sandi hanya menghela napas dalam. Dia memang sudah bangun dan menahan Thalia agar tetap di pelukannya. Dia tidak ingin kalau Camelia sampai melukai Thalia jika tadi mereka ke luar.


"Sandal, ayo kita mandi! Papa kamu pasti sudah menunggu," ajak Thalia.


"Bantu aku ke kursi roda," pinta Sandi.


Keduanya kini sedang mandi bersama di bawah guyuran air shower. Karena memang sudah disediakan kursi roda khusus untuk dia mandi. Saat acara mandinya selesai barulah Sandi berpindah ke kursi roda yang kering dan lengkapi teknologi sehingga bisa berjalan tanpa di dorong oleh orang lain.


"Tali, temani aku untuk bertemu dengan Papa. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari kamu," ucap Sandi saat dia sudah siap dengan sweater putih yang melekat ditubuhnya dan celana cargo yang dipakainya.


"Memang tidak apa kalau aku ikut? Aku bisa menunggu kamu di depan ruang kerja Papa," tanya Thalia.


"Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Jangan ada rahasia di antara kita lagi ya! Apalagi kita sudah saling memiliki seutuhnya."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2