
Ruangan serba putih yang mendominasi menjadi tempat bermalam bagi papa muda itu. Pertolongan pertama dari orang yang tidak dikenal itu sangat membantu proses penyembuhan Sandi. Karena berkat bubuk yang tidak diketahui itu, Sandi tidak mengalami pendarahan. Thalia yang diberitahu oleh Gunawan, akhirnya ikut bermalam di rumah sakit. Sementara Ale, dia titipkan pada mamanya Sandi.
"Mas Gun, terima kasih ya sudah menolong Sandi. Aku berhutang banyak pada Mas Gun," ucap Thalia.
"Sudah kewajiban aku menolongnya. Untung saja kamu cepat memberitahu tentang penculikan itu. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi. Karena saat aku datang, dia sedang terdesak oleh Joseph," tutur Gunawan.
"Joseph itu siapa?" tanya Thalia.
"Dia, kakak satu ayah dengan Jojo. Sekaligus suami Camelia dan Kakak Adeline, mantan Sandi."
"Apa? Kenapa dia tega ingin menghabisi Sandi?" tanya Thalia sendu.
"Mungkin dia punya dendam pribadi. Aku tidak tahu pasti," ucap Gunawan. "Thalia, sepertinya aku pulang dulu. Jaga Sandi ya!"
"Iya, Mas Gun. Terima kasih," ucap Thalia.
Selepas kepergian Gunawan, Thalia pun segera menghampiri Sandi yang sedang tertidur pulas. Hatinya sangat sedih melihat keadaan suami yang dicintainya telah dicelakai orang. Perlahan tangannya mengelus rambut hitam lebat Sandi.
"Sandal, siapa lagi yang akan membalaskan sakit hatinya karena dulu kamu pernah mempermainkan mereka? Apakah kata maaf tidak cukup untuk memupus semua kesalahanmu di masa lalu?" Thalia menangis terisak dengan terus mengelus rambut suaminya.
"Sandal, apapun yang terjadi padamu, akan tetap ada di sisi kamu. Meskipun banyak orang yang menjelekkan kamu karena masa lalu itu, tapi kamu akan tetap menjadi bintang di hati aku. Yang selalu bersinar menerangi hidup aku yang kelam. Cepatlah sehat, Ale pasti merindukan kita!" ucap Thalia dengan suara serak.
"Makasih Tali, selalu ada di samping aku," ucap Sandi pelan dengan mata yang masih tertutup.
Dia terbangun saat mendengar isak tangis Thalia. Namun Sandi merasa enggan untuk membuka matanya. Dia ingin tahu apa yang akan Thalia katakan.
"Kamu udah bangun?" tanya Thalia kaget.
"Aku terbangun sedari tadi saat kamu menangis. Tali, maaf sudah membuat kamu cemas!" ucap Sandi dengan membuka matanya.
"Kamu nakal ngerjain aku, tapi aku senang kamu sudah siuman. Apa ada yang terasa sakit?" tanya Thalia.
"Sakit karena dipukul atau ditembak Joseph tidak seberapa dibandingkan dengan sakit karena melihat kamu menangis karena aku. Maafkan aku, karena telah membuat kamu menangis," ucap Sandi dengan menatap lekat istrinya. Dia justru khawatir jika Tantra maupun Joseph akan melukai anak dan istrinya.
"Cepat sehat ya! Ale pasti kangen dengan kamu," ucap Thalia seraya menggesek-gesekkan telapak tangan Sandi ke pipinya.
Saat keduanya sedang larut dalam keharuan, terdengar suara pintu ada yang mengetuknya. Thalia pun segera beranjak untuk membukakan pintu ruang perawatan. Nampak di sana Devanya dan Keano berdiri dengan tersenyum manis pada Thalia.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Sandi?" tanya Devanya.
"Sudah mendingan, Kak. Ayo masuk!" ajak Thalia.
Mereka pun masuk ke dalam ruang perawatan. Devanya langsung nyimpan buah tangan yang dia bawa di atas nakas dekat Sandi. Lalu dia menghampiri Thalia dan mengajaknya duduk di sofa. Dia membiarkan Keano berbicara berdua dengan Sandi. Karena Devanya tahu kalau suaminya ingin berbicara serius dengan Sandi.
"Sandi, Tikus itu sudah tertangkap. Sekarang ada di tempat Abang. Kamu ingin apakan mereka?" tanya Keano.
"Maksud Abang, Joseph dan Tantra?" tanya Sandi ingin meyakinkan.
"Iya, kamu ingin Abang melakukan apa pada mereka. Apa kamu ingin membalasnya sendiri?"
"Tidak, Bang. Masukkan saja mereka ke penjara. Aku tidak akan membalas apa yang mereka lakukan. Aku hanya ingin mereka merenungi kesalahannya sendiri."
"Jiwamu besar sekali, Sandi. Padahal dia telah melukai kamu seperti ini. Kamu bisa membalasnya dulu kalau kamu mau, sebelum dia dikirim ke polisi."
"Tidak usah, Bang! Cukup serahkan saja dia pada yang berwajib."
"Baiklah kalau itu mau kamu, hari ini juga Abang kirim mereka ke penjara."
"Mereka anak asuhan Opa Andrea. Bukankah Opa beberapa kali membeli kapal pesiar pada papamu?"
"Mungkin, sudah lama aku tidak ikut papa." Sandi tersenyum samar mengingat masa-masa kelam dia.
"Oh, begitu. Soalnya Abang pernah melihat foto kamu di kantor Tuan Morgan. Makanya Abang hapal," jelas Keano.
Sandi dan Keano pun larut dalam obrolan. Tidak jauh beda dengan Thalia dan Devanya. Mereka sedang asyik membicarakan tentang anak-anaknya dengan segala tingkah lucu Arasha dan Arshaka. Sampai-sampai mereka tidak menyadari kedatangan Morgan yang tergesa.
"Sandi, kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Morgan panik.
"Udah baikan, Pah. Untung saja Bang Ano memerintahkan pengawalnya untuk membantu aku," ucap Sandi.
"Oh, begitu. Terima kasih Tuan Keano," ucap Morgan bicara formal pada Keano.
"Panggil Ano saja, Om. Kita bukan sedang berbicara bisnis," pinta Keano.
"Terima kasih, terima kasih sudah membantu putra Om," Morgan berkali mengucapkan terima kasih pada Keano untuk mewakili rasa bahagianya, karena putranya selamat dari maut.
__ADS_1
"Sama-sama, Om." Keano tersenyum manis pada Morgan.
"Sandi, setelah sembuh lebih baik kamu memegang perusahaan Papa saja. Biarkan Kafe Gunawan yang kelola. Kamu bisa mengakuisisi perusahaan Simon kalau kamu mau. Kalau Papa tidak bisa karena terikat perjanjian dengan dia," ucap Morgan.
"Tidak, Pah. Bagaimanapun pebinor itu ayahnya Jojo. Aku tidak mungkin menyakitinya, kecuali dia terang-terangan ingin menghancurkan aku, maka aku akan menyerang balik. Kalau soal Joseph, biar dia mendekam di penjara saja," ucap Sandi.
"Baiklah, itu terserah keputusan kamu. Tapi Papa akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan kamu," ucap Morgan. "Thalia, bagaimana kabar cucu Papa? Siapa yang menjaga dia selama kamu menjaga Sandi di sini?"
"Ale di rumah sama Mama, Pah. Apa Papa mau ke rumah? Apa Thalia boleh titip sesuatu, Pah?" tanya Thalia.
"Titip apa? Kalau itu penting, pasti Papa mampir ke sana," tanya Morgan.
"Titip ASIP buat Ale, Pah. Perawat yang biasa ke mari belum datang juga. Mungkin ada halangan," ucap Thalia.
Devanya yang akan menimpali langsung dipegang tangannya oleh Thalia. Dia sengaja memberi kode pada Devannya agar diam dan membiarkan Morgan yang membawakan ASIP buat putranya.
"Baiklah, biar Papa yang bawa. Papa juga sudah kangen dengan Ale," ucap Morgan.
"Makasih, Pah."
"Kalau begitu kami permisi dulu, cepat sehat ya!" pamit Keano. "Mari, Om. Saya pulang dulu," lanjutnya.
"Terima kasih, Ano." Lagi-lagi Morgan berterima kasih pada Keano.
"Makasih, Bang, Kak Deva. Titip Ale ya!" ucap Thalia.
"Kamu tenang saja, Kakak pasti menjaga calon mantu," kelakar Devanya.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1