
Angin pagi yang dingin menusuk kulit, membuat Sandi memasukkan tangan Thalia yang digenggamnya ke dalam kantong sweater-nya. Mereka menikmati udara pagi ibu kota dengan berjalan menuju ke taman kota, yang tidak jauh dari apartemen.
Tadinya Sandi ingin mengajak ke cafetaria bawah, tetapi Thalia ingin main ke taman karena di sana banyak yang menjajakan makanan untuk sarapan pagi.
"Tali, nanti jangan lama-lama di tangannya ya! Sekarang weekend, pasti kafe ramai."
"Iya, papa. Dede mau beli bubur sumsum," ucap Thalia dengan menirukan suara anak kecil.
"Nanti kalau anak kita lahir, setiap libur kita ajak jalan-jalan yuk! Oh, iya lupa. Nanti suruh Melati ke kafe ya!"
"Tumben baikan sama Melati?" Thalia menatap heran suaminya. Karena biasanya Sandi dan Melati pasti seperti kucing dan anjing.
"Kita harus bantu Jojo dan Melati. Mereka sedang ada masalah," jelas Sandi.
"Apa? Kenapa Melati gak bilang sama aku ya?"
"Mungkin dia tidak mau membebani pikiran kamu. Semalam Jojo bilang semuanya sama aku. Sepertinya kita harus turun tangan," ucap Sandi dengan mengeratkan genggaman tangannya.
"Ya sudah, aku telpon sekarang. Sekalian minta mangga muda yang ada di rumahnya."
Thalia langsung saja mengambil ponsel di kantong sweater yang dipakainya. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Melati. Tetapi gadis itu tidak mengangkatnya juga. Sampai setelah ke lima kalinya Thalia mencoba menghubungi, barulah Melati mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya.
"Hallo, Mel!" sapa Melati saat penggilan teleponnya sudah tersambung.
"Iya, Tha. Ada apa?" tanya Melati di seberang sana dengan suara seraknya.
"Nanti siang ke kafe ya! Jangan lupa bawa mangga muda. Aku pengen banget mangga muda yang ada di rumah kamu," rengek Thalia.
"Iya, Bumil. Tapi siangan ya, kepala aku masih pusing."
"Kenapa? Apa kamu habis bergadang?"
"Iya, aku disuruh nikah dengan junior papa di kantornya. Aku tuh stres tahu, Tha!"
"Makanya ketemu aku biar gak stres. Aku traktir es krim yang banyak."
__ADS_1
"Sama cokelat juga ya! Jangan ketinggalan popcorn sama kacangnya. Sepertinya aku butuh pelampiasan untuk menghilangkan mumet."
"Siap, bosku! Asal kamu datang, aku turuti mau kamu. Tapi mangga mudanya gak boleh ketinggalan."
"Iya iya. Nanti aku bawa yang banyak."
"Oke, aku tutup dulu. Sudah sampai taman nih mau nyari jasuke dulu."
Klik
Thalia langsung menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu Melati menyahut ucapannya. Dia langsung menarik tangan Sandi agar menuju ke gerobak penjual Jasuke.
"Bang, dua ya!" pesan Thalia.
"Baik, Mbak!" sahut Penjual itu.
Setelah mendapatkan pesanan dan beberapa makanan yang lainnya, Sandi pun mengajak Thalia untuk duduk di bangku taman. Kedua pasangan muda itu begitu menikmati sarapan pagi berada di tengah-tengah taman yang rindang. Apalagi mereka disuguhkan dengan pemandangan anak kecil yang tertawa riang saat bermain bersama orang tua dan saudaranya. Rasanya Thalia dan Sandi sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menimang anak.
"Tali, kalau lihat mereka begitu bahagia, aku jadi ingin memiliki banyak anak. Agar rumah kita ramai dengan tawa ceria mereka. Rasanya gak enak jadi anak satu-satunya. Tidak punya saudara untuk tempat berbagi," ungkap Sandi.
"Ternyata kita sama-sama butuh seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Makanya Tuhan menyatukan kita agar kita bisa saling berbagi dalam segala hal." Sandi menghentikan sejenak ucapannya. Sebelum akhirnya dia menempelkan bibirnya di telinga Thalia. "Termasuk berbagi peluh dan saliva," bisiknya kemudian.
"Sandal ikh! Kamu mah menjurusnya ke sana terus," gerutu Thalia.
"Karena aku sangat suka setiap kali kita melakukannya."
...***...
Benar saja seperti yang Sandi perkirakan, kafe miliknya ramai oleh pengunjung. Dia ikut membantu pelayan di sana mengantarkan pesanan. Sampai akhirnya Jojo datang, barulah Sandi mengalihkan semua pekerjaan itu pada pegawainya.
"Kamu tunggu sebentar! Masih ada satu pesanan yang harus aku antarkan," ucap Sandi saat Jojo menghampirinya dengan masker dan topi hitam yang bertengger di kepalanya.
"Oke! Aku tunggu dekat meja kasir, sepertinya tidak ada meja yang kosong," sahut Jojo dengan mengedarkan pandangannya. Dia melihat ke sekeliling kafe yang memang penuh oleh pengunjung.
Sandi hanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu begitu saja dengan membawa nampan di tangannya. Dia pun kembali menemui Jojo setelah selesai mengantarkan pesanan makanan.
__ADS_1
"Yuk ke atas! Melati sudah ada di atas bersama dengan Tali. Mungkin mereka sedang makan rujak," ajak Sandi.
Jojo hanya tersenyum tipis dengan mengikuti langkah kaki Sandi. Entah kenapa, hatinya menjadi berdebar-debar saat tahu akan bertemu dengan gadis yang telah mengusik harinya. Meskipun sebenarnya, dia masih bingung dengan perasaannya sendiri.
Tiba di depan ruang kerja Sandi yang ada di lantai atas, Jojo mencekal tangan sahabatnya. Dia ingin menetralkan dulu degupan jantungnya yang semakin bertalu-talu. Perasaan nervous yang dulu pernah dia rasakan saat pertama kali naik panggung, kini Jojo merasakannya kembali.
"Sebentar! Apa Melati baik-baik saja?" tanya Jojo gugup.
Sandi langsung mengerutkan keningnya melihat raut wajah Jojo yang gugup. Lalu dia pun mengulas senyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Jojo. "Kamu gugup mau bertemu Melati? Berarti kamu sudah beneran jatuh cinta sama dia. Semangat Bro, perjuangan cintamu!"
"Aku nggak tahu, tapi jantungku dag-dig-dug terus."
Lagi-lagi Sandi hanya tersenyum melihat kegugupan sahabatnya. Tanpa bicara lagi, dia langsung membuka pintu ruangan kerjanya. Nampak di sana Melati yang buru-buru menghapus air matanya. Sepertinya, dua sahabat itu sedang dalam sesi curhat.
"Eh, aku ganggu ya! Tali, ayo kita bawah. Aku butuh buat jaga kasir," ujar Sandi dengan menghalangi Jojo yang berdiri di belakangnya.
Thalia yang mengerti maksud Sandi, dia pun langsung berdiri. "Mel, kamu di sini aja dulu ya! Aku ke bawah sebentar."
"Iya, nanti aku nyusul. Sandi pinjam kamar mandinya ya!" Melati langsung berlari ke kamar mandi yang ada di ruangan itu. Sedikit pun dia tidak mau menoleh ke arah Sandi karena merasa malu jika ketahuan matanya sembab.
"Jo, aku turun dulu! Kamu yakinkan dia agar mau bertahan di sisi kamu," pesan Sandi dengan menepuk pundak Jojo.
"Semangat Idola! Kamu pasti bisa meyakinkan Melati yang sedang bimbang," seru Thalia seraya mengikuti langkah suaminya.
Selepas kepergian Sandi dan Thalia, Jojo pun masuk ke dalam ruangan sahabatnya. Dia menunggu Melati yang masih ada di dalam kamar mandi. Sampai akhirnya terdengar suara pintu berderit bersamaan dengan seorang gadis yang keluar dari balik pintu.
"Jojo," gumam Melati kaget saat melihat kekasih hatinya sudah duduk di sofa dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Sini, Mel. Duduk dekat aku!"
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kak!...
Sambil nunggu Sandal Tali update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini.
__ADS_1