Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 41 Ancaman Simon


__ADS_3

Hari-hari pun terus berlalu, kini kondisi Sandi semakin membaik. Pen di kakinya pun sudah dilepas. Begitupun dengan penyangga di lehernya. Namun, dia masih belum bisa berjalan sebagaimana mestinya.


Thalia dengan setia selalu menemani Sandi di mana dan ke mana pun lelaki itu pergi. Rasa cintanya yang besar membuat dia tidak ingin pergi jauh dari Sandi. Meskipun kini Sandi menjadi lumpuh.


Sore itu, saat langit berwarna jingga menghiasi angkasa, nampak dua insan yang sedang dimabuk cinta sedang menikmati keindahan langit. Sandi yang duduk di kursi roda dengan Thalia yang duduk di pangkuannya. Pemuda itu terus saja memeluk Thalia dari belakang. Dia menopangkan dagunya di bahu gadis yang dicintainya.


“Tali, aku sudah bicara dengan Papa. Aku ingin lusa kita menikah. Apa kamu keberatan?” tanya Sandi.


“Apa persiapannya cukup kalau hanya dua hari lagi?” Bukannya menjawab, Thalia malah balik bertanya.


“Kamu tenang saja, Papa sudah mengurus semuanya. Kita hanya perlu mempersiapkaan diri saja.” Sandi tersenyum bahagia karena keinginannya untuk menikahi gadis yang dicintainya kini sudah di depan mata. Dia sengaja menikah secepat mungkin dengan Thalia. Karena dia takut akan ada orang yang memisahkan mereka berdua.


“Baiklah, aku tidak keberatan. Lagipula menikah dan tidak menikah, aku akan tetap bersama kamu.” Thalia menghela napas dalam sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.


“Sandal, lalu bagaimana dengan Camelia. Bagaimana dengan nasib anak kamu? Aku kasian jika nanti anak itu lahir tidak memiliki seorang ayah," tanya Thalia.


"Sebentar lagi aku akan mengurus test DNA. Kamu tenang saja," ucap Sandi menenangkan.


"Aku dengar dari Akira, Camelia sering datang ke kafe mencari kamu."


"Biarkan saja, aku tidak ingin dia menggangu acara pernikahan kita."


"Sandal, aku takut jika nanti kamu berpaling padanya. Meskipun dulu aku sudah sering melihat kemesraan kalian, tapi aku …."


"Aku tidak akan pernah kembali sama dia. Waktu itu, aku hanya ingin kamu cemburu sama aku. Bukan karena aku mencintainya," jelas Sandi.


Dia sudah tidak mau lagi menutupi perasaannya pada Thalia. Dia ingin Thalia yakin kalau hatinya begitu menginginkan gadis itu. Makanya Sandi selalu berusaha untuk meyakinkan Thalia kalau dia sangat berarti untuknya.


Namun, ketenangan mereka terganggu saat mendengar suara keributan di bawah. Thalia pun langsung berlari meninggalkan Sandi seorang diri. Dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi di bawah sana.


"Dengar Raline! Kamu masih menjadi istriku meskipun kamu sudah menggugat cerai padaku. Aku hanya minta sekali ini kamu mengikuti keinginanku."

__ADS_1


Terlihat Simon sedang menarik Raline agar mengikutinya masuk ke dalam mobil. Namun Raline tetap bersikeras menolak keinginan laki-laki itu. Wanita cantik itu takut jika laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya, memaksa dia untuk memuaskan syahwat laki-laki itu.


"Lepaskan, Simon! Aku tidak ingin ikut denganmu. Aku ingin melihat putraku," tolak Raline.


"Tidak bisa! Sebelum ketemu dengan dia, kamu harus ikut dengan aku dulu." Simon masih saja menarik Raline agar mengikutinya.


Semua pekerja di rumah Sandi hanya melihat saja, mereka tidak ada yang berani untuk melerai ataupun membela Raline. Karena mereka tahu bagaimana arogannya seorang Simon Frizt.


Berbeda dengan Thalia yang merasa iba melihat Raline. Gadis itu langsung berlari menghampiri calon ibu mertuanya. Tanpa berpikir panjang, Thalia langsung melepaskan cekalan tangan Simon pada Raline.


"Tuan, tolong jangan memaksa Nyonya! Lihat tangan Nyonya sampai merah begitu," bela Thalia.


"Kamu tidak usah ikut campur urusan orang dewasa. Lebih baik urus saja kekasihmu yang lumpuh itu," sentak Simon geram dengan apa yang Thalia lakukan.


"Saya tidak akan ikut campur kalau itu terjadi di rumah Anda. Tapi Anda sudah membuat keributan di rumah ini," sambar Sandi yang baru keluar dari lift.


"Cih! Bocah tengik sepertimu masih berani berlagak di depanku? Tunggu saja kejutan dariku! Aku harap kamu tidak akan menangis darah karena menyesal sudah berurusan denganku," ancam Simon.


"Silakan Anda keluar! Sebelum pak Satpam menyeret Anda untuk segera keluar," usir Sandi.


Selepas kepergian Simon, Raline langsung mendekati Sandi. Dia bersimpuh di hadapan putranya lalu berkata, "Terima kasih sudah membela Mama."


"Aku hanya tidak suka mendengar keributan di sini," kilah Sandi.


Raline hanya tersenyum menanggapi ucapan putranya. Dia tahu kalau Sandi hanya memungkirinya. Raline pun kembali berdiri dan tersenyum pada Thalia. Dia mengajak Thalia agar duduk di sofa bersamanya. Sementara Sandi hanya memperhatikan apa yang mamanya lakukan seraya menjalankan kursi rodanya agar dekat dengan Thalia.


"Terima kasih Thalia, sudah membela Tante tadi. Tapi lain kali, kamu harus berhati-hati jika berhadapan dengan Simon. Dia orangnya nekat," ucap Raline.


"Kenapa berbeda sekali dengan Jojo?" tanya Thalia yang sukses membuat Sandi menatap sinis padanya.


"Matamu kondisikan Sandal! Ngomong gitu aja marah. Padahal hampir setiap hari aku melihat kamu bergandengan tangan dengan gadis-gadis cantik." Thalia langsung mengusap wajah Sandi yang berada di depannya. Dia merasa tidak enak hati ditatap seperti itu.

__ADS_1


"Itu karena putra Tante sangat mencintai kamu. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia," serobot Raline. "Oh, iya. Mama ke sini membawa kebaya untuk acara pernikahan kalian. Ini edisi terbatas keluaran Er's Boutique. Semoga saja pas di badan kamu biar tidak usah dibenerin lagi," lanjutnya.


"Terima kasih, Tante. Tapi kebaya yang buat nikahan kemarin juga masih ada di apartemen," ucap Thalia.


"Tidak apa. Pakai yang ini saja. Oh iya, Thalia. Sampai kalian menikah jangan pergi ke mana-mana ya! Di rumah saja. Untuk terapi juga dimundurkan saja dulu. Calon pengantin jangan bepergian menjelang hari pernikahan," pesan Raline.


"Memang kenapa, Tan?" tanya Thalia heran.


"Tante khawatir akan terjadi hal yang tidak kita inginkan. Seperti saat kemarin Sandi kecelakaan," jelas Raline.


Aku hanya khawatir, Simon menyimpan dendam dan menargetkan Thalia. Karena dia tidak akan berani jika sampai menyakiti Sandi, batin Raline.


"Baik, Tan. Aku pasti akan di rumah saja menjaga Sandi," ucap Thalia.


"Mama juga hati-hati. Memang bagaimana kejadiannya dia bisa sampai ke sini?" tanya Sandi.


"Tadi tidak sengaja bertemu di butik. Mama pikir dia tidak akan mengikuti karena sedang bersama dengan seorang gadis cantik. Ternyata dia langsung menyusul Mama," jelas Raline.


"Tante menginap saja di sini. Takutnya nanti pulang malah dicegat di jalan," usul Thalia.


"Besok saja, nanti Jojo yang akan menjemput ke sini. Katanya Jojo juga mau membawa calon istrinya. Mama senang sekali anak-anak Mama akhirnya memiliki pasangan." Wajah Raline berubah ceria saat mengingat putra sambungnya yang memutuskan untuk menikahi seorang gadis dan keluar dari lingkaran dunia belok.


"Kadang aku merasa heran, sebenarnya siapa anak kandung Mama? Dari dulu, Mama sangat perhatian sekali sama Jojo," sindir Sandi.


"Tentu saja kamu. Tapi putra mama anak yang kuat sehingga bisa menjaga dirinya. Berbeda dengan Jojo yang membutuhkan perhatian dari kita." Raline berhenti sejenak. Dia menyadari ada ucapannya yang salah. Yang sudah pasti akan membuat Sandi merasa tidak diperhatikan.


"Mama akui kalau Mama salah telah berpikiran seperti itu, karena sekarang Mama mengerti sekuat-kuatnya seorang anak, dia sangat membutuhkan perhatian orang tuanya. Maafkan Mama jika kamu merasa terabaikan."


"Sudahlah! Aku mengerti kho, kalau Mama memang lebih berat pada Jojo karena dia tidak sekuat aku. Mama tenang saja, sekarang aku sudah memiliki Tali yang akan selalu bersamaku dan aku tidak akan pernah mau berbagi dengan yang lain lagi."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2