
Langit terlihat sudah semakin gelap. Namun, Thalia belum juga kembali ke kamar. Tentu saja hal itu menjadi tanda tanya besar untuk Sandi. Dia pun akhirnya memutuskan untuk menyusul istrinya ke dapur. Namun, saat tiba di dapur, dia tidak menemukan Thalia. Hanya terdengar suara perempuan yang sedang berbincang.
"Aku sudah tidak sabar loh, menunggu Camelia tinggal di sini. Aku bisa pamer ke tetangga di kampung kalau majikan aku artis papan atas."
"Aku juga senang punya majikan artis terkenal. Tapi aku kasihan pada Non Thalia. Belum lama menikah sudah dimadu."
"Itu kan salah dia sendiri. Bukannya Tuan Sandi dan Camelia memang tadinya berpacaran. Non Thalia kan jadi pihak ketiga."
Darah Sandi mendadak mendidih mendengar pembicaraan pekerja di rumahnya. Rahangnya mengeras, tangannya pun mengepal kuat. Dia sangat marah dengan apa yang di dengarnya.
Pantas saja Thalia sudah hampir satu jam tidak kembali ke kamar. Sepertinya dia mendengar apa yang mereka katakan, batin Sandi.
"BI IPAH! DI MANA THALIA?" teriak Sandi kencang yang sukses mengagetkan semua orang yang sedang bergosip tentangnya.
Wanita paruh baya yang sudah bersiap untuk menunaikan kewajibannya, datang tergopoh-gopoh mendengar teriakkan tuan mudanya. Begitupun dengan pekerja wanita lainnya yang terkejut mendengar suara Sandi.
"Maaf Tuan, Bibi dari tadi tidak melihat Non Thalia datang ke sini." Bi Ipah menundukkan kepalanya tidak berani melihat kemarahan Sandi.
"Kalian! Apa kalian melihat istriku?" tanya Sandi dengan suara yang bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.
"Maaf Tuan, kami tidak melihatnya." Kompak ketiga pekerja wanita itu.
"Apa katamu? Tidak melihat? Bagaimana kalian bisa melihat kedatangan istriku kalau dari tadi kalian sibuk bergosip mengurusi kehidupan aku. Apa kalian dibayar hanya untuk bergosip?" geram Sandi.
"Maafkan kami, Tuan." Lagi-lagi mereka bicara bersamaan.
"Cih! Maaf katamu? Aku tidak akan menerima permintaan maaf kalian sebelum kalian menemukan istriku," sentak Sandi.
"Baik, Tuan. Kami akan mencarinya," ketiga pekerja itu langsung berpencar untuk mencari keberadaan Thalia.
Tinggallah Sandi dan Bi Ipah yang masih berada di dapur. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri Sandi yang memijat keningnya sendiri. Sungguh, Bi Ipah merasa sangat iba melihat keadaan Sandi. Apalagi jika dia mengingat bagaimana terpuruknya anak laki-laki itu saat dulu ditinggalkan oleh mamanya yang lebih memilih bercerai dengan papanya.
"Tuan muda, mau Bibi ambilkan minum?" tanya Bi Ipah hati-hati.
__ADS_1
"Boleh, Bi. Sekalian suruh satpam rumah menemui aku."
"Baik, Tuan." Bi Ipah langsung mengambil minum dan memberikannya pada Sandi. Lalu dia berlalu pergi untuk memanggil satpam di rumah besar itu.
Setelah kepergian Bi Ipah, Sandi berkali-kali menghela napas dalam. Seandainya keadaan dia sudah bisa berjalan kembali, tentu dia akan segera mencari keberadaan Thalia.
Tali kamu ke mana? Kenapa kamu tega meninggalkan aku? Tali, aku tidak akan membiarkan kamu pergi jauh dari aku, batin Sandi.
Tidak lama berselang, satpam yang dipanggil Bi Ipah pun sudah datang menemui Sandi. Mereka begitu kaget saat mendengar apa yang Bi Ipah katakan. Kalau majikannya marah besar karena tidak bisa menemukan istrinya.
"Maaf Tuan, tadi saya memang melihat Non Thalia ke luar rumah. Katanya mau ke mini market yang di dekat sini. Dia juga tidak membawa apa-apa. Hanya memakai baju rumahan. Bahkan ponsel pun tidak dia bawa," Pardi langsung melapor karena merasa bertanggung jawab atas perginya Thalia.
"Kenapa kalian biarkan dia pergi sendiri? Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kalian harus menemukan istriku. Kalau dalam waktu dua puluh empat jam, kalian tidak bisa menemukannya, maka kalian harus menanggung akibatnya," sentak Sandi.
Tuan Morgan yang baru datang merasa kaget melihat kemarahan putranya. Dengan berbagai pertanyaan di kepalanya, Dia pun langsung menghampiri Sandi. Namun, sebelum dia bertanya, Tuan Morgan melihat satu persatu wajah-wajah frustasi pekerja rumahnya.
"Ada masalah apa, Boy? Kenapa memarahi mereka?" tanya Tuan Morgan bicara dengan lembut.
"Apa katamu? Thalia hilang? Bagaimana bisa?" tanya Tuan Morgan merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Tanya saja pada mereka. Bagaimana mereka asyik menggosipkan aku dan Tali. Bagaimana mereka membiarkan Tali pergi begitu saja. Aku tidak mengerti, kenapa Papa memiliki pekerja yang tidak becus seperti mereka," ucap Sandi sengit.
"Ayo ke ruang kerja Papa dan kalian tunggu di sini." Tuan Morgan langsung mendorong kursi roda Sandi.
Dia akan melihat rekaman cctv di rumahnya. Namun, setelah dia melihat apa yang terjadi, rahang Tuan Morgan pun ikut mengeras. Dia merasa geram pada pekerja di rumahnya yang dengan terang-terangan bergosip tentang putranya.
"Kamu tenang saja, Papa akan meminta Komandan Barra untuk mencari Thalia. Papa yakin, dia belum jauh dari sini. Kamu tenangkan pikiranmu. Fokuskan pada kesembuhan kamu," ucap Tuan Morgan setelah dia bisa menguasai kekesalannya.
"Bagaimana aku bisa tenang, kalau aku tidak tahu di mana Tali berada. Aku tidak mau tahu, Papa harus menemukan dia. Kalau Tali tidak ketemu, aku tidak akan mau menikah dengan Camelia. Tidak peduli mereka mau bicara apa, aku tidak akan pernah mengakui anak yang dikandungnya sebagai anakku," ucap Sandi dengan suara serak. Air matanya terus memaksa keluar membasahi pipinya.
"Boy, Papa pasti akan mencari Thalia! Tapi kamu harus kuat. Kamu tidak boleh rapuh. Bagaimana kita bisa menemukan istrimu, kalau kamu rapuh." Tuan Morgan langsung memeluk putranya. Hatinya sangat terluka melihat putra satu-satunya kembali terpuruk.
Sandi tidak menjawab. Dia malah semakin terisak dalam pelukan papanya. Dunianya benar-benar terasa runtuh saat membayangkan tidak bisa bertemu lagi dengan Thalia.
__ADS_1
Saat kedua ayah dan anak itu saling berpelukan, tiba-tiba pintu ruang kerja ada yang membukanya. Nampak Camelia berdiri di ambang pintu dengan tersenyum remeh. Dia merasa senang melihat Sandi yang terpuruk karena ditinggal pergi oleh gadis yang dulu dianggap sebagai sahabatnya.
"Wah wah wah ... Ada acara apa Om? Peluk-pelukan segala," tanya Camelia dengan nada meremehkan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Tuan Morgan datar. Dia sangat tersinggung dengan apa yang Camelia katakan. Apalagi gadis itu berani sekali masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu.
"Mau apa kamu ke sini?" sentak Sandi.
"Jangan marah dong, Sayang! Aku hanya ingin melihat keadaan kamu. Tapi sepertinya, keadaan kamu sangat tidak baik." Camelia tersenyum sinis sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku dengar, istrimu pergi dari rumah. Memang sudah seharusnya sih kamu itu ditinggalkan. Playboy seperti kamu memang tidak pantas untuk dicintai."
"Apa maksud kamu Camelia?" sentak Tuan Morgan kaget mendengar ucapan calon menantunya.
"Sepertinya aku akan membatalkan pernikahan aku dengan Sandi, Om. Putra Om tidak pantas menjadi suami aku. Lagipula, sudah ada seseorang yang akan menggantikan dia sebagai pengantin aku." Lagi-lagi Thalia tersenyum remeh pada Sandi.
Dia merasa senang karena akhirnya tujuan dia tercapai. Membuat Sandi dan Thalia berpisah. Rasanya tidak sia-sia dia membayar mahal pembantu rumah tangga itu, kalau rencananya berjalan dengan sukses.
"Oh, jadi semua ini karena kamu? Kamu yang sudah membuat istriku pergi?" Sandi langsung mendekati Camelia yang masih berdiri tidak jauh dari pintu.
Dia langsung menarik gadis itu dan mencekik leher Camelia. Kesabarannya benar-benar habis, saat tahu semuanya sudah direncanakan oleh calon istri keduanya itu. Camelia memukuli dada Sandi saat dia merasa sesak dan tidak bisa bernapas.
"Sandi, lepaskan! Kamu bisa membunuhnya," ucap Tuan Morgan dengan berusaha melepaskan cekikikan tangan Sandi.
Uhuk uhuk ....
Camelia terus terbatuk-batuk saat cekikan tangan Sandi sudah bisa dilepaskan oleh Tuan Morgan. Dia tidak menyangka Sandi akan tega berbuat seperti itu kepadanya. Rasa cintanya yang dulu begitu besar pada pemuda itu, kini berubah menjadi kebencian semenjak Sandi memutuskan hubungan dengannya secara sepihak.
"Dengar Camelia! Berani kamu bermain-main lagi denganku, maka aku tidak akan pernah sungkan untuk melakukan apa yang ingin aku lakukan padamu. Termasuk membuat kamu menghilang di dunia ini selamanya."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1