Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 42 Pengganggu


__ADS_3

Kilatan kebahagian terpancar jelas dari wajah sepasang pengantin baru. Thalia dan Sandi baru saja melangsungkan prosesi pernikahan dengan khidmat. Meskipun acaranya sederhana, tetapi semuanya berjalan dengan lancar.


Setelah acara foto-foto bersama dengan keluarga, kini mereka saling bercengkerama. Semua orang terus saja memuji kecantikan Thalia yang berbalut kebaya modern edisi terbatas. Tidak terkecuali Melati yang sedari tadi berdecak kagum dengan penampilan Thalia yang tidak biasa.


"Thalia, selamat ya! Akhirnya kamu resmi jadi Nyonya Lancaster. Awas saja Sandal, kalau kamu sampai menyakiti sahabat aku. Akan aku pastikan, kamu tidak akan bertemu dengan Thalia lagi," ancam Melati.


"Apaan sih, Mel? Bukannya kasih selamat malah ngancam. Lagian kamu gak lihat kalau aku tidak bisa ke mana-mana tanpa bantuan Tali?" protes Sandi.


"Iya, Mel. Lebih baik kasih ucapan selamat saja. Doakan yang baik-baik untuk mereka," timpal Jojo yang duduk bersama dengan Melati.


"Iya Sandi Lancaster alias Sandal. Aku ucapkan selamat ya, semoga pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek dan cepat dikaruniai momongan," ucap Melati kemudian.


"Nah gini, baru kamu temanku." Sandi tersenyum senang mendengar apa yang Melati katakan.


Saat mereka berempat sedang berbincang, Raline datang menghampiri lalu bertanya, "Sudah pada makan belum? Ayo Mel, Jo makan dulu. Pengantin juga ayo makan dulu! Apa perlu mama ambilkan?"


"Tidak usah, Tante. Biar Melati saja yang ambil," tolak Melati. "Tha, mau makan apa?" tanyanya.


"Apa ada makanan yang sekiranya bikin lipstik aku gak bakal luntur, " jawab Thalia pelan.


"Thalia jangan takut! Lipstiknya tidak mudah luntur. Kamu bisa makan apa saja yang kamu inginkan," ucap Raline dengan tersenyum manis.


"Hehehe ... Iya kah?" tanya Thalia cengengesan.


"Sandi mau makan apa? Biar Mama ambilkan," tanya Raline kemudian.


"Nasi aja Mah, sama lauknya. Nanti biar makan sepiring berdua dengan Tali," jawab Sandi.


"Oh, kalau begitu Mama ambil dulu ya! Ayo, Mel bareng sama Tante!" ajak Raline langsung menggandeng tangan Melati.


Melihat itu semua Thalia sedikit mengerutkan keningnya. Berbagai pertanyaan berseliweran di kepalanya. Sejak kapan Melati bertemu dengan Raline? Kenapa mereka sepertinya akrab sekali? Sampai akhirnya terdengar Sandi berbicara pada Jojo.


"Apa kamu sudah menentukan tanggal pernikahannya?"

__ADS_1


"Sudah, mungkin bulan depan. Menunggu jadwalku tidak padat," jawab Jojo.


"Syukurlah! Kamu memiliki keinginan yang kuat," ucap Sandi.


"Yah, aku sangat menyayangi kalian. Aku ingin memiliki kehidupan yang seperti dulu sebelum perpisahan itu terjadi. Kamu tahu Sandi, aku pun sama tersiksanya seperti kamu. Hanya saja, aku mengekspresikan kesedihanku dengan cara yang berbeda dengan kamu," ungkap Jojo.


"Sudahlah! Semuanya sudah berlalu. Andai kejadian itu tidak pernah ada, mungkin aku tidak akan bisa bertemu dengan Tali."


"Kamu memang benar, selalu ada hikmah dibalik musibah yang menimpa kita." Jojo tersenyum manis pada sahabatnya baru saja dia miliki kembali.


Tidak lama kemudian, Raline dan Melati sudah kembali dengan makanan di tangannya. Thalia tersenyum manis saat menerima piring dari Raline. Dia tidak lupa mengucapkan terima kasih pada ibu mertuanya.


"Makasih, Tan!" ujar Thalia.


"Sama-sama. Makanlah! Mama ke sana dulu ya!" tunjuk Raline pada sekumpulan ibu-ibu yang berpenampilan elegan.


"Iya, Mah!" sahut Thalia.


Namun, kebahagiaan mereka sepertinya harus terusik dengan kedatangan Camelia dan kedua orangtuanya. Dia sengaja datang saat ada yang memberitahunya kalau Sandi hari ini menikah dengan Thalia. Meskipun niatnya ingin menggagalkan pernikahan Sandi, tetapi pesawat yang dia tumpangi delay sehingga terlambat datang.


Tanpa permisi, Camelia langsung menghampiri Sandi dan Thalia yang sedang makan. Melihat kemesraan mereka yang makan satu piring dan satu sendok berdua, membuat darah Camelia menjadi mendidih. Rasanya dia tidak ikhlas melihat Sandi jatuh ke dalam pelukan Thalia, yang menurutnya jauh di bawahnya.


Sret … Prang …


Camelia langsung mengambil piring yang Thalia pegang dan melemparkannya begitu saja. Tentu saja hal itu mengundang perhatian semua orang. Dia tidak sadar kalau yang datang ke acara pernikahan Sandi bukanlah orang biasa.


"CAMELIA JAGA SIKAPMU! KAMU TIDAK BISA SEENAKNYA DI RUMAHKU!" bentak Sandi. Dia sangat kesal dengan ketidaksopanan Camelia. Kalaupun di antara mereka ada masalah, tidak seharusnya dia bersikap seperti itu.


"KAMU YANG SEENAKNYA SANDI! KAMU MENGHAMILI AKU TAPI MALAH MENIKAHI GADIS LAIN. DI MANA TANGGUNG JAWAB KAMU?" Camelia tidak tinggal diam. Dia balas membentak Sandi.


"KAMU …."


"SANDI CUKUP!" potong Tuan Morgan dengan suara yang menggelegar. "Ipah bereskan pecahan piringnya," suruhnya kemudian.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" sahut Bi Ipah langsung mengambil sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan piring yang berceceran.


Sementara Thalia sedari tadi hanya bengong. Dia sangat terkejut dengan kedatangan Camelia. Ditambah lagi tiba-tiba gadis itu merebut piring yang sedang dia pegang dan memecahkannya.


"Maaf Tuan-tuan dan Nyonya, pestanya berakhir sampai di sini saja. Kalian sudah boleh pulang. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya!" Morgan langsung menelungkapkan kedua telapak tangannya. Dia merasa tidak enak hati dengan kekacauan yang baru saja terjadi.


Setelah semua tamu undangan membubarkan diri, kini Tuan Morgan mengumpulkan semua keluarga inti di ruang tengah. Bagaimanapun juga masalah Sandi dan Camelia harus diluruskan. Agar tidak terjadi keributan lagi di masa mendatang.


"Tuan Ronald, apa gadis ini putri Anda?" tanya Morgan.


"Iya Tuan Morgan. Saya baru tahu kalau Camelia hamil oleh putra Anda," jawab Ronald, ayahnya Camelia.


Camelia nama yang cantik seperti wajah dan tubuhnya. Tapi sayang dia tidak memiliki attitude. Aku tidak mungkin membiarkan keturunanku dirawat dan dididik oleh orang yang tidak memiliki attitude sepertinya. Tapi Tuan Ronald adalah klienku. Kalau aku terus terang menolak putrinya sebagai menantu, sudah pasti dia akan tersinggung dan mencari perusahaan lain, batin Morgan.


"Tuan, saya tidak mau tahu. Sandi harus bertanggung jawab atas kehamilanku," rengek Camelia.


"Sudah aku bilang, ayo kita lakukan test DNA. Jika hasilnya positif itu benihku, aku akan bertanggung jawab. Tapi jangan berharap aku akan menikahi kamu," tukas Sandi.


"Tuan Morgan, kenapa Anda memiliki seorang putra yang pecundang. Hanya ingin menikmati tapi tidak mau bertanggung jawab," sindir Ronald.


"Sandi pasti akan bertanggung jawab jika janin yang dikandung putri Tuan adalah keturunan Lancanter. Anda jangan khawatir," ucap Morgan meyakinkan.


"Tuan, kenapa Tuan tidak percaya? Saya punya buktinya kalau Sandi pernah melakukan hal itu padaku. Kalau Tuan ingin melihat, aku bisa memberikan rekaman videonya." Camelia langsung mengambil ponselnya dan akan memperlihatkan rekaman cctv di apartemen.


Namun tangan Sandi langsung mengambil ponsel Camelia. Dia melemparnya begitu saja hingga layarnya pecah dan langsung mati total. Sandi tersenyum miring lalu berkata, "Itu sebagai ganti piring aku yang pecah."


"Pecahkan saja! Aku masih punya banyak bukti yang bisa aku pakai untuk menjerat kamu."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2