
"Katakan! Apa salahku, sampai kamu ingin menghabisi aku?" tanya Sandi.
"Cih! Kamu masih belum juga sadar dengan kesalahan yang kamu lakukan? Apa kamu lupa pernah berpacaran dengan adikku, hah?" tanya Joseph.
"Adik? Siapa adik kamu? Bukankah Jojo Adik kamu? Aku tidak merasa pernah berpacaran dengan Jojo," kelit Sandi.
"Kamu pikir hanya Jojo adikku? Apa kamu lupa seorang gadis yang bernama Adeline? Kamu beri dia harapan palsu, tetapi dengan seenaknya kamu memutuskan dia. Sampai adikku mengalami depresi. Jawab aku! Apa kamu masih pantas untuk hidup, setelah menghancurkan hati banyak gadis?" tanya Joseph.
"Untuk masalah Adeline, aku minta maaf. Aku tidak pernah berpikir kalau dia akan sampai depresi karena aku putuskan," sesal Sandi.
"Kamu pikir, kata maaf kamu akan merubah keadaan? Cih! Playboy seperti kamu pantas lenyap di muka bumi ini. Cepat kalian ringkus dia! Kenapa kakinya tidak kalian ikat?" teriak Joseph.
Menyadari lawannya lengah, Sandi pun segera berlari berusaha mencari jalan keluar dari gedung itu. Namun, sepertinya jalan keluar dari ruangan tempat dia berada sudah dijaga oleh anak buat Joseph. Sandi tetap berusaha untuk mengecoh. Namun, salah satu anak buah Joseph berhasil menangkapnya kembali.
"Lepasin pengecut! Ayo kita duel satu-satu! Jangan main keroyokan!" sentak Sandi.
"Kali ini, habis riwayatmu Playboy!" Joseph tersenyum miring melihat ke arah Sandi. Dia merasa sangat senang karena akhirnya bisa membalaskan rasa sakit hati adiknya.
Berbeda dengan Tantra. Entah kenapa dia merasa gamang saat tahu Joseph benar-benar ingin menghabisi nyawa Sandi. Dia memang benci dengan apa yang Sandi lakukan pada Tantri. Akan tetapi, saat dia teringat dengan semua kebaikan laki-laki itu, hatinya jadi merasa tidak tega jika harus menghilangkan nyawa dia.
"Jose, jangan sampai meninggal! Buat saja sampai dia cacat," usul Tantra.
"Kamu benar juga Tantra. Baiklah, aku ingin sekali mencongkel mata dia," ucap Joseph.
Dasar gila! Mereka benar-benar gila, ingin sekali menyiksa aku. Jangan harap kalian bisa menyentuh tubuhku! batin Sandi.
Sandi menatap nyalang satu per satu orang yang ada di ruangan itu. Kemarahannya sudah sampai ke puncak kepalanya. Sebagai pemegang sabuk hitam taekwondo, tentu bukan hal itu tidak membuat dia gentar jika harus berhadapan dengan mereka.
"KALIAN! CEPAT SERANG DIA!" teriak Joseph memberi komando pada anak buahnya.
Tanpa sungkan, preman yang tadi ikut bersama Joseph langsung menyerang Sandi. Ditambah dengan orang yang menculik Sandi ikut menyerang. Kekuatan yang tidak seimbang, membuat Sandi menjadi terdesak. Apalagi kondisi tangan dia yang masih terikat. Membuat dia tidak leluasa menyerang lawannya.
Sialan! Preman itu pintar bertarung juga. Aku harus bisa melarikan diri, batin Sandi.
__ADS_1
Terus saja Sandi menghindar dengan sesekali menyerang menggunakan kaki dan tangan yang masih teringat. Sampai akhirnya, terdengar suara orang yang sangat dikenalnya.
"Hentikan! Kalau kalian ingin bos kalian selamat, jangan lagi menyerang Sandi," teriak Gunawan dengan menodongkan senjata api ke leher Tantra dan mengunci leher laki-laki itu.
"Bunuh saja! Aku pun akan membunuh sahabatmu itu. Cepat tangkap dia," suruh Joseph.
Dorr ....
Dorr ....
Dorr ....
Dorr ....
"Ahhhh ...." teriakan kesakitan terdengar begitu nyaring di telinga.
Empat kali bidikan sukses mengenai kaki keempat preman itu. Melihat semua itu, Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyerang Joseph. Sampai akhirnya pertarungan itu tidak dapat dielakkan.
Namun, saat Joseph terdesak oleh Sandi. Dia segera mengeluarkan senjata api dari langsung mengarahkan benda itu ke arah Sandi. Para preman itu pun tidak tinggal diam. Mereka segera ikut menyerang Sandi. Meskipun harus menahan rasa sakit di kakinya.
"Selamat tinggal Sandi, sekarang aku berubah pikiran. Lebih baik kamu lenyap di muka bumi ini," ucap Joseph dengan menarik pelatuknya.
Namun, belum juga dia melepaskan tarikannya, ada tembakan tanpa suara yang mengenai tangannya, sehingga pistoll yang dia pegang terlepas jauh dari tangannya.
"Ahhhh ... Sial!" rutuk Joseph
"Menyerahlah! Kalian sudah terkepung," teriak salah satu orang yang bersenjata lengkap seperti agen khusus.
"Siapa kalian? Kenapa ikut campur?" teriak Tantra.
"Kalian tidak perlu tahu tapi apa yang kalian lakukan sudah menganggu kenyamanan tuanku," ucap orang yang berseragam lengkap itu.
"Kalian tidak bisa menangkap aku, aku akan menghabisi kalian semua," teriak Joseph dengan merebut pisstol Tantra. Dia langsung melepaskan pelatuknya mengarah pada Sandi, bersamaan dengan bidikan yang mengenai pangkal tangannya.
__ADS_1
Orang-orang berseragam lengkap itu tidak tinggal diam. Mereka segera memburu Joseph, Tantra dan anak buahnya. Sementara Gunawan menghampiri Sandi yang terkena tembakan di perutnya.
"Sandi bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucap Gunawan panik.
"Gun, jaga Tali dan Ale!" pesan Sandi sebelum dia hilang kesadarannya.
"Bertahanlah Sandi!" teriak Gunawan.
"Tuan, biar saya beri pertolongan pertama," ucap salah satu orang yang berseragam lengkap.
Dia langsung membuka tas ransel yang berisi peralatan medis. Tanpa sungkan, dia merobek baju Sandi yang terkena tembakan. Dengan hati-hati, dia mengeluarkan timah panas yang bersarang di perut papa muda itu. Setelah dia dapat mengeluarkannya, laki-laki yang berseragam lengkap itu menaburkan sebuah bubuk di bagian bekas luka Sandi sebelum akhirnya dia menutupnya dengan perban.
"Semoga pendarahannya cepat berhenti. Ayo Tuan, bantu saya membawanya dengan tandu!" ajak laki-laki itu setelah dia mengeluarkan sebuah tandu portabel dari dalam tas ransel miliknya.
Gunawan hanya melongo melihat semua itu. Dia merasa seperti sedang melihat adegan di film perang yang sering ditontonnya. Dia juga merasa heran, sebenarnya siapa orang-orang yang tiba-tiba saja datang membantunya.
"Tuan, ayo kita pindahkan ke tandu! Biarkan saja mereka jadi urusan teman-temanku," ucap orang itu mengagetkan Gunawan.
"Ba-baik Tuan," ucap Gunawan kaget. Dia langsung mengikuti apa yang orang itu katakan.
Mereka berdua membawa Sandi ke mobil yang Gunawan bawa. Namun, saat Sandi sudah berada di dalam mobilnya, orang yang berseragam lengkap itu langsung berpamitan.
"Tuan, silakan bawa teman Anda ke rumah sakit Internasional. Saya harus kembali membantu teman-teman saya. Anda jangan khawatir, penjahat itu pasti tertangkap." Orang berseragam lengkap itu menepuk pundak Gunawan sebelum akhirnya dia berlari meninggalkannya.
Siapa mereka? Kenapa gerakannya terlihat sangat terlatih. Alat-alat yang digunakan juga sangat modern, batin Gunawan.
Dia pun langsung membawa mobilnya ke rumah sakit yang dikatakan oleh orang tadi. Sesekali dia melihat ke belakang untuk memastikan keadaan Sandi. Hatinya terus saja merasa was-was khawatir nyawa Sandi tidak dapat tertolong.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
sambil nunggu Playboy update yuk kepoin juga karya keren yang satu ini