
Selepas kepergian Sandi dan Thalia, Jojo dan Melati memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Mereka ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Namun, saat akan berbelok ke kamarnya, keduanya berpapasan dengan Maryam.
"Sudah pada pulang, Mel?" tanya Maryam.
"Sudah, Bu! Ruang tamu juga sudah di bereskan tadi sama Bi Ijah," jawab Melati.
"Oh, ya sudah. Kalian istirahat saja, Ibu mau menyiapkan makan malam."
"Bu, bagaimana keadaan Ayah?" tanya Melati saat melihat ibunya akan beranjak pergi.
"Ayah hanya butuh waktu. Sudah tidak apa, nanti juga pasti baikan."
"Bu, maaf!" ucap Melati sendu.
"Iya, gak apa! Ibu ngerti kenapa kamu bersikap seperti itu. Mungkin karena ayah dan Ibu terlalu keras mendidik kamu. Maafkan ibu, jika selama ini tidak bisa mendidik kamu dengan baik."
Melati langsung memeluk ibunya. Hatinya merasa sakit saat ibunya menyalahkan diri sendiri karena kesalahan yang dia lakukan. Ada rasa sesal dihatinya karena membuat orang tuanya sakit hati karena kebohongannya.
"Maafkan saya juga, Bu. Kehadiran saya telah membuat kekacauan di rumah ini," sesal Jojo.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kalian hanya perlu membuktikan kalau kalian bisa memiliki anak secepatnya," ucap Maryam seraya mengurai pelukannya pada Melati.
"Akan kami usahakan, Bu!" sahut Jojo dengan wajah yang bersemu merah.
"Ibu ke dapur dulu. Kasian Bi Ijah kerepotan," pamit Maryam seraya berlalu pergi.
Melati dan Jojo pun langsung menuju ke kamar Melati. Mereka bergantian membersihkan diri. Karena kamar mandi yang berada di luar kamar membuat Jojo atau Melati membawa baju ganti. Saat sudah selesai, keduanya mencoba untuk membicarakan masa depan pernikahan mereka.
"Mel, kalau kita pindah ke rumahku, apa orang tua kamu tidak keberatan? Kamu tahu kan, kalau di rumahku privasi kita terjaga. Jadi kita bisa ngapain aja di sana sesuai keinginan kita," usul Jojo.
"Aku harua bicara dulu sama ayah dan ibu. Aku tidak mau kalau nanti mereka kecewa lagi," ucap Melati.
"Baiklah, kamu memang anak yang baik. Aku merasa sangat beruntung karena bisa memiliki kamu."
"Bisa aja nih gombalnya!" Pipi Melati langsung bersemu merah mendengar apa yang Jojo katakan. Bibirnya pun melengkung membentuk bulat sabit. Hatinya berbunga-bunga mendengarkan apa yang Jojo katakan.
__ADS_1
"Aku serius, Mel. Coba tangan kamu sini!" Jojo langsung mengambil tangan Melati dan menempelkan ke dadanya. Lalu dia pun berkata, "Kamu bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Kamu tahu, dia berdegup kencang hanya jika di dekat kamu."
"Aku juga sama," ucap Melati malu-malu.
Perlahan Jojo mendekatkan wajahnya, sampai terasa hembusan napas Melati yang menerpa kulitnya. Dia semakin mendekat dan terus mendekat. Mengikis jarak yang ada di antara keduanya. Sampai akhirnya dua benda kenyal itu saling menempel satu sama lain.
Sebuah ciuman kebahagiaan yang membuncah di dada kedua anak manusia, kini mereka salurkan dengan saling mengecup dan menyesap benda kenyal yang menjadi candu untuk keduanya. Namun, ciuman itu kini berubah liar saat hasrat yang menggebu menyergap keduanya.
Jojo seperti kehilangan akal, dia ingin mendapatkan apa yang dia inginkan sekarang. Tidak peduli dengan hari yang masih siang. Dia begitu bergairah saat tangannya memegang dan memainkan buah kembar yang masih mangkel. Apalagi terdengar suara dessahan Melati yang terdengar seksih di telinganya. Dia pun terus berusaha menerobos gerbang pertahanan Melati.
"Mel, harus aku masukkan ke mana? Kenapa tidak ada lubang yang besar?" tanya Jojo dengan napas yang memburu.
"Aku tidak tahu, karena baru kali ini aku mau melakukannya." Melati langsung memalingkan mukanya merasa malu dengan pertanyaan Jojo.
Sementara Jojo langsung meraba-raba dengan telunjuknya mencari gua keramat itu. Sampai tanpa sadar, Melati melenguh keenakan. Gadis itu langsung menutup agar tidak terdengar oleh orang tuanya.
Tanpa lelah, Jojo terus berusaha dan berusaha. Sampai akhirnya tongkat kayu dia bisa menerobos masuk setelah dia berusaha untuk yang kesekian kalinya. Melati hanya bisa meneteskan air mata menahan rasa sakit yang mendera.
"Apa sangat sakit?" tanya Jojo.
"Iya!" sahut Melati lirih.
Jojo terus saja memacu hasratnya sampai akhir dia mendapatkan pelepasan, barulah Jojo mencabut tongkat sakti yang tertancap di dalam gua. Dia tersenyum bahagia karena akhirnya bisa menggagahi seorang gadis. Apalagi gadis itu, orang yang dia cintai.
...***...
Sementara di lain tempat, Sandi dan Thalia sedang berada di rumah Jojo. Karena semenjak Raline berpisah dengan Simon, Jojo meminta ibu sambungnya untuk tetap bersama dengan dia. Meskipun nanti Raline menikah lagi, perasaan sayangnya tidak akan pernah berubah
Tentu saja hal itu langsung disetujui oleh Raline. Karena dia pun sudah menganggap Jojo seperti anaknya sendiri. Meskipun memang benar di antara mereka tidak ada hubungan darah
"Thalia, sebentar ya! Mama ambilkan salad buah. Tadi pagi, sebelum pergi ke rumah Melati, Mama membuatnya."
"Iya, Mah!" sahut Thalia yang duduk di sofa bersama dengan Sandi.
Meskipun benar Raline ibu kandung Sandi. Akan tetapi, Sandi menjadi kikuk saat bersama dengan wanita itu. Padahal, Raline sudah berusaha untuk mendekatkan diri pada putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Tali, aku ngantuk!" Sandi langsung merebahkan diri dengan paha Thalia sebagai bantalnya. Kakinya menggelantung manja di pinggiran sofa.
"Sandal, malu ikh sama Mama kamu."
"Ya sudah, ayo kita pulang!"
"Kamu ikh gitu. Baru juga duduk, gak enak sama mama kamu."
"Ck! Tali ... Kapan kamu mengerti?" Sandi berdecak kesal. Dia langsung menelusupkan kepalanya di perut Melati.
Dia berkali-kali menciumi perut istrinya yang sudah mulai membuncit. Rasanya Sandi ingin sekali anaknya cepat-cepat lahir, sebagai pelengkap kebahagiaannya bersama dengan Thalia.
Sementara Raline hanya tersenyum melihat apa yang putranya lakukan. Dia merasa senang, karena akhirnya Sandi bisa hidup bahagia bersama dengan istrinya.
"Ini salad buahnya. Kalian makan saja dulu ya, Mama mau ganti baju dulu ke kamar," pamit Raline seraya memberikan salad buah pada Thalia.
"Terima kasih, Mah!" ucap Thalia.
Raline hanya tersenyum, lalu dia pun beranjak pergi menuju ke kamarnya. Sementara Sandi langsung menengadahkan wajahnya. Meminta Thalia agar menyuapi salad buah buatan mamanya.
"Sandal, mama kamu pinter banget bikin salad buah. Rasanya enak banget," puji Thalia dengan tidak bisa berhenti menikmati salad buatan mertuanya.
"Aku sudah tahu. Mama memang pintar mengolah makanan. Bukan hanya salad buah yang bikin kita ketagihan, tetapi makanan yang lain juga sama."
"Wah, Jojo beruntung sekali ya! Setiap saat bisa menikah masakan mama kamu."
"Aku juga beruntung, karena selalu menikmati makanan buatan kamu. Meskipun memang tidak selezat buatan mama tapi menurut aku, masakan kamu paling enak. Apalagi setiap kali kamu membawa omlette. Membuat aku tidak bisa berhenti makan.
"Pantas selalu menghabiskan bekalku."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
Sambil nunggu Playboy up, yuk kepoin karya keren yang satu ini