
Suasana ruang tamu Kediaman Lancaster nampak tegang. Setelah tadi mendengar apa yang Camelia katakan, Tuan Morgan segera menghubungi papanya Camelia dan memintanya untuk segera datang ke Kediaman Lancaster. Dia ingin meluruskan dengan apa yang terjadi pada anak-anak mereka.
Cukup lama mereka saling berdiam diri. Menunggu seseorang untuk memulai percakapan. Sampai akhirnya, Tuan Morgan membuka suaranya
"Tuan Ronald, tadi saya mendengar kalau Camelia datang ke sini untuk membatalkan pernikahannya. Apa Tuan Ronald sudah mengetahui hal ini?" tanya Morgan.
"Oh, soal itu. Sebenarnya kami sudah mengetahuinya. Saya pikir, Camelia hanya bercanda saat mengatakan hal itu. Sehingga kamu tidak terlalu memperdulikannya," jawab Ronald merasa tidak enak hati.
"Lalu, bagaimana dengan anak yang ada dalam kandungan Camelia? Siapa yang akan bertanggung jawab?" tanya Morgan lagi.
"Tentu saja ayahnya yang sehat dan tidak cacat," celetuk Camelia.
Nyes
Hati Tuan Morgan terasa ditusuk oleh pedang es. Hatinya linu mendengar apa yang Camelia katakan. Dia tidak menyangka gadis itu akan berbicara seperti itu. Padahal sebelumnya, Camelia sendiri yang memaksa untuk menikah dengan Sandi.
Untung saja sifat aslinya segera terbongkar, kalau sampai mereka menikah, pasti akan lebih dari ini dia menyakiti putraku, batin Morgan.
"Syukurlah, kalau kamu sudah menemukan ayah biologis itu. Karena dari awal, aku memang tidak pernah ingat pernah melakukan hal itu dengan kamu. Asal kamu tahu Camelia, hanya dengan Tali aku melakukan pertama kalinya hubungan layaknya sepasang kekasih," ucap Sandi dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Semua sudah jelas, di antara aku dan Camelia sudah tidak ada hubungan apapun. Aku masih ada di pekerjaan yang lebih penting, permisi!" Sandi langsung pergi begitu saja masuk ke dalam rumah. Dia baru teringat pada sahabatnya yang bisa meretas. Kenapa tidak sekalian meminta tolong padanya. Meskipun papanya sudah meminta tolong pada Komandan Barra untuk mencari Thalia.
Setibanya di kamar, Sandi langsung mencari ponselnya yang seingat dia di simpan di atas nakas. Setelah menemukannya, dia pun langsung menghubungi Devan. Panggilan pertama tidak diangkat, tapi saat panggilan kedua barulah Devan mengangkatnya.
"Hallo, Van! Lagi apa?" tanya Sandi saat sudah tersambung.
"Aku lagi membahagiakan istriku, Hahaha ... Ada apa menghubungi aku? Oh iya aku lupa, soal formula itu. Aku sudah mendapatkannya tapi tinggal sedikit."
"Maksud kamu?"
"Istriku iseng. Dia tahu soal formula itu, dia mau mengerjai aku tapi ternyata minuman yang sudah dicampur, malah diminum oleh artis yang mau jadi endorse perusahaan aku. Makanya sekarang sedang aku hukum."
"Maksud kamu formula yang membuat orang bicara jujur diminum oleh artis endorse kamu? Siapa orang itu?"
"Camelia, dia salah ambil minum tadi. Tapi setelah minum itu dia langsung pergi karena mendapat panggilan telepon."
__ADS_1
"Oh, jadi seperti itu rupanya. Pantas saja dia mengungkapkan semua isi hatinya di rumahku. Tapi sudahlah, itu tidak penting. Aku menelpon kamu mau minta tolong lagi."
"Minta tolong apa?"
"Istriku hilang, aku minta tolong agar kamu meretas cctv di jalanan sekitar rumahku. Kata satpam, dia pergi mau ke mini market. Tapi sampai saat ini belum juga kembali."
"Apa hilang? Kho bisa? Tunggu sebentar, aku ambil laptopku dulu!"
Sandi terdiam di tempatnya, dia menunggu apa yang akan dikerjakan oleh sahabatnya itu. Tidak berapa lama kemudian terdengar suara di seberang sana. Rupanya Devan sudah mendapatkan apa yang dia minta.
"Hallo Sandi, istri kamu dibawa oleh orang yang hampir menabraknya. Mungkin di bawa ke rumah sakit. Tutup teleponnya dulu ya, mungkin butuh waktu yang tidak sebentar untuk melacaknya. Kalau sudah ketemu, aku akan informasikan sama kamu."
"Baiklah, Van. Aku mengandalkan kamu."
Sandi menghela napas berkali-kali. Dia ingin menetralkan perasaannya yang masih bergemuruh. Seandainya Thalia tidak pergi, mungkin saat ini dia merasa sangat bahagia karena terbebas dari jeratan Camelia.
Tali kamu di mana? Siapa orang yang telah membawamu. Semoga saja Devan segera mendapatkan titik lokasi kamu. Biar aku segera menjemputmu, batin Sandi.
...***...
"Kamar siapa ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" gumam Thalia.
Kruyuk kruyuk ....
Terdengar bunyi perutnya begitu nyaring di pendengaran. Dia pun segera memeluk perutnya sendiri. Rasa lapar kembali menyeruak. Thalia teringat, kalau tadi berniat untuk membeli makanan ke mini market.
"Kenapa aku bisa ada di sini? Pasti Sandi sedang menungguku." Lagi-lagi Thalia bicara sendiri. Dia berusaha bangun, lalu pergi ke kamar mandi.
Bersamaan dengan pintu kamar ada yang membukanya dari luar. Terlihat seorang wanita cantik dengan nampan di tangannya. Namun, dia tidak menemukan Thalia di sana. Hanya suara keran air yang terdengar dari kamar mandi.
"Syukurlah dia sudah sadar. Kasihan keluarganya, pasti sedang mencari dia," gumam Allana.
Tidak berapa lama kemudian Thalia pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit segar. Dia sangat terkejut mendapati Allana yang sudah duduk di atas tempat tidur. Perlahan dia pun mendekat pada wanita cantik yang tersenyum manis padanya.
"Apa sudah merasa baikan?" tanya Allana.
__ADS_1
"Iya Nyonya. Maaf, tapi kenapa saya ada di sini?" tanya Thalia dengan tersenyum kikuk di depan wanita cantik itu.
"Tadi Nona pingsan saat hampir tertabrak oleh keponakan saya. Duduklah! Saya cek dulu kondisi Nona," suruh Allana.
Thalia hanya menurut dengan apa yang Allana katakan. Meskipun dia merasa ragu tapi tak urung mengikuti apa yang dikatakan oleh wanita cantik itu. Thalia yakin kalau dia bukan orang yang jahat.
"Namanya siapa, Nona. Saya Allana, boleh panggil saya Tante Lana. Sepertinya Nona seusia dengan anak saya yang bungsu." Allana tersenyum manis pada Thalia.
"Saya Thalia, Nyonya. Maaf saya lebih nyaman dengan memanggil Anda Nyonya," jawab Thalia.
"Senyaman kamu saja. Denyut nadinya sudah mulai stabil. Nona jangan terlalu banyak pikiran apalagi stres. Pola makan juga harus mulai dijaga, karena sekarang ada nyawa lain yang harus Nona perhatikan," ucap Allana panjang lebar setelah dia memeriksa keadaan Thalia.
"Maksud Nyonya nyawa lain?" tanya Thalia bingung.
Allana tersenyum sebelum dia menjawab pertanyaan Thalia. "Menurut pemeriksaan saya, Nona sedang hamil muda. Nanti pagi, Nona cek pakai tespek dulu, baru periksa ke rumah sakit. Saya bukan dokter kandungan, jadi tidak bisa memberikan hasil yang pasti. Karena itu bukan ranah saya."
"Terima kasih Nyonya, atas kebaikannya. Saya pasti akan menjaga buah cinta saya dengan suami. Sandal pasti sangat senang jika tahu akan memiliki anak," ucap Thalia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sandal? Apa suami Nona namanya Sandal?" tanya Allana yang kaget dengan nama yang disebutkan oleh Thalia.
"Sandiaga Lancanter, Nyonya. Itu nama panggilan kami," jawab Thalia malu-malu.
"Lancanter? Apa putranya Tuan Morgan Lancaster?" tanya Allana memastikan.
"Kho Nyonya bisa tahu?"
"Papa saya beberapa kali membeli kapal pesiar pada Tuan Morgan. Hanya tahu sedikit soal Keluarga Lancaster," jelas Allana.
Apa papanya Sandi pengusaha kapal pesiar? Kho aku baru tahu. Aku hanya tinggal di sana tapi tidak pernah mencari tahu apa pekerjaan papanya. Pantas saja rumah Sandi sebagus itu, batin Thalia.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1