
Gundukan tanah merah itu terlihat masih basah. Dengan kepala yang terus menunduk, Thalia masih berjongkok di depan pusara ayahnya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau keluarga satu-satunya yang dia miliki kini sudah menghadap Sang Pencipta.
Sementara Eva dan para pelayat yang lain sudah pergi meninggalkan pemakaman. Begitupun dengan Simon dan istrinya yang datang menghadiri pemakaman mantan besannya. Mereka langsung pulang sesaat setelah acara pemakaman Pak Gerry selesai.
Sandi yang masih setia menemani Thalia hanya bisa menghela napas panjang, melihat gadis yang dicintainya sedang rapuh. Ada rasa bersalah dalam hatinya karena secara tidak langsung dia ikut andil dalam kekacauan keluarga Thalia.
"Tali, langitnya sudah mau gelap. Ayo kita pulang!" ajak Sandi dengan merangkul pundak Thalia.
"Aku masih ingin menemani ayah. Aku takut saat pulang ke rumah, ibu tidak mau menerima aku." Setetes bening keluar dari pelupuk matanya. Namun dengan cepat Thalia segera menghapusnya.
"Tali, kamu masih punya aku. Mulai sekarang, aku yang akan bertanggung jawab atas hidup kamu," ucap Sandi.
Thalia terdiam tidak mengiyakan ucapan Sandi. Hanya air matanya yang semakin deras mengalir. Sandi langsung merengkuh tubuh Thalia dan membawa ke dalam pelukannya. Dia bisa merasakan bagaimana terlukanya hati gadis itu.
Setelah merasa puas menumpahkan kesedihannya. Akhirnya Thalia mau diajak pulang oleh Sandi. Melihat sahabatnya yang berjalan lunglai, Sandi langsung membopong Thalia hingga ke mobil.
Selama perjalanan, Thalia terus saja melihat ke luar jendela dengan pikiran yang jauh melayang ke masa-masa saat dia bersama dengan ayahnya. Teringat dengan keinginan ayahnya yang ingin menikahkan putrinya sendiri tanpa di wakilkan ke penghulu. Namun, semua itu kini hanya angan belaka.
"Tali, sudah sampai. Ayo kita turun!" ajak Sandi saat sudah tiba di rumah Thalia.
"Sandal, ada Tuan Simon di dalam. Aku harus bagaimana?" tanya Thalia ketakutan.
"Kamu tenang saja. Ada aku yang akan membela kamu. Ayo hadapi sama-sama!" Sandi mengelus rambut Thalia lembut. Dia ingin meyakinkan, jika bersamanya semua akan baik-baik saja.
Sandi memapah Thalia untuk masuk ke dalam rumah. Setelah dia mengucapkan salam, Sandi pun langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu dipersilahkan masuk terlebih dahulu. Terlihat di sana Tuan Simon sedang duduk bersama dengan Eva. Entah apa yang mereka bicarakan tetapi sepertinya pembicaraan mereka berdua sangat serius.
"Kebetulan kamu sudah pulang, Thalia duduklah! Ada hal yang harus kita bicarakan," suruh Eva.
Sandi pun langsung membawa Thalia agar duduk di sofa bersamanya. Dia tidak ingin meninggalkan gadis itu meskipun hanya sebentar. Apalagi jika harus meninggalkan Thalia bersama dua orang yang memiliki tabiat kurang bagus.
"Thalia, kamu tahu kan kalau kita berhutang banyak karena kamu kabur dari acara pertunangan itu. Tuan Simon ke sini untuk meminta uang mahar yang pernah dia berikan ...."
"Aku yang akan menggantinya, Tante!" potong Sandi.
"Kamu bilang akan menggantinya. Tapi mana? Sampai sekarang pun kamu belum memberikan uang itu," tukas Eva.
__ADS_1
"Berikan nomor rekeningnya Tuan Simon! Aku akan segera mentransfer uangnya," pinta Sandi.
"Aku tidak butuh uangmu. Aku ingin rumah ini sebagai penggantinya," sinis Simon.
"Anda jangan keterlaluan, Tuan! Aku bisa mengganti uang itu. Kenapa Anda menginginkan rumah ini?" tanya Sandi sewot.
"Karena aku tidak butuh uang dari bocah tengik seperti kamu. Sudahlah, sebaiknya cepat kamu bereskan barang-barangmu Thalia. Aku ingin besok rumah ini sudah kosong," ketus Simon.
Aku tidak menyangka ternyata Tuan Simon orangnya seperti ini. Pantas saja dulu ayah merasa ragu untuk menerima tawarannya. Ternyata ayah sudah bisa merasakan akan terjadi sesuatu yang tidak baik jika berhubungan dengan orang kaya ini, batin Thalia.
"Tuan, bisakah memberi waktu sampai besok?" tanya Thalia dengan suara yang bergetar.
"Baiklah! Aku beri waktu sampai besok. Kalau besok belum juga pergi, terpaksa aku membawa pengawal untuk memaksa kalian agar keluar dari sini secepatnya," ucap Tuan Simon seraya berlalu pergi dari rumah itu.
Kini yang tertinggal hanya Thalia, Sandi dan Eva di ruang tamu. Karena Tifani pergi bersama dengan pacarnya. Melihat Thalia yang tertunduk terus, Sandi pun angkat bicara.
"Sudah Tali, kamu nanti tinggal bersama aku saja. Kalau Tante belum ada tempat tinggal, nanti aku akan membantu Tante untuk mencarikannya."
"Tidak usah! Mungkin besok, aku akan keluar dari rumah ini belakangan. Kalian pergi duluan saja," ucap Eva kemudian berlalu pergi menuju ke kamarnya.
"Ayo kita ke kamar! Aku akan membantu kamu untuk packing barang-barang," ajak Sandi.
Thalia hanya mengikuti apa yang Sandi katakan, tanpa bicara sepatah kata pun. Dia terus saja menangis dalam hatinya dengan apa yang telah terjadi. Hanya dalam waktu singkat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Sesampainya di kamar, Thalia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Hati dan pikirannya yang lelah membuat matanya dengan cepat terpejam. Sementara Sandi mulai membereskan barang-barang gadis itu.
Setelah semuanya sudah beres dia packing, Sandi pun keluar kamar Thalia karena perutnya sudah mulai keroncongan. Namun, tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Eva yang sedang menelpon.
"Iya, nanti kita bebas melakukan apa saja. Tapi Mas janji ya mau menikahi aku."
"...."
"Iya gak apa! Asalkan uang bulanan dan jatah malam aku tercukupi."
"...."
__ADS_1
"Iya, aku pasti tutup mulut. Tenang saja."
Sandi hanya menggendikkan bahunya masa bodoh dengan siapa Eva berbicara. Dia pun melanjutkan langkah kakinya menuju warung tenda yang ada di persimpangan jalan dekat rumah Thalia.
"Mas, pecel ayam dua ya, dibungkus. Nasinya pake nasi uduk," pesan Sandi seraya duduk dikursi yang disediakan.
"Siap, Mas. Ditunggu ya!" sahut penjual pecel ayam.
Seraya menunggu penjual pecel ayam itu menyiapkan pesanannya, Sandi pun langsung menghubungi papanya. Setelah panggilan teleponnya tersambung, dia pun langsung berbicara.
"Hallo, Pah!"
"Iya, kenapa? Papa masih dijalan, belum sampai rumah."
"Pah, kenapa Papa tidak menemui si pebinor itu? Dia bikin ulah hingga ayah Thalia meninggal."
"Papa sudah menemuinya, tapi dia menolak kalau Papa yang membayarkan uangnya. Waktu papa mau ke rumah Thalia, mendadak ada telepon kalau ada masalah dengan kapal yang sedang berlayar menuju ke Jepang. Jadinya Papa langsung berangkat ke sana," jelas Morgan panjang lebar.
Ada rasa sesal di hatinya. Seandainya waktu itu dia menyempatkan diri ke rumah Thalia dan memberikan uang itu kepada ayahnya, mungkin saja Simon tidak berulah pada keluarga Thalia.
"Dia menginginkan rumah Thalia, Pah. Besok rumah itu harus dikosongkan."
"Keterlaluan sekali dia. Pasti dia mengharapkan hal lain makanya menolak saat Papa akan menggantikan uang mahar yang dia berikan."
"Ya sudah, Pah. Aku mau makan dulu."
"Baiklah! Jaga dirimu baik-baik! Kalau ada apa-apa cepat hubungi Papa atau Om Alvin," pesan Morgan sebelum akhirnya Sandi menutup teleponnya.
Setelah Sandi mendapatkan pesanan makanannya, dia pun bergegas kembali ke rumah Thalia. Sandi langsung masuk dan menuju ke kamar gadis itu. Perlahan dia membangun Thalia agar sahabatnya itu makan terlebih dahulu sebelum kembali tidur.
"Tali, ayo makan! Aku suapi ya!"
Thalia yang merasa terganggu tidurnya langsung membuka matanya. "Aku tidak lapar, kamu saja yang makan."
"Aku gak akan biarkan kamu tidur kalau belum makan. Kalau hati yang sakit, kenapa tubuh yang harus bertanggung jawab. Ayo duduk! Kita makan bersama."
__ADS_1
...~Bersambung~...