
Senyum mengembang tidak pernah suruh dari kedua sudut bibir Thalia. Dia merasa ada ribuan bunga yang bermekaran di hatinya. Entahlah, meskipun dia hanya berpisah satu hari dengan Sandi. Tetapi ibu hamil itu merasa sangat lama tidak bertemu dengan calon papa muda itu.
"Acie ... Ada yang lagi kangen-kangenan nih," goda Melati saat melihat Thalia bergelayut manja di lengan kekar Sandi.
"Jangan ngiri! Kamu tinggal ngikutin aja," ketus Sandi yang merasa terganggu dengan ucapan Melati. Dia takut nanti Thalia tidak mau bermanja-manja lagi sama dia. Padahal dia sangat suka jika gadis itu bermanja ria padanya.
"Huh! Dasar Sandal Tali. Gitu aja sewot," sungut Melati.
Raline hanya tersenyum melihat interaksi anak dan menantunya. Dia hanya menggelengkan kepala dengan sikap Sandi yang terkadang posesif pada Thalia. Terlihat jelas di penglihatannya kalau putranya tidak bisa jauh dari gadis itu.
"Ayo sini kita makan siang bersama! Mama sudah masak makanan kesukaan kamu," ajak Raline. "Ayam bakar madu, udang tempura, jamur krispi, sayur capcay, kentang goreng ati dan gulai kambing plus sambal dan lalapannya," lanjutnya.
"Banyak banget, Mah. Sayangnya papa mau makan apa?" tanya Sandi dengan mengelus perut buncit Thalia.
"Udang tempura sama sayur capcay aja. Tapi boleh deh ditambah ayam bakar sama kentang goreng atinya," jawab Thalia.
"Gulai sama jamurnya mau gak?" tawar Sandi.
"Boleh deh itu juga," jawab Thalia.
"Elah Tha bilang aja mau semuanya," ucap Melati dengan memutar bola matanya malas.
"Sambal sama lalap kan, gak ambil." Thalia langsung membela diri.
"Iya gak apa, Sayang. Kalian pasti kelaparan belum makan dari pagi, kan?" Raline langsung jadi penengah di antara menantunya.
"Iya, Mah!" sahut Thalia malu-malu.
Sandi yang tidak peduli dengan ucapan Melati, langsung mengambil nasi dan lauk yang diinginkan oleh istrinya. Dia pun langsung menyuapi Thalia dengan sesekali menyuapi dirinya sendiri. Benar-benar dua orang yang sedang dimabuk cinta itu tidak perduli dengan Raline dan Melati. Mereka dengan asyiknya makan saling menyuapi.
"Mama senang melihat keromantisan kalian. Semoga sampai rambut kalian sama-sama memutih, kalian masih bisa romantis seperti ini," ucap Raline sendu.
Dia jadi teringat saat dulu Morgan begitu memanjakan dia. Semua karena kesalahannya, sehingga semua kebahagiaan itu berubah jadi nestapa.
"Aamiin," Kompak Thalia dan Sandi.
"Mah, setelah makan kita mau ke kafe dulu. Tadi Agung menelpon katanya ada tamu yang mencari aku," ucap Sandi kemudian.
__ADS_1
"Kalian menginap saja lagi di sini," pinta Raline.
"Lain kali aja, Mah. Aku sekalian mau lihat-lihat rumah baru. Aku ingin saat anakku lahir, sudah ada rumah untuk tempat kami berteduh dan menghabiskan waktu hingga menua nanti," ucap Sandi.
"Ya sudah kalau begitu. Nak, jangan sungkan meminta bantuan sama Mama. Pasti Mama akan selalu ada untuk anak dan cucu Mama."
"Iya, Mah. Makasih sudah menjaga Tali."
"Sama aku enggak," celetuk Melati.
"Iya adik ipar yang bawel banget. Makasih udah jagain bidadari aku," sungut Sandi.
"Makasih, Mel. Kemarin rujaknya enak banget. Nanti kita bikin lagi ya!" ujar Thalia dengan senyum uang mengembang di kedua sudut bibirnya.
Apaan enak? Asam kecut begitu. Kalau aku gak sayang sama dia, ogah banget ikutan makan rujak, gerutu Melati dalam hati.
Namun, Melati menyembunyikan perasaannya dengan senyum samar. Dia tidak ingin Thalia merasa tersinggung. Kalau Sandi yang tersinggung, Melati sih masa bodoh.
Setelah mereka cukup berbasa-basi, Thalia dan Sandi pun memutuskan untuk segera ke kafenya. Mereka penasaran dengan tamu penting yang dikatakan oleh Gunawan. Namun, saat tiba di kafe ternyata orang yang menunggunya sudah pergi. Sandi pun segera mencari Gunawan, sedangkan Thalia menunggu di ruangannya.
"Memang siapa yang datang?" tanya Sandi.
"Tantra sama adiknya. Katanya ada hal yang belum kalian selesaikan," ucap Gunawan.
Sial! Ngapain mereka ke sini? Awas saja kalau sampai membuat Tali berpikiran yang tidak-tidak. Lebih baik nanti aku pulang ke rumah papa. Biar keamanan Tali terjaga. Aku tidak boleh mempertemukan mereka berdua, batin Sandi.
"Kalau nanti mereka mencari aku lagi, bilang saja aku tidak datang ke kafe. Gun, jangan sampai Tali bertemu dengan Tantra. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan," pesan Sandi.
"Memang ada masalah apa? Apa soal kafe kemarin?" tanya Gunawan berubah serius.
"Bukan soal itu, dia maksa aku buat nikahin adiknya."
"Apa? Kho bisa? Memang kamu apakan adiknya?" tanya Gunawan kaget.
"Adik siapa?" tanya Thalia yang baru saja datang dari ruangan Sandi.
"Itu, katanya Tantra main ke sini bawa adiknya," jelas Sandi.
__ADS_1
"Oh! Sahabat kamu yang suka sinis samaaku itu ya! Ya udah, kamu aja yang menemui dia. Aku malas bertemu dengannya." Thalia langsung brllau pergi menuju ke bagian dapur. Perutnya sudah terasa lapar, padahal tadi makan banyak di rumah mertuanya.
Sandi hanya melihat punggung Thalia hingga menghilang di balik pintu. Sebenarnya dia tidak mau orang lainn tahu soal Tantra yang meminta dia untuk menikahi adiknya, tetapi dia perlu waspada jika nanti terjadi hal yang tidak dia inginkan.
Sandi pun semakin mendekatkan duduknya pada Gunawan. Dia yakin laki-laki yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri bisa dipercaya. Dia pun menghela napas dalam sebelum berbicara.
"Sebenarnya Tantra meminta aku untuk menikahi adiknya," ucap Sandi pelan.
"Apa katamu?"
"Aku gak mengulang lagi, Tali sudah kembali. Aku harap Mas Gun bisa membantu aku mengatasi masalah ini. Aku benar-benar pusing menghadapi Tantra," jelas Sandi.
"Kamu tenang saja, aku akan selalu ada di pihakmu." Gunawan menepuk pundak Sandi untuk memberi laki-laki itu kekuatan.
Meskipun memang benar di antara mereka tidak ada ikatan darah, tetapi keduanya selalu bahu membahu setiap kali menhadapi masalah. Makanya Sandi tidak segan untuk menyerahkan urusan kafe pada Gunawan.
"Sandal, kita pulang yuk! Aku ingin mandi, badanku kho gerah sekali ya!" rengek Thalia.
"Ayo, kita mandi bersama lagi ya!" Sandi langsung merubah ekspresi seriusnya. Dia masih belum bisa menceritakan yang sebenarnya pada Thalia.
"Hehehe ... Cuma mandi kho Mas Gun!" Tanpa diminta Thalia menjelaskan sendiri pada Gunawan dengan cengengesan.
"Ngapa-ngapain juga gak apa kho. Kalian puas-puasin. Nanti kalau sudah punya anak pasti susah kalau ingin bermesraan. Kalian harus curi-curi kesempatan," ucap Gunawan yang memang sudah memiliki anak dan istri.
"Ya udah yuk kita pulang!" ajak Sandi dengan menggandeng tangan Thalia. Namun saat baru sampai pintu, matanya langsung melotot melihat Tantra yang baru saja turun dari mobil. Tanpa bicara lagi, dia langsung membopong Thalia dan membawanya keluar lewat pintu belakang.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan!...
...Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
...Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin karya keren yang satu ini....
__ADS_1