
Tangan yang penuh dengan paper bag ditambah dengan mulut yang terus mengomel, membuat Thalia tanpa sengaja menabrak seorang gadis cantik yang sedang berdiri di depan bioskop. Hingga gadis itu terhuyung hilang keseimbangan karena memakai high heels.
Untung saja Thalia segera menarik tangan gadis itu. Kalau sampai terlambat, bisa jadi gadis itu jatuh terduduk di lantai. Namun, ternyata gadis itu begitu marah karena sudah ditabrak oleh Thalia.
"Kamu gak punya mata ya! Main tabrak-tabrak orang saja. Hampir saja aku terjatuh," sentak gadis cantik yang bernama Irene.
"Maaf Irene, aku benar-benar tidak sengaja. Kebetulan kita bertemu di sini. Aku tadinya mau ke rumah kamu," ucap Thalia.
"Untuk apa kamu ke rumah aku? Memangnya aku mengundang kamu?" tanya Irene.
"Tentu saja tidak! Aku hanya ingin memberikan ini sebagai ucapan permintaan maaf dari Sandi kalau dia tidak bisa melanjutkan hubungan lagi dengan kamu," ucap Thalia dengan memberikan sebuah paper bag yang berisi tas limited edition.
"Apa kamu bilang? Sandi minta putus? Aku tidak terima permintaan putus dari dia sebelum mendengar langsung dari mulutnya. Tas-nya buat kamu saja." Irene langsung mengembalikan paper bag yang Thalia berikan.
"Kalau kamu ingin mendengar langsung dari dia, sebaiknya kamu datang saja ke kafe. Dia ada di sana kho. Aku pergi dulu ya!" Thalia langsung beranjak pergi meninggalkan Irene.
Dia masa bodoh pacarnya Sandi mau menerima hadiah perpisahan atau tidak. Yang penting baginya, dia sudah menjalankan tugas dengan baik. Urusan diterima atau ditolak, itu urusan mereka.
Thalia langsung menuju ke alamat rumah yang diberikan oleh Sandi. Supir taksi yang tahu alamat itu langsung memberikan kesan yang baik pada gadis itu. Membuat Thalia merasa senang menggunakan jasa taksi online.
Tidak butuh waktu lama, taksi yang ditumpangi oleh Thalia sudah sampai di sebuah perumahan elit. Thalia terus saja melihat ke luar jendela menikmati pemandangan rumah mewah yang berjejer di sepanjang jalan perumahan. Saat sampai di sebuah rumah yang terlihat megah, taksi yang Thalia pun langsung berhenti.
"Sesuai alamat, Mbak!" supir taksi itu mengingatkan Thalia yang masih terbengong.
"I-iya, Mas. Tunggu sebentar ya, nanti ke alamat yang lain."
"Baik, Mbak!"
Setelah Thalia memastikan kembali alamat yang dibawanya dengan yang tertera di pagar rumah megah itu, gadis itu pun langsung turun dan menekan bel yang ada di dekat pintu gerbang. Tak lama seorang pembantu rumah datang menghampirinya.
__ADS_1
"Mau bertemu dengan siapa, Neng?"
"Adeline-nya ada Bi? Saya temannya," tanya Thalia.
"Oh, ada. Baru saja pulang dari kampus. Ayo masuk!" ajak pembantu rumah Adeline.
"Makasih, Bi." Thalia pun tersenyum pada wanita paruh baya.
Kini dia sudah berada di ruang tamu bersama dengan Adeline. Setelah Thalia mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke sana, terlihat gadis itu meneteskan air matanya. Dia merasa terpukul dengan apa yang dikatakan oleh Thalia.
"Kakak, kenapa Sandi begitu tega mutusin aku? Padahal aku cinta banget sama dia. Apa sebenarnya kurang aku?" Adeline menangis sesenggukan
"Kamu cantik Adeline. Pasti akan sangat mudah mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Sandi. Lupakan Saadi ya, dia tidak baik untuk kamu!"
"Apa kakak mencintai Kak Sandi sampai menyuruh aku untuk melupakannya?"tanya Adeline di sela Isak tangisnya.
"Bukan seperti itu, tapi Saadi mencintai gadis lain. Akan percuma jika kita memaksakan perasaan kita pada seseorang. Jika orang itu sepenuh hati mencintai orang lain. Sabar ya!"
"Kamu gadis yang pintar. Kalau begitu, kakak permisi pulang dulu," pamit Thalia.
Thalia pun langsung kembali ke taksi untuk menuju ke rumah Clara. Setelah memberikan alamat rumah Clara pada supir taksi, dia pun menyenderkan kepalanya di kursi. Matanya terpejam mengingat-ingat sudah berapa gadis yang dia datangi untuk memutuskan hubungan Sandi dengan gadis itu.
Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu. Semakin ke sini aku semakin bingung dengan sikap kamu. Katanya kita hanya sahabat tapi kenapa kamu sering mencium aku, memeluk aku, membuat aku menjadi berharap sama kamu. Dasar Sandal playboy cap Kadal! batin Thalia.
Baru saja Thalia akan masuk ke dunia mimpi, mobil yang dia tumpangi sudah sampai di alamat yang dituju. Lagi-lagi gadis itu meminta supir untuk menunggunya. Setelah dia membunyikan bel, lalu disuruh masuk oleh sang pemilik rumah, barulah dia pun memasuki rumah mewah itu.
Terlihat banyak foto yang dipajang di ruang tamu rumah mewah itu. Thalia yang terpesona dengan interior rumah mewah itu, terus menelisik keadaan ruang tamu rumah Clara. Sampai akhirnya, tuan rumah datang menyapanya.
"Permisi, Kak. Ada apa mencari ku?" tanya Clara.
__ADS_1
"Eh maaf Clara! Aku terpesona dengan foto-foto yang dipajang di sini," sahut Thalia.
"Tidak apa, silakan duduk!"
Thalia pun langsung duduk setelah dipersilahkan oleh tuan rumah. Dia tersenyum hangat sebelum mengatakan maksud kedatangan. Setelah dia menghela napas pelan, barulah dia mengatakan kedatangannya.
"Sebelumnya Kakak minta maaf, sebenarnya Kakak ke sini karena disuruh oleh Sandi untuk mengantar ini sebagai ucapan perpisahan karena dia tidak bisa melanjutkan hubungannya dengan kamu," ucap Thalia sedikit gugup. Dia khawatir gadis yang ada di depannya seperti Adeline yang sampai menangis terisak-isak.
"Oh, Kak Sandi minta putus? Tidak masalah sih. Lagipula aku pacaran sama dia karena penasaran dari cerita teman. Ternyata enak juga ya Kak pacaran sama playboy. Sayang hanya sebentar. Awalnya kita diperlakukan seperti ratu tapi saat dia bosan dibuang seperti sampah."
Benar juga apa yang gadis itu katakan. Tapi syukurlah dia gak nangis. Malah terlihat senang gitu, batin Thalia.
"Kamu gak sedih diputuskan?" tanya Thalia penasaran.
"Sedih sih, tapi tidak terlalu. Oh ya kak, hadiahnya dibawa aja lagi. Bilang saja sebagai kompensasi dari aku karena sudah aku jadikan pacar uji coba," ucap Clara dengan tersenyum senang.
"Baiklah! Kalau begitu Kakak permisi ya! Masih ada kerjaan di kafe," pamit Thalia.
"Iya silakan, Kak! Salam saja untuk Kak Sandi," ucap Clara.
Setelah cukup berbasa-basi dengan Clara, Thalia langsung masuk ke dalam taksi yang sedari menunggunya. Dia langsung menyuruh supir menuju ke kafe tempat dia bekerja. Setelah sampai di kafe, gadis cantik itu langsung menuju ke ruangan Sandi dengan dua paper bag di tangannya.
"Loh tumben ruangannya kosong. Orangnya pergi ke mana?" gumam Thalia celingukan.
Dia langsung mendudukkan bokongnya di sofa. Rasa lelah karena telah berkeliling memutuskan gadis-gadis itu, Membuat Thalia merebahkan badannya di sofa. Tak lama kemudian, Sandi datang dengan nampan di tangannya. Dia sengaja menyiapkan sendiri minuman dan makanan untuk sahabatnya, saat tadi melihat Thalia sudah tiba di depan pintu kafe.
"Apa begitu melelahkan? Atau kamu butuh pijatan?"
"Aku hanya butuh kamu berhenti jadi playboy."
__ADS_1
...~Bersambung~...