
Semakin hari Sandi dan Thalia semakin kompak. Mereka seperti lem glukol dengan kertas. Jika dekatkan sedikit saja langsung menempel erat. Sampai-sampai jika dipaksa untuk dilepaskan kembali, bukannya lepas tetapi kertasnya menjadi sobek.
Apalagi, kini usia kandungan Thalia sudah memasuki bulan ke tujuh. Membuat papa muda itu semakin ketat menjaga istrinya. Bahkan Thalia ikut ke kafe hanya untuk numpang makan dan tidur karena Sandi tidak mengijinkan istrinya membantu karyawan lagi.
Seperti hari ini, saat keduanya sedang membuat anggaran biaya kafenya, tiba-tiba saja Thalia menghentikan pekerjaannya karena merasa kakinya terasa sangat pegal menggantung ke bawah. Dia pun segera melipat kakinya di atas kursi yang empuk.
"Kenapa, apa kakinya pegal?" tanya Sandi yang sudah paham dengan gelagat istrinya. Karena hampir setiap malam Thalia meminta dia untuk memijat kaki ibu hamil itu.
"Iya, sepertinya kaki aku bengkak. Lihat gede banget!"
"Ayo selunjurin kakinya. Nanti aku kasih krim pereda pegal-pegal baru aku pijat," suruh Sandi.
"Ini nanggung Sandal, sebentar lagi kelar."
Sandi yang tidak ingin berdebat hanya mengikuti apa yang Thalia katakan. Dia hanya terus mengawasi ibu hamil itu yang semakin gelisah. Sampai akhirnya, Thalia benar-benar sudah tidak bisa menahan rasa pegalnya.
"Sandal ayo, katanya mau pijitin aku," rengek Thalia.
"Aku juga bilang apa? Sebentar aku ambilkan krimnya dulu." Sandi langsung bangun dari duduknya.
Dia bergegas menuju ke kotak obat dan mengambil krim yang dimaksud. Setelah mendapatkannya, dia kembali menghampiri Thalia dan menyimpan kedua kaki ibu hamil itu di atas pahanya.
Calon papa muda itu begitu telaten memijat kaki istrinya. Thalia hanya memejamkan matanya tanpa bersuara. Pijatan Sandi memang terasa sangat pas, membuat rasa pegal itu sedikit demi sedikit berkurang.
Saking lelahnya, dia sampai tertidur. Makasih, Tali selalu menemani hari-hari aku. Semoga kelahiran anak kita menjadi pelengkap kebahagiaan kita, aamiin.
Tidak ada bosannya, Sandi menatap wajah cantik istri. Dari saat wajah itu terlihat berantakan saat bangun tidur. Sampai saat terlihat begitu cantik setelah make-up. Tapi entah kenapa, justru Sandi sangat suka saat melihat wajah tidak berdaya Thalia dibawah kungkungan-nya.
Dirasa Thalia sudah benar-benar terlelap tidur, Sandi pun menghentikan pijatannya. Perlahan dia menyimpan kaki Thalia di atas sofa. Lalu dia pun bangun karena akan memindahkan istrinya ke tempat tidur yang ada di ruangan terpisah. Sebuah ruangan kecil yang hanya berukuran 3x3 meter. Namun terlihat sangat nyaman dengan ranjang Queen size di dalamnya. Tidak ketinggalan lemari laci untuk menyimpan berkas-berkas penting.
Sandi kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya, setelah dia memastikan istrinya tidur dengan nyaman. Dia begitu serius membuat anggaran belanja kafe, sampai suara ponselnya berbunyi tidak disadari.
Namun, setelah beberapa kali panggilan itu masuk, barulah dia menyadari kalau orang kepercayaannya yang memegang kafe di pulau Dewata, ternyata menghubunginya.
__ADS_1
"Ada apa Tantra menghubungi aku?" gumamnya.
Dia pun segera menggulir tombol hijau si ponselnya. Setelah tersambung, dia pun mengklik tombol speaker agar tidak usah ditempelkan di telinganya.
"Halo, Tantra. Apa ada yang penting?" tanya Sandi memulai pembicaraan.
"Gawat Bro! Kafe kita kemasukan rampok, omset selama sebulan yang aku simpan di brangkas ludes."
"Apa katamu? Kapan kejadiannya?"
"Sepertinya tadi malam. Aku siang ini mau setor ke bank tapi ternyata uangnya sudah gak ada."
"Sudah lapor polisi?"
"Itu-itu belum sempat. Aku langsung menghubungi kamu."
"Oh, begitu. Baiklah, aku akan segera ke sana."
Klik
Sandi langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia beranjak dari duduknya dan segera menghampiri istrinya yang tertidur. Ditatapnya lekat wajah cantik Thalia. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri ke pulau Dewata.
Sebenarnya aku berat meninggalkan kamu, tapi rasanya tidak mungkin jika aku harus mengajak kamu. Aku khawatir dengan keadaan anak kita. Lebih baik aku telpon Melati dan menitipkan Tali ke mama, agar ada temannya.
Sandi segera menelpon Melati agar datang ke kafenya. Tidak lupa dia memesan tiket dengan penerbang tercepat. Entahlah, pikirannya kacau saat mengingat Kafenya kebobolan.
Apa mungkin ini penyebabnya setiap bulan uang yang disetor selalu kurang dari laporan keuangan, batin Sandi.
Tidak berapa lama kemudian, Melati datang bersama dengan Raline. Kedua wanita cantik itu berencana untuk membawa Thalia membeli keperluan bayi. Karena Raline yakin kalau Sandi belum menyiapkan barang-barang untuk keperluan anaknya.
"Sandi, Thalia dimana?" tanya Melati celingukan mencari keberadaan sahabatnya.
"Dia sedang tidur di kamar. Aku langsung berangkat ya! Pesawat ku satu jam yang akan datang," pamit Sandi.
__ADS_1
"Hati-hati ya, Nak!" pesan Raline saat Sandi mencium punggung tangan wanita itu.
"Iya, Mah!" sahut Sandi.
Selepas kepergian Sandi, Melati dan Raline pun duduk di sofa empuk yang ada di ruangan itu. Melati menyalakan televisi yang ada di ruangan Sandi untuk mengusir kejenuhan.
Sementara jauh dari kafe, Sandi sedang berkemas di apartemennya. Dia hanya membawa baju seperlunya. Karena kurang dari satu jam pesawat yang akan dia tumpangi landing.
"Doakan aku Tali, agar masalah di sana cepat selesai," gumam Sandi seraya menatap Foto Thalia yang ada di dalam dompetnya
Dia pun langsung bergegas saat sudah tiba di bandara. Setelah boarding pass, Sandi segera menuju ke pesawat dengan setengah berlari karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.
"Untung saja masih bisa ngejar. Kalau ketinggalan, aku bisa delay." Sandi bicara sendiri saat sudah menempati kursi.
"Permisi, saya duduk di sebelah Anda." terdengar suara seorang wanita cantik menyapa Sandi yang sudah memejamkan matanya dengan headset yang menutup kedua telinganya.
Perlahan dia pun membuka matanya kembali, saat terlihat seorang gadis cantik berdiri di samping kursinya, Sandi pun bertanya pada gadis itu, "Ada apa?"
"Saya duduk di sebelah, Anda." Gadis cantik itu langsung menyahut pertanyaan Sandi.
"Oh!" Sandi langsung menggeser kakinya dan mempersilakan gadis itu untuk melewatinya.
"Hey, kenalkan aku Amora!" ujar Gadis itu berinisiatif memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Oh, iya!" sahut Sandi singkat dengan memasang kembali earphone di telinganya.
"Hey, siapa nama kamu? Kenapa kamu tidak mau memperkenalkan diri?" Amora langsung membuka kembali earphone yang sudah Sandi pasang di telinganya.
"Aku Sandi. Tolong jangan mengganggu aku!" Dia pun kembali memasangkan kembali earphone ke telinganya.
Tentu saja hal itu membuat Amora merasa tidak dianggap. Padahal banyak orang yang mengelu-elukan namanya dan ingin dekat dengannya. Apalagi, dia seorang putri artis ternama tanah air. Membuat kepercayaan diri Amora berada di titik atas.
Sombong banget dia, awas saja akan aku buat kamu cinta sama aku, batin Amora
__ADS_1