Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 50 Akhirnya Menemukanmu


__ADS_3

Jantung Sandi memompa darah lebih cepat dari biasanya. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk cepat-cepat bertemu dengan Thalia. Namun, angannya terasa dihempaskan ke dasar jurang saat dia melihat, yang datang menemui mereka seorang pria dewasa seusia papanya.


Pria tampan itu tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka. Lalu mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan, seraya menyapa tamu yang datang berkunjung ke rumahnya.


"Komandan Barra, apa kabar? Bukankah Anda Tuan Morgan?" tanya Tuan Kendra.


"Iya, Tuan Kendra! Maaf jika kedatangan saya ke mari mengganggu Anda," sahut Tuan Morgan.


"Tentu tidak! Silakan duduk kembali," sahut Tuan Kendra.


"Begini, Tuan." Komandan Barra tidak melanjutkan ucapannya saat Tuan Kendra langsung memotongnya.


"Panggil Abang saja, biar kita lebih akrab," potong Tuan Kendra.


"Iya, Bang. Sebenarnya kami ke mari karena mencari istri putranya Tuan Morgan yang bernama Thalia. Menurut informan aku, dia ada di sini," jelas Komandan Barra.


"Apa mungkin yang dibawa Elgar ya? Mereka ada di taman belakang. Ayo kita ke sana saja, kebetulan semalam papa mertua menginap di sini."


Mereka pun berpindah ke taman belakang rumah Kendra. Benar saja, di sana nampak keluarganya sedang berkumpul. Sepertinya mereka sedang bersenda gurau menggoda Elgar yang menjadi sasaran empuk opa-nya


Lagi-lagi jantung Sandi berdebar dengan kencang saat melihat Thalia yang sedang duduk bersama dengan seorang wanita cantik. Dia langsung menghentikan kursi rodanya. Entah mendapat kekuatan dari mana, Sandi langsung berdiri dan berjalan cepat menuju ke arah Thalia.


Sementara gadis itu yang merasa kaget dengan kedatangan Sandi yang berjalan ke arahnya, langsung berdiri dan diam mematung di tempatnya. Matanya berkaca-kaca melihat Sandi kini sudah bisa berjalan kembali.


"Tali!"


"Sandal!"


Semua mata memandang ke arah dua insan yang saling memburu untuk melepaskan kerinduannya. Keduanya langsung berpelukan seolah tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang ada di sana. Sampai akhirnya ada suara yang memecahkan keharuan.


"Yah, baru saja jatuh cinta sudah terpotek-potek," celetuk Orion yang kebetulan ikut sarapan di sana. Sebenarnya laki-laki itu ikut sarapan di sana karena penasaran dengan gadis yang diceritakan oleh Elgar padanya.


"Ion ...." tegur Allana pelan.


"Maaf, Tan!"


Mendengar ucapan Orion, Sandi pun melepaskan pelukannya. Dia tersenyum dengan wajah yang berbinar melihat keadaan istrinya yang baik-baik saja. Sandi dan Thalia pun melihat ke sekeliling, ternyata semua orang sedang terbengong melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Nyonya. Atas ketidaksopanan saya," ucap Sandi dengan sedikit membungkukkan badannya. "Saya terlalu bahagia saat melihat Tali lagi," lanjutnya.


"Sebentar sebentar, memang nama kalian Tali Sandal?" tanya Opa Andrea menginterupsi.


"Itu panggilan sayang kami, Opa." Sandi langsung menjawab pertanyaan Opa Andrea.


"Apa dia istrimu?" tanya Opa Andrea lagi.


"Iya, Opa."


"Sangat disayangkan, padahal aku suka dengan gadis itu. Tadinya mau aku jodohkan dengan cucuku yang masih jomblo."


"Maksud Opa?" tanya Sandi kaget.


"Aku pikir, gadis itu hamil karena kesalahan cucuku Elgar. Makanya aku berniat untuk menikahkan mereka."


"Opa ...."


"Papa ...."


Anak dan cucunya langsung memanggilnya. Mereka merasa tidak enak hati dengan apa yang dikatakan oleh kakek gaul itu. Sementara Tuan Morgan hanya mengulum senyum melihat yang terjadi di sana. Dia ingin tahu apa yang akan Sandi katakan.


"Duduklah dulu! Thalia ajak suaminya duduk di sini. Tuan Morgan, Komandan Barra, silakan duduk dulu," ucap Allana langsung menengahi.


"Terima kasih, Nyonya!" sahut Sandi langsung mengikuti tarikan tangan Thalia yang mengajaknya untuk duduk di dekat Allana.


"Sebelumnya, saya minta maaf atas kejadian yang menimpa Thalia sehingga dia harus berada di sini. Keponakan saya tidak sengaja hampir menabrak Thalia. Tapi untungnya, tidak sampai tertabrak. Hanya tersentuh mobil sedikit," ucap Allana. "Begitu 'kan, Elgar?"


"Iya, maaf Sandi, aku tidak tahu kalau dia istrimu. Dia berjalan begitu saja saat aku sedang mengebut karena memburu waktu mau bertemu dengan klien," ucap Elgar.


Ya Tuhan! Jangan sampai Sandi tahu kalau aku sempat mencium istrinya. Kenapa aku sampai tidak tahu kalau Thalia istrinya? Padahal aku kenal dengan pacar-pacarnya karena sering bermain bersama di klub, batin Elgar.


"Iya, Bang. Asal Tali baik-baik saja, aku tidak apa-apa." Sandi tersenyum hangat pada Elgar. "Kenapa nyebrang jalan gak lihat-lihat?" tanyanya dengan menjawil hidung Thalia.


"Oh iya, satu hal lagi. Sebaiknya sepulang dari sini langsung ke rumah sakit untuk bertemu dengan dokter kandungan. Menurut perkiraan saya, Thalia sedang hamil muda. Semoga saja prediksi saya tidak salah." Allana melirik ke arah Thalia. "Tadi dua garis kan pas habis di cek?"


"Iya, Nyonya!" sahut Thalia.

__ADS_1


"Apa? Hamil? Berarti aku akan jadi Papa," Mata Sandi langsung berkaca-kaca. Begitu banyak anugerah yang dia dapatkan hari ini. Bertemu kembali dengan istrinya, kakinya kini bisa berjalan kembali dan juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Dia terus bersyukur dalam hatinya dengan semua anugerah yang didapatkannya.


"Terima kasih Tuan, Nyonya. Kalau begitu saya permisi mau langsung ke rumah sakit," ucap Sandi dengan tidak sabaran.


"Tuan Andrea, Nyonya Mitha, Tuan Kendra dan Nyonya Allana, terima kasih untuk semuanya. Maaf kami telah merepotkan! Saya pamit dulu," timpal Tuan Morgan.


"Iya Tuan Morgan sama-sama," ucap Andrea dan yang lainnya.


"Ai, kenapa kita gak disebut? Padahal kita juga ada di sini," bisik Elgar.


"Mungkin kita makhluk tak kasat mata," jawab Aigner pelan


...***...


Di sinilah sekarang Sandi dan Thalia. Setelah tadi periksa ke dokter kandungan dan dinyatakan kalau Thalia hamil empat minggu. Mereka memutuskan untuk mampir ke taman kota dan menikmati jajanan di pinggir jalan. Seperti yang biasa mereka lakukan saat sekolah dulu.


"Tali, besok kita bikin kejutan yuk buat Camelia!" ajak Sandi seraya memakan cilok Abah Atik seperti yang tertulis di gerobak penjual cilok itu.


"Kejutan? Bukankah besok kamu menikah dengan dia?" tanya Thalia heran.


"Dia sudah membatalkannya, saat kamu hilang."


"Syukurlah, akhirnya aku tidak jadi dimadu." Thalia langsung memeluk Sandi. Membuat pemuda tersedak cilok yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya.


Uhuk uhuk ....


Thalia langsung melepaskan pelukannya. Dia segera memberikan minum pada Sandi. Pemuda itu pun langsung meminumnya hingga tandas.


"Maaf, aku tidak sengaja!" sesal Thalia.


"Tidak apa, kamu pasti senang. Aku lebih senang lagi, karena tidak akan ada lagi yang mengganggu kita."


"Iya, Tuhan sangat baik sama kita ya, Sandal. Sebentar lagi kita akan jadi orang tua. Semoga bayi yang ada dalam kandungan sehat dan jadi anak yang sholeh sholehah."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2