
"Sandal, ada apa sih?" tanya Thalia kaget saat Sandi langsung menggendongnya.
"Hush! Jangan banyak bicara! Nanti aku cerita, sekarang kamu diam saja dulu!" suruh Sandi.
Dia terus saja berjalan menjauh dari kafenya. Sampai akhirnya tiba di jalan tikus yang akan menuju ke jalan raya, barulah dia menurunkan Thalia. Sandi khawatir kepalanya istrinya akan kepentok tembok gedung di sisi kanan dan kiri jalan tikus itu.
"Jalannya sudah kelihatan, aku pesan taksi dulu ya!" ucap Sandi setelah dia menurunkan Thalia.
"Ya sudah! Lagian kamu kenapa sih? Kaya orang digrebek satpol PP," tanya Thalia.
Aku jadi bingung dengan pertanyaan Tali. Dia pasti akan terus bertanya kalau belum mendapatkan jawaban yang menurutnya masuk diakal. Kenapa susah sekali aku berbohong sama dia. Sepertinya lebih baik aku jujur, batin Sandi.
"Tuh kan! Ditanya malah bengong, pasti kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Hayo ngaku!" todong Thalia.
"Bukan menyembunyikan, tapi aku belum sempat bicara sama kamu. Aku sudah bilang, nanti di rumah baru aku cerita," elak Sandi.
"Kayaknya penting banget. Sampai kamu tidak mau mengatakannya sambil jalan. Ya udah deh, aku mau makan es krim aja. Males ngomong dengan orang yang gak bisa jujur," ketus Thalia.
Dia berjalan mendahului. Namun, secepat kilat, Sandi menyusulnya dan merangkul pundak ibu hamil yang sensitif itu. Tanpa permisi, Sandi pun langsung mencium pipi Thalia sekilas.
"Bukan tidak mau jujur, tapi aku belum punya waktu yang pas untuk bicara. Apapun yang aku alami bukankah selalu aku katakan padamu?"
"Aku gak mau, kamu menyembunyikan hal besar dariku. Apalagi, kalau kamu diam-diam berjuang sendiri tanpa aku yang mendampingi," ucap Thalia sendu.
"Makasih Sayang, kamu begitu mengkhawatirkan aku. Tapi tenang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja." Sandi mencubit pipi Thalia yang sudah seperti bakpao.
"Sandal ikh, nyebelin! Kenapa cubit pipi aku? Nanti kalau semakin mengembung gimana? Muka aku bisa jadi pipi semua," gerutu Thalia.
__ADS_1
"Iya, enggak. Abisnya gemas lihat pipi kamu chubby banget. Sudah sini, aku balikin biar hak mengembung!" Sandi menghentikan langkahnya, begitupun dengan Thalia. Dengan sedikit membungkukkan badannya, dia mencium pipi kedua itu hamil. Tidak ketinggalan bibir ranum yang mampu meruntuhkan imannya, dia kecup dengan singkat.
"Woy! Kalian jangan mesumm di jalan gang! Dasar anak jaman sekarang suka tidak tahu tempat, cium-ciuman di mana saja," teriak bapak-bapak petugas sampah.
"Maaf, Pak istri saya sedang merajuk, tidak mau jalan kalau tidak dicium dulu," elak Sandi dengan balas berteriak.
Mendengar apa yang Sandi katakan, Thalia langsung saja mencubit perut suaminya. Dia gemas karena di jadikan kambing hitam. Enak saja bilang dia yang minta dicium.
"Aww ... Tali cubitnya nanti saja kalau udah di rumah," protes Sandi. "Ayo taksinya udah nunggu!"
...***...
Sementara di kafe Tantra dan Tantri sedang berbicara dengan Gunawan. Laki-laki itu merasa tidak percaya saat Gunawan bilang kalau Sandi sudah pulang dari tadi, karena tidak mendapati Tantra di kafe. Kedua kakak beradik itu terus saja mendesak Gunawan untuk mengatakan di mana mereka tinggal.
"Gun, kamu jangan coba-coba membohongi aku! Aku yakin kalau kamu tahu di mana Sandi sekarang," desak Tantra.
"Aku barusan dari sana tapi tidak ada orang yang membukakan pintu. Kata tetangga depan, Sandi sudah jarang pulang ke situ. Aku ingin tahu, di mana rumah dia."
"Aku tidak tahu. Aku belum pernah berkunjung ke rumahnya. Kamu tahu sendiri, orang tuanya pun kita tidak tahu. Selama ini kita hanya mengenal dia sendirian di kota ini jauh dari orang tuanya." Tidak sepenuhnya bohong Gunawan berbicara seperti itu. Memang awalnya dia tidak tahu siapa Sandi sebenarnya, tetapi kecelakaan itu membuat dia tahu identitas asli sahabat sekaligus bosnya.
"Sudahlah, aku kembali ke hotel. Aku ke sini, selain ingin bertemu dengan Sandi, aku juga akan membawa adikku berobat. Aku dengar, ada seorang pengusaha sukses yang bisa membuat sebuah formula yang bisa menyembuhkan penyakit yang langka dan tidak ada obatnya di dunia kedokteran. Tapi untuk bertemu dengan dia katanya sangat sulit. Karena dia menutup akses pribadinya ke publik," beber Tantra.
Apa benar apa yang dikatakannya. Aku takut itu hanya akal-akalan dia, batin Gunawan.
"Semoga kamu segera menemukannya, maaf aku tidak bisa membantu," sesal Gunawan.
"Kakak, kenapa kita tidak di sini saja sampai besok. Mungkin Kak Sandi besok kembali ke sini," celetuk Tantri.
__ADS_1
"Tidak mungkin, dek. Astaga Tantri, ruamnya ke luar lagi. Ayo kita ke rumah sakit yang direkomendasikan dokter itu!" Tantra langsung panik saat melihat ruam berwarna merah yang berbentuk kupu-kupu di wajah Tantri.
Tanpa bicara lagi pada Gunawan, dia pun langsung membawa adiknya menuju rumah sakit internasional tujuan awal dia datang ke ibu kota. Namun, selain untuk itu, sebenarnya dia juga ingin mendesak Sandi agar mau menikah dengan Tantri. Menurutnya, mungkin saja Sandi akan iba jika melihat bagaimana Tantri saat sedang kambuh.
Namun, ternyata usahanya belum membuahkan hasil. Dia tidak bisa bertemu dengan sahabatnya itu. Meskipun sebenarnya dia tahu kalau apa yang dilakukannya bisa saja merusak persahabatan dia dengan Sandi, tetapi Tantra lebih menyayangi adiknya dari apapun.
Sementara itu, setelah kepergian Tantra dari kafe, Gunawan segera menghubungi Sandi. Dia langsung bicara saat panggilan teleponnya diangkat. Tanpa peduli Sandi sedang apa di seberang sana.
"Hallo Sandi! Tantra udah pulang, tadi penyakit adiknya kambuh makanya dia langsung bergegas ke rumah sakit. Dia bilang mau bertemu dengan pengusaha sukses yang bisa menyembuhkan adiknya. Tapi aku merasa kurang percaya kalau dia ke sini bukan untuk memaksa kamu menikahi adiknya. Sebaiknya kamu tetap bersembunyi. Jangan sampai dia menggunakan sakit adiknya untuk menekan kamu."
"Hallo, Mas Gun, ini Thalia. Tadi Mas Gun bilang apa? Tantra menyuruh Sandal untuk menikahi adiknya? Kenapa Sandal tidak bilang sama aku?" tanya Thalia di seberang sana. Dadanya terasa sesak mendengar apa yang dikatakan Gunawan.
Jadi ini sebabnya Sandal disuruh ke sana dan tadi dia seperti orang yang ketakutan hingga membawa aku pulang lewat pintu belakang, batin Thalia.
"Eh, Thalia. Sandinya ke mana? Maaf Mas Gun kira yang angkat telepon Sandi." Terdengar suara laki-laki itu yang kikuk. Dia tidak menyangka kalau Thalia yang angkat telepon. Sudah pasti Sandi akan marah besar karena tanpa sengaja membocorkan rahasianya.
"Sayang siapa yang menelpon aku?" Terdengar samar-samar suara Sandi di seberang sana.
Gawat! Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku bodoh banget. Langsung bicara saja tanpa tahu siapa lawan bicaraku, batin Gunawan.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan masukin ke favorite....
...Terima kasih....
...Sambil nunggu Playboy update, yuk kepoin juga karya teman othor beberapa yang keren ini....
__ADS_1