
Menghadapi malam yang belum pernah dia lewati sebelumnya, membuat jantung Melati berdegup lebih kencang dari biasanya. Apalagi, dia hanya berdua dengan Jojo. Berbalut kemeja putih milik pemuda tampan itu.
Kedua anak muda itu duduk saling berjauhan. Dari ujung sofa ke ujung sofa. Meskipun malam ini sudah direncanakan oleh Jojo, tetapi dia nampak kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya. Ditambah lagi, Melati mendadak menjadi seorang pendiam, tidak seperti biasanya.
"Mel ...," panggil Jojo memecah kesunyian.
"Eh, iya Idola. Ada apa?"
"Apa kamu gugup?"
"Hehehe ... Sedikit."
"Aku akan menutup mata. Kamu bebas melakukan apapun yang ingin kamu lakukan padaku. Aku ingin tahu, bagaimana reaksi tubuhku mendapatkan sentuhan dari kamu."
"Apa Idola punya dasi?"
"Ada, sebentar aku ambilkan." Jojo langsung bangun dari duduknya untuk mengambil dasi. Setelah dia mendapatkannya, dia pun segera memberikannya pada Melati. "Untuk apa?" tanyanya kemudian.
Melati tidak menjawab pertanyaan Jojo, dia hanya mengambil dasi itu lalu mendekati Jojo. Perlahan Melati pun menutup mata Jojo dengan dasi itu. Setelah terpasang menutup mata pemuda tampan itu, Melati langsung duduk di samping Jojo.
"Idola, apa Idola pernah menyukai seorang gadis?" tanya Melati.
"Tidak. Aku selalu merasa risih jika dekat
dengan mereka."
"Idola, aku hanya membantu sedikit. Karena pengaruh yang paling besar dari perubahan Idola itu ya diri Idola sendiri. Seberapa kuat keinginan Idola untuk sembuh dan hidup normal," ucap Melati.
"Kamu benar, aku hanya ingin kamu membantu aku sebisa kamu."
"Baiklah, Idola jangan protes ya dengan apa yang aku lakukan."
"Iya, tidak akan!" tegas Jojo.
__ADS_1
Awalnya Melati menyentuh tangan Jojo. Dia menggenggam tangan itu lalu menciumnya. Merasa Jojo hanya diam saja, Melati pun perlahan menyentuh dada lelaki itu. Ada geleyar aneh yang Jojo rasakan. Dia merasa nadi-nadinya seperti tersengat listrik. Dia hanya diam menahan semuanya. Sampai saat Melati tidak sengaja menyentuh titik sensitif Jojo, laki-laki itu langsung mencekal tangan Melati.
Dia menarik Melati agar duduk di pangkuannya. Dengan napas yang sudah memburu, dia berbicara pada Melati, "Mel, coba cium aku!" pintanya.
Perlahan Melati mendekatkan wajahnya. Tercium aroma napas Jojo di indera penciumannya. Dia pun memiringkan wajahnya dan mulai mengecup bibir sensual laki-laki yang selalu dia idolakan. Perlahan mereka saling memagut sampai ritmenya menjadi bertambah cepat saat keduanya sudah sama-sama terbakar gairah. HIngga pasokan oksigen sudah mulai menipis, barulah mereka saling melepaskan pagutannya.
"Terima kasih! Aku yakin, nanti pasti bisa melakukannya meski tidak memakai penutup mata."
"Idola. Kamu harus betanggung jawab karena sudah mengambil ciuman pertamaku. Aku tidak mau tahu, kamu harus segera menikahi aku," ucap Melati dengan tidak tahu malunya.
Jojo tidak menjawab ucapan Melati. Dia hanya membuka dasi yang menutup matanya. Kini dia bisa melihat jelas ekspresi Melati yang masih duduk di pangkuannya.
"Aku akan bertangung jawab. Tapi sebentar," ucap Jojo dengan menurunkan Melati dan berlari ke kamar mandi. Rupanya rasa mualnya belum bisa hilang saat dia melihat Melati begitu dekat dengannya.
Masa iya setiap kali mau ciuman harus tutup mata terus. Lalu bagaimana nanti kalau udah nikah? Apa dia bisa membuahi ovarium kalau seperti itu terus, batin Melati.
...***...
Jauh dari rumah Jojo, nampak sepasang muda-mudi sedang menikmati malam yang bertabur bintang dengan saling bergenggaman tangan. Thalia dan Sandi begitu menikmati kebersamaan mereka di balkon kamar Sandi.
"Tidak usah Tali, kamu cukup selalu di sampingku. Urusan kafe sudah di pegang oleh Gun. Begitupun dengan kafe cabang, mereka mengelolanya dengan baik."
"Ya sudah," tukas Thalia.
"Jangan cemberut dong! Kalau aku sudah sembuh, kita liburan yuk! Buat ganti acara liburan kemarin ke Ausy. Kamu tentuin aja pengen liburan ke mana, aku pasti ikuti."
"Baiklah, aku pikir-pikir dulu. Karena banyak tempat yang ingin aku kunjungi."
"Sudah dingin, masuk yuk! Kamu tidur saja bersamaku, aku kan tidak akan bisa ngapa-ngapain kamu."
"Ya sudah deh kalau hanya tidur."
Thalia langsung mendorong kursi roda dan membawa Sandi masuk ke kamar. Perlahan dia pun membantu Sandi pindah ke tempat tidur. Meskipun kesusahan, tetapi mereka bisa melakukannya dengan baik.
__ADS_1
"Tali, apapun yang terjadi, tetaplah di sampingku. Aku tidak ingin sedikit pun jauh dari kamu. Hanya kamu, alasan aku untuk bisa bangkit dari keterpurukan karena perceraian orang tuaku."
Sandi mengelus pelan rambut Thalia yang ada dalam dekapannya. Meskipun penyangga di leher dan kaki kirinya belum di lepas, tetapi kedua tanganya masih bisa bergerak bebas.
Merasa tidak ada jawaban dari Thalia, Sandi berusaha untuk melihat wajah gadis itu. Ternyata Thalia langsung tertidur saat berada dalam dekapannya. Dia pun hanya tersenyum sebelum akhirnya menyusul Thalia ke alam mimpi.
Keesokan harinya, saat sinar mentari menelusup masuk lewat celah jendela, Sandi pun membuka matanya perlahan. Dia berkali-kali mengerjapkan matanya merasa silau dengan cahaya matahari. Sebelah tangannya mencari keberadaan Thalia. Namun, sepertinya gadis itu sudah bangun lebih awal darinya.
"TALI, TALI!" teriak Sandi.
Thalia yang sedang membersihkan dirinya langsung terkaget mendengar teriakan Sandi. Dia khawatir pemuda itu terjatuh dari tempat tidur. Secepatnya dia membilas tubuhnya lalu mengambil handuk untuk menutup tubuhnya.
Thalia pun segera berlari menghampiri pemuda itu. Namun, langkah kakinya langsung tertahan saat melihat pemuda itu baik-baik saja di atas tempat tidur. Dia mengatur napasnya terelbih dahulu sebelum berbicara dengan Sandi.
"Sandal, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Thalia dengan jarak tiga meter dari tempat tidur.
"Tali kamu dari ...." Sandi tidak melanjutkan ucapannya. Matanya langsung melotot sempurna melihat penampilan Thalia yang hanya memakai handuk dengan rambut basah yang tergerai indah. Apalagi tetesan air jatuh ke daerah bukit indah gadis itu.
"Hey! Messum jangan melotot! Tutup mata kamu!" sentak Thalia seraya berlari menuju ke arah lemari baju yang mejadi penghalang antara tempat tidur dengan kamar mandi.
"Tali kembali! AKu belum jelas melihatnya. Hahaha ...." Meskipun kakinya terasa linu tetapi dia mengalihkan rasa sakitnya dengan selalu ceria dan menggoda kekasih hatinya.
"Sandal Omesh! Awas saja kalau kamu bilang ke orang-orang," ancam Thalia.
"Untuk apa aku cerita ke orang lain, mending aku nikmati sendiri."
Thalia yang sudah berpakaian lengkap, langsung menghampiri Sandi. Ingin sekali dia menyentil jidat lelaki itu, tetapi Thalia tidak tega jika harus menambah rasa sakit sahabatnya.
"Sandal, kenapa kamu semakin hari semakin tidak bisa dikondisikan omeshnya?"
"Karena setiap hari kamu selalu menggoda aku. Membuat aku tidak bisa mengontrol diri jika dekat dengan kamu."
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, gift, rate, dan favorite....
...Terima kasih....