Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 19 Pulang


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Gunawan terus saja mengintip bosnya lewat kaca mobil. Dia sangat penasaran dengan hubungan dua anak muda yang duduk di belakangnya. Apalagi saat mengingat kejadian tadi di rumah sakit, membuat Gunawan terus saja memikirkannya.


"Gun, fokus nyetirnya! Jangan lihatin aku terus, aku memnag ganteng tapi aku gak doyan cowok meskipun kamu cukup manis," ucap Sandi cuek.


"Ma-maaf, Bos! Aku hanya khawatir kondisi bos," elak Gunawan.


"Sudah cepat nyetirnya! Sudah ditunggu orang yang mau booking kafe," suruh Sandi.


"Iya, Bos!" sahut Gunawan.


Thalia yang sedang melihat ke luar jendela hanya melirik sekilas saat mendengar pembicaraan Sandi dan Gunawan. Dia terlihat tidak peduli dan kembali asyik melihat gedung-gedung yang dilewatinya seperti berjalan sendiri. Sepertinya, suara ponsel yang terdengar nyaring mampu membuyarkan konsentrasi Thalia melihat gedung-gedung yang dilewatinya.


"Ayah," gumam Thalia saat melihat layar ponselnya. Dengan cepat dia oun menerima panggilan telepon dari ayahnya.


"Hallo, Ayah!" sapa Thalia saat sudah tersambung.


"Iya, hallo Lia. Kapan pulang, Nak? Lusa acara pertunangan kamu, tapi kamu belum pulang-pulang ke rumah," tanya Pak Gerry di seberang sana.


"Lia pulang hari ini, Yah. Apa ada hal yang penting?"


"Nanti saja Ayah bicarakan di rumah. Cepat pulang," suruh Pak Gerry.


"Iya, Yah! Lia pulang sekarang. Lia tutup dulu ya!"


"Iya, hati-hati di jalan!"


Thalia langsung memutuskan sambungan teleponnya dan melihat ke arah Sandi. Terlihat Sandi yang sedang asyik menatap ke arahnya. Hingga akhirnya mereka pun beradu pandang.


"Aku antar kamu pulang. Gun, langsung ke rumah Thalia!" suruh Sandi.


"Siap, Bos!"


Gunawan pun langsung membelokkan mobilnya ke arah rumah Thalia saat tiba di perempatan. Tidak ada yang bersuara selama di perjalanan, sampai akhirnya mereka sudah sampai di rumah Thalia.

__ADS_1


"Sandal, aku pulang dulu ya! Sehat-sehat ya!" Thalia tersenyum samar. Hatinya merasa berat meninggalkan Sandi yang baru sembuh dari sakitnya.


"Makasih, Tali! Ayo aku antar," ajak Sandi.


Sandi pun langsung turun dari mobil. Dia mengikuti Thalia yang masuk ke dalam rumahnya. Tetapi baru saja dia tiba di teras rumah gadis itu terlihat Eva keluar bersama dengan Pak Gerry.


"Thalia masuk! Sakit dikit aja manja banget pengen dijagain sama Lia. Memang orang tua kamu ke mana?" tanya Eva sinis.


"Ibu, Sandi memang benar sakit. Aku sendiri yang membawanya ke rumah sakit," bela Thalia.


"Sudah Tali, gak apa. Maaf Tante, Om, aku udah merepotkan putri kalian. Terima kasih sudah mengijinkan Thalia untuk menjaga aku selama sakit," ucap Sandi.


"Tidak apa, yang penting kamu sehat sekarang." Pak Gerry tersenyum ramah pada Sandi.


"Ayah tuh bagaimana, udah tahu mau tunangan malah masih suka main dengan dia. Kalian jangan samakan masa anak-anak dengan sekarang," sinis Eva.


"Iya, Tan aku mengerti. Kalau begitu, aku permisi dulu," pamit Sandi. "Tali, aku pulang."


Sandi pun berjalan lunglai menuju ke mobil yang sudah menunggunya. Dia bisa mengerti dengan apa yang Eva katakan. Meskipun tiap ucapan Eva menyinggung perasaannya, tetapi dia berusaha untuk memakluminya.


Mendengar suara teriakan gadis itu, Sandi pun menghentikan langkahnya dan berharap Thalia akan memeluknya sebagai salam perpisahan. Namun sepertinya itu hanya angannya belaka.


"Ini obatnya. Aku lupa tadi aku masukkan ke dalam tasku. Cepat sehat ya Sandal! Aku juga ijin cuti sampai hari pertunangan, aku gak masuk kerja dulu."


"Iya gak apa! Kamu pasti cape menjaga aku di rumah sakit. Istirahat saja," ucap Sandi seraya mengacak-acak rambut Thalia.


"Siap, Bos!"


...***...


Setelah hari itu, Thalia dan Sandi tidak pernah bertemu lagi. Sampai tiba hari pertunangan Thalia, Sandi tidak pernah menemui gadis itu diam-diam. Ada rasa rindu di gadis itu, karena tidak biasanya mereka tidak bertemu selama berhari-hari.


Thalia yang sedang berada di ruang ganti bersama dengan Melati sahabatnya, terlihat gelisah karena Sandi tidak pernah menghubunginya. Matanya terus menerus melihat ke arah pintu, berharap Sandi akan datang menemuinya.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Melati yang merasa risih melihat Thalia terus saja menengok ke arah pintu.


"Aku khawatir Sandal. Dia gak pernah nelpon aku setelah pulang dari rumah sakit," jawab Thalia.


"Ya elah, Tali. Kamu tuh gak pernah bisa lupain dia sedetik pun. Dia pasti baik-baik saja."


"Masalahnya, dia itu baru sembuh Mel. Gimana kalau dia sakit lagi?"


"Sudahlah jangan pikirkan dia terus! Ingat, calon suami kamu ganteng banget seperti pangeran es. Tapi kalau kamu mau kabur sama Sandi, sana pergi! Biar aku yang jadi pengantin penggantinya. Hahaha ...." Melati tertawa senang membayangkan jika seperti di novel-novel, dia menjadi pengantin pengganti buat idolanya.


"Kamu tuh, enak saja mau rebut idola. Dia jodoh yang Tuhan kirim untuk aku."


Baru saja Thalia bicara, terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuk. Melati pun langsung membukakan pintu di kamar. Terlihat di depan pintu seorang laki-laki tampan berdiri dengan seragam karyawan restoran membawa troli yang berisi makanan dan minuman.


"Layanan kamar, Mbak!" ucap laki-laki itu.


"Makasih, Mas. Ayo dibawa masuk saja!" Melati begitu senang melihat banyak kue yang menggugah selera.


Laki-laki itu hanya tersenyum, lalu menyimpan satu persatu makanan dan minuman yang dibawanya. Setelah semuanya tersimpan rapi, dia pun bergegas untuk kembali pergi. Namun sebelumnya pelayan itu menyemprotkan yang dikira Thalia maupun Melati sebagai pengharum ruangan.


"Biar tidak bau makanan, ruangannya disemprot dulu ya Mbak! Silakan menikmati," ucap laki-laki kemudian pergi begitu saja.


Sementara di ruangan yang sudah didekorasi untuk acara pertunangan Thalia dan Jojo, terlihat sudah banyak wartawan yang datang untuk mengabadikan momment penting sang superstar. Para tamu penting dan kerabat pun sudah berdatangan memenuhi ruangan.


"Bu, acaranya mau segera dimulai. Bisa minta tolong panggilkan Thalia," ucap manager Jojo.


"Tentu saja bisa Mas Ganteng. Sebentar ya, saya panggilkan." Eva tersenyum ramah pada Rio. Dia pun berlalu pergi menuju ruang ganti untuk Thalia make up.


Namun, saat tiba di kamar itu, Eva mengerutkan keningnya melihat Melati yang sedang tertidur dengan makanan di tangannya. Eva yang tergiur melihat makanan enak-enak yang ada di troli, dia pun ikut mencicipinya. Hingga tidak lama kemudian, dia tertidur menyusul Melati. Tidak lama kemudian, Pak Gerry datang untuk menyusul istrinya.


"Bu, ibu kenapa tidur di sini? Thalia mana? Ini lagi, Melati disuruh jaga Thalia malah ikut-ikutan tidur. Haduh bagaimana ini? Mereka tidak ada yang bangun." Pak Gerry panik dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menyangka kejadian akan seperti ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, like, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2