
Acara syukuran yang sederhana, memberikan kesan tersendiri bagi Thalia. Apalagi, mereka mengundang anak-anak panti dan Ustadz yang merupakan guru spiritual Raline. Setiap kali pernikahan wanita cantik itu diterpa badai, dia selalu meminta wejangan pada ustadz agar hatinya bisa lebih ikhlas dan tenang.
Tidak banyak yang mereka undang. Hanya tetangga terdekat saja yang Sandi undang. Sekalian sebagai perkenalan dengan tetangga barunya. Setelah semua anak panti serta ustadz pulang, Sandi dan mamanya menyapa para tetangga yang datang.
Namun, siapa sangka rumah baru Sandi tidak jauh dari rumah orang tua Elgar. Sekaligus kakak ipar Devan, Keano. Meskipun awalnya Sandi kaget, tetapi akhirnya dia senang karena ternyata ada orang yang dia kenal dalam lingkungan rumahnya.
"Semoga betah ya tinggal di sini," ucap Arabella, mamanya Elgar. Rumah mereka tepat ada di depan Sandi.
"Terima kasih Tante. Mohon petunjuknya jika nanti kurang mengerti dengan lingkungan di sini," ucap Sandi dengan tersenyum manis.
"Maaf ya, suami saya sedang keluar. Jadi tidak bisa datang. Untung saja putra saya sedang ada di rumah," ucap Arabella. "Saya tidak menyangka loh, kalau Sandi ini putramu, Jeng."
"Sandi memang lebih mirip dengan papanya," jawab Raline tersenyum manis pada pemilik butik langganannya.
Kedua wanita cantik itu mengobrol bersama, begitupun dengan ibu-ibu lain yang memang rumah mereka berdekatan. Seperti teman lama yang baru bertemu lagi, ibu-ibu cantik itu terlibat obrolan seru. Tidak jauh berbeda dengan Thalia dan Sandi. Mereka pun terlibat obrolan dengan Elgar dan tetangga lain yang umurnya tidak jauh berbeda dengan mereka.
"Sandi, kenalin Abang aku. Ini Banga Ano dan istrinya, Devanya." Elgar langsung memperkenalkan sepupunya pada Sandi.
"Kalau Kak Devanya aku tahu, meskipun tidak sempat dekat. Kalau Bang Ano, aku baru ketemu langsung. Padahal aku pernah minta tolong sama dia. Salam kenal, Bang. Ini istri saya Thalia." Sandi mengulurkan tangannya mengajak bersalaman dengan kakak ipar Devan. Namun, saat dia akan mengajak bersalaman dengan istrinya, Keano langsung meraih tangan Sandi kembali.
"Cukup dengan saya," ucap Keano.
"Hehehe ... Maaf Bang!" Sandi hanya cengengesan malu karena ternyata Keano tidak suka istrinya bersentuhan dengan lelaki lain.
Tidak jauh dengan Thalia yang akan menjabat tangan Keano. Laki-laki itu hanya menangkupkan kedua tangannya, menolak secara halus bersentuhan dengan wanita lain.
"Maaf ya Thalia, Abang memang tidak suka bersentuhan dengan wanita lain selain keluarganya. Ayo kita ngobrol ala para cewek aja. Kalau ini namanya siapa?" tanya Devanya dengan menunjuk ke arah Melati.
"Ini Melati, sahabat saya Kak. Dia istrinya Jojo," jelas Thalia.
"Apa Jojo udah menikah? Kenapa gak ada undangannya?" tanya Devanya heran. Karena setahu dia, Jojo di bawah naungan JS Entertainment, milik suaminya.
"Kami belum mengadakan resepsi, baru akad saja." Melati pun balas tersenyum manis pada Devanya. Dia merasa senang bisa diterima baik di kalangan orang-orang kaya itu. Karena setahunya, orang-orang kaya itu selalu terlihat sombong. Padahal itu tidak semua karena kembali lagi pada individu masing-masing.
__ADS_1
"Semoga betah ya tinggal di sini. Kalau tidak salah kamu temannya Devan kan?" tebak Keano.
"Iya, Bang. Terima kasih atas bantuan Abang waktu itu," ucap Sandi.
"Sama-sama." Keano hanya menganggukkan kepalanya sedikit karena dia kembali lagi fokus melihat anak-anaknya yang berlarian ke sana ke mari.
"Asha, Shaka duduk!" suruh Keano.
Kedua anak kembar itu langsung menurut. Mereka segera duduk bersama dengan papinya. Entahlah, kalau papinya sudah angkat bicara, keduanya langsung menurut begitu saja. Sementara pada mommy-nya terkadang mereka membantah.
"Bang, bagi aku tips dong! Biar anak-anak bisa menurut dengan ucapan kita," pinta Sandi dengan tidak tahu malunya. Dia melihat kata-kata Keano tidak keras pada anak-anaknya. Hanya dengan penekanan sedikit, kedua bocah tiga tahun itu langsung menurut.
"Abang gak punya tips. Hanya saja, jangan membuat anak kita merasa takut ataupun berani melawan sama kita. Tapi buat mereka segan," ucap Keano.
"Caranya Bang?"
"Beri mereka pengertian dengan kata-kata yang lembut. Kita beri tahu sebab akibatnya apa yang mereka lakukan," jelas Keano.
"Baik, Bang! Aku mau ikutan," ucap Sandi.
"MELATI!" kompak Thalia, Sandi dan Jojo.
"Papi, playboy apa?" tanya Arasha, bocah kecil yang seperti boneka barbie berjalan.
"Bukan apa-apa, itu hanya sebuah panggilan." Keano mengelus rambut putrinya dengan sayang.
"Kalau begitu, nanti panggil dedek Ale playboy ya, Pih?" tanya Arasha lagi.
"Tidak boleh bilang begitu! Itu panggilan untuk orang dewasa. Asha hanya panggil dedek Ale saja."
"Gitu, ya!" Arasha menganggukkan kepalanya berkali-kali, tanda dia mengerti dengan apa uang papinya katakan.
Melihat semua itu, Melati merasa menyesal karena menggoda Sandi di depan anak kecil. Dia jadi tidak enak hati pada keluarga Keano. Melati pun berinisiatif untuk berbicara pada Devanya.
__ADS_1
"Maaf, Kak Deva. Tadi aku keceplosan," sesal Melati.
"Tidak apa, Mel. Namanya juga anak-anak. Rasa ingin tahu mereka pada istilah yang baru didengarnya sangat tinggi." Devanya tersenyum agar Melati tidak merasa bersalah. "Asha sini, baby Ale ganteng banget. Asha mau punya adik lagi gak?"
Arasha pun segera menghampiri Devanya yang duduk bersama dengan Thalia dan para wanita cantik lainnya. "Mau Mommy, bawa pulang aja ya! Buat jadi adik Asha. Aku gak suka punya Adik Shaka, suka iseng."
"Nanti gak boleh sama Tante Thalia kalau dek Ale dibawa pulang. Asha ke rumah Tante Thalia saja kalau mau ketemu dedek," ucap Devanya.
"Iya, Asha sering main ke sini ya! Biar Tante ada temannya kalau Om lagi kerja," ajak Thalia.
"Memang boleh, Tante?" tanya Arasha penuh harap.
"Tentu saja boleh, Cantik. Tante senang kalau Asha sering main ke sini," ucap Thalia.
"Udah besanan aja. Aku gak keberatan kho berbesanan dengan kamu, Sandi." Elgar yang sedari hanya memperhatikan akhirnya angkat suara.
"Hahaha ... Ada-ada saja nih Bang Elgar. Anakku juga masih bayi. Mani ngerti dia perjodohan. Biarkan saja dia berkelana dulu sebelum akhirnya menemukan jodoh yang baik untuknya," Sandi menertawakan ide gila Elgar.
"Maksud kamu? Kamu mau jadikan Ale kaya kamu? Aku gak setuju!" tolak Thalia mentah-mentah.
"Bukan begitu maksud aku, biar dia sendiri yang mencari cinta sejati. Kalau nanti mereka berdua ternyata berjodoh, tentu aku akan senang sekali."
Kalau aku gak bisa dapatkan emaknya, gak apa salah satu ponakan aku yang jadi menikah dengan anaknya, batin Elgar.
Terasa de javu saat dulu melihat Deva yang masih bayi, semua keluarga menjodohkan aku dengannya. Ternyata Tuhan mengabulkan keinginan keluargaku, batin Keano.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....
Sambil nunggu Playboy up, yuk kepoin karya keren yang satu ini.
__ADS_1