Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 51 Melepaskan Rindu


__ADS_3

Malam semakin larut, angin malam berhembus dengan lembut. Dua insan yang saling meluapkan kerinduan dan kebahagiaan, masih asyik menikmati langit malam di balkon apartemen. Ya, mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen setelah tadi bermain di taman.


"Tali, aku merasa hidupku sangat beruntung. Bisa selalu bersama kamu, sebentar lagi akan ada Sandi junior sebagai pelengkap kebahagiaan kita." Tangan Sandi terus saja mengelus perut rata Thalia yang ada dalam pelukannya.


"Aku juga merasa beruntung memiliki kamu. Dari dulu, kamu selalu ada untuk aku, menjadi ATM berjalan aku dan selalu menemani aku ke mana pun aku pergi." Thalia menulis abstrak di punggung tangan Sandi yang masih memeluknya dari belakang.


"Jadi kamu anggap aku sebagai ATM berjalan?" tanya Sandi. Dia merasa tidak suka saat Thalia menganggapnya seperti itu.


"Hehehe ... Kamu kan sering kasih uang ke aku. Padahal aku gak pernah minta," ucap Thalia cengengesan.


"Uang jajanku kebanyakan, jadinya aku bagi sama kamu. Apalagi, biaya hidupku irit sekali semenjak tinggal di rumah kost."


"Kenapa kamu tidak kost di tempat yang mewah dengan fasilitas yang lengkap tapi malah kost di rumah Bu Elma uang biasa saja seperti rumahku," tanya Thalia dengan mendongakkan wajahnya melihat ke arah Sandi.


"Sengaja, biar aku bisa dekat dengan kamu."


"Memang sebelum kamu kost kita pernah bertemu? Perasaan aku ketemu pas dikenalin sama Tante Elma. Dulu almarhum putranya memang teman aku," tutur Thalia.


"Aku pernah kabur dari rumah.Tanpa sengaja sampai di toko ayahmu dan melihat kamu naik sepeda pulang, lalu aku ikuti sampai rumahmu."


"Ternyata playboy satu ini seorang penguntit. Apa begitu sukanya kamu sama aku, Sandal?"


"Lebih dari yang kamu tahu. Tapi sayang, bertahun-tahun tidak disadari oleh gadis yang aku suka."


"Tapi sekarang aku sudah yakin, kalau hanya aku yang ada di hati kamu. Begitupun dengan aku, hanya kamu yang memenuhi seluruh ruang hatiku. Sandal, jangan mengkhianati kepercayaan aku!" Thalia membalikkan badannya dan menatap lekat suami.


Sandi menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis. "Hanya kamu yang aku inginkan untuk selalu bersamaku. Mana mungkin aku sanggup mengkhianati kamu. Tali, Ich liebe dich mit ganzem Herzen."


"Aku gak ngerti kamu ngomong apa?" Thalia memanyunkan bibirnya. Dia tidak suka saat Sandi berbicara bahasa yang tidak dia mengerti.


"Ohne dich kann ich nicht leben."


"Tahu akh gak ngerti," cebik Thalia kesal.


"Kamu ingin tahu artinya apa?"


"Nggak!"

__ADS_1


"Yakin? Sini aku bisikkan!"


Sandi langsung mendekatkan bibirnya di telinga Thalia. Lalu dia pun berbisik dengan mesra. "Tali, Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu."


Thalia langsung tersenyum dengan wajah yang sudah bersemu merah. Hatinya sangat bahagia mendapatkan ungkapan cinta dari Sandi. Karena meskipun mereka sudah melakukan banyak hal bersama. Akan tetapi, Sandi tidak pernah mengucapkan kata keramat itu.


"Aku tresno karo koe," balas Thalia dengan senyum malu-malu.


Sandi tidak menjawab lagi. Dia merasa gemas dengan sikap Thalia yang malu-malu kucing. Dia langsung mendekatkan wajahnya dan langsung meraup candunya. Mereka saling berbagi saliva dengan bulan dan bintang yang menjadi saksinya. Sampai saat keduanya sudah sama-sama terbakar api gairah, Sandi langsung membawa Thalia masuk ke dalam kamar dan melanjutkan apa yang ingin mereka lepaskan.


...***...


Keesokan harinya, nampak kamar apartemen seperti kapal pecah. Baju yang berserakan di lantai. Sperai yang kusut tak beraturan. Hanya selimut yang masih terpajang rapi menutupi dua tubuh polos sepasang suami istri.


"Sandal sudah siang," ucap Thalia saat sudah membuka mata.


"Aku masih kangen, Tali. Aku masih ingin memelukmu."


"Bukankah kita akan ke acara pernikahan Camelia?"


" Kita datang ke acara resepsinya saja nanti malam, sekalian aku kenalkan pada teman-teman mainku. Mereka pasti datang karena perusahaannya memakai dia untuk endorse."


"Nanti saja aku kasih tahunya, sekarang lebih baik kita tidur saja."


"Sandal, aku tidak bisa tidur lagi. Perutku lapar sekali," keluh Thalia.


"Sebentar aku pesan go food!" Sandi langsung mengambil ponselnya dan memesan makanan untuk sarapan pagi yang sudah terlewat. Bagaimana tidak, waktu sudah menunjukkan angka sembilan.


"Sandal, aku ke kamar mandi. Tubuhku terasa lengket," pamit Thalia.


"Ayo bersamaku. Nanti kamu bantu gosok punggungku. Saat kamu tidak ada, aku mandinya asal."


Sandi langsung bangun dari tidurnya. Tanpa bicara lagi, dia menggendong Thalia yang masih memeluk selimutnya. Thalia hanya tertawa kecil dengan apa yang suaminya lakukan. Entahlah, dia merasa geli saat menyadari Sandi menggendongnya tanpa berbusana. Sementara dia badannya tertutup oleh selimut yang sengaja dia lilitkan.


Perlahan Sandi menyimpan Thalia di dalam bathtub. Dia langsung menyalakan keran air hangat untuk mereka mandi. Tidak lupa dengan sabun mandi dan aroma terapi. Seraya menunggu air memenuhi bathtub, Sandi ikut bergabung ke dalam bathtub dan menarik Thalia agar duduk di pangkuannya. Lagi-lagi mereka berbagi saliva. Menyalurkan rasa yang membuncah di dada.


Lama mereka saling mencumbu. Berbagi peluh dan lenguhan. Sampai terdengar erangan panjang saat goyangan Thalia semakin dahsyat. Barulah keduanya mendapatkan pelepasan.

__ADS_1


"Tali, kamu luar biasa. Aku gak nyangka kamu bisa ngebor," goda Sandi saat mereka sudah sama-sama membersihkan diri.


"Sandal jangan dibahas! Aku gak mau lagi kaya tadi," seru Thalia sewot.


"Jangan! Aku suka semua yang kamu lakukan, apalagi seperti tadi. Aku sangat menyukai nya," ucap Sandi dengan mengerlingkan matanya.


Sandi terus saja menggoda istrinya. Dia sangat suka melihat Thalia cemberut karena malu. Sampai akhirnya terdengar suara bel berbunyi. Dia segera menuju ke pintu dan membukakannya. Nampak di sana seorang Abang Go Food dengan tentengan di tangannya.


"Dengan Mas Sandiaga?" tanya Abang Go Food dengan wajah yang sedikit kecut.


"Iya, saya sendiri. Pesanan aku ya, Bang?"


"Iya, Mas. Saya ke sini bolak-balik sudah empat kali. Untung yang ke lima kali masnya ada," ucap abang itu dengan memberikan pesanan Sandi.


"Terima kasih, Bang. Ini buat Abang," ucap Sandi seraya menyelipkan satu lembar uang berwarna pink ke tangan abang itu.


"Wah, terima kasih Mas. Saya permisi dulu mau mengantar pesanan yang lain," ucap Abang Go Food dengan tersenyum cerah. Wajah kesalnya tadi berubah ceria saat melihat satu lembar uang kertas berwarna pink ditangannya.


"Sama-sama, Mas."


Padahal harga makanannya tidak seberapa. Tapi kasian dia bolak-balik ke sini menunggu aku yang sedang meraup nikmat dunia, batin Sandi.


Baru saja Sandi akan menutup pintu, terlihat Melati berlari ke arah apartemennya. Dia sepertinya sedang lari dari kejaran seseorang. Sandi yang merasa kaget langsung saja menarik tangan sahabat istrinya itu dan menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya.


"Kamu kenapa, Mel?" tanya Melati yang sudah duduk di sofa menunggu Sandi.


"Gawat Tha! Aku-aku dikejar pacarnya Jojo. Dia marah saat tahu Jojo ingin menikah denganku," jawab Melati dengan suara yang ngos-ngosan.


"Lalu Jojo bagaimana?" tanya Sandi cemas.


"Dia ada di apartemennya. Mungkin di tahan oleh teman pacarnya. Aku takut, Tha!" Melati menangis ketakutan dengan memeluk Thalia erat.


"Kalian tunggu di sini! Aku ke sana sebentar."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2