Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 54 Hot Jeletot


__ADS_3

Deburan suara ombak yang bersahutan dengan angin malam yang berhembus lembut. Membuat Sandi semakin mengeratkan pelukannya pada Thalia. Mereka begitu menikmati langit malam yang bertabur bintang dan rembulan yang bersinar terang.


Tidak jauh dari tempatnya duduk pada sebuah kursi malas. Terlihat Melati dan Jojo yang duduk di kursi terhalang oleh meja. Mereka saling membisu dengan ponsel sebagai pengalih perhatian keduanya.


"Mel, kamu marah?" tanya Jojo yang merasa heran pada Melati karena tidak biasanya gadis itu mendiamkannya.


"Nggak! Aku sedang melihat acara live pernikahan Camelia. Dia sangat cantik ditambah lagi gaun pengantinnya sangat indah," ucap Melati dengan mata yang tidak mengalihkan perhatiannya pada ponsel.


"Kamu ingin pernikahan kita seperti itu?"


"Tidak! Aku tidak punya uang banyak untuk membuat pesta semewah itu. Lagipula, menikah asal datang ke kantor urusan agama juga sah. Yang penting ada wali dan saksi."


Jojo hanya diam, tidak menanggapi lagi ucapan Melati. Dia mengerti kalau gadis itu masih kesal dengan apa yang terjadi di pesta. Dia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Melati lalu mengambil ponsel gadis itu.


"Aku sita sampai kamu bisa bicara padaku dengan melihat mataku," ucap Jojo seraya masuk ke dalam Villa.


"Ambil saja, lagipula aku mau tidur." Melati langsung berlalu pergi melewati Jojo begitu saja.


Gadis berwajah oriental dengan lesung pipi di pipi kanannya, langsung masuk ke dalam kamar tanpa mempedulikan Jojo yang diam mematung melihatnya. Dia langsung masuk ke dalam selimut dan menyembunyikan seluruh tubuhnya di bawah selimut tebal.


Aku pikir, aku akan bisa bertahan dalam menghadapi sikap Jojo, tapi ternyata rasanya sakit saat dia tidak mau mengakui keberadaan aku di sisinya, batin Melati.


Tanpa bersuara, Jojo ikut berbaring di samping Melati. Disibaknya selimut yang membungkus tubuh kekasihnya. Perlahan dia mencium rambut Melati yang tidur membelakanginya.


"Mel, aku bukan ingin mengingkari keberadaan kamu, aku hanya tidak mau, keselamatan kamu terancam oleh fans fanatik aku. Please, ngerti ya! Aku pasti akan memperkenalkan kamu, tapi nanti saat kita sudah nikah."


"Aku gak marah kho, aku hanya ...." Melati tidak melanjutkan ucapannya saat terdengar suara yang begitu nyaring di perutnya.


Kruyuk kruyuk ....


"Yuk makan!" ajak Jojo.


Dia langsung bangun dan menarik tangan Melati agar ikut terbangun. Mereka langsung menuju ke dapur untuk mencari makanan. Namun sepertinya, tidak ada stok makanan yang tersimpan di sana.


"Nyesel banget tadi gak makan dulu saat di pesta. Padahal makanannya enak-enak. Sandi sih malah ngobrol dengan temannya," gerutu Melati.


"Aku pesan makanan dulu ya! Tolong tanya Sandi dan Thalia, dia mau makan apa?" pinta Jojo.


"Oke, deh!" Melati langsung beranjak ke teras tempat tadi mereka duduk bersama.

__ADS_1


Namun, saat tiba di ambang pintu, Melati langsung mematung melihat sahabatnya sedang berbagi saliva dengan suaminya. Dia langsung menelan ludahnya dengan kasar melihat ciuman mereka yang bergairah.


Ya ampun hot jeletot Sandai sama Thalia. Bagaimana kalau mereka berada di atas tempat tidur, pasti lebih hot. Bisa-bisa level dua puluh. Aku kapan bisa ngerasain kaya gitu, Jojo aja harus tutup mata dulu kalau mau kaya gitu, batin Melati.


"Jangan dilihatin terus! Nanti kita juga bisa kayak mereka," bisik Jojo dengan menutup mata Melati dengan telapak tangannya. "Atau kamu ingin merasakannya sekarang. Ayo kita bikin panggung sendiri! Biarkan mereka menikmati kebersamaannya."


"Tidak! Aku lapar, aku mau makan bukan mau ciuman." Melati meninggikan sedikit suaranya, membuat dua orang yang sedang berpagutan saling melepaskan diri.


"Kalian mengintip!" tuduh Sandi.


"Bukan kita yang mengintip, tapi kamu yang tidak tahu tempat. Kenapa tidak di kamar saja kalau mau begituan. Kalian tuh menodai mataku yang suci," sungut Melati.


"Sorry, Mel! Tadi kita terbawa suasana. Hehehe ... Kirain kalian lagi ...."


"Mana ada. Aku tuh lapar, kamu sih tadi gak ngajak makan waktu di pesta," potong Melati.


"Sudah, kalian mau pesan apa? Biar sekalian aku pesankan," tanya Jojo langsung menengahi.


"Malam-malam begini enaknya nasi goreng mawut," jawab Thalia.


"Aku juga nasi goreng seafood," sambung Melati.


"Kamu mau apa?" tanya Jojo pada Sandi.


"Boleh deh. Minumnya jeruk hangat," jawab Thalia


"Aku samain dengan Tali aja," ucap Sandi.


"Oke, ada yang mau nambah?"


"Tambah sate kambing ya!" pinta Melati.


"Boleh," ucap Jojo lembut dengan mengusap kepala Melati.


"Acie ... Mulai romantis-romantisan nih," goda Thalia.


"Apaan sih, ngiri aja." Melati tersenyum malu-malu digoda oleh sahabatnya.


"Udah, Tali jangan godain mereka. Kita bikin iri saja mereka, biar cepat-cepat nikah."

__ADS_1


"Benar juga ya!"


Pada akhirnya, dua sejoli itu memutuskan untuk menonton film bersama seraya menunggu pesanan makanan mereka datang. Thalia terus saja menempel pada Sandi sudah seperti perangko. Sementara Melati dan Jojo masih terlihat malu-malu. Apalagi, Jojo belum sepenuhnya sembuh dari rasa mualnya setiap kali berdekatan dengan Melati. Tetapi dia menahannya dan belajar mengendalikannya dengan mengalihkan perhatian pada hal lain.


Tidak berapa lama kemudian pesanan mereka pun datang. Tidak tanggung-tanggung, selain makanan yang diminta oleh sahabat dan kekasihnya, Jojo juga memesan banyak cemilan dan minum kaleng. Tentu saja hal itu membuat Melati dan Thalia sangat senang.


"Wah Jojo baik sekali kasih kita banyak makanan," puji Thalia.


"Tali, aku juga bisa kasih kamu makanan yang banyak," sergah Sandi yang tidak suka mendengar istrinya memuji laki-laki lain.


"Iya, iya, percaya. Ayo kita makan!" ajak Thalia langsung membuka nasi goreng pesanannya.


"Tali, suapi!" pinta Sandi.


"Ya ampun Sandi! Manja banget sih kamu, makan aja minta disuapi. Kayak anak kecil," cibir Melati.


"Iri aja terus, Mel. Kalau kamu mau, noh sama Jojo saling suap!" ketus Sandi.


"Sini, Mel! Kita makan bersama," ajak Jojo. Entahlah, dia selalu merasa tidak tega melihat Melati yang cemburu dengan kemesraan sahabatnya. Dia mengerti kalau Melati pun ingin diperlakukan begitu seperti Sandi memperlakukan Thalia.


Aku akan berusaha melawan rasa mual demi bisa membahagiakan gadis yang dengan sukarela menjadi percobaan kesembuhan aku, batin Jojo.


Keesokan harinya, Jojo langsung pergi pagi-pagi sekali karena dia sudah dijemput oleh managernya. Sementara Sandi, Thalia, dan Melati masih asyik bermain pasir. Kali ini Sandi hanya memperhatikan istrinya yang sedang asyik bermain dengan Melati. Dia memilih tiduran di kursi pantai berpayungkan pohon kelapa yang berdiri gagah.


"Loh, Sandi! Kamu dengan siapa ke sini?" tanya seorang gadis yang merupakan mantan kekasih pemuda itu.


Sandi yang baru saja memejamkan matanya, kembali terbangun. Dia kaget ada orang yang menyapanya. Padahal, pantai tempatnya dia menginap merupakan daerah tertutup. Karena hanya yang tinggal di villa saja yang bisa ke sana.


"Oh, Irene. Aku bersama dengan istriku. Kamu sendiri dengan siapa ke sini?"


"Apa? Kamu sudah nikah? Dengan siapa?" tanya Irene lagi dengan wajah terkejutnya.


"Tuh istriku sedang main pasir dengan sahabatnya!" tunjuk Sandi.


"Gadis yang bersama Thalia?" tebak Irene mengikuti arah tangan Sandi.


"Bukan, aku menikah dengan Thalia."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2