
Senyum ceria terus tersungging di kedua sudut bibir Melati. Gadis itu sangat senang karena Jojo mau mengantarnya pulang. Bahkan dia sengaja menyimpan motornya di parkiran rumah sakit demi bisa bersama dengan Jojo.
Sementara Jojo hanya sesekali melihat ke arah gadis itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Melati. Karena bukan hal yang aneh buat dia, melihat gadis-gadis yang menjadi penggemarnya bersikap seperti Melati. Namun entah kenapa, Melati terlihat lucu di matanya saat bertingkah seperti itu.
"Idola, apa kamu ... Apa kamu mau mencobanya denganku?" tanya Melati gugup.
"Maksud kamu?" tanya Jojo bingung.
"Maksud aku ... Maksud aku untuk membuktikan kalau kamu bisa dekat dengan cewek."
"Apa kamu tidak keberatan?" tanya Jojo dengan menatap lekat Melati.
"Aku ... Aku hanya ingin membantu Idola agar bisa menjadi lelaki sejati."
"Baiklah! Kapan kamu punya waktu luang?"
"Waktuku selalu luang. Kapan saja aku bisa," jawab Melati penuh dengan keyakinan.
"Apa hari ini bisa? Kita bisa mencobanya di apartemenku?"
"Tapi hanya ini saja kan?" tunjuk Melati pada bibirnya.
"Boleh, kalau kamu tidak keberatan."
Padahal aku hanya ingin mencoba memeluknya dan berlama-lama dengannya. Aku ingin tahu, apa aku akan merasa mual saat aku dengan dia tanpa jarak sedikit pun, batin Jojo.
"Enggak kho!"
Aku malah senang bisa ciuman dengan idola. Pasti banyak gadis yang merasa iri sama aku, batin Melati.
Saat di persimpangan jalan, Jojo langsung membelokkan mobilnya ke arah apartemen. Keinginannya untuk kembali menjadi lelaki normal begitu kuat. Apalagi, tadi Sandi mengatakan hal yang seperti itu padanya. Membuat dia merasa yakin dengan keputusannya.
Meskipun sebenarnya Jojo merasa nyaman dengan kehidupannya yang sekarang. Akan tetapi, dia tidak bisa menolak permintaan Raline padanya. Apalagi, mama sambungnya itu sampai menangis dan bersimpuh di hadapannya, meminta dia untuk kembali menjadi lelaki sejati.
Setibanya di basement apartemen, Jojo menghembuskan napasnya pelan. Begitupun dengan Melati yaang berkali-kali menghembuskan napasnya dengan kasar. Gadis itu sebenarnya antara siap dan tidak. Jauh dari sudut hatinya dia merasa takut jika nanti Jojo merenggut kehormatannya. Bagiamana juga, Jojo memiliki senjata ampuh yang dapat mengobrak-abrik selaput daranya. Meskipun sekarang belum bisa digunakan dengan semestinya.
"Apa kamu ragu?" Jojo melihat ke arah Melati yang terlihat gugup.
"Aku ... Aku ingin bantu. Aku siap kho!" Melati tersenyum untuk meyakinkan Jojo kalau dia yakin dengan keputusannya.
"Oke! Jangan menyesal ya dengan keputusan kamu. Ayo kita turun!" ajak Jojo seraya membuka pintu mobilnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Melati menghembuskan napasnya kasar sebelum dia keluar dari mobil Jojo. Sampai akhirnya Jojo mengetuk kaca pintu mobilnya. Setelah dia merasa siap, Melati pun akhirnya keluar dari mobil Jojo.
"Perasaan, ini apartemen Sandi." Melati mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling. Sampai akhirnya dia menemukan mobil Sandi yang terparkir di sana.
"Aku tinggal di lantai paling atas," ucap Jojo. Dia terus saja berjalan menuju ke lift. Sementara Melati berlari kecil untuk mengejar langkah kaki Jojo.
"Idola, sepertinya kamu begitu peduli dengan Sandi. Padahal dia selalu ketus sama kamu," tebak Melati saat keduanya sudah berada di dalam lift.
"Aku dekat dengan dia dari kami masih sama-sama kecil. Saat sama-sama masuk Preschool . Dia teman pertama yang aku miliki dan selalu menjaga aku dari anak-anak yang suka iseng," jelas Jojo.
"Oh, begitu ya! Kalau aku kenal sama dia saat kelas tiga sekolah menengah pertama. Dulu dia anaknya culun udah gitu diem. Hanya sama Thalia dia bisa mencair, tapi pas masuk SMU, dia mendadak jadi bocor kayak gitu. Dia orangnya aneh menurutku," ungkap Melati.
Bukan aneh, tapi saat itu dia baru saja mengalami hal yang mengguncang jiwanya. Makanya dia bersikap seperti itu. Mungkin dia berubah juga karena ada hal yang memicunya, batin Jojo.
Tanpa disadari oleh keduanya, mereka sudah sampai di apartemen Jojo. Pemuda tampan itu langsung memasukkan password pintu unitnya. Terdengar suara klik saat password yang Jojo masukkan sudah berhasil membuka kunci pintu apartemennya. Dia pun segera membuka pintu dan mempersilakan Melati untuk masuk ke dalam.
Lagi-lagi Melati celingukan melihat isi apartemen Jojo yang luas dengan barang-barang yang mewah mengisi apartemen itu. Jojo hanya menggelengkan kepalanya, melihat ekspresi Melati yang menurutnya berlebihan.
"Kamu mau minum apa?" tanya Jojo.
"Lemon tea aja," jawab Melati.
"Aku tidak memiliki teh, adanya kopi, minuman bersoda, minuman beralkohol, susu dan air putih."
Jojo hanya menggelengkan kepalanya. Karena memang dia jarang meminum coklat panas, sehingga tidak menyediakannya di apartemen.
"Ya udah deh air putih aja," ucap Melati kemudian.
"Duduklah! Aku ambilkan minum dulu," suruh Jojo.
Melati langsung duduk di sofa yang sangat empuk menurutnya. Dia pun meloncat-loncatkan bokongnya pelan. Melati tersenyum senang menikmati permainannya sendiri.
Tak lama kemudian, Jojo datang dengan membawa segelas air putih dan sekaleng minuman bersoda di tangannya. Dia tersenyum melihat apa yang melati lakukan.
"Nih minumannya." Jojo memberikan segelas air putih itu pada Melati.
Dia pun langsung membuka kaleng minuman yang dia bawa dan meminumnya. Tidak jauh dengan Jojo, Melati pun meminum air putih itu hingga tandas. Dia merasa haus setelah perjalanan tadi dari rumah sakit.
"Melati, bisa kita memulainya?" tanya Jojo saat dia sudah menyimpan minuman miliknya di meja.
"Sekarang ya?" tanya Melati dengan cengengesan.
__ADS_1
"Ya, kalau kamu tidak keberatan."
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Melati.
"Mendekatlah!" pinta Jojo.
Perlahan Melati mendekat ke arah Jojo. Semakin dekat semakin dekat, hingga tidak ada jarak yang tersisa di antara mereka. Jojo merangkulkan tangannya ke bahu Melati. Namun, belum ada lima menit mereka dalam posisi seperti itu, asam lambung Jojo mendadak naik. Dia merasakan mual dan segera berlari ke kamar mandi.
"Idola kenapa? Memangnya ketek aku bau ya? Kho dia seperti mau muntah begitu?" gumam Melati pelan.
Tidak berapa lama kemudian, Jojo datang kembali menghampiri Melati. Namun dia langsung duduk di sofa yang terpisah dengan gadis itu. Jojo menatap dalam Melati yang terlihat kebingungan melihat sikapnya.
"Mel, aku selalu begitu jika terlalu dekat dengan seorang gadis. Aku harap, kamu tidak tersinggung dengan sikapku tadi," pinta Jojo.
"Apa pada semua gadis?" tanya Melati.
"Iya," jawab Jojo singkat.
"Apa sama Thalia juga?" tanya Melati lagi.
"Mungkin hanya dia yang tidak membuat aku merasa mual. Apa kamu akan menyerah?"
"Tidak. Aku yakin jika aku bisa membuat Idola kembali normal. Apa Idola percaya padaku?"
"Aku akan mencobanya."
"Baiklah, coba Idola pejamkan mata. Kosongkan pikiran dan fokuskan pada satu tujuan. Idola pasti sembuh dan bisa menyentuh perempuan seperti laki-laki lain," ucap Melati yang langsung diikuti oleh Jojo.
Gadis itu mulai mendekat ke arah Jojo tanpa suara. Dia pun langsung duduk di samping pemuda itu seperti tadi saat sebelum Jojo mual. Dia hanya diam tak bersuara menunggu Jojo kembali membuka matanya.
Satu menit
Dua menit
Hingga sampai lima belas menit keduanya duduk bersisian, barulah Jojo membuka matanya. Dia sempat terkaget saat melihat Melati duduk di sampingnya. Melati tersenyum manis saat Jojo melihat ke arahnya dan tanpa permisi, gadis itu langsung mencium pipi mulus Jojo.
"Itu hadiah karena Idola tidak mual duduk di dekatku."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...