Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 7 Kamu marah?


__ADS_3

"Sayang kamu kenal dengan pelayan ini?" tanya gadis cantik yang bersama dengan pemuda itu.


"Iya, dia mantan pacar aku waktu SMU. Tapi dia berkhianat sama aku," jelas Nino, mantan pacar Thalia.


Siapa juga yang berkhianat, dia sendiri yang punya pacar lagi, sungut Thalia dalam hati.


"Maaf ya Nino! Sebaiknya masa lalu tidak usah diungkit. Bukankah mantan pacar itu harusnya dibuang ke tong sampah. Lagipula bukan aku yang berkhianat. Kamu sendiri yang tiba-tiba mutusin aku, permisi." Thalia langsung beranjak pergi. Dia tidak peduli saat melihat Nino akan menyanggah ucapannya.


Dengan mulut yang terus mengomel tidak jelas, Thalia masuk ke dalam ruangan Sandi. Dia ingin mendinginkan pikirannya, tapi ternyata dia melihat pemandangannya yang menyesakkan dada.


Bagaimana tidak, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Natasha sedang duduk dipangkuan Sandi. Sungguh, ingin rasanya Thalia melempar playboy itu dengan telur busuk campur tepung. Baru tadi dia memintanya untuk jadi pacarnya, sekarang malah disuguhkan dengan pemandangan yang seperti itu.


"Sorry, aku kira gak ada tamu." Thalia langsung berbalik dan akan pergi.


"Tali, tunggu! Tolong buatkan minuman untuk Natasha. Sayang, mau minum apa?"


"Orange juice saja."


"Sama cemilannya juga ya," pinta Sandi.


"Siap Bos!" sahut Thalia.


Setelah kepergian Thalia, Sandi segera menurunkan Natasha dari pangkuannya. "Sudahlah, kamu berat sekali!"


"Ya ampun, Sandi. Aku hanya empat puluh lima kilogram. Masa berat?" Natasha cemberut dengan apa yang dikatakan oleh Sandi.


"Mau apa ke sini? Gak biasanya kamu datang ke kafe?"


"Aku mau ngajak nonton film yang lagi booming itu," jawab Natasha.


"Kapan?"


"Weekend ini."


"Aku gak bisa, ada kerjaan di luar kota."


Saat Natasha akan bicara lagi, Sandi segera menarik gadis itu agar duduk di pangkuannya. Bersamaan dengan Thalia masuk membawa pesanan Sandi. Gadis itu terlihat cuek dengan apa yang terjadi di sana. Dia begitu santai menyimpan orange juice dan sepiring cemilan di meja.


"Silakan, Nona!" ujarnya.


"Makasih ya!" sahut Natasha.


Kenapa kamu gak cemburu? Coba saja aku melihat kamu cemburu saat aku bersama mereka, mungkin aku akan menghentikan kegilaanku, batin Sandi.

__ADS_1


...***...


Sepulang kerja dari kafe, Thalia langsung pulang menuju ke rumahnya. Dia tidak peduli saat Sandi terus memanggilnya. Gadis berambut panjang itu hanya ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Merebahkan badannya di kasur kesayangannya. Meskipun tidak se-empuk kasur di apartemen Sandi, tetapi itu tempat ternyaman yang dia miliki.


"Assalamu'alaikum," ucap Thalia saat sampai di rumahnya.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Gerry.


"Tumben, Ayah ada di rumah?" tanya Thalia seraya mencium punggung tangannya.


"Tokonya sepi, barangnya juga habis, uang untuk belanja lagi juga gak ada. Mungkin Ayah mau cari pekerjaan lain saja," jawab Pak Gerry.


"Kalau Ayah mau, Ayah bisa pakai uang tabungan aku dulu," tawar Thalia.


"Tidak usah. Nantinya habis lagi gak balik modal," tolak Pak Gerry.


"Ayah kamu itu bodoh! Sudah ada yang kasih modal besar, tapi malah menolak. Padahal gak ada ruginya besanan sama keluarga terhormat," timpal Eva yang baru keluar dari dapur.


"Maksud Ibu?" tanya Thalia tidak mengerti dengan maksud ucapan ibu sambungnya.


"Ya Tuan Simon ingin berbesanan dengan kita. Nanti dia akan memberi uang banyak sebagai maharnya. Lagipula Thalia sudah cukup umur untuk menikah. Dia juga sudah sarjana. Sudah saatnya dia berbakti pada orang tua," ucap Eva enteng.


"Sudah Thalia, jangan didengarkan ucapan ibumu. Kamu istirahat saja," suruh Pak Gerry.


Apa aku harus mengikuti keinginan ibu? Toh hanya menikah. Lagipula aku gak punya pacar. Siapa tahu laki-laki yang akan dijodohkan orangnya baik, batin Thalia.


Gadis itu terus berpikir seraya menatap langit-langit kamar. Perlahan matanya terpejam dan masuk ke dunia mimpi. Namun, tidurnya seperti ada yang menggangu saat dia merasa ada benda kenyal dan terasa dingin menempel di bibirnya. Perlahan Thalia pun membuka matanya.


"Kamu!!!" pekik Thalia kaget saat mendapati Sandi di kamarnya.


"Sutt!!! Jangan berisik! Nanti ibumu dengar," ucap Sandi dengan menempelkan jari telunjuk ke bibir Thalia.


"Ngapain kamu ke kamar aku?" tanya Thalia.


"Lihat kamu! Tadi aku panggil-panggil malah pergi gitu aja. Kamu marah sama aku?" tanya Sandi dengan menatap lekat wajah gadis di depannya.


"Marah kenapa? Aku hanya ingin tidur, cape!" elak Thalia.


"Di apartemen aku aja yuk! Biar bebas."


"Gak mau! Lagian kamu bisa masuk lewat mana?"


"Tuh, aku belum lupa jalan masuk ke kamar kamu tanpa sepengetahuan orangtuamu," tunjuk Sandi pada jendela kamar gadis itu.

__ADS_1


"Ya ampun Sandi! Kamu cari masalah," gerutu Thalia.


"Nih, aku bawa makanan untuk makan malam kita." Sandi memperlihatkan makanan kesukaan mereka berdua.


Saat keduanya akan membuka makanan yang Sandi bawa, terdengar suara pintu ada yang mengetuk. Secepat mungkin Sandi masuk ke bawah ranjang. Tidak mungkin dia memperlihatkan diri pada keluarga Thalia.


"Kakak boleh aku pinjam hair dryer? Punyaku rusak." terdengar suara Tifani di luar kamar.


"Sebentar!" Setelah memastikan Sandi tidak terlihat, Thalia pun langsung mengambil Hair dryer dan memberikannya pada Tifani.


"Kakak sedang ngobrol dengan siapa? Seperti suara cowok?" tanya Tifani dengan melongokkan kepalanya ke dalam kamar.


"Oh itu, tadi Kakak lagi nelpon di loud speaker."


"Oh! Aku pikir Kakak menyembunyikan laki-laki di kamar," ucap Tifani.


"Gak mungkin lah! Masukin laki-laki lewat mana? Ada-ada saja kamu," tanya Thalia cengengesan.


"Ya sudah aku pinjam dulu ya! Aku mau kencan dengan pacarku," ucap Tifani tersenyum senang. "Makanya Kakak cepat cari pacar, biar ngerasain indahnya kencan."


Setelah kepergian Tifani, Thalia pun langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia tidak ingin kepergok sedang berdua dengan Sandi di kamarnya. Bisa kena Omelan panjang kali lebar dari ibu tirinya jika sampai mereka kepergok.


"Sudah aman, keluarlah!" suruh Thalia.


Perlahan Sandi keluar dari bawah tempat tidur. Rambutnya penuh dengan sarang laba-laba. Melihat semua itu, Thalia menahan tawanya.


"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Sandi.


"Gak ada, kamu ganteng kalau seperti itu. Seperti barang lama yang disimpan di gudang."


"Tali, jangan menghinaku!"


"Coba saja ngaca dulu. Aku bukannya menghina tapi kenyataan. Hahaha ...."


Mau tidak mau Sandi melihat ke kaca rias yang ada di kamar itu. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk bulan sabit. Dia pun membersihkan sarang laba-laba yang memenuhi kepalanya. Setelah rambutnya bersih dengan sarang laba-laba, dia langsung menuju ke arah Thalia.


"Hey, kenapa disimpan di kepalaku?" Thalia memberontak saat Sandi memaksa ingin menyimpan sarang itu.


"Kamu sahabatku jadi kita harus sependeritaan sepenanggungan."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2