
Lain halnya dengan ibu hamil yang baru saja membuka matanya. Dia langsung celingukan mencari keberadaan Sandi. Seingatnya, tadi dia sedang duduk di sofa bersama dengan suaminya. Tetapi kenapa sekarang berada di dalam kamar? Merasa tidak mendapatkan jawaban dengan pertanyaan di hatinya, Thalia pun berteriak memanggil nama suaminya.
"Sandal, Sandal kamu di mana?" teriak Thalia seraya berjalan ke luar kamar.
"Thalia, kamu sudah bangun?" tanya Melati langsung menghampiri Thalia.
"Kamu ada di sini, Mel?" tanya Thalia kaget.
"Iya, tadi Sandi minta tolong buat nemenin kamu. Dia mendadak ada urusan di pulau Dewata," jelas Melati.
"Hwuaa ... Kenapa dia ninggalin aku? Apa dia udah gak sayang sama aku? Apa karena sekarang aku gendut, perutku buncit jadinya dia pergi?" Thalia langsung menangis saat diberitahu oleh Melati. Entahlah, semakin besar kandungan Thalia, semakin dia tidak ingin jauh dari laki-laki itu.
"Sayang, Sandi cuma sebentar kho di sananya. Katanya lagi ada masalah dengan kafe di sana. Secepatnya pasti akan pulang," ucap Raline lembut.
Dia langsung menghampiri Thalia yang masih berdiri di depan pintu kamar bersama dengan Melati. Dia jadi teringat saat dulu mengandung Sandi, sering ditinggal pergi oleh papanya Sandi. Di saat dia butuh sosok suami, Simon selalu datang untuk memberikan bantuannya.
Awalnya Raline tidak pernah berpikir untuk mengkhianati suaminya. Meskipun dia sering ditinggal berlayar oleh Morgan. Tetapi lama kelamaan, sikap Simon yang semakin manis kepadanya, membuat dia terhanyut dalam pesona Simon sehingga hanya bisa menyetujui saat Simon mengajaknya untuk melakukan hal yang di luar batas.
Namun hal itu, justru membawa dia pada lembah kedukaan. Dia harus rela berpisah dengan suami dan anaknya. Bahkan Sandi tidak mau melihatnya lagi. Sementara Simon, mencintainya dengan arrogan. Bertahun-tahun, dia bertahan dalam pernikahan toxic bersama dengan Simon karena laki-laki itu tidak mau melepaskannya, sedangkan dia terkadang bersikap kasar dan semaunya. Bahkan bukan hanya sekali, Simon memiliki istri simpanan di belakangnya.
"Iya benar Tha! Nanti kalau urusan kafe selesai pasti dia cepat pulang. Kamu jangan khawatir, Sandi itu bucin akut sama kamu. Apa kamu lupa, dari dulu dia pasti ngikutin kamu ke mana pun kamu pergi. Aku yakin gak akan macam-macam," bujuk Melati.
"Bener ya, Mel! Awas saja kalau dia sampai macam-macam, aku sunat lagi dia." Thalia menghapus ingusnya di depan Melati. Membuat sahabatnya itu hanya meringis melihat apa yang dilakukan sahabatnya.
"Udah mau sore, lebih bak kita pulang. Thalia, malam ini tidur bersama kami ya! Mama sudah menyiapkan kamar untuk kamu," ucap Raline.
" Iya, Mah!"
Ketiga wanita cantik itu pun akhirnya memilih pulang ke rumah. Tidak lupa Thalia menitipkan kafe ke manager yang bertugas. Dengan wajah lesu dan langkah gontai, dia menuju ke mobil Raline.
"Mah, jadi ke mall gak?" tanya Melati sebelum dia menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Gimana Thalia aja. Kalau lelah, besok saja kita ngmall-nya. Mama mau beliin keperluan untuk cucu Mama," jawab Raline.
"Gimana, Tha? Besok aja apa mau sekarang?" tanya Melati.
"Besok aja, Mel. Hari ini aku gak semangat," ucap Thalia.
"Baiklah Nyonya Lancanter. Kita di rumah aja rujakan, pasti enak!" usul Melati.
"Nah, kalau itu aku mau. Ayo Mel, cepat pulang!" ajak Melati mendadak bersemangat.
"Let's go baby!" seru Melati.
Raline hanya tersenyum melihat kekonyolan kedua menantunya. Dia merasa senang bisa dekat dengan kedua gadis itu. Mereka selalu terlihat apa adanya dan tidak berpura-pura di depannya.
Mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang. Mereka terlebih dahulu mampir ke apartemen Sandi untuk mengambil baju, sebelum akhirnya melaju menuju ke rumah artis papan atas itu.
Setibanya di rumah Jojo, kedatangan vmereka disambut oleh idola sejuta umat. Dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya, Jojo menghampiri istrinya.
"Kapan datang?" tanya Melati dengan mencium punggung tangan suaminya.
Tak lupa dia pun mencium punggung tangan mamanya dan menjabat tangan Thalia dengan tersenyum hangat. Sepertinya, pernikahannya dengan Melati mampu membuat dia menjadi hangat pada orang-orang di sekelilingnya. Sangat jauh berbeda dengan Jojo ketika dia belum berbaikan dengan Sandi dan dekat dengan Melati.
"Thalia, jangan sungkan ya! Buat rumah ini senyaman mungkin," ucap Jojo.
"Baiklah, Idola. Tapi aku pinjam Melati dulu ya, kita mau rujakan," ucap Thalia.
"Tha, bisa nanti aja gak rujakannya. Suami aku kan baru datang. Aku ...."
"Kamu bohongin aku! Tadi bilangnya mau rujakan sekarang gak mau." Thalia langsung merajuk pada Melati.
"Tha, Melati mau antar Jojo dulu ke atas. Kita siapkan dulu bahannya. Nanti kalau ada yang kurang kita suruh bibi beli dulu ke minimarket," bujuk Raline lembut.
__ADS_1
"Ya udah deh! Yuk, Mah kita siapkan buah-buahannya!" Thalia pun langsung menggandeng tangan Raline. Dia ingin cepat-cepat ibu mertuanya itu membuatkan bumbu rujak untuknya. Sementara dia melihat isi kulkas mertuanya.
"Mah, kho gak ada belimbing wuluh ya!"
"Mau belimbing wuluh?" Bukannya menjawab, Raline malah bertanya.
"Iya, Mah! Kayaknya enak kalau belimbing wuluh di jus.
"Sebentar ya, Mama suruh Pak Kirman untuk memetik di kebun belakang." Raline pun langsung beranjak pergi mencari tukang kebun di rumahnya. Memang, semenjak Raline tinggal di sana, Jojo menyerahkan urusan rumah pada ibu mertuanya. Meskipun sekarang sudah ada Melati, tetapi urusan rumah tetap dipegang oleh Raline.
Saat Thalia sedang sendiri memilih dan memilah buah apa saja yang akan dibuat rujak, terdengar ponselnya berbunyi. Dia pun langsung mengangkat panggilan video call yang ternyata dari Sandi. Secepat mungkin Thalia menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo, Sandal! Kenapa ninggalin aku?" Thalia langsung menyembur suaminya saat panggilan teleponnya sudah tersambung.
"Maaf, Sayangku, Cintaku, Karung goniku. Aku gak tega bangunin kamu jadinya aku minta Melati dan Mama buat jagain kamu. Apa sekarang sudah di rumah Jojo?" Terlihat wajah khawatir Sandi di layar ponsel Thalia. Rupanya dia baru saja tiba di bandara. Dia langsung mengaktifkan kembali ponselnya untuk mengetahui keadaan istrinya.
"Iya, aku mau rujakan bareng Melati dan Mama tapi Melati ke kamarnya dulu mengantar Idola yang baru datang, sedangkan Mama sedang belimbing wuluh." Thalia memasang wajah cemberut di depan suaminya.
"Kafe kita kebobolan yang ada di sini. Tapi entah kenapa, aku merasa kalau semua ini hanya rekayasa. Kalau kerugiannya besar, aku mau tutup aja. Tiap bulan laporan keuangannya juga gak jelas," beber Sandi.
Entahlah, dia selalu tidak bisa menyembunyikan hal penting dari Thalia. Dia selalu ingin, apa yang dia tahu, apa yang dia rasakan, Thalia pun mengetahuinya. Sandi tidak ingin menyembunyikan segala sesuatunya lagi, khawatir Thalia akan salah paham padanya.
"Ya sudah tutup aja! Lagian aku tuh kesal, tiap kali pulang dari sana, kamu pasti bawa cewek cantik."
"Itu kan dulu, sekarang mana mungkin aku seperti itu. Ada anak dan istriku yang menunggu di rumah."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, gift, rate, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1
...Sambil nunggu Playboy, yuk kepoin karya keren yang satu ini....