Tawanan Cinta Playboy

Tawanan Cinta Playboy
Bab 59 Dikira Maling


__ADS_3

Perlahan Melati mendekat ke arah Jojo. Irama jantungnya yang bertalu-talu, membuat dia menjadi gugup di depan pujaan hatinya. Tidak jauh dengan Melati, Jojo pun merasakan hal yang sama.


"Apa kabar?" tanya Melati saat sudah duduk di sofa yang sama dengan Jojo. Dia sengaja mengambil tempat duduk di ujung sofa, agar tidak terlalu dekat dengan pemuda itu.


"Aku baik, kabar kamu bagaimana?" Jojo pun balik bertanya.


"Aku juga baik," ucap Melati dengan menautkan jari-jari tangannya.


"Mel, mau 'kan berjuang denganku?" tanya Jojo dengan menatap lekat gadis itu.


"Maksud kamu?"


"Kita berjuang bersama agar ayah kamu menyetujui pernikahan kita."


"Tapi bagaimana dengan papa kamu?"


"Aku tidak peduli. Masih ada Mama Raline yang menyetujui pernikahan kita. Asal ayah kamu setuju, aku akan secepatnya mengatur tanggal pernikahan kita."


"Jo, ayahku akan menjodohkan aku dengan juniornya di kantor," ucap Melati pelan. Hatinya sakit, merasa tidak punya harapan untuk bisa bersama dengan laki-laki yang dicintainya. Di saat laki-laki itu mulai membalasnya perasaannya.


"Mel, please! Berjuanglah bersama aku! Sandi punya rencana yang bisa membuat ayah kamu menyetujui pernikahan kita."


"Maksud kamu?"


"Kalau kamu setuju, akan memberi tahu rencananya."


"Apa itu membahayakan?"


"Tidak!"


"Apa akan merugikan aku?"


"Tidak!"


"Baiklah, aku akan mencobanya."

__ADS_1


"Sini aku bisikkan rencananya!" Jojo langsung menarik tangan Melati agar dia mendekat ke arahnya.


Saat gadis itu sudah ada di sisinya, Jojo pun segera membisikkan sesuatu ke telinga Melati. Yang sukses membuat bulu kuduk gadis itu jadi berdiri. "Bagaimana, apa kamu setuju?" tanya Jojo saat sudah selesai.


"Boleh! Jo, kenapa kamu ingin melakukan semua itu?" tanya Melati dengan menatap balik Jojo.


"Karena aku tidak ingin kehilangan gadis berharga seperti kamu," jawab Jojo dengan menghela napas sejenak. "Kamu tahu, setelah hari itu aku tidak bisa fokus syuting. Kamu terus memenuhi pikiran aku. Mungkin karena hal itu pula, sekarang aku tidak merasa mual saat di dekat kamu. Terima kasih, kamu sudah hadir dalam hidupku."


"Benarkah?"


"Tentu saja, apa kamu ingin membuktikannya?" Jojo langsung mendekatkan wajahnya. Membuat Melati semakin terdesak hingga akhirnya menyenderkan tubuhnya di sandaran sofa.


Jojo yang mulai kehilangan kontrol, terus saja mendekatkan wajahnya seraya sedikit memiringkan kepalanya. Dia pun langsung meraup bibir tipis yang berwarna peach blossom itu. Sementara Melati langsung memejamkan matanya saat bibir Jojo menyentuh bibirnya.


Mereka saling menyesap dan menghisap benda kenyal itu. Keduanya pun mulai terhanyut menyalurkan semua rasa yang tersimpan di hati. Sampai saat mereka kehabisan pasokan udara, barulah Jojo dan Melati saling melepaskan pagutannya.


"Berkat kamu, aku sudah sembuh. Aku tidak perlu lagi menutup mata saat kita melakukannya," ucap Jojo dengan napas yang masih memburu.


Bukannya menjawab apa yang Jojo katakan, Melati langsung memeluk laki-laki itu. Dia sangat bahagia karena usahanya ternyata tidak sia-sia. Meskipun dikatakan agresif jika orang-orang tahu dengan apa yang dilakukannya pada Jojo. Tapi dia tidak peduli dengan semua itu.


...***...


"Ingat, Jo! Kamu jangan sampai khilaf! Kamu dan Melati hanya berpura-pura kalian sedang enak-enak. Darah ayam ini, jangan lupa diteteskan ke seprai biar lebih meyakinkan kalau kalian sudah begituan," pesan Sandi. "Ayo aku bantu kamu manjat ke tembok rumah Melati!"


Jojo hanya mengikuti setiap arahan dari Sandi. Meskipun dia sering bermain peran, tetapi dia tidak pernah memiliki ide sekonyol sahabatnya. Keduanya berjalan mengendap-endap menuju kamar Melati. Beruntung rumah gadis itu hanya satu lantai. Jadi mereka tidak perlu memanjat lagi agar sampai di kamar Melati.


Mereka sudah sepakat kalau Melati akan memberi tanda dengan menyelipkan kain di jendela kamarnya. Saat sudah tiba di samping kamar Melati, Sandi pun mengetuk jendela kaca itu pelan.


Perlahan jendela kamar itu terbuka. Nampak Melati menyembulkan kepalanya di sana. Tanpa bersuara, Jojo pun langsung masuk ke dalam kamar itu.


"Ingat, Jo pesanku! Kalian berusaha seolah-olah itu nyata. Aku akan menunggu di mobil," ucap Sandi sebelum dia pergi meninggalkan sahabatnya.


"Sandi, bagaimana kalau ayah Melati marah?" tanya Jojo cemas.


"Itu tugas kamu, Mel. Kamu harus bisa meredakan kemarahan ayahmu. Pokoknya akting kalian harus pol!" seru Sandi kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Namun, sepertinya nasib baik tidak berpihak padanya. Saat dia mengendap akan kembali ke pagar tempat tadi dia memanjat, tanpa sengaja kakinya menyenggol pot bunga dari tanah liat. Hingga terdengar sampai ke telinga ayahnya Melati.


"Siapa di sana?" teriak Ayah Melati seraya menuju ke asal suara.


Sandi yang kaget langsung berlari tunggang langgang dan berkali-kali menyenggol pot bunga yang ada di taman rumah gadis itu. Secepatnya dia memanjat pagar yang lumayan tinggi dan segera terjun bebas saat melihat Ayah Melati tidak jauh dari tempatnya.


"MALING, MALING!" teriak Ayah Melati.


Sandi tidak mau menengok lagi, dia langsung masuk ke mobil dan pergi begitu saja meninggalkan Jojo yang ada di kamar Melati. Bukannya tidak ingat pada laki-laki itu, tapi dia juga tidak mau kalau sampai diamuk masa karena dikira maling. Saat sudah jauh dari rumah Melati, barulah dia menepikan mobilnya dan mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


"Gila, hampir saja ketahuan. Nanti bagaimana dengan Jojo? Pantas saja dia bisa musuhan dengan pebinor itu. Ternyata menyeramkan," Monolog Sandi.


Dia pun membuka baju hitam-hitam yang biasa dipakai para perampok. Setelah semuanya terlepas dari tubuhnya, Sandi kembali menjalankan mobilnya menuju mini market. Tenggorokannya sangat kering dan dia butuh sesuai yang bisa menyegarkan tenggorokannya.


Saat dia sedang memilih minuman, tanpa sengaja dia bertemu dengan Tifani dan seorang lelaki dewasa yang menggandeng tangan gadis itu. Dia sedikit mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan apa yang dilihatnya.


"Loh, Kak Sand, sedang apa di sini?" tanya Tifani kikuk.


"Aku beli minum. Kamu ngapain jam segini masih keluyuran. Dari sini ke rumah kamu kan lumayan jauh," selidik Sandi.


"Itu, Kak ...."


"Dia bersama saya," potong laki-laki dewasa itu.


"Anda siapanya adikku?" tanya Sandi. Meskipun enggan, Sandi mengakui Kalau Tifani adik iparnya. Karena bagaimanapun juga dia anak kandung almarhum mertuanya.


"Saya suaminya. Kami sudah menikah siri satu bulan yang lalu. Apa benar dia kakak kamu, Tifani?" tanya laki-laki dewasa itu.


"Iya, Om. Dia suami kakak aku."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


Sambil menunggu Playboy update, yuk kepoin juga karya keren yang satu ini



__ADS_2